My Sweet Journey

My Sweet Journey
Harapan


__ADS_3

Mala membulatkan mata saat wanita itu sarapan menjelang siang alias brunch keesokan harinya. Semua orang terlambat bangun, tak terkecuali para ART. Untungnya Mala tidak rewel, kanjeng mami hanya memerintahkan memanaskan makanan yang masih bisa dimakan, sisa acara kemarin.


"Infomu valid?" Mala bertanya pada Santo, dengan si asisten mengangguk yakin. Santo bahkan sudah mengantongi salinan surat adopsi milik Zaiharudin Hutomo. Mala terlihat serius mengamati selembar kertas yang baru saja diberikan sang asisten. Salinan surat adopsi resmi yang didapat dari pengadilan setempat.


Santo kemudian menjelaskan kalau Rossa akan memberitahu Aria langsung, Nurul menjamin akan hal itu. Jadi mereka tidak perlu cemas.


"Pagi Uti, pagi Om San...to." Adnan berjalan setengah merem dan masih menguap. Bocah itu tampak menggemaskan dengan wajah bantalnya.


"Makan saja di kamar kalau masih ngantuk. Biar bi Sumi ambilkan." Mala mengusap kepala Adnan. Yatim piatu, kasihan sekali anak ini. Data yang Santo kumpulkan dalam semalam, menunjukkan kalau orang Adnan meninggal dalam sebuah kebakaran. Karena tidak ada yang merawat, maka Adnan di serahkan ke panti asuhan, saat berumur satu tahun.


Sudut mata Mala mengembun mengenang nasib Adnan. "No, ibu bilang kalau makan harus di meja makan, kecuali sakit." Adnan tersenyum saat bi Sumi mengambilkan sarapan untuknya. Sebenarnya Rossa sudah mengajarkan Adnan untuk mandiri, tapi berhubung dia sekarang ada di rumah Aria Loka, ada kemungkinan kalau bocah itu akan mendapat pelayanan ekstra laksana putra raja.


Saat mereka Adnan mulai makan, pintu kamar Amato terbuka. Keluarlah sepasang pengantin baru yang tidak ada mesra-mesranya. Sudut bibir Mala dan Santo tertarik, yang ini sepertinya gagal malam pertama.


"Apaan sih?" Shilda berucap judes pada sang suami.


"Shilda, jangan begitu, begitu-begitu dia suamimu."


"Begitu apanya sih mami?" Protes Amato.


"Bu, dia jorok. Masak kentute baune kek bom...."


Tawa meledak di meja makan. Dengan Adnan langsung membuat gerakan muntah. "Tante jorookk! Huweekkk." Eh Adnan muntah betulan. Amato langsung mengangkat bocah itu ke wastafel terdekat. Shilda melongo melihat hasil keusilannya sendiri.


"Eh manten baru, kalau ngomong disensor ya." Santo memberi peringatan pada Shilda yang malah membalasnya dengan tatapan penuh tantangan. Adnan kembali melanjutkan makannya setelah mereka mengganti topik pembicaraan.

__ADS_1


Shilda meski sikapnya masih setengah anti pada Amato, tapi saat sarapan, gadis itu mau melayani sang suami. Rupanya saat pulang ke rumah, Shilda sempat ditatar oleh Kinan dan ibunya. Bagaimana seharusnya bersikap pada suami.


Santo dan Mala saling pandang. Keduanya melirik penuh kode, melihat senyum Amato melebar mendapat perhatian dari istri absurbnya


"Ayah...ibu...." Adnan berteriak saat melihat Aria dan Rossa berjalan menuruni tangga. Melihat rona puas di wajah Aria, bisa dipastikan kalau pasangan yang ini sudah gol.


"Pagi, Nan. Sudah makannya?" tanya Rossa yang langsung mencium puncak kepala sang putra diikuti Aria. Semua orang melihat kepo pada dua orang yang baru saja duduk di hadapan mereka. Tidak ada yang aneh, tidak ada bekas kissmark atau kemerahan di leher Rossa atau Aria.


Rossa sejak awal memang memberi peringatan untuk tidak meninggalkan tanda di leher saat mereka memadu kasih. Aria pun berjanji dengan satu catatan, "Kalau aku ingat." Yah, siapa sih yang bisa ingat saat pikiran sudah dibawa terbang melayang ke angkasa.


"Ehem...aku ada sedikit pengumuman." Ucapan Aria menarik perhatian semua orang. Mereka sudah berpindah ke ruang keluarga. Adnan sudah mulai mencicil pelajarannya bersama Mala.


"Mungkin dari kalian ada yang sudah tahu soal Adnan." Aria menjeda ucapannya. Pria itu memandang tiap orang yang ada di hadapannya. Shilda dan Rossa tengah berada dapur, jadi hanya ada Santo, Amato, Mala dan Adnan. Namun bocah itu sepertinya tidak paham dengan pembicaraan orang dewasa. Ditambah lagi, didikan Rossa yang mengajarkan Adnan, untuk tidak ikut bicara saat orang dewasa tengah berbincang. Kecuali ditanya.


"Dia anak adopsi Rossa." Lirih Aria. Dari tiga orang itu hanya Amato yang tampak terkejut. Mala dan Santo tidak, itu menandakan kalau keduanya sudah tahu tentang ini.


"Aku semalam memikirkannya. Bagaimana jika mengambil alih surat ini, eh maksudku mengangkat Adnan menjadi anakku." Entah apa istilahnya pokoknya begitu intinya. Aria terus memikirkan hal itu sepanjang hari. Bahkan saat keduanya melakukan sesi panas dua ronde singkat tadi pagi. Keinginan itu begitu kuat di hati Aria.


"Sudah tanya ibunya belum?" Amato bertanya sembari meminum kopi buatan sang istri, mantaap, kini dia sudah ada yang mengurusi, kekeh Amato dalam hati.


"Belum sih. Baru kepikiran tadi pagi." Balas Aria sembari menggaruk kepalanya.


"Apa-apa itu harus didiskusikan dengan istri dulu. Ingat, ini pesan untuk kalian semua. Buat para suami dan calon suami." Pandangan mata Mala menyapu tiga pria yang duduk di depannya. Tidakkah ini sangat membahagiakan. Menghabiskan sisa umur dikelilingi orang-orang yang mengasihi kita. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan. Baik Aria, Amato dan Santo mengangguk paham.


"Nan, mau gak kalau punya ayah Aria?" tanya Mala, memperhatikan jemari Adnan yang tengah mewarnai.

__ADS_1


"Mau dong, mbah uti." Jawab Adnan cepat. Oke semua beres, tinggal bicara pada Rossa, berharap kalau wanita itu setuju dengan idenya.


Sementara itu di tempat lain, tampak Hamzah yang keluar dari kamarnya, mengenakan kemeja navy dan celana bahan berwarna hitam. Tampilan biasa tapi damage-nya luar biasa. Di rumah Rossa, proses bersih-bersih tengah berlangsung di bawah komando Adinda.


"Ke mana?" tanya Adinda saat Hamzah berpamitan sembari mencium tangan sang ibu.


"Ketemu In Syaa Allah yang cukup spesial di hati." Cengir Hamzah. Pria sepantaran Aria itu tampak sumringah teringat chat-nya semalam dengan Nisa, ya yang istimewa di hati Hamzah adalah Nisa. Sepertinya gadis itu mulai membuka diri, tidak lagi stuck pada Aria.


"Jangan berduaan." Pesan Adinda.


"Gak Ma, ini ke mall. Cari buku, dia kan suka buku." Hamzah berlalu dari hadapan Adinda. Melajukan mobilnya keluar dari rumah besar itu, sesekali mata Hamzah melirik ponselnya. Mengamati harga emas di pasaran hari ini. Ada beberapa seri dari perhiasan emas yang diluncurkan toko Hamzah beberapa waktu lalu.


Pria itu juga melirik ke arah laci di dashboardnya. Beberapa lembar kertas tampak dimasukkan paksa ke dalamnya. Kertas design yang berisi design perhiasan yang Hamzah buat untuk seorang yang spesial di hatinya.


"Aku berharap garis takdirku sesuai harapanku." Doa Hamzah dalam hati.


Di tempat lain, nun jauh di sana, berjarak 10 jam penerbangan dengan pesawat, tampak seorang wanita tengah berlenggak lenggok di atas catwalk, di sebuah pagelaran busana di kota besar itu. Katy "Suketi" Sunders, namanya justru semakin terang di kota yang terkenal dengan operasi plastik.


Tepukan tangan mengiringi langkah terakhir Katy sebelum turun dari panggung tersebut. "Kau lihat Aria, sebentar lagi aku akan kembali dan membuatmu membuka mata. Kalau aku adalah orang yang paling tepat untuk berada di sisimu. Bukan orang lain." Katy bermonolog dalam hati, membiarkan seorang staf mendandaninya untuk baju berikutnya.


Akankah keinginan dan harapan semua orang akan terwujud? Tidakkah mereka tahu, terkadang yang kita pikir baik untuk kita, belum tentu yang terbaik bagi kita. Ingat, Dia adalah perencana paling bagus untuk semua umatnya, meski terkadang kenyataan itu amat pahit untuk kita telan.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2