
Meri mengerjap pelan, memandang siapa pria yang mengajaknya bicara. Perempuan itu berusaha mengingat-ingat siapa Angga. Meri merasa pernah melihat Angga di suatu tempat.
"Maaf, Anda siapa ya?" Tanya Meri pada akhirnya. Angga sejenak terdiam. Mereka memang belum pernah bertemu secara pribadi. Jadi ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Aku Angga, teman Rossa," Angga mulai memperkenalkan diri. Meri menangkupkan dua tangannya di depan dada, sebagai jawaban uluran tangan Angga.
"Kamu kakaknya Nurul kan? Calon istrinya Santo," todong Angga langsung. Meri hanya mengangguk. Sungguh dia tidak percaya jika ada orang yang mengingatnya. Selama ini Meri selalu merasa rendah diri, hanya disaat mengajarlah dia bisa jadi dirinya sendiri. Membagi ilmu pada anak-anak kecil yang masih polos pemikirannya.
"Mau ke mana? Biar aku antar."
"Apa tidak merepotkan?" Suara Meri terdengar merdu di telinga Angga. Lembut, penuh kesabaran, sungguh berbeda dengan Yuna. Meri sepertinya tidak punya pilihan, dia sudah terlambat ke tempatnya mengajar.
"Tidak, urusanku sudah selesai. Aku luang sekarang." Balas Angga cepat.
"Kalau begitu maaf jika harus merepotkan Anda." Senyum Angga terbit. Ditunggunya wanita itu berpamitan pada si pengemudi ojek, yang tengah menunggui tukang bengkel yang sedang mengganti ban yang bocor.
Meri sedikit canggung saat Angga membukakan pintu mobil untuknya. Lima belas menit perjalanan, mobil Angga masuk ke sebuah komplek sekolahan berbasis Islam. Meri hanya guru bantu yang dipekerjakan di sekolah ini. Jika ada guru yang berhalangan, maka Meri bisa menggantikan untuk mengajar.
Dari tempat parkir Angga bisa melihat beberapa anak yang menyambut kedatangan Meri. Gadis itu tersenyum lebar melihat murid-muridnya. Satu lagi pemandangan yang membuat dada Angga bergetar. Meri sangat menyukai anak kecil. Itu terlihat sekali dari cara wanita itu memperlakukan anak muridnya dengan sayang.
Entah kenapa, Angga sama sekali tidak berniat beranjak dari sana. Hingga tengah hari datang. Angga mengangkat wajahnya dari laptop yang ada di pangkuannya. Suara Meri terdengar mengarahkan anak-anak ke masjid di tengah bangunan sekolah.
Angga bergegas keluar dari mobilnya. Ikut masuk ke masjid. Meri cukup terkejut melihat Angga masih ada di sana. Pria itu menggulung celana dan lengan kemejanya, berbaris di antrian para murid yang ingin wudhu.
"Kok belum balik, Pak?" tanya Meri heran sambil memeluk mukenanya. Angga hanya menjawab dia keasyikan mengerjakan pekerjaannya sampai lupa waktu.
Meri hanya ber-ooo ria. Lalu kembali ke barisan murid perempuan. Senyum Angga lagi-lagi terbit, melihat Meri yang terlihat cantik. "Astagfirullah." Lirih Angga.
__ADS_1
"Bapak naksir ya sama bu guru. Buruan pak, nanti keburu dicomot sama pak Ibnu lo." Angga melongo ketika seorang murid laki-laki berucap padanya.
"Aishhh anak sekarang pada dewasa sebelum waktunya." Gumam Angga. Meski detik berikutnya netra pria itu membulat melihat seorang pria berbaju koko mendekati Meri. Wajah Angga memerah, pria itu seperti anak SMA yang cemburu gebetannya didekatin cowok lain.
"Tuh kan bapak cemburu." Ledek anak yang tadi. Angga melengos, menyadari si anak melihat ekspresi wajahnya yang kesal.
"Ini apa ya Allah, Yuna baru masuk rumah sakit jiwa, dan hamba sudah mulai bermain hati dengan wanita lain. Berdosakah aku?" tanya Angga dalam hati, masih memperhatikan Meri yang berbincang dengan pria yang menurut si murid bernama Ibnu.
Di tempat lain, seorang wanita dengan dandanan terkini melangkah keluar dari bandara yang ada di kota itu. Katy kembali setelah mengajukan cuti sebulan dari kegiatan modeling. Permintaan wanita itu disetujui agensinya, mengingat Katy sudah bekerja siang dan malam untuk menuntaskan seluruh kontraknya. Pemotretan Katy paling cepat akan dilakukan bulan depan.
"Aku kembali Aria." Gumam Katy memasang kembali kaca matanya. Berjalan menuju pintu keluar bandara, di mana sebuah taksi sudah menunggu. Satu alamat Katy sebutkan, dan taksi itu mulai melaju menuju tujuan.
"Tidak banyak yang berubah." Bisik Katy, sembari menikmati suasana kota tersebut. Senyum Katy terbit melihat foto Aria yang dia jadikan wallpaper ponselnya. Foto pria yang begitu dia puja, dan karena pria inilah Katy kembali. Dia ingin merebut hati Aria dan menjadikan pria itu miliknya.
Tanpa Katy tahu, yang dipuja dan dicinta baru saja menyelesaikan ronde kedua sesi panasnya bersama Rossa. Sesi panas di cuaca yang dingin. Rossa menggeram marah, semakin ke sini sang suami semakin seenaknya menyerangnya. Kadang baru saja lepas mukena, Rossa sudah diangkut ke ranjang. Tanpa ba bi bu, Aria sudah menciumi wajah dan bibirnya.
"Baru dua ronde sayang." Kekeh Aria menarik tubuh Rossa masuk dalam pelukannya.
"Dua ronde.... iya, tapi durasimu bikin aku pegel." Sungut Rossa kesal. Wanita itu mulai memejamkan mata, tak peduli pada tawa Aria yang masih terdengar.
Aria berhenti terbahak setelah melihat Rossa tidur. Dibenarkannya posisi kepala Rossa agar tidur wanita itu nyaman. Dipeluknya erat tubuh polos sang istri, sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Rossa. Perlahan ditariknya selimut untuk menutupi bahu polos Rossa.
Pria itu tersenyum, hidupnya terasa bahagia. Istri yang baik ada disisinya, putranya tumbuh semakin pintar tiap hari. Rumah keluarga Aria menjadi tempat yang sangat tenteram untuk dihuni.
Menginjak usia enam bulan pernikahan mereka, belum ada tanda-tanda kalau Rossa mengandung. Namun itu tidak masalah bagi Aria. Dia memang masih ingin menikmati waktu bersama istri dan anaknya.
Kanjeng mami juga tidak mempermasalahkan soal anak. Bagi wanita itu, sudah cukup melihat anak-anaknya menemukan jodoh masing-masing. Sementara urusan keturunan, in sya Allah akan hadir di waktu tepat. Mala merasa bahagia bisa bermain dan mengasuh Adnan. Meski kadang harus berbagi dengan keluarga Hutomo.
__ADS_1
Aria baru saja akan memejamkan mata, saat satu pesan masuk ke ponselnya. "Biang kerok kembali." Begitulah isi pesan singkat itu. Aria hanya menarik sudut bibirnya. Satu balasan Aria kirim. Setelahnya pria itu mematikan ponselnya, menutup mata, menyusul Rossa ke alam mimpi.
"Mari kita lihat, apa yang bisa dia lakukan. Awas saja kalau dia sampai menyentuh keluargaku. Bukan hanya Korea tapi akan ku lempar ke kutub utara. Biar main sama beruang terus dihap."
Dua hari lagi adalah pesta pernikahan Santo. Pernikahan yang sempat ditunda karena kematian Nisa, istri Hamzah. Dan kini setelah lewat 40 hari kepergian Nisa, momen sakral itu siap digelar.
Kali ini pernikahan Santo dan Nurul dihelat di rumah Aria. Taman belakang sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang cantik. Dihiasi bunga beraneka macam dengan dominasi warna putih.
Suasana ijab kabul sangat khusyuk. Semua orang tampak terharu saat Santo berhasil memperistri Nurul, gadis berhijab yang kini menunggu di ruang tengah keluarga Aria yang sudah berhias bunga. Gadis itu tersenyum sambil memeluk Meri, sang kakak. Meri sejak tadi tak melepaskan tangan Nurul. Seolah ini adalah hari terakhir kebersamaan mereka. Padahal Nurul hanya pindah ke rumah Aria. Mereka bisa bertemu kapan saja.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga bahagia dan dirahmati. Sakinah, mawadah, warahmah. Aku titip adikku yang paling kusayang padamu. Jangan sakiti hatinya. Kalau kau berani menyakitinya, awasss!!!"
Santo menelan ludah mendengar ucapan selamat sekaligus ancaman dari kakak iparnya. "Padahal dulu nguber sekarang jadi garda terdepan buat Nurul." Bisik Amato pada Angga. Yang diajak bicara malah melongo melihat Meri yang hari ini tampil beda, mengenakan gamis dengan hiasan sulaman di bagian bawah gaun. Kecantikan Meri berlipat-lipat di mata Angga.
Amato cukup terkejut melihat sikap Angga. Hingga pria itu paham atas apa yang sedang terjadi. "Mas bos, akan ada akad susulan." Kali ini Amato berbisik pada Aria. Suami Rossa itu melihat ke arah Angga, hingga mengerti akan ucapan sang asisten.
"Sudah waktunya dia bahagia." Amato mengangguk setuju dengan ucapan Aria.
Tanpa mereka sadari, Katy ada di sana. Menyelinap di antara banyaknya tamu, tidak seorangpun sadar dengan kehadiran Katy. Wanita itu terpesona pada tampilan Aria yang menurut Katy semakin tampan dan seksi.
"Aku tidak akan melepaskanmu kali ini."
****
Up lagi readers, jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1