
Angga dan Aria masih saling pandang dengan sengit. Dua pria itu sudah bisa dipisahkan oleh Amato dan...Katy. Suara yang keduanya dengar adalah suara si janda pirang. Angga dan Aria masing-masing tengah mengompres wajah mereka dengan es batu. Babak belur wajah tampan dua lelaki itu.
"Kalian ini kenapa sih? Saling pukul seperti anak SD rebutan mainan!" Maki Katy. Membenarkan letak kompres Angga.
"Dia yang mulai!" Tunjuk Aria.
"Kau yang mulai!" Bantah Angga tidak mau kalah. Dua orang itu kembali saling debat, dan hampir baku hantam lagi. Jika saja Amato tidak melerai. Katy langsung mendengus geram, mendengar nama Rossa disebut oleh dua pria tampan itu. Lagi-lagi perempuan itu yang membuat kacau. Rupanya pelajaran yang Katy berikan hari itu tidak membuat Rossa jera. Wanita itu justru semakin berani sekarang.
Ternyata yang mengunci Rossa di gudang adalah Katy. Perempuan itu bermaksud memberi peringatan pada Rossa. Namun Rossa sepertinya tidak sadar.
"Aku peringatkan padamu. Jangan pernah mendekati Rossa lagi. Dia milikku." Satu ancaman keras Angga berikan pada Aria.
"Kau pikir aku akan diam setelah melihat kebusukanmu. Jangan harap, aku membantunya bebas darimu."
"Kau...!" Angga dan Aria saling pandang tajam.
"Perempuan sebaik dia tidak pantas bersanding dengan bajiingan sepertimu." Aria menunjukkan dominasinya sebagai seorang pemimpin.
"Kau tidak akan bisa merebutnya dariku. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya." Balas Angga.
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan berhasil memilikinya." Ucapan Aria seolah sebuah tantangan untuk Angga.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" Angga melangkah keluar dari kediaman Aria. Dengan wajah Katy diliputi rasa penasaran, benarkah apa yang diucapkan oleh Aria.
"Aria apa yang kau katakan? Kau serius dengan wanita itu?" Katy jelas ketakutan, jika Aria sudah menentukan pilihan, dia tidak akan punya kesempatan untuk bisa naik ke ranjang pria itu.
__ADS_1
"Aku percaya jodoh, jika dia adalah jodohku, maka dia akan jadi milikku." Sahut Aria. Pria itu melihat ke arah Katy, mata tajam pria itu melihat anting mawar yang dipakai Katy. Sama dengan anting yang dipakai oleh orang yang mengunci Rossa di gudang, yang terlihat dalam rekaman kamera pengawas.
"Jadi itu kau," sudut bibir Aria tertarik. Instingnya yang peka bisa merasakan, ada yang Katy sembunyikan. Aria merasa beruntung selalu waspada saat di dekat Katy, dan kali ini dia akan ekstra hati-hati jika di dekat si janda pirang rasa perawan. Ternyata feeling sang mama benar. Katy belum tentu orang yang baik.
Sejak kejadian hari itu baik Aria maupun Angga saling diam. Mereka hanya berurusan soal pekerjaan, lain tidak. Padahal mereka sering hang out bareng dulu. Rossa sendiri tidak tahu menahu jika dua pria itu terlibat perang dingin karena dirinya.
Namun yang paling kena dampak dari kejadian saling pukul hari itu adalah Katy. Wanita itu kini kehilangan perhatian Aria. Jika dulu Aria sering menyapanya di lokasi pemotretan, sekarang tidak. Aria juga seperti menghindari Katy. Hal itu membuat Katy kesal dan semakin membenci Rossa. Katy berpikir kalau perubahan Aria karena Rossa.
Sejak hari itu sikap Angga semakin posesif pada Rossa. Angga bahkan meminta Rossa untuk berhenti bekerja. Rossa tentu menolak. Meski Angga bersedia menanggung semua biaya hidup Rossa dan keluarganya, tapi Rossa enggan melakukannya. Dia yang berencana ingin berpisah dari Angga, tidak mau hidupnya kalang kabut nantinya.
Perdebatan kecil sering terjadi saat Angga berkunjung ke rumah Rossa. Pria itu tak lagi menunjukkan rasa kasihnya pada Adnan. Hal yang membuat Rossa menitikkan air mata. Rossa merasa Adnan kehilangan sosok ayah yang selalu dia rindu. Dalam hati Rossa merasa perih, inikah sifat Angga yang sebenarnya.
Dan pikiran kosong Rossa terbawa saat membawa motor. Tanpa sengaja dia menabrak seorang pejalan kaki. Untungnya orang itu tidak apa-apa. Dari kejauhan, senyum Katy terlihat puas. Orang itu adalah suruhan Katy. Dia menyuruh orang itu membuat fokus Rossa pecah, membuat pikiran dan hidup Rossa semakin kacau.
Rossa menghembuskan nafasnya kasar. Duduk di sebuah kedai kopi, sekedar mencari udara segar. Sesuai saran Mala. Mama tak sayang Aria itu meminta Rossa untuk berjalan-jalan sebentar, setelah memberikan sonde pada Adnan. Rossa menurut, wanita itu pamit pada sang putra sambil mencium kening Adnan, berlalu keluar dari kamarnya. Tanpa Rossa dengar, panggilan lirih Adnan. "Ibu...ibu...." lirih, sangat lirih, bocah itu akhirnya bisa bersuara meski nyaris tidak terdengar. Air mata Adnan mengalir, samar-samar melihat Rossa yang meninggalkannya.
Dan akhir-akhir ini, sepertinya Aria sedikit tahu diri. Pria itu seolah menjauh dari Rossa. Satu hal yang membuat Rossa merasa lega. Pria itu tidak mempersulit dirinya.
Rossa baru saja berbalik untuk keluar dari kafe itu, saat satu suara membuat mata Rossa membulat. "Dasar pelakorr!! Masih berani kau muncul di tempat umum."
Byuuuurrrrr
Aarrgghhhh
Rossa menjerit, saat satu cangkir kopi panas mengenai tangan yang dia gunakan untuk menutupi wajahnya. Yuna dengan wajah merah padam, menahan amarah, menyiramkan minuman itu ke arah Rossa.
__ADS_1
Beruntung Rossa menggunakan dua tangannya untuk melindungi muka. Kulit sekitar siku Rossa memerah, dengan rasa perih dan panas terasa bersamaan. Rossa memundurkan langkah, melihat Yuna seperti singa betina siap menyerang. Ringisan tertahan dari terdengar lirih dari bibir Rossa.
"Kalian tahu! Dia adalah wanita yang merebut suami saya. Melakukan nikah siri di belakang saya, tanpa sepengetahuan saya." Orang-orang mulai berbisik, melihat penuh rasa jijik pada Rossa.
"Dia menggoda suami saya, menggunakan tubuhnya. Sungguh murahan. Kau sama saja dengan pelacuurr di luar sana!" Maki Yuna lagi. Wanita itu sepertinya sangat puas bisa mempermalukan Rossa di depan orang banyak.
Rossa sebagai wanita biasa tentu merasa malu. Harga dirinya serasa diinjak-injak oleh Yuna, yang notabene memang istri sah Angga. Tapi apa pantas sampai membuka aib mereka di depan orang.
"Mbak Yuna jangan keterlaluan. Saya memang menikah siri dengan mas Angga. Tapi saya sedang meminta pisah dengannya."
"Mana buktinya? Lagipula saya tidak percaya kau mau pisah dengan suami saya. Dia tampan, kaya juga hebat di ranjang." Pamer Yuna.
Hebat di ranjang? Mana Rossa tahu, ciuman saja tidak pernah. "Kau memang cantik, tapi dengan kelakuanmu. Mana ada pria baik yang mau mengambilmu jadi istri." Rossa tersudut dengan ucapan Yuna. Hal itu benar, siapa juga yang akan menikahi wanita yang punya putra masuk kategori cacat.
Rossa yang hanya diam, tidak menyahut membuat Yuna geram. "Jawab aku jallang tidak laku!!" Satu gelas air kembali disiramkan ke arah Rossa, wanita itu hanya bergeming sambil memejamkan mata.
Byuurrrr
Semua orang membulatkan mata melihat siapa yang terkena siraman air. Pun dengan Rossa, dia terkejut dengan seorang lelaki yang tiba-tiba datang, lalu melindungi dirinya.
"Siapa bilang tidak ada pria yang mau menikahinya? Aku akan menikahinya!"
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***