
Ijab kabul segera dilaksanakan. Hamzah sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Nisa, di mata pria itu Nisa terlihat cantik. Seolah mendapat kawalan dari Hamzah membuat gerakan Nisa tidak leluasa. Nisa sendiri sesekali melihat ke arah Yuna yang duduk di samping Angga.
"Jika kamu tidak melakukannya sekarang, kamu akan kehilangan Aria selamanya."
Sebuah pesan penuh komporan masuk ke ponsel Nisa. Gadis itu seketika melihat ke arah Yuna. Tatapan mereka bertemu, tapi Nisa dengan cepat memutus kontak netra mereka. Pikirannya rancu, hatinya kalut. Gadis itu hanya bisa memejamkan mata, mengabaikan getar ponsel yang bisa dipastikan berasal dari Yuna.
"Gadis brenggsek! Berani sekali dia mengabaikan pesanku!" Maki Yuna dalam hati, wajah wanita itu berubah kesal. Tanpa Yuna sadari, Adinda sejak tadi mengawasi tingkah Yuna. Mama Rossa itu tersenyum melihat bagaimana rupa Yuna yang menahan marah.
"Jangan harap kau bisa berulah kali ini!"
Di sebelah Nisa, Hamzah sesekali menoleh ke arah gadis itu, hal tersebut juga tidak luput dari perhatian Adinda. Sepertinya dia juga harus segera menikahkan putra sulungnya.
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Mengenakan beskap putih dengan penutup kepala berwarna senada. Aria tampak gagah, dalam sekali ucap ijab kabul, Rossa sudah berhasil dia jadikan istri. Ucapan kata syukur menyambung teriakan "sah" yang dikumandangkan oleh saksi pernikahan mereka. Sayang sekali Amato dan Shilda tidak ada di sana. Sebagai calon pengantin mereka tengah dipersiapkan di rumah masing-masing. Untungnya Amato masih bisa mengoceh bersama Adnan. Ya, Adnan tidak diperbolehkan menghadiri ijab kabul ibunya.
Mata Aria langsung mengembun, hampir menangis saat dia diantarkan untuk bertemu Rossa di ruang keluarga. Tidak bisa Aria lukiskan bagaimana perasaan pria itu saat ini. Bahagia, penuh syukur, rasa cintanya kini semakin besar. Terlebih melihat bagaimana cantiknya Rossa dalam balutan kebaya semi muslim. Tidak terlalu ketat juga rapat menutup seluruh tubuh Rossa. Meski tidak berhijab tapi tampilan Rossa sangat cantik, anggun.
Dua mata itu saling bertemu untuk pertama kalinya sebagai suami istri. Aria dan Rossa sama-sama menitikkan air mata, terlebih saat Aria mengecup keningnya setelah membaca doa terlebih dahulu, dengan Rossa langsung mencium tangan Aria. Tanda bakti dan hormat pada sang suami.
Tukar cincin menjadi acara selanjutnya. Lagi, dua pengantin baru itu tidak mampu menutupi rasa haru mereka. "Aku akan mencintaimu sesuai dengan fitrahku sebagai hamba-Nya Nurmala Alika Rossa Hutomo." Pria itu kembali mencium dahi Rossa sesudah pria itu menyarungkan cincin di jari manis sang istri.
Jika semua orang tersenyum, maka Nisa hanya bisa terdiam. Dia jelas bisa melihat jika Aria dan Rossa saling mencintai. Tidak ada ruang untuk orang ketiga dalam kehidupan mereka. Nisa perlahan mundur, menjauhi tempat itu, di mana Aria dan Rossa tengah mengambil gambar bersama anggota keluarga.
"Hai kamu! Berani sekali kamu menggagalkan rencanaku!" Satu suara masuk ke telinga Nisa. Gadis itu memejamkan mata. Sama sekali tidak menyahut.
"Maaf, Mbak. Saya gak bisa. Mas Aria dan mbak Rossa saling mencintai, saya tidak mau memisahkan takdir yang disiapkan oleh Allah."
__ADS_1
Yuna geram, mendengar alasan sok agamis dari Nisa. Wanita itu hampir saja mendorong Nisa, saat Adinda muncul. Mendorong balik Yuna. "Jangan membuat kekacauan di pesta kami! Pulang sana kalau kerjamu cuma buat ribut!" Usir Adinda langsung tanpa bahas sana bahas sini alias basa basi.
Yuna marah, wanita itu pergi meninggalkan Adinda, kesal. Adinda segera meraih tangan Nisa, "Kamu tidak apa-apa?" tanya Adinda cemas.
Nisa menggeleng pelan. Gadis itu melihat ke arah Adinda. "Saya Adinda, ibunya Hamzah." Nisa membulatkan mata, memandang wajah ayu Adinda. Wanita itu menggandeng Nisa mendekat ke arah pelaminan. Aria cukup terkejut melihat kehadiran Nisa. Namun tidak dengan Rossa. Wanita itu langsung memeluk Nisa, mengucapkan terima kasih karena gadis itu mau datang ke pernikahan mereka.
Beberapa foto kenangan mereka ambil. "Semoga samawa till jannah." Satu ucapan tulus terucap dari bibir Nisa. Gadis itu tersenyum sambil menangkupkan tangan di depan dada, saat berhadapan dengan Aria.
"Semoga kamu juga cepat menemukan jodohmu."
Senyum Nisa mengembang, meski lengkung bibir Nisa terlihat terpaksa. "Andai aku bisa melupakanmu secepat kilat. Pasti akan menyenangkan sekali." Kata Nisa dalam hati. Gadis itu berbalik, senyum Hamzah menyambut Nisa. Pria itu membawa Nisa ke meja prasmanan.
Dua jam acara berlangsung di rumah Rossa. Setelahnya acara berganti ke rumah Shilda. Kali ini justru kesan kocak yang mewarnai acara ijab kabul Amato dan Shilda. Terlebih Adnan diperbolehkan ikut dalam pernikahan dua orang itu. Amato yang tidak latah, tiba-tiba jadi latah plus gagap saat mengucapkan ijab kabulnya. Shilda jelas malu dengan ulah sang suami. "Malu-maluin aja!" Celetuk Shilda.
"Kenapa?" tanya Bi Sumi yang kini menemani Adnan makan. Bi Sumilah yang beberapa waktu terakhir ini dipercaya menjaga Adnan sejak pindah ke rumah utama.
"Kata Ayah, laki-laki dan perempuan tidak boleh pegang-pegang." Adnan menjawab setelah menelan puding yang dia makan. Bi Sumi mengulum senyum. Benar-benar polos. Wanita paruh baya itu lantas menjelaskan kalau Amat dan Shilda boleh saling pegang karena sudah menikah.
"Ooo kalau pakai baju begitu namanya menikah ya. Berarti ayah juga mau menikah." Tanya Adnan.
Bi Sumi mengangguk, "Ayah menikah dengan ibu." Info bi Sumi. Senyum Adnan mengembang sempurna. Bocah itu merasa senang sekali. "Sekarang Adnan sudah punya ayah dan ibu." Kata bi Sumi sambil mengusap pelan kepala bocah yang memakai beskap anak berwarna putih gading, senada dengan milik Amato.
Dari jauh Amato tampak melambaikan tangan pada Adnan. Senyum Adnan melebar, lengan Adnan terayun membalas lambaian tangan Amato.
Malam menjelang, pesta resepsi pun digelar. Meski undangan tidak banyak, tapi suasana sangat meriah. "Terima kasih Arch, sudah bersusah payah melakukan ini dan itu untuk kami." Ucap Aria, pria itu tampil memakai tuksedo hitam sama dengan Amato hanya berbeda aksen.
__ADS_1
"Tidak masalah, aku sangat senang bisa membantu. Sungguh." Balas Arch tulus. Keduanya melihat ke arah Alicia, istri Arch yang tengah berbincang dengan Shilda dan Rossa. Terlihat sangat akrab. Alicia duduk di tengah dua pengantin yang mengenakan gaun berwarna magenta, sederhana dan tertutup. Request suami masing-masing.
"Semoga lancar sampai lahiran ya." Lanjut Aria. Arch tertawa. Alicia tengah mengandung delapan bulan. Bulan depan adalah perkiraan lahir sang bayi. "Terima kasih." Balas Arch.
Mereka semua kini berada di depan pintu hall, di mana resepsi akan digelar. Sementara yang lain tengah bersiap pesta. Dua orang justru sebaliknya. "Katakan!" Pinta seorang pria.
"Soal apa?" tantang yang lain.
"Apa yang kudengar benar?" Nurul memicingkan mata. Apakah Santo mendengar pembicaraannya melalui ponsel. Jika iya, ini gawat.
Pesta di mulai, sementara Santo menarik Nurul keluar dari venue. Menjauhkannya dari banyak orang. "Aria berhak tahu siapa Adnan."
"Untuk itu biar Rossa yang memberitahu. Hal ini bukan ranahku. Aku tidak berani membocorkannya pada orang lain."
"Kalau begitu...apa yang aku dengar benar?" Santo kembali mendesak Nurul. Nurul sendiri tidak akan menjawab sampai Rossa sendiri yang memberitahu semua orang. Namun kediaman Nurul justru dianggap pembenaran oleh Santo.
"Jadi Adnan adalah anak...."
***
Hayooo kira-kira Adnan anak siapa? Mau ikutan nebak?
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1