My Sweet Journey

My Sweet Journey
Pilihan


__ADS_3

Suasana rumah Aria kembali heboh saat Santo memberitahu kanjeng mami, kalau dirinya akan melamar Nurul. Tidak peduli gadis itu siap atau tidak, malam minggu nanti dia akan melamar Nurul. Bisa dibayangkan bagaimana umpatan yang keluar dari mulut si mama tidak sayang Aria.


"Astagfirullah, dosa apa ya aku. Kenapa semua putraku selalu membuatku pusing kepala kalau mau rabi (nikah). Semua ndadak (tiba-tiba)." Gerutu si mami di balik senyumnya. Meski mengomel tapi wajah Mala tampak sumringah. Bahagia tidak terkira. Ayah dan ibu Santo yang berada di luar daerah jelas tidak bisa datang. Karena itu untuk lamaran ini, Mala yang kembali mewakili. Meski kali ini Aria yang akan berada di depan.


"Nanti aku balas kerja rodi dua bulan tanpa gaji deh kanjeng mami," seloroh Santo santai.


"La kalau ndak kerja, Nurul rep mbok pakani opo? Watu?" (Kalau tidak bekerja, Nurul mau dikasih makan apa? Batu?)


Santo hanya nyengir sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mahal bener di kasih makan batu, satu rit sudah berapa ratus ribu." Celetuk Amato yang sesekali meringis kala punggungnya menggesek sandaran sofa. Bekas cakaran dan gigitan Shilda dua hari lalu, karena menahan sakit saat dia bobol gawangnya. Akibat dari obat yang Mala berikan, membuat Amato tidak bisa mengontrol dirinya. Hingga tanpa pemanasan yang cukup, pria itu sudah menerobos masuk, tidak sabaran. Bahkan Shilda sendiri harus dipapah ke kamar mandi setelah Amato menyerangnya dengan ganas.


"Amato menyebalkan!" Desis Shilda yang baru saja lewat.


"Alah, menyebalkan tapi nagih kan?"


Astaga, semua yang ada di sana melempar tatapan maut pada Amato. Pasalnya Adnan tengah belajar di ruang tengah dengan guru home schoolingnya. "Kenapa? Gurunya Adnan mak emak anak dua. Jadi sudah pro dong." Walah malah semakin parah omongan si Amat.


Semua hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Amato. Para perempuan sedang membungkus seserahan yang akan dibawa ke rumah Nurul. Tidak perlu bertanya pada Nurul soal apa yang gadis itu suka. Sebab sudah ada Rossa dan Shilda yang tahu kesukaan Nurul.


"Kau bilang tidak sama Nurul kalau kita mau datang?" tanya Aria sambil mengulik laptopnya. Dia dan Amato juga Santo masih bekerja dari rumah.


"Aku kasih tahu dia." Balas Santo santai. Awalnya Nurul enggan menerima kedatangannya, tapi menggunakan alasan Adnan yang kangen. Nurul akhirnya mengizinkan Santo datang. Santo sejak tadi tersenyum tipis, melihat kotak perhiasan yang ada di depannya. Kotak berisi sepasang cincin lamaran, sponsor dari Rossa. Lumayan hemat banyak Santo kali ini.

__ADS_1


Malam beranjak datang. Dua mobil mulai melaju menuju rumah Nurul. Bagasi belakang dua mobil itu penuh dengan oleh-oleh untuk keluarga Nurul. Sedang pelangkah untuk si Meri di bawa sendiri oleh Santo.


"Kalau si anak itik, eh Meri gak kasih izin gimana?" Santo mulai keluar parnonya. Padahal Santo adalah salah satu orang yang pedenya ketinggian alias luber.


"Mosok disogok emas 20 gram kok gak keguh (tergoda)." Mala yang menjawab.


"Ya siapa tahu dia matre kebangetan." Cemas Santo. Mala pada akhirnya menenangkan Santo, hingga pria itu kembali yakin kalau lamarannya akan diterima oleh Nurul.


"Kalau aku ditolak bagaimana?" rengek Santo.


"Astagfirullah, kalau Nurul nolak, si Meri anak itik pasti mau sama kamu." Ledek Amato yang berjalan di belakang Santo.


"Emoh aku sama anak itik. Gak gemoy, gak seksoy." Plak, satu tepukan dari Shilda membuat Santo terhuyung. Pria itu mendelik ke arah Shilda yang hanya menaikkan dua alisnya. Menatap penuh tantangan pada Santo.


"Mengerikan kalau di luar kamar, di dalam kamar jangan ditanya." Balas Aria lirih. Santo berdecak kesal mendengar jawaban Aria. Dua temannya ternyata masuk kategori DKI, Dibawah Ketiak Istri.


Santo ingin mendebat, tapi teriakan Adnan dari arah depan membuat Santo urung melakukannya. Mengenakan simple dress berwarna biru, penampilan Nurul tidaklah buruk amat untuk menerima lamaran. Pasalnya, Santo hanya memberitahu akan datang bersama Adnan tanpa embel-embel kata lamaran.


Sementara Nurul langsung menaruh curiga, melihat keluarga datang ke rumahnya. Terlebih pakaian mereka formal. "Kalian ngapain ke sini ramai-ramai. Katanya cuma sama Adnan?" Tanya Nurul.


"Ya kali Adnan datang gak sama pawangnya. Kalau dia nangis Santo gak bisa diemin Adnan." Balas Amato. Nurul jelas tidak percaya. Sampai akhirnya, Aria yang bicara. Meminta Nurul untuk memanggil ayah dan ibunya. Meri si anak itik, tentu senang bukang kepalang. Melihat rombongan Santo datang. Perempuan dengan over PD itu mengira kalau Santo pasti ingin melamarnya.


Ayah, ibu, Meri dan Nurul sudah duduk di hadapan Aria, Santo dan Mala. Yang lain menunggu di luar, tidak muat di dalam. Meri sejak tadi tersenyum melihat ke arah Santo, sedang Santo tampak melihat ke arah Nurul, yang juga tengah melihatnya.

__ADS_1


"Mas Santo pasti datang, mau melamar Meri ya." Nurul melotot mendengar ucapan sang kakak. Tidak percaya, itu yang terlukis di benak Nurul.


"Meri tahu kalau mas Santo sebenarnya suka kan sama Meri."


Shilda dan Mala saling pandang di teras rumah Nurul, lantas membuat gerakan muntah di belakang Adnan. Sedang Amato tampak menepuk pelan dahinya. "Ada ya orang yang tidak pernah ngaca." Tukas Amato.


Nurul dan Meri saudara kandung. Tapi fisik keduanya jauh berbeda. Nurul tumbuh jadi gadis cantik dengan tubuh ramping, meski tidak terlalu tinggi. Kulitnya juga berwarna sawo matang, tidak seperti Meri yang berkulit bersih. Tapi postur tubuh Meri agak berisi. Meri sehari-hari bekerja di sebuah mall yang ada di pusat kota.


Tak heran jika make up selalu melekat di wajah gadis itu. Wajah Meri tidak mulus seperti wajah Nurul. Meski tidak putih tapi wajah Nurul bersih tanpa jerawat. Sementara wajah Meri penuh jerawat dengan bekas ada di sana sini. Sebenarnya bukan fisik yang jadi tolak ukur seorang Santo. Dia menyakini Nurul adalah orang yang tulus meski covernya sangat galak.


"Kami ke sini memang untuk melamar. Untuk menjadi pendamping bagi saudara saya Santo." Mata Santo mengembun saat Aria menyebut dirinya saudara. Ada rasa haru yang merayap memenuhi hati pria itu.


Tak berapa lama, beberapa orang masuk membawa seserahan yang sudah disiapkan. Nurul membulatkan mata, sebab semua yang dibawa Santo adalah kesukaannya. Dengan Meri langsung meradang, karena dia tahu itu semua untuk Nurul.


"Aku gak mau dilangkahi!"


"Yakin mbak Meri gak memberi restu untuk Nurul." Rossa masuk sambil membawa kotak yang lumayan besar. Lebih besar dari kotak cincin yang ada di depan mereka. Mata Meri membulat melihat binar emas saat kotak itu dibuka. Seperangkat perhiasan emas komplit, dengan berat keseluruhan seperti yang Mala sebutkan, 20 gram.


Meri melihat secara bergantian antara emas dan Santo. Bodoh sebenarnya jika dia memilih pelangkah itu, dibanding Santo yang jelas bisa memberinya bergram-gram emas. Meri seketika melihat ke arah Nurul yang sejak tadi tertunduk diam. Kira-kira apa pilihan Meri?


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2