My Sweet Journey

My Sweet Journey
Impian


__ADS_3

Aria memasang tampang paling mengintimidasi yang pernah Rossa lihat selama ini. Pria itu benar-benar marah saat tahu Katy kembali menemui Rossa. Satu hal yang bisa disimpulkan sekarang adalah Katy mengincar Rossa.


Namun selain itu ada hal lain yang membuat Aria begitu kesal. Yakni cara Rossa melarikan diri dari Katy.


"Kak....itu nanti Bu Rossa diapa-apain gak sama Pak Aria?" bisik Dewi yang ternyata ada diruang kerja Aria bersama Hamzah.


"Diapa-apain ya biarin to. Kan Aria suaminya. Pol-pol e dikurung di kamar sehari semalam gak boleh keluar." Balas Hamzah tengil.


Dewi mengerutkan dahinya. "Ngapain di kamar sehari semalam?" tanya Dewi polos.


Senyum Hamzah terbit, tiba waktunya mengerjai Dewi, si perawan ting-ting. Wk wk kayak dia gak perjaka tong tong aja.


"Ngapain lagi kalau suami istri kalau di kamar berduaan." Mata Dewi membulat mendengar sahutan Hamzah. Dalam otak Dewi yang terbayang adalah main catur, main dam. Aseli gadis ini ketinggalan pelajaran biologi soal perkembangbiakan manusia.


"Main catur ya?"


Gubrak! Hamzah menepuk jidatnya pelan. "Gak! Main bekel!" pria itu melangkah keluar dari sana dengan wajah kesal. Aria sesaat mengulum senyum melihat wajah jengkel Hamzah. Meski detik berikutnya, wajah Aria berubah dingin. Setelah Dewi mengikuti langkah Hamzah, kabur dari sana. Enggan melihat drama main catur pasutri itu.


"Jadi apa maksudmu pake gandeng Edi segala?" Edi adalah satu dari dua bodyguard yang ditugaskan Aria untuk mengawal Rossa diam-diam. Saat Katy ada di restauran, Aria sedang meeting penting. Jadi pria itu tidak bisa menyusul Rossa.


Alhasil Rossa memaksa Edi untuk membawanya keluar dari tempat itu, berdalih sebagai kakak Rossa, istri Aria itu menggandeng lengan Edi. Itu yang membuat Aria murka. "Bukan muhrim!" Begitu alasan Aria. Padahal Rossa sudah mengenakan sarung tangan, hingga kulitnya dan Edi tidak bersentuhan.


"Itu kan cuma akting aja. Jangan marahlah." Bujuk Rossa, wanita itu mendekat ke arah Aria yang seketika memicingkan mata.


"Mau apa?!" galak Aria. Rossa tersenyum penuh arti.


"Nggak ngapa-ngapain, cuma....." Aria memejamkan mata saat Rossa mengusap dadanya. "Mampus gue! Kagak jadi marah kalau begini caranya." Satu ciuman mendarat di bibir Aria, hal itu membuat Aria membuka mata.

__ADS_1


"Belajar dari siapa kamu?" Cecar Aria yang kini sadar, Rossa mulai tahu sisi lemahnya.


"Ada deh. Jadi jangan marah lagi. Oke? Jangan pecat Edi, dia mau nikah bulan depan."


"Idih ogah. Edi kupecat!" Kekeuh Aria.


"Kok gitu? Jangan dipecat atau gak ada jatah seminggu." Aria melotot, skak mat kalau ancamannya begini.


"Yah, jangan gitu dong Nur. Masak jatahnya dipangkas. Pusing nanti kepalaku." Giliran Aria yang kelabakan. Terlebih Rossa yang melenggang santai keluar dari ruang kerjanya. Pintu ditutup pelan, meninggalkan Aria yang seketika termenung. Dia harus segera menyingkirkan Katy dari sekitar keluarganya. Ini sudah melewati batas toleransinya. Meski belum ada tindakan jelas dari Katy, tapi feelingnya mengatakan kalau dia harus segera bertindak.


"Halo, bisa aku minta tolong Amar." Aria menghubungi Amar Ahmad Liu. Dia ingin menjauhkan Katy sejauh-jauhnya dari keluarganya. Dan Cina akan jadi tempat yang pas untuk membuang Katy.


Aria tersenyum, setelah mendengar jawaban Amar. Keluarga Amar, klan Liu memang bukan mafia, tapi koneksinya bisa menembus dunia bawah. Jadi mudah saja untuk melenyapkan seseorang tanpa jejak, tanpa bekas.


Aria tinggal menunggu hasilnya saja, sebab Amar yang akan menghandle semua. "Bye...bye...Katy." Ucap Aria sembari membuka pintu ruang kerjanya, berjalan turun menuju lantai bawah di mana kehebohan sedang terjadi.


"Keknya salah makan. Mual banget." Balas Rossa lirih. Namun yang dipikirkan Aria bukan itu. Dia teringat Shilda yang juga muntah di awal kehamilannya bahkan setelah lewat tiga bulan Shilda masih juga muntah.


Aria meraih ponselnya, menekan kontak Nurul, meminta wanita itu pulang. Nurul yang memang tengah dijemput Santo pun mengiyakan. "Ada apa?"


"Keknya rumah bakal lebih ramai deh." Santo mengerutkan dahi mendengar jawaban Nurul.


"Rossa hamil kayaknya." Santo ber-ooo ria. Sudut bibir pria itu tertarik. Yah, rumah akan bertambah ramai. Adnan tidak akan kesepian lagi. Meski bocah itu mungkin akan segera masuk SMP, jika ujian kejar paketnya selesai dilakukan.


"Kamu gak buru-buru ingin hamil juga kan?" tanya Santo penuh selidik.


"Gaklah, manut dikasihnya kapan." Wanita itu memeluk lengan Santo yang tengah menyetir. Aishhh, Nurul sekarang sudah bisa bermanja-manja dengan Santo. Tidak kaku seperti dulu. Santo menyempatkan mencium puncak kepala Nurul saat mereka berhenti di lampu merah.

__ADS_1


Di tempat lain, ada Hamzah yang duduk di depan Dewi. "Jadi bagaimana keputusanmu?" Tanya pria itu, memandang wajah Dewi dalam.


Kemarin Hamzah sudah mengutarakan keinginan ayah dan ibunya untuk mengadopsi Dwi dan Dewa. Menjadikan mereka anak angkat. Dengan tujuan ada yang membiayai dua adik Dewi itu. Dewi sendiri sudah bicara pada Dwi, dan adiknya tidak masalah. Dwi cukup paham dengan keadaan sang kakak. Dia dan Dewa merasa telah banyak merepotkan Dewi. Karena itu mereka mau menerima Zai dan Adinda untuk jadi orang tua angkat mereka. Terlebih di kota ini, mereka tidak punya sanak family. Rumah pun masih ngontrak. Keluarga terdekat ada di kota sebelah.


"Apa karena Kakak ingin menikahiku, jadi keluarga kakak mau mengadopsi Dwi dan Dewa?" tanya Dewi.


"Tidak juga. Pada dasarnya Papa dan Mama sangat kesepian di rumah. Jadi kalau ada Dwi sama Dewa kan setelah pulang kerja mereka ada yang diajak ngobrol." Ujar Hamzah.


Dewi termenung. Dia tengah mempertimbangkan hidup yang lebih baik untuk adik-adiknya. Jaminan pendidikan diberikan oleh keluarga Hutomo pada dua adiknya. Meski Dewa yang masih SMP bercita-cita masuk taruna angkatan laut.


Saat Dewi sibuk berpikir, ponsel Hamzah berdering. Satu panggilan dari Heru masuk. Pria itu mengangkatnya, mendengarkan perkataan pria yang masih Hamzah panggil papa. Sesaat kening Hamzah berkerut. Hingga wajah Hamzah berubah cerah.


"Ada apa?" Dewi memberanikan diri bertanya. Sebab selama bicara di telepon mata Hamzah tidak lepas dari wajah Dewi.


"Ada perubahan rencana. Bukan papa dan mama yang ingin mengadopsi Dewa dan Dwi. Tapi papa Heru. Kamu tahu kan dia sekarang tinggal sendirian. Jadi dia ingin Dewa dan Dwi tinggal di sana untuk menemaninya."


"Pak Heru ingin mengadopsi Dwi dan Dewa?"


"Bukan hanya mereka tapi kamu juga." Wajah Dewi menunjukkan raut tidak percayanya. Pak Heru ingin mengangkatnya jadi anak.


"Papa ingin Dewi mengisi kekosongan tempat Nisa. Bukan menggantikannya. Papa ingin menikahkan dia, mengadaka pesta untuknya. Sebagai ganti pesta pernikahan Nisa yang dia impikan tapi tak pernah terwujud."


"Papa ingin kamu meneruskan apa yang belum sempat dilakukan oleh Nisa. Mewujudkan impian putrinya. Termasuk pesta pernikahan."


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2