
Semilir angin terasa sejuk menyentuh kulit. Udara pagi sangat segar menyapa hari. Sungguh menenangkan. Di tengah taman bunga di depan rumah, tampak Nisa yang duduk di bangku. Taman itu adalah tempat favoritnya, dia sendiri yang menanam bunga yang tumbuh di sana dan menatanya.
Wajah gadis itu terlihat bahagia, sebulan menikah dengan Hamzah dia merasakan indahnya orang berumah tangga. Meski sampai sekarang dia belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Itu yang membuat Nisa merasa bersalah pada Hamzah. Walau Hamzah menekankan berkali-kali kalau dia tidak terlalu memikirkan hal itu. Kesembuhan Nisa adalah yang paling utama saat ini.
Nisa menarik nafasnya dalam. Dalam dekapannya ada buku harian yang selalu menemaninya. Beberapa waktu kemarin, Nisa menemui Aria, mengucapkan terima kasih sekaligus minta maaf. Terima kasih sudah menyadarkan dirinya soal hakikat menikah dan cinta, hingga dia dipersatukan dengan Hamzah. Pria yang menurut Nisa sempurna dari segala sisi.
Minta maaf karena sejak dulu dia selalu mengganggu kehidupan Aria. Memaksakan perjodohan yang sudah jelas tidak bisa ditepati. Mengabaikan satu permata berharga yang sejak dulu berada di sisinya. Aria hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Nisa.
"Tahu gitu kenapa gak dari dulu aja nikahnya."
Nisa melebarkan senyum mendengar ledekan Aria. Iya, tahu begitu kenapa tidak dari dulu saja dia mengiyakan lamaran Hamzah. Menyesal? Tidak juga, semua pasti sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Nisa terdiam, mengusap pelan buku diarinya. Dirinya tidak menyesali apapun dalam hidupnya yang tak bisa diperkirakan sampai kapan. Hanya Allah yang tahu kapan dirinya akan dipanggil pulang. Tapi selama menunggu itu, dia akan menjalani hidupnya dengan bahagia.
"Lagi apa?" sapa Hamzah. Pria itu duduk di samping Nisa, dengan sang istri langsung memeluk tubuh kekarnya.
"Bi, nanti kalau aku pergi...."
"Pergi ke mana?" potong Hamzah cepat. Tidak tahu kenapa, tapi firasat Hamzah belakangan ini sangat tidak enak. Terlebih ini hari Kamis. Nisa pernah berujar sangat menyukai hari Kamis apalagi petang hari seperti ini. Gadis itu mengatakan Kamis adalah hari di mana banyak dosa diampuni hingga Jumat menjadi hari paling baik dalam kepercayaan orang Islam.
"Bukankah bagus kalau pergi di hari Kamis petang. Siapa tahu aku termasuk orang yang diampuni dosanya, dan Jumat menjelang."
"Bi, diamlah. Dengarkan aku. Aku sungguh bahagia bisa menjadi istrimu walau sebentar. Aku tidak akan serakah meminta lebih. Jika waktuku tiba, jangan menangisiku terlalu lama. Aku tidak mau keberadaanku menghambat langkahmu. Simpan aku di sudut hatimu, tidak perlu ruang banyak. Begitu saja aku sudah sangat bahagia."
__ADS_1
Air mata Hamzah mengalir tanpa diminta. Pria itu mengeratkan pelukannya pada sang istri. Perlahan diusapnya sudut mata yang sudah berair.
"Kamu tu bicara apa to Ra. Mbok ya jangan aneh-aneh." Nisa terkekeh mendengar jawaban santai sang suami.
"Lagi ngehalu Bi." Nisa tersenyum
"Sungguh aku tidak pernah menyesal dengan hidupku yang singkat. Aku menemukan apa yang kusebut kebahagiaan sejati akhir-akhir ini."
"Bi....aku mencintaimu. Semoga kita bisa bersama lagi saat di surga." Nisa mengecup pelan pipi Hamzah. Pria itu menatap dalam netra hitam milik Nisa. "Aku juga mencintaimu, Humaira-ku. Mari berdoa semoga kita dipertemukan lagi nanti di sana, amiiiinn"
****
Hamzah masih terpaku di tempatnya, sampai sebuah tepukan di pundaknya menyadarkan Hamzah. "Relakan dia. Ikhlaskan dia. Tidakkah kamu lihat dia tersenyum saat pergi." satu ucapan membuat tangis Hamzah kembali hadir.
Berselang sehari sejak keduanya berpelukan di taman, tepatnya setelah Hamzah pulang dari shalat Jumat, dia menjumpai Nisa tidur di sofa kamar mereka. Saat dibangunkan, Nisa berkata hanya ingin tidur dipeluk Hamzah, Nisa mengatakan dia kedinginan.
Air mata Nisa menetes saat dia menutup mata. Seolah tahu waktu itu telah tiba untuknya.
"Aku juga mencintaimu, Humaira-ku. Najwa Khairunisa." Nisa tersenyum mendengar bisikan sang suami. Seolah itu kalimat perpisahan yang paling manis untuknya. Pelan tubuh Nisa melemas, tangannya terkulai lemah.
Hamzah hanya bisa menangis teredam kala itu, dia tahu Nisa telah pergi meninggalkannya, menitipkan sekelumit kenangan paling indah dalam kehidupan seorang Hamzah.
"Bang..." Hamzah bahkan tak mampu menatap wajah sang adik. Kehilangan itu terasa nyata meninggalkan satu lubang besar di hati Hamzah, kekasih hatinya kembali pada penciptanya. Jodoh mereka hanya sampai di sana.
__ADS_1
Aria memeluk tubuh kakak iparnya yang masih setia berjongkok di sisi nisan sang istri. Hamzah belum rela meninggalkan Nisa sendirian. Hingga suara Aria membuat Hamzah bangkit berdiri. Sebab pria itu hampir dua jam duduk di sana.
"Apa yang kamu khawatirkan soal istrimu? Kita tidak pernah tahu bagaimana dia di sana. Tapi setidaknya kita tahu Nisa baik, suka membaca Qur-an, suka bersedekah. Suka berpuasa sebelum dia sakit. In sya Allah, dia tidak akan kesepian."
Hamzah melangkah ragu, meski begitu semakin jauh langkahnya kian yakin. Sebelum keluar dari area pemakaman, Hamzah menoleh, melihat makan sang istri untuk terakhir kalinya. "Aku akan menunggu waktu kita bertemu kembali, Humaira-ku sayang." Hamzah mengusap air matanya. Masuk ke mobil yang dikendarai Aria.
"Antarkan aku ke rumah papa Heru." Tidak menjawab, Aria hanya menuruti permintaan Hamzah.
Di kediaman Heru, beberapa kerabat masih berkumpul, mereka masih akan di sana sebab hari ini sampai tujuh hari ke depan akan ada tahlilan untuk mendoakan Nisa. Hamzah langsung disambut pelukan oleh sang ayah mertua. Satu lagi lelaki yang tentu merasakan kehilangan yang teramat besar.
"Terima kasih, sudah sudi menemani Nisa sampai akhir. Terima kasih sudah memberikan kehidupan yang manis sebelum dia pergi...." tangis Heru pecah, disusul isak lirih dari ibu Hamzah, Adinda.
Dua pria itu menangis, melihat ke arah foto kenangan yang terpajang di dinding rumah Heru. Foto yang diminta Nisa seminggu yang lalu. Dalam gambar itu terlihat senyum Nisa mengembang sempurna.
Satu kehidupan berakhir, meninggalkan jutaan kenangan dan rasa sedih yang menggelayut di hati banyak orang. Nisa, gadis baik dan cantik itu telah pulang ke pangkuan penciptanya setelah menyelesaikan satu tahapan kehidupan. Dunia fana.
Hamzah masuk ke kamar mereka di lantai dua. Menunaikan sholat Ashar yang hampir terlewat waktunya. Hamzah sesaat merasakan kehampaan dalam hidupnya. Dia seolah kehilangan arah. Tidak tahu ke mana harus melangkah.
Hingga sudut mata Hamzah melihat satu buku di samping kitab suci yang sering Nisa baca. Lembar terakhir dia buka, hatinya lagi-lagi meratap pilu membaca curahan hati Nisa.
"Tak pernah kusesali apa yang terjadi dalam hidupku yang singkat. Sebab dia memberiku sebuah anugerah di akhir hidupku. Seorang suami yang akan selalu kurindu. Bi, jika waktuku tiba, jangan sedih. Setelah aku pergi, teruskan hidupmu. Carilah istri yang bisa melayanimu dengan baik. Aku tulus mendoakan kebahagiaanmu Bi. Terima kasih untuk kenangan manis yang sudah Abi berikan untukku. Jangan menangisi perpisahan kita. Karena aku selalu memohon agar kita bisa bertemu lagi.... nanti."
***
__ADS_1
Up lagi readers. Author mewek nulis ini sepagian. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***