My Sweet Journey

My Sweet Journey
Frustrasi


__ADS_3

Beberapa perawat tampak sibuk membalut luka di pergelangan tangan Yuna. Perempuan itu mencoba bunuh diri, menggunakan garpu makan, Yuna menusuk nadinya sendiri. Luka Yuna cukup dalam, untungnya tidak sampai memutus urat nadi wanita itu. Hingga nyawa Yuna berhasil diselamatkan.


"Apa kita perlu memberitahu pak Angga?" tanya si perawat.


"Besok saja. Takutnya pak Angga sudah tidur. Lagian ini sudah ditangani, perketat penjagaan untuk Yuna." Perintah dokter Kanti, menatap iba pada Yuna.


Dokter Kanti menghela nafas, sepertinya keadaan Yuna memburuk lebih cepat. Wanita itu sangat bersimpati pada Angga. Lima tahun menikah dengan wanita paranoid. Tanpa tahu kalau Yuna bisa berubah menjadi wanita yang mengerikan.


Ini Yuna masih dalam tingkat melukai diri sendiri, tidak menutup kemungkinan kalau lambat laun Yuna bisa membahayakan orang di sekelilingnya. Dokter Kanti harus mengantisipasi hal itu.


♧♧♧


Angga menawarkan diri untuk mengantar Meri dan keluarganya pulang. Sebenarnya Aria menyediakan supir untuk keluarga Nurul. Namun Angga lebih dulu mengambil start. Aria yang tahu usaha Angga pun hanya bisa tersenyum.


Hingga mobil Angga melaju meninggalkan rumah besar Aria, membiarkan Nurul mengikuti Santo tinggal di sana. "Sebaiknya Angga jujur pada Meri dan keluarganya." Saran Mala.


"Aku sudah bilang padanya. Jangan lama-lama pedekatenya." Rossa yang menjawab tapi sorot matanya tertuju pada Hamzah.


"Ya Allah Sa, dia susah banget dideketin. Ini aja sudah aku modusin, tetap gak mempan. Tu dia pulang sendiri."


"Wooohh ngaku Pa anakmu." Adinda berucap pada Zai.


"Kalau sudah yakin lamar saja. Toh Heru sudah memberimu restu." Zai malah semakin mengompori Hamzah.


Hamzah hanya bisa menepuk pelan dahinya. Tidak menyangka jika semua orang pro dengan rencananya yang ingin mendekati Dewi. "Kelamaan jomblo tidak bagus bang."


"Jadi duda, biarpun masih perjaka."


"Sialan!!" Hamzah mendengus geram mendengar ledekan Aria, si adik ipar. Semua orang tertawa mendengar lawak receh itu.


Mobil Angga berhenti di depan rumah Meri. Pria itu ikut turun, sebab dia memang ingin bicara pada orang tua Meri. Angga telah mengambil keputusan. Kalau dia akan memulai proses pendekatan dengan Meri. Karena itu dia ingin meminta izin pada orang tua Meri.


Baik Meri maupun orang tuanya terkejut, saat Angga mengutarakan maksudnya. Terlebih setelah mereka mendengar penjelelasan soal siapa Angga.


"Saya sebenarnya masih beristri, tapi istri sedang berada di rumah sakit jiwa."


Satu rentetan kalimat dari Angga membuat Meri dan keluarganya tertegun. Terlebih Meri. Dia tidak menyangka jika pria yang baru sekali bertemu dengan Angga, ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengannya. Dan Angga tak main-main, sebab jika Meri setuju, pernikahan yang pria itu inginkan. Bukan janji tapi pembuktian.


"Kami pada intinya terserah pada Meri. Dia yang akan menjalani." Ayah Meri menjawab. Walau baru bertemu sekali, pria paruh baya itu bisa merasakan kesungguhan hati Angga. Tidak ada kebohongan yang terlukis di mata Angga.

__ADS_1


Sementara Meri tampak masih tidak percaya. Angga ingin memperistri dirinya. Melepaskan Santo dan dia mendapat pria seperti Angga meski sudah beristri.


"Aku tidak memaksamu. Aku juga tidak mau menekanmu. Pikirkan jawabanmu baik-baik. Aku tidak menutup keinginan jika kamu ingin mengenalku lebih dekat. Mari berta'aruf untuk mencari ridhonya."


"Aku ingin bertemu dengan istri mas." Senyum Angga mengembang mendengar panggilan Meri padanya. Dari kemarin yang masih memanggil bapak, kini sudah berubah mas. Dia berharap tidak salah memilih kali ini.


♧♧♧


Dewi mengulum senyum melihat tempat di mana dia berada sekarang. Setelah menyelesaikan tugas mengajar Adnan, gadis itu menurut saat Hamzah membujuk untuk membawanya ke tempat yang kemarin pria itu sebutkan. Sebuah pasar loak yang berisi deretan penjual buku lawas dan banyak lagi barang yang lain.


Hari ini Dewi memiliki waktu luang, dua adiknya yang sedang liburan berada di rumah paman mereka di kota sebelah, baru akan pulang minggu depan. Karena itu Dewi punya waktu lebih, tidak terburu-buru pulang.


Toko buku adalah surga bagi Dewi yang suka membaca. Terlebih dia sedang mencari referensi untuk seorang murid tutornya yang akan ujian sastra bulan depan. "Ayuuukk, kok malah diam." Suara dalam Hamzah membuat Dewi tersadar dari rasa terpesonanya pada tempat yang baru dia datangi.


Gadis itu mengekor langkah Hamzah. Dekat tapi tetap menjaga jarak. Semakin masuk ke dalam, mata Dewi dibuat semakin berbinar senang. Ada banyak buku yang sudah lama dia incar, tapi belum dia dapat. Satu karena susah dicari sebab termasuk buku lama. Dua, ya jelas karena dia belum punya uang. Sepertinya Dewi harus semakin banyak mengambil murid untuk dia ajar.


"Halo, Ko. Lama tidak bertemu."


"Aduhhh," Hamzah berbalik, melihat kening Dewi memerah menabrak punggungnya. Dewi tidak memperhatikan Hamzah yang berhenti, sebab terlalu asyik melihat buku.


"Kamu gak apa-apa?" Hamzah tanpa sadar menyentuh kening Dewi. Hati keduanya bergetar, saat kulit mereka bersentuhan untuk pertama kalinya. Rasa yang aneh seketika menyusup ke hati Dewi. Dia yang baru pertama kali mengenal lelaki tampak bingung dengan apa yang dia rasa.


"Woo yo, siapa ini? Sudah lama tak da mari." Seorang lelaki tua dengan logat khas negeri tirai bambu menyapa. Hamzah tersenyum menanggapi sapaan pria yang Hamzah panggil Koko itu.


"Agak sibuk Ko. Tu nganterin temen mau nyari buku." Koko menyipitkan mata melihat ke arah Dewi yang tampak antusias menoleh kiri dan kanan.


"Lihat-lihat saja dulu. Barangkali ada yang mau kamu beli." Senyum Dewi mengembang, gadis itu mulai bergerak, hunting buku.


"You tahu, tak boleh pacaran?" si Koko berbisik. Sepertinya pria Cina itu cukup dekat dengan Hamzah. Yah mereka kan saudara satu negara, alias sama-sama keturunan Cina. Hamzah tersenyum, si Koko tahu aja aturannya.


"Kalau dia mau besok juga tak nikahin Ko." Balas pria yang wajahnya seiras dengan Lin Yanjun. Jemari pria itu menelusuri deretan buku yang ada di depannya. Ekor mata Hamzah sesekali melirik Dewi, mengawasi. Hamzah tahu kalau Dewi gadis yang sedikit ceroboh saat berada di tempat yang dia suka. Kewaspadaan Dewi menurun drastis, dan sepertinya Hamzah menyadari hal itu.


"Waaahh sudah yakin kah?" si Koko bertanya balik sembari membersihkan barang dagangannya dengan kemoceng.


"Niat baik in sya Allah akan berakhir baik juga."


"Amiinnn," si Koko mengaminkan doa Hamzah. Bersamaan dengan jari Hamzah yang berhenti pada satu buku yang nyempil di antara banyaknya buku yang ada di sana. Hamzah tersenyum, melihat pada Dewi yang sudah memilih beberapa buku dalam pelukannya.


"Koo, aku ambil ini. Series lengkapnya ada tidak?" si Koko menoleh. Wajah pria itu sesaat terkejut melihat buku yang ada dalam tangan Hamzah.

__ADS_1


"Haiyaa macam mana lu boleh jumpa tu buku?" Hamzah terkekeh. Jika si koko sudah bicara begitu, berarti buku itu sebenarnya ingin di-keep oleh sang pemilik lapak.


"Bantuin ya ini buat....." Lelaki Cina itu membulatkan mata saat Hamzah berbisik di telinganya.


"Woke...woke....cincailah. Buat you I kasih murah." Hamzah tersenyum lebar melihat si koko bersemangat, mencarikan seri lain dari buku tersebut.


"Ini akan jadi mahar sempurna untukmu." Hamzah sekali lagi tersenyum, melihat binar bahagia terlihat di wajah Dewi, saat gadis itu mendekat ke arahnya.


"Sudah?" Dewi mengangguk yakin dengan senyum malu-malunya. Gadis itu melihat sekelilingnya, dia akan datang lagi lain kali.


"Ada lagi yang mau di cari?" Dewi menggeleng pelan. Dia akan menabung, lalu ke sini lagi.


"Beneran irit banget ngomongnya."


♧♧♧♧


Di tempat lain, Aria terdiam di ruang kerjanya. Di depannya ada Amato yang juga sedikit shock dengan apa yang baru saja dia baca.


"Ini infonya valid kan?" Aria bertanya dengan raut wajah tidak percaya.


"Nggak tahu. Tapi kalau lihat sumbernya, harusnya sih valid." Aria memijat pelipisnya pelan.


"Kamu belum pernah ngapa-ngapain kan sama dia?" todong Amato.


"Ya belumlah. Kamu pikir aku pernah ngapain sama dia?" Amato mengedikkan bahunya, tidak tahu. Hening menyelimuti ruang kerja Aria.


"Dia kira-kira mengubah targetnya gak ya?" Aria menatap penuh tanya pada Amato.


"Lihat deh dari datanya aja dia sudah mengerikan. Siapa tahu dia gak cuma ngincer kamu. Tapi Rossa juga. Kamu gak lihat kalau dia hampir ngecees lihat istrimu." Amato membalik laptopnya. Memperlihatkan seorang wanita yang menatap penuh minat pada Rossa sang istri.


"Ini gila kalau beneran!" Aria mengusak kasar rambutnya.


"Lebih gila lagi kenapa kita gak tahu dari dulu!" Amato terlihat lebih frustrasi dari Aria yang kini sadar istrinya diincar orang.


****


Up lagi reader. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2