
Lantunan ayat suci terdengar di rumah kontrakan Rossa. Begitulah rutinitas yang selalu Rossa kerjakan selepas salat empat rakaat sebelum wanita itu tidur. Rossa membacanya di dekat Adnan yang hanya berkedip-kedip sebagai respon.
Mala tersenyum dari arah ruang makan, hatinya terasa damai mendengar suara Rossa. Lembut dan menenangkan. Mala seketika teringat putra tunggalnya. Sang putra juga fasih mengaji seperti Rossa, hasil didikan seorang kiai di satu pondok pesantren. Bukankah akan menyejukkan jika bisa mendengar keduanya kolab. Pasti rumah terasa adem, damai. Wah, pikiran Mala sudah melayang jauh ke depan.
Mala sendiri sedang mempersiapakan kelapa muda yang akan diolah jadi bothok manding, satu makanan khas dari daerah Jawa. Lauk yang terbuat dari kelapa muda dan biji pohon manding atau petai cina, dicampur bumbu, dibungkus daun pisang lalu dikukus. Seorang tetangga yang kebunnya ada pohon petai cina memberikannya pada Mala, untuk diolah lalu dijual pada mbak Semi, tukang sayur langganan mereka.
Rossa selesai dengan ritualnya, keluar kamar ikut membantu menyiapkan daun pisang yang akan digunakan untuk membungkus bothok manding tersebut. "Kalau jadinya banyak, besok Rossa bawa juga ke pabrik. Ada yang suka buat lauk makan siang." Kata Rossa. Hari ini dia libur membuat roti, lelah rasa tubuhnya.
"Lihat besok ya. Belum dibuat SW kan? Soale kadang mereka suka nyerbu. Jarang-jarang ada kan manding ini." Rossa menggeleng pelan. Begitulah keseharian dua orang itu. Bak ibu dan anak yang bahu membahu menghidupi keluarga mereka.
"Damai sekali jika bisa hidup seperti ini." Batin Mala, meski jauh dari kehidupan wanita itu sebenarnya, tapi Mala sangat menikmatinya. Mala pintar masak, suka kuliner tradisional. Di lingkungan tempat tinggal Rossa, kontrakan yang banyak dihuni pegawai dan karyawan berbagai pabrik.
Berjualan sayur matang sangat laku. Yang dicari justru menu-menu jadul. Salah satunya ya bothok manding tadi. Kalau ada oseng jantung pisang, sayur pucuk ubi. Semua laris manis di tukang sayur depan rumah mereka. Yang lebih menguntungkan lagi, bahan baku itu kadang di dapat dari tetangga kiri kanan yang punya kebun, disetorkan pada Mala, dia yang mengolahnya lalu menitipkannya di warung mbak Semi.
"Ini menyenangkan," kekeh Mala dalam hati. Dia lebih suka hidup seperti ini. Meski dia juga kadang ingat dengan dua pabrik brownis miliknya. Nantilah, dia akan bernostalgia dengan kehidupannya sebelum menjadi nyonya Aria Loka. Toh selama enam bulan ini, tidak ada masalah dengan pabrik brownis dan service AC peninggalan sang suami.
"Cha, jadi bagaimana hubunganmu dengan Angga?" Mala bertanya sambil mengulek bumbu bothok manding.
"Gak tahu bu, saya sudah minta cerai tapi mas Angga tidak mau menceraikan saya." Balas Rossa sendu.
"Wah kesempatan ini." Kompor meleduk mulai beraksi.
__ADS_1
"Sudah waktunya kamu memikirkan dirimu sendiri. Cari pria yang serius mau menikahimu. Yang masih single." Saran Mala. Sebenarnya Angga serius dengan Rossa, hanya statusnya yang sudah beristri yang membuat Rossa ingin mundur.
"Ada gak ya, yang mau nerima saya sepaket sama Adnan." Rossa mempertimbangkan hal itu.
"Pasti adalah. Percaya sama ibu. Yang penting selesaikan dulu urusanmu sama Angga. Toh kita masih bisa menghidupi diri sendiri. Omongan tetangga biarin aja." Benar-benar Mala ini sudah kebelet ingin menikahkan Rossa dengan calon pilihannya. Sampai-sampai Rossa dihasut agar mau berpisah dengan Angga.
"Bodo amatlah, yang penting ni cewek harus jadi mantu gue. Hempaskan si janda pirang itu." Tekad Mala dalam hati.
Bagaimana ceritanya Mala bisa bertemu Rossa? Rossa, gadis itu baru saja keluar dari satu pasar tradisional di daerahnya, lebih kurang enam bulan lalu. Selepas membeli bahan untuk membuat roti dan dus. Kala itu, Rossa cukup pusing karena orang yang biasa dia bayar untuk menjaga Adnan saat dia bekerja akan berhenti. Karena sang suami mengalami kecelakaan, harus dirawat untuk waktu yang lama.
Rossa melihat Mala yang tampak kebingungan waktu itu. Menghampirinya lalu bertanya siapa dia. Mala menyebutkan nama dirinya. Melihat ke arah Rossa, cantik dan santun. Begitulah kesan pertama yang Mala dapatkan saat bertemu Rossa. Mala seperti biasa, tengah marah pada Aria karena ulah sang putra. Disuruh menjauhi Katy, tapi terlihat semakin dekat.
Pada Rossa, Mala dengan enteng mengaku sudah diusir oleh anaknya sendiri. Karena si anak lebih memilih kekasihnya. Tega sekali Mala mengatakan hal itu. Penampilan Mala memang mendukung saat itu, daster bunga-bunga, sandal jepit.
Santo yang menunggu di seberang jalan tentu terkejut saat si nyonya di bonceng seseorang naik motor. Mengira diculik, Santo menguntit motor Rossa sampai ke rumah. Satu kode Mala berikan pada Santo. Dan asisten terpercaya itu paham. Hingga hari berikutnya Santo pun bisa menemui si nyonya. Dengan keputusan mengejutkan Santo terima dari Mala. Dia akan tinggal di sini. Santo tidak bisa mencegah keinginan atasannya yang kadang memang aneh dan somplak itu.
Sampai hari ini, enam bulan lebih, Mala betah tinggal di rumah petak dengan tiga kamar sempit itu. Menjaga Adnan juga menjual sayur matang. Susah tapi Mala menyukainya. Lalu bagaimana dengan Aria, sesuai perintah Mala, Santo memberitahu kalau si mama tidak sayang Aria sedang berlibur ke salah satu villa mereka di luar kota.
Sebulan berlalu dan Aria yang peka dengan keadaan mulai curiga. Mala tidak ada di villa mereka. Aria bahkan sempat lapor polisi, tapi sang mama menghubunginya waktu itu, mengabarkan kalau dia masih ingin liburan. Mala melarang Aria melapor pada polisi. Itu adalah kali terakhir Aria mendengar suara ibunya.
Sampai hari ini. Bisa dibayangkan bagaimana bingungnya Aria. Terlebih si mama menegaskan alasannya liburannya adalah dia enggan melihat si Katy menempel terus pada Aria. Pria itu belum sempat menjelaskan, si mama tidak sayang Aria sudah lebih dulu memutuskan sambungan teleponnya saat itu, membuat Aria pusing tujuh keliling.
__ADS_1
"Mama gak akan pulang sebelum bisa membuat Rossa berpisah dari Angga. Lalu membawanya ke rumah." Tekad Mala.
Hari berganti, Rossa kembali ke rutinitas kerjanya. Hari itu Rossa kesiangan, bothok manding buatan Mala trending. Pagi-pagi sudah banyak yang datang ke rumah untuk membeli langsung, takut tidak kebagian. Alhasil Rossa kena membantu Mala melayani pembeli dulu.
Dengan hasil dia kelabakan sendiri, untung Mala bisa diandalkan soal urusan Adnan. Braaakkk, tubuh Rossa terhuyung ke belakang setelah menubruk seseorang.
Mata Rossa membulat melihat siapa yang dia tabrak. "Mati aku! Si bos tukang paksa!"
"Ayoo, kita punya urusan yang belum selesai, Nur." Aria menarik paksa tangan Rossa. Mau dibawa ke mana dia. Alah sialnya hariku, rutuk Rossa dalam hati. Dengan Aria tersenyum lebar. Dia punya rencana untuk mengerjai Rossa.
Wanita itu meronta dalam cekalan tangan Aria yang membawa wanita itu keluar dari gedung besar itu melalui pintu belakang.
"Pak, saya mau kerja ini." Rossa sungguh takut jika ada orang yang melihat kejadian ini. Sedang Aria, beberapa kali menggelengkan kepala, mengingat kalau Rossa istri Angga. "Aku pasti sudah gila! Bermain api dengan istri orang." Batin Aria, membuka pintu mobilnya. Mendorong masuk tubuh Rossa ke dalamnya.
"Pak ini bagimana urusannya, saya mau kerja. Nanti SPV (supervisor) line nyari saya." Kata Rossa panik.
"Siapa suruh kemarin kabur?!"
Glek! Rossa menelan ludahnya. Dia sepertinya sudah membangunkan macan yang sedang tidur.
***
__ADS_1
Up tengah malam readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***