My Sweet Journey

My Sweet Journey
Hidangan Lezat


__ADS_3

Senyum Angga merekah bertahan sepanjang minggu. Binar bahagia terlihat jelas di wajah pria yang pernah menikah siri dengan Rossa. Bagaimana Angga tidak bahagia, Meri mengiyakan proses ta'aruf mereka. Gadis itu bersedia menjalani proses pedekate sesuai prosedur agama mereka.


"Gaskeeun lamar sajalah. Timbang jadi lahan setan buat godain kalian." Saran Aria, saat mereka bertemu di ruangan Aria. Angga tengah memberi laporan closing akhir bulan.


"Sik to. Aku gak mau nekan Meri. Kami akan menjalaninya sesuai arus." Balas Angga sembari menganalisa plan yang Aria ajukan untuk kuartal selanjutnya.


"Nanti kebablasan. Kamu bukan Hamzah yang belum pernah kelon. Kamu biasa melakukan itu. Yakin kamu bisa nahan diri? Sudah berapa lama kamu puasa? Entar setannya bangun terus nerkam Meri bahaya tahu." Kompor Aria.


Angga sejenak melihat wajah Aria yang tetap melihat ke arah berkasnya sembari bicara. Tanpa melihat pada Angga. "In sya Allah aku bisa menahan diri." Balas Angga kalem.


Aria menarik nafasnya dalam. Angga memang terlihat lebih dewasa sekarang. Di banding saat pria itu masih berstatus suami siri Rossa. Sudut bibir Aria seketika tertarik. Teringat bagaimana Angga mampu bertahan tidak menyentuh Rossa selama mereka menikah. Jadi kenapa sekarang Aria harus takut Angga akan melampaui batasnya. Jika dengan yang sudah sah saja, dia bisa menahan diri, apalagi ini yang masih pedekate.


"Baiklah, aku percaya padamu. Cuma jangan lama-lama. Anak gadis orang lu ajakin jalan mulu tiap hari, yang ada mulut netijen nanti gatel bisa masuk ke akun bibir nyinyir nanti."


Tawa Angga meledak, iya juga ya secara dia tampannya gak kaleng-kaleng. Dia bisa jadi bahan pansos untuk para pemburu berita yang ingin pemes dadakan.


Sementara itu rapat penting tengah terjadi di rumah besar Hutomo. Hamzah yang sudah yakin ingin menikahi Dewi harus menyelesaikan masalah paling besar yang ada di depan mata sebelum membawa Dewi ke hadapan penghulu.


"Jadi...."


"Papa sih setuju saja. Tidak masalah. Toh rumah bakal jadi rame kalau ada mereka. Bisa diajak main sebelum kalian punya anak."


"Kenapa Rossa gak boleh ngadopsi mereka." Protes si bungsu.


"Heleh, kamu nyetak sendiri yang banyak. Ngapain adopsi anak orang." Adinda yang menyahut. Pasalnya perempuan itu sudah gemas ingin menimang cucu, eh si Rossa tampak kalem-kalem saja.


"Isshhh Mama begitu. Kan aku sama mas Aria mau pacaran setelah nikah. Bebas." Cengir Rossa.

__ADS_1


"Alah kamu tinggal hamil nanti yang momong banyak." Adinda menjawab enteng. Astaga perempuan ini, sebenarnya Adinda cukup bosan. Kerjaannya selain menyatroni eh berkeliling memeriksa toko emas milik mereka, ya ngompreng sana sini bersama Mala.


"Bilang aja Mama dikomporin sama kanjeng mami." Ledek Hamzah sebal. Mereka sedang membahas masalahnya kenapa malah jadi ngomongin si anak bontot yang belum hamil.


"Abang ni sekarang sensi bener lah. Dewi gak nolak...."


"Mbak...." Rossa mencebik mendengar Hamzah membenarkan panggilannya pada Dewi. Memang iya sih, kalau Dewi jadi menikah dengan Hamzah, otomatis Dewi akan jadi kakak iparnya.


"Nantilah, belum pasti ini." Balasan Rossa membuat Hamzah ingin sekali menjitak kepala sang adik yang tengah mendekap satu kantong besar keripik kentang. Di sela bunyi kriuk, kriuk renyah yang terdengar.


"Kamu berapa hari ini ngekepin itu mulu. Gak kebas tu lidah, itu kan MSG tinggi. Kamu gak bisa makan itu banyak-banyak." Hamzah memandang aneh pada Rossa. Pria itu pikir ada yang berbeda dalam diri sang adik, tapi itu apa, dia sendiri tidak tahu.


"Lagi pengen bang. Entar kalau bosan ya berhenti sendiri."


"Alah malah ngelantur ke mana-mana. Jadi gak ini rencananya?" Potong Zai cepat. Pria itu sejak tadi menyimak obrolan unfaedah dua anaknya.


"Bicarakan dulu dengan Dewi, buat dia merasa nyaman. Jangan sampai keinginan kita menyinggung perasaannya. Paham kan maksud Papa?" Hamzah mengangguk mengerti dengan ucapan sang ayah.


Satu masalah selesai, tinggal bagaimana menghandle Dewi, gadis itu temasuk keras kepala. Sama sih dengan Nisa sebetulnya. Namun keras kepala Dewi terkesan berlipat, mengingat gadis itu tidak sereceh dan sehangat Nisa saat bergaul dengan orang lain.


Sifat tertutup dan minderan Dewi membuat Hamzah harus pintar memilih kata saat bicara pada Dewi. Salah kata perawan ting ting Hamzah itu bisa tidak mau lagi bertemu Hamzah.


Di tambah umur Dewi yang baru 21 tahun, masih muda dengan emosi labil dan pola pikir yang grasak grusuk. Tanpa pertimbangan matang langsung memutuskan sesuatu. Namun begitu, satu hal yang membuat Hamzah tersenyum. Dewi tak lagi sungkan untuk menatapnya, walau curi-curi. Dan itu terlihat sangat lucu di mata Hamzah.


"Kenapa Abang...eh Kakak ada di sini?" tanya Dewi spontan sekaligus heran melihat Hamzah yang berdiri sambil bersandar pada mobil miliknya. Memakai kemeja lengan panjang dengan lengan digulung sampai siku, celana hitam, pantofel hitam. Plus kaca mata hitam yang nangkring di hidung Hamzah.


Simple tapi berhasil membuat Dewi kelabakan melihatnya. "Jantung...jantung....please dimohon kerjasamanya. Jangan berhenti berdetak sekarang. Nanti eike mati, belum puas mandangin ciptaan maha sempurna-Mu Ya Allah." Dewi menepuk kepalanya mendengar kicauan hatinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa? Kepalamu sakit?"


Deg...deg....deg.... Mati aku, mati aku. Dewi membatin dalam hati saat tangan Hamzah menahan tangannya, waktu Dewi ingin menepuk kepalanya lagi.


"Enggak Kak." Balas Dewi gugup.


"Sudah selesai kan ngajarnya?" Hamzah bertanya dan Dewi mengangguk. Detik berikutnya pria itu menggenggam tangan Dewi, membawa gadis itu memutari mobilnya, membukakan pintu, lalu memintanya masuk. "Ya Allah," demi apapun Dewi ingin pingsan saat itu juga. Dia dan Hamzah baru saja bergandengan tangan. Skin ship pertama mereka. Wajah Dewi merona merah menahan debar di dada juga bahagia di hati. Sesaat gadis itu merasa tengah bermimpi.


Hingga pintu mobil yang tertutup dan wangi Hamzah yang maskulin sekaligus menenangkan membawa Dewi tersadar.


"Ada yang mau kubicarakan. Aku harap kamu menyetujuinya." Ujar Hamzah, menatap hangat pada Dewi sebelum menjalankan mobilnya, meninggalkan sekolah tempat Dewi mengajar jadi guru bantu.


"Soal apa?" Dewi bertanya penasaran. Dia pikir sudah memberi ketegasan pada Hamzah soal hubungan mereka yang tidak mungkin. Dewi tidak akan menikah sebelum menuntaskan tugasnya sebagai seorang kakak. Menyekolahkan adiknya sampai lulus SMA, setidaknya begitu. Syukur kalau bisa sampai bangku kuliah.


"Soal kita, masa depan kita." Balas Hamzah melajukan mobilnya ke satu tempat di mana saat ini Rossa tengah berusaha menenangkan diri. Sebab di hadapannya duduk Katy dan seorang temannya. Menggunakan cara lain, Katy masih berusaha mendekati Rossa. Wanita yang kini terlihat begitu cantik dan seksi di mata Katy dan Nong Jee.


Memakai dress magenta tertutup lengan panjang selutut. Sangat sopan, tapi bagi Katy dan Nong Jee justru terlihat sangat menarik.


"Kita bertemu lagi Rossa." Sapa Katy dengan nada menggoda.


"Woelah gue kagak tergoda sama jeruk elu. Terong balado lebih dahsyat kali." Kekeh Rossa dalam hati. Sekarang bagaimana caranya dia kabur dari sini. Pergi secara terang-terangan akan menyinggung Katy, hal akan berbahaya. Ngamuknya kaum modelan Katy serem woi.


Di depan Rossa, Katy dan Nong Jee terlihat memandang penuh nafssuu pada Rossa. Mereka seperti melihat hidangan lezat tersaji di hadapan mereka, siap disantap.


****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2