
Adinda menggeram marah, wanita itu melajukan mobilnya dengan kencang, menuju ke satu tempat. Ibu Rossa itu tidak membiarkan siapapun ikut dengannya. Baginya urusan ini bisa dia selesaikan sendiri. Seorang anak buah Adinda sudah memberitahu di mana orang yang dicarinya berada. Apa dia bersama seseorang, satu pertanyaan dari Adinda terlontar. Senyum seketika menghiasi bibir Zaiharudin Hutomo.
"Aku mau lihat bagaimana reaksi orang itu saat tahu kelakuanmu."
Adinda mungkin tidak berniat menjerat si pelaku ke penjara, wanita itu hanya ingin memberi efek jera pada orang tersebut. Tak berapa lama mobil Adinda masuk ke sebuah restauran, sudut bibir Adinda melengkungkan senyum tipis.
Tak perlu waktu lama, diantar seorang BG-nya, Adinda masuk ke sebuah ruang VIP tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Dua orang yang ada di dalamnya terkejut melihat Adinda ada di sana.
"Tante..." Sapa si pria ramah, sementara si wanita langsung menggeram marah. Bisa-bisanya mengganggu waktu berduanya dengan sang suami.
"Ngapain bulek di sini?" tanya si wanita sembari menahan kesal.
"Nggak ngapa-ngapain sih. Cuma mau lihat bagaimana sikapmu setelah mendorong orang sampai koma." Beber Adinda tanpa basa basi.
"Maksud Tante apa ya?"
"Langsung saja, Istrimu ini baru saja mendorong seorang gadis dari tangga, dia terluka dan sekarang koma di rumah sakit. Apa kamu tahu itu, Daniswara Angga."
Ya, yang ditemui oleh Adinda adalah Yuna dan Angga. Meski memakai masker yang menutup wajahnya, tapi Adinda masih bisa mengenali siluet tubuh Yuna saat mendorong Nisa.
__ADS_1
"Bulek jangan sembarangan menuduh ya. Saya bisa laporkan bulek pada polisi." Kilah Yuna dengan rasa cemas mulai menelusup di hati. Masak cuma di dorong dari tangga saja langsung koma. Yang mendorong Nisa memang Yuna. Dia kesal karena gadis itu terus menghindarinya. Hingga saat Yuna melihat Nisa makan di restauran yang sama dengannya, terbit ide gila di pikiran Yuna. Dia ingin memberi pelajaran pada Nisa.
"Mau lapor polisi? Silahkan, bulek tidak takut. Tapi sebelumnya lihat ini dulu." Dua notif masuk ke ponsel Yuna dan Angga. Keduanya memeriksa ponsel masing-masing. Baik Yuna maupun Angga langsung melotot melihat video yang dikirim ke gadget mereka.
"Ini apa-apaan Yuna?!" Suara Angga meninggi. Sungguh dia tidak percaya jika istrinya mampu melakukan hal sekeji itu.
"Ini fitnah mas. Mereka mau menjelekkan namaku!" Kata Yuna membela diri.
"Fitnah katamu? Ini benar. Itu adalah rekaman kamera pengawas dari kafe tempat kamu mendorong gadis itu. Apa kamu tahu keadaan gadis itu sekarang? Dia koma, dan lebih parahnya dia sakit kanker Yun! Apa kamu gila? Setega itu pada gadis yang tidak punya salah padamu!" Adinda meluapkan emosinya yang tertahan sejak tadi.
Yuna diam tidak mampu menjawab, dia cukup terkejut dengan penuturan Adinda soal keadaan Nisa. Sedang Angga, langsung terduduk lemas. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Yuna. Dia mengamati video itu sekali lagi. Memastikan kalau itu benar Yuna, dan sayangnya itu memang sang istri. Dia mengenali pakaian Yuna, dia tahu pasti sang istri memiliki baju itu dalam lemari bajunya.
"Mas...mas...ini tidak benar. Aku tidak melakukan hal itu. Bulek bohong. Jangan percaya padanya." Mohon Yuna. Kali ini wajah Yuna sangat ketakutan. Sementara Angga hanya bisa diam. Masih mengamati video yang terputar di ponselnya.
"Kau lihat? Aku yakin Angga akan segera menceraikanmu!"
"Bulek jangan bilang begitu!" Pekik Yuna ketakutan. Kehilangan Angga adalah horor paling menakutkan dalam hidup Yuna.
Adinda tersenyum mengejek, dia pastikan Angga akan melakukan hal itu. Pertama, Yuna sudah keterlaluan ditambah wanita itu tidak mau memperbaiki diri. Kedua, Angga berhak mendapat wanita yang lebih baik dari Yuna, Angga terlalu baik untuk Yuna.
__ADS_1
"Kau bisa lihat bagaimana suamimu akan bertindak." Adinda melenggang keluar dari tempat itu. Puas melihat wajah ketakutan dan pucat dari Yuna. Yuna sendiri tidak menyangka kalau aksinya terekam kamera CCTV. Yuna lupa akan hal itu. Kini kerisauan melanda hatinya. Dia tidak mau berpisah, tidak bisa kehilangan Angga. Dia harus memikirkan cara untuk mencegah Angga meminta pisah darinya.
Di tempat lain, Angga langsung menerobos masuk ke ruangan di mana Nisa di rawat, meski dia tidak dapat bertemu Nisa. Di sana Angga bisa melihat Shilda dan Rossa yang menunggu. Juga seorang pria yang Angga duga orang tua Nisa. Angga memperkenalkan dirinya. Secara blak-blakan dia mengaku kalau dirinya suami dari orang yang mendorong Nisa.
Shilda dan Heru terkejut, tapi tidak dengan Rossa. Dia dan Adinda tahu Yuna yang mendorong Nisa. "Maafkan perbuatan istri saya, Pak." Ucap Angga penuh sesal. Sungguh dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, Angga bingung. Di satu sisi dia tidak tahan lagi dengan tingkah Yuna. Tapi di sisi lain, sebagai suami dia punya kewajiban membimbing Yuna menjadi pribadi yang lebih baik, memperbaiki diri. Tingkah buruk Yuna tak lepas dari kegagalannya dalam mendidik sang istri.
Heru hanya bisa menghela nafas, melihat Angga bersimpuh di depannya. Merendahkan harga diri di depan orang banyak. Tidak ada rasa malu dalam diri Angga saat mengakui kesalahan Yuna. Wajah dan ucapan Angga memancarkan ketulusan yang nyata, tidak ada kepura-puraan di sana.
"Bangunlah, bukan di sini tempatmu memohon. Om cukup marah saat tahu ada yang mendorong Nisa sampai putri Om jadi begini. Tapi apa yang bisa kita lakukan sekarang. Marahpun tidak bisa membuat Nisa sembuh. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa. Bantulah Nisa dengan doa. Om minta itu. Untuk perbuatan istrimu biar Allah yang membalasnya." Kata Heru bijaksana. Pria itu membimbing Angga bangun, lalu mendudukkan Angga di samping Heru.
"Terima kasih Om. Saya akan membantu mendoakan putri Om supaya lekas sembuh. Dan untuk biaya perawatan saya akan membantu. Saya harap Om tidak menolak niat baik saya."
Heru kembali menarik nafas dalam. Ingin rasanya dia menolak. Tapi melihat wajah Angga, akhirnya Heru mengangguk. "Setelah ini waktunya memberi pelajaran pada Yuna. Belum puas dia menampar Rossa dan menyiram air panas. Dia malah semakin keterlaluan." Batin Angga.
Sementara itu, dari dalam ruang ICU, keluar Hamzah yang berlari dengan wajah panik. "Abang ada apa?" tanya Rossa panik.
"Nisa...Nisa...dia...." Semua orang menunggu dengan cemas tiap kata yang keluar bibir kakak Rossa tersebut.
****
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****