
Semua orang terdiam, tidak ada yang bicara sama sekali. Terkejut, sedih dan juga bingung. Terlebih Heru, pria itu hanya bisa menatap kosong pada ruangan yang ada di hadapannya. Sebagai seorang ayah dia merasa gagal. Bahkan saat Nisa sakit dia tidak tahu. Dia merasa sangat tidak berguna.
"Nisa sudah hampir enam bulan ini menderita kanker, tapi dia tidak ingin menyusahkan orang lain. Dia tahu anda akan merasa sedih jika mengetahui kalau dia sedang sakit. Maaf."
Permintaan maaf justru datang dari Prof Pujo, dokter yang selama ini merawat Nisa, melakukan kemoterapi untuk mencegah sel kanker meluas juga mengendalikan pertumbuhan sel kanker. Namun hasilnya tidak seperti yang mereka harapkan. Keadaan mental Nisa yang tidak baik-baik saja membuat tubuh Nisa lemah, hingga penyakit itu perlahan menggerogoti tubuh Nisa.
"Apa yang akan kita lakukan Om?" tanya Rossa. Dalam hal ini dia turut merasa bersalah. Rossa sering bertemu Nisa, berteman tapi tidak pernah menyadari kalau Nisa sedang sakit. Rossa seketika merasa bukan teman yang baik. Nisa tahu semua soal dirinya, tapi dia...tidak tahu apapun mengenai Nisa.
"Om juga gak tahu," balas pria paruh baya itu dengan wajah linglung. Shilda sendiri hanya bisa diam sejak tadi. Dia tidak mampu berkata apa-apa. Saat semua masih larut dalam keterkejutan mereka, dokter Bimo, dokter yang menangani Nisa under Prof Pujo keluar dari ruang tindakan IGD. Sebuah kabar buruk kembali menghampiri ketiganya.
"Benturan di kepala Nisa, membuat Nisa mengalami pendarahan otak, dia kini mengalami koma. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU."
Tiga orang itu hanya bisa berdiri mematung, tak lagi tahu harus bereaksi apa. Nisa koma? ICU? Heru terduduk lemas di kursi tunggu. Pria itu menangis tersedu. Apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan putrinya? Rossa dan Shilda perlahan menyentuh tangan lelaki tua itu. Mereka bisa merasakan bagaimana sedih dan putus asanya Heru.
"Titip Nisa. Om mau ke mushala." Pamit Heru. Tidak ada hal lain yang mampu Heru pikirkan selain mengadu pada-Nya. Pemilik alam semesta, penguasa semua kehidupan. Heru tahu, seorang anak adalah titipan. Suatu saat akan pergi meninggalkannya, entah kembali ke tempat asal atau ikut suaminya, itu sudah jadi kodratnya. Bukan menyerah, tapi lebih kepada pasrah.
Sepeninggal Heru, Rossa dan Shilda mengikuti brankar Nisa untuk dipindahkan ke lantai 3 gedung seberang, di mana ruang ICU berada. Mereka berjalan lumayan jauh dengan langkah setengah berlari, mengejar dokter dan nakes yang mendorong brankar Nisa. Meleng sedikit mereka bisa kehilangan jejak.
Wajah pucat dengan masker oksigen menutupi hidung Nisa. Sepuluh menit kemudian, mereka berhenti saat dokter Bimo menghilang di balik pintu geser otomatis ruang ICU. Rupa Rossa berubah, saat dia membalikkan tubuhnya ke arah kiri. Di mana ruang PICU, ICU khusus anak berada.
Ingatannya melayang ke enam tahun silam. Saat Adnan dibawa masuk dalam kondisi lebih kurang seperti Nisa. 20 hari Rossa habiskan di tempat itu, dan 12 hari dibangsal anak kelas 3. Hari-hari penuh derai air mata yang Rossa lalui, tidak akan pernah Rossa lupakan. Tidur beralaskan tikar seadanya, berbaur dengan para penunggu pasien lain.
Rossa menghembuskan nafasnya kasar. Hari-hari kelam itu sudah berlalu untuknya. Wanita itu masih ingat berapa banyak kematian yang dia lihat, tiap malam selalu berdoa agar Adnan diberi kesempatan melihat dunia. Dan Yang Maha Kuasa mengabulkannya. Rossa dan Shilda ikut duduk di deretan kursi yang kalau malam beralih fungsi menjadi tempat tidur. Tumpukan tikar dan bantal menjadi satu di sudut ruangan. Shilda menepuk pelan lengan Rossa, seolah memberi kode kalau semua sudah selesai untuknya.
"Ehh, ini bukannya mbak Rossa ya?" seorang perawat menyapa Rossa.
__ADS_1
"Mbak Zuli, apa kabar?" keduanya tampak berbincang akrab. Zuli salah satu perawat di ruang PICU, dulu sering sekali dapat jatah merawat Adnan saat bertugas.
"Dokter Tio bilang kalau Adnan bisa sembuh, alhamdulillah. Saya ikut senang." Kata Zuli.
"Nanti saya ajak ke sini. Beberapa hari ini dia sibuk home scholling." Perbincangan merembet sampai Zuli bertanya siapa yang sakit. Dengan Rossa menjelaskan singkat soal Nisa.
"Aahh, under dokter Bimo dan Prof Pujo." Dari raut wajah Zuli bisa Rossa baca kalau dua dokter itu yang menangani berarti sudah serius. Zuli undur diri setelah mengucapkan doa supaya Nisa lekas sembuh. Zuli menghilang di balik pintu kaca yang harus dibuka menggunakan kode, 6534. Rossa tersenyum, itu password terakhir yang dia tahu. Entah sekarang diganti atau tidak.
Panggilan untuk keluarga Nisa terdengar, Rossa maju karena Heru belum juga kembali dari mushala. Seorang perawat mengantar Rossa masuk ke ruang isolasi. Di mana ruangan itu khusus untuk pasien dengan keadaan boleh dikatakan gawat.
Air mata Rossa meleleh turun saat dia mendekati brankar Nisa. Tubuh gadis itu tertutup berbagai peralatan yang menempel ke kulit Nisa. Hampir sama seperti Adnan dulu. Bedanya Nisa tidak memakai ventilator, sebab paru-paru Nisa masih bisa bekerja meski harus dibantu dengan oksigen tambahan.
"Pemeriksaan lebih lanjut sedang kami lakukan. Kami berencana untuk mengeluarkan gumpalan darah di kepala Nisa menggunakan obat. Semoga itu bisa bekerja, jika tidak...kami terpaksa melakukan tindakan lain, operasi."
Di luar ruangan, Shilda sudah berbincang dengan Aria dan Amato juga Heru yang sudah kembali. Serta seorang pelayan yang berasal dari kafe tempat Nisa jatuh. Pelayan itu mengembalikan tas Nisa dan memberitahukan satu fakta baru.
Semua orang saling pandang. Mereka tentu harus menyelidiki ini. Pada akhirnya Amato yang pergi dengan si pelayan untuk melihat kamera CCTV di kafe tersebut.
"Kira-kira siapa yang tega melakukan itu?" Shilda bertanya. Bersamaan dengan itu Rossa keluar dari ruang ICU, mempersilahkan Heru masuk. Bagaimanapun Heru lebih berhak untuk berada di dalam sana.
Setelah Heru masuk, tubuh Rossa tenggelam dalam dekapan Aria. Wanita itu terisak lirih. Di sela tangisnya, Rossa menceritakan keadaan Nisa. Wanita itu merasa bersalah.
"Lalu maumu apa?" Tanya Aria. Satu hal yang Aria mulai paham, Rossa tipe yang rela menderita demi orang lain. Lihat saja apa yang sudah dia lalui untuk membela Adnan. Memilih pergi dari rumah, merawat Adnan seorang diri, kerja banting tulang sendiri. Aria sebenarnya tidak sanggup membayangkan apa yang sudah Rossa alami. Yang jelas itu pasti sangat berat. Rossa menggeleng pelan menjawab pertanyaan Aria.
"Kalian makan dulu. Biar aku menunggu di sini." Aria memberikan kunci mobilnya. Shilda dan Rossa saling pandang. Mereka juga bawa mobil kalau dipikir-pikir. Tapi tidak tahu diparkirkan di mana.
__ADS_1
"Aku parkir premium di lantai bawah. Tahu kan?" Aria yakin kalau Rossa tahu seluk beluk rumah sakit ini, mengingat dia cukup lama berada di sini.
"Kita pesan online saja deh. Capek kalau harus turun cari makan." Wanita itu memutar badan, melihat banyaknya penunggu pasien di tempat itu. Namun netra coklat Rossa melihat sepasang suami istri di sudut ruangan. Tampak sendu.
"Shil tambah empat," Kata Rossa tanpa mengalihkan pandangannya dari orang tadi. Tanpa bertanya lagi, Shilda mengiyakan. Tak lama dua orang datang mendekat.
"Abang kenapa kemari?" Rossa berdiri menyambut Hamzah dan Adinda. Wanita itu mencium tangan si abang dan sang mama.
"Abangmu telepon ponselmu pas kamu masuk, ya sudah aku jawab kalau kita di rumah sakit nungguin Nisa." Sahut Shilda cepat.
Satu penjelasan singkat membuat Hamzah mematung tidak percaya. "Kanker otak stadium 3..." gumam Hamzah lirih. Pria itu tampak shock, dengan Adinda segera menyentuh lengan putra sulungnya, menenangkan.
"Kita berdoa semoga semua baik-baik saja." Kata Adinda lirih.
Tak lama satu pesan video masuk ke ponsel Aria dengan sebuah pesan suara mengiringi. "Ini rekaman kamera pengawas. Apa ada yang kenal pelakunya?" Suara Amato terdengar jelas. Semua orang mengamati ponsel Aria. Hingga Rossa dan Adinda saling pandang.
"Apa ini valid? Apa ini bisa jadi bukti kuat untuk menjerat pelakunya?" tanya Hamzah emosi.
"Biar Mama yang urus! Mama tahu orangnya." Adinda menatap lurus ruang ICU tempat Nisa di rawat.
"Kali ini kau akan kena batunya!" Batin Adinda.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***