
Yuna termenung di sebuah taman, wanita itu baru saja memeriksakan diri ke bidan, dan hasilnya dia memang positif hamil. Dua bulan umur kandungannya. Yuna shock, stres. Pikiran Yuna kosong, perlahan dia menyentuh perutnya yang masih datar. Dia heran, padahal dia menggunakan alat kontrasepsi, tapi kenapa dia bisa hamil. Pertanyaan itu dijawab oleh si bidan dengan jawaban yang membuat Yuna menggelengkan kepala, tidak percaya.
"Itu artinya Mbak dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk mengemban amanat ini. Seorang anak adalah anugerah, tidak semua orang diberi kepercayaan untuk memilikinya. Selamat, mbak seharusnya bersyukur."
"Bersyukur apanya?! Ini bencana!" Yuna berdiri, lalu berjalan mondar mandir tidak karuan.
"Aku tidak mau anak ini. Aku tidak ingin punya anak. Aku harus cari cara untuk membuangnya!" kata Yuna sembari berpikir. Wanita ini benar-benar sudah tidak waras. Di saat orang lain melakukan berbagai cara untuk memiliki anak, dia malah sibuk berpikir untuk melenyapkan anak yang tengah tumbuh di rahimnya.
Beberapa waktu berlalu, senyum Yuna mengembang, dia menemukan cara untuk mengatasi masalahnya. "Sebentar lagi aku akan bebas dari anak ini. Dan mas Angga tidak akan meninggalkanku."
♧♧♧
Dua hari berlalu, keadaan Nisa kembali membaik. Ventilator telah digantikan oleh oksigen biasa. Gadis itu tampak pucat dengan tubuh lemah. Terakhir kali Rossa menjenguknya, wanita itu tak kuasa menahan tangis. Dia tidak tega melihat keadaan Nisa.
Hati Rossa semakin trenyuh dibuatnya. Ingin sekali dia melakukan sesuatu agar gadis itu bersemangat menghadapi hidupnya. Namun tiap kali dia bicara pada sang suami, Aria sudah lebih dulu memotong pembicaraan sang istri.
"Gak usah dilanjutkan, kalau ujung-ujungnya kamu mau aku menikahi Nisa. Ogah! Nggak mau!" Itulah ucapan Aria tiap kali Rossa bicara. Wanita itu jadi pusing di buatnya.
Pintu kamar rawat Nisa terbuka, gadis itu menghentikan kegiatannya membaca kitab suci. Senyum mengembang di bibir Nisa melihat siapa yang datang. Sebaris jawaban salam terucap dari Nisa. Berapa lama dia menunggu kedatangan pria ini. Akhirnya muncul juga. Aria, pria itu datang mengunjungi Nisa.
Perbincangan pun mengalir, ringan, juga tidak serius. Hingga Aria mulai memantapkan hati, dia tidak akan menggantung hati Nisa terlalu lama. Aria tipe pria yang to the poin, tanpa basa basi.
"Nisa, kamu tahu kan kalau aku sudah menikah?" Nisa mengangguk yakin. Dia sudah meyakinkan diri.
"Lalu apa kamu masih ingin menikah denganku?" Nisa tersenyum, dan jawaban ya terdengar dari gadis itu. Dia yakin bisa berbagi suami dengan wanita lain, dan wanita itu adalah Rossa, yang tak lain adalah temannya sendiri.
Aria sejenak menarik nafas, menatap wajah penuh harap dari Nisa. Tidak ada pilihan lain, dia terpaksa mematahkan harapan Nisa.
__ADS_1
"Namun maaf, aku yang tidak bisa. Aku tidak mau menyakiti hati kalian berdua."
"Aku akan bicara pada mbak Rossa, aku yakin dia akan mengizinkan. Dia tahu aturannya."
"Dia memang memintaku menikahimu...."
Senyum Nisa melebar, jalannya terbuka. Dia bisa menikah dengan Aria. "Tapi aku tidak mau!"
Wajah Nisa berubah kecewa. "Kenapa Mas? Aku yakin aku akan sembuh, aku bisa melayanimu sama seperti yang mbak Rossa lakukan." Mohon Nisa. Aria terdiam, ditatapnya gadis yang kini memandangnya penuh permohonan. Ada air mata yang mengalir di sudut mata Nisa.
"Apa kamu tidak ingat? Ada pria lain yang menantikan permintaanmu ini?" Nisa menggeleng.
"Dengarkan aku Nisa. Rossa memintaku menikahimu, tapi aku tidak mau. Aku In Sya Allah hanya akan mencintai satu wanita dalam hidupku. Tidak ingin berbagi dengan yang lain. Sebab aku takut tidak bisa bersikap adil pada kalian. Jika sudah begitu bukan pahala yang kita dapat, tapi dosa. Kamu tahu benar itu."
Nisa terdiam, mencerna ucapan Aria. "Benar, dalam agama kita diizinkan seorang pria memiliki empat orang istri. Dengan catatan dia bisa bersikap adil pada istri-istrinya. Hingga tidak ada rasa iri dan cemburu pada istri yang lain. Tapi jika hal itu tidak terwujud, apa yang akan terjadi?"
Wajah Nisa menegang, seolah pertanyaan Aria menegaskan inti dari semua permasalahan ini. Tidak semua wanita ingin dimadu. Perlahan kepala Nisa menggeleng. Dia tidak rela melihat Aria bermesraan dengan wanita lain, membayangkan saja dia tidak bisa, apalagi mengalami.
"Kalau begitu pada dasarnya kamu juga tidak mau diduakan." Aria menutup pembahasan soal keinginan Nisa untuk menikah dengannya. Semua jelas sekarang.
"Dengarkan aku, semua orang punya pasangannya masing-masing tak terkecuali. Semua orang memiliki jodoh, yang membedakan adalah jodoh itu lama atau tidak. Jika ada orang menikah lalu bercerai karena memang tidak ada jalan lain. Itu berarti jodoh mereka hanya segitu lamanya."
"Tapi aku ingin menikah, Mas. Andai aku pergi...."
"Tidak ada yang tahu umur seseorang Nisa, kematian, jodoh, rezeki adalah sebuah misteri. Tak seorangpun dari kita tahu kapan datangnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha."
Hening, tidak ada yang bersuara. Aria membiarkan Nisa berpikir. Pria itu cukup bersyukur, pembicaraannya dengan Nisa tidak membuat gadis itu drop. Tadinya Aria takut kalau Nisa akan shock dengan penolakannya. Ternyata dugaannya salah. Gadis itu rupanya cukup tegar menghadapi penolakan darinya.
__ADS_1
"Jadi apa aku juga punya jodoh? Meski hanya sebentar. Aku ingin merasakan apa itu menikah." Tangis Nisa mulai pecah. Menikah, dia ingin sekali merasakan hal itu.
"Sudah kubilang, semua orang punya pasangan termasuk juga dirimu. Ada satu orang yang selalu menunggu jawaban ya darimu soal menikah."
Nisa menatap penuh tanya pada Aria. Dia tidak ingat ada pria lain yang dia kenal selain Aria. "Siapa dia Mas?" Nisa kepo. Jantungnya berdebar kencang, hingga alat pendeteksi detak jantung berbunyi.
"Sa, tenangkan dirimu. Tarik nafas, hembuskan. Jangan panik." Aria berkata cemas. Takut jika ini akan berakibat buruk pada Nisa.
"Andai dia tetap menginginkan pernikahan, apakah bersedia menikahinya? Ini bukan paksan. Aku tidak akan memaksamu."
"Aku bersedia menikahinya. Karena sejatinya aku ingin selalu berada di sisinya, menemaninya juga merawatnya dan menikah memungkinkan aku melakukan semua itu."
Pembicaraan Aria dengan Hamzah beberapa waktu lalu menguatkan niat Aria untuk bicara terus terang pada Nisa. Jika gadis itu ingin menikah, maka Hamzah bersedia maju menjadi mempelai prianya.
"Jika kamu ingin menikah, Hamzah akan menikahimu. Apakah kamu bersedia?"
Nama Hamzah dan pertanyaan Aria membuat Nisa menatap serius pada Aria. Apakah pria ini bersungguh-sungguh dengan ucapannya? Apa Aria tidak sedang membohonginya. Ada orang yang bersedia menikah dengan gadis penyakitan sepertinya.
"Bagaimana? Dia menunggu jawabmu." Bersamaan dengan itu, seorang pria masuk ke dalam kamar Nisa, lantas mengucapkan sebaris kalimat yang membuat Nisa terdiam, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Najwa Khairunisa, bersediakah kamu menikah denganku. Menemaniku sampai maut memisahkan kita, juga untuk menyempurnakan agama kita."
Nisa tidak mampu berkata-kata, mendengar lamaran Hamzah yang terdengar manis di telinganya. Terlebih dengan sebentuk cincin yang berada di telapak tangan Hamzah.
****
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****