
Panas, pengap itulah yang Rossa rasakan. Beberapa kali wanita itu terbatuk. Debu banyak beterbangan di sana. Ini gudang lama, dulu bekas tempat kain dan benang. Tapi sekarang dalam rencana mau dirubuhkan dan dibangun yang baru.
Rossa melompat-lompat, mencari sinyal di tempat itu, dan sialnya tidak ada. Rossa setengah mengumpat, siapa orang itu. Sesekali menendang pintu stainless yang bergerak pun tidak, hanya bunyi nyaring saja yang terdengar.
"Ya Allah, untung aku wis salat magrib. Aku disekap di sini sudah gak punya tanggungan." Gumam Rossa. Memutar tubuhnya ke kiri dan kanan. Mencari jalan keluar. Satu panggilan masuk, Rossa melompat senang. Terlebih melihat siapa yang menghubunginya.
"Da...Shilda...tolong aku!" Rossa menggeram marah. Suaranya terputus-putus. Sinyalnya mobat mabit seperti hatiku yang digantung olehmu, upppss.
Tak kehabisan akal. Rossa menghidupkan GPS hape android second yang layarnya sudah retak. Lalu mengirimkannya pada Shilda. Juga satu pesan "SOS" Berharap Shilda paham dengan kodenya.
Di luar gedung, Shilda tampak mondar mandir. Mencari tempat yang GPS Rossa tunjukkan. "Ini di mana sih?" Untungnya Shilda mengerti dengan kode dari Rossa. Hanya saja dia tidak menemukan tempat itu.
"Hei, kamu ngapain di sini?!" satu suara membuat Shilda melompat kaget. Aria dan Amato berjalan keluar dari lift. Heran, melihat Shilda yang berputar-putar tidak karuan.
"Nyari sinyal eh... selamat malam Pak." Sapa Shilda setelah melihat siapa lawan bicaranya. Aria memicingkan mata, merasa tahu wajah Shilda.
"Dia kan...."
"Temen teh Ocha. Uupps..." Amato menutup mulutnya, salah menyebut nama Rossa. "Nur" Amato memperbaiki panggilannya. Amato hanya menirukan beberapa karyawan yang sering memanggil Rossa dengan sebutan teh Ocha.
"Kenapa belum pulang?" Aria bertanya, mungkin dia bisa bertemu Rossa sebelum pulang.
"Nungguin Ocha, ahhh temen Pak." Shilda menjawab gagap. Loh bukannya ini kesempatan untuk minta tolong.
"Memangnya dia ke mana?" Amato yang bertanya kali ini.
__ADS_1
"Tidak tahu." Aria dan Amato saling pandang mendengar jawaban Shilda. Katanya nunggu kok tidak tahu.
"Ngomong yang bener napa? Maksudmu apa?"
"Tahu tempat ini tidak?" Akhirnya Shilda menunjukkan GPS tempat ponsel Rossa berada.
Dua orang itu mendekat ke arah Shilda. Melihat layar ponsel gadis itu. Kembali, Aria dan Amato memandang satu sama lain. Ini masih area pabrik. Tapi....dua orang itu berjalan dengan Amato membawa ponsel Shilda.
Ketiganya makin dekat ke titik GPS. Hingga bunyi "gubrak" menarik perhatian ketiganya. "Astagfirullah, kamu ngapain?" Aria bertanya sekaligus berteriak, melihat tubuh Rossa tersangkut di sebuah jendela kecil di sisi gudang.
Amato dan Aria mencari pijakan, mengingat jendela itu cukup tinggi. Sementara Shilda malah bingung sendiri. Melihat Rossa nyangkut di dinding. Aria naik ke sebuah peti kayu yang Amato temukan. Membantu Rossa untuk keluar dari celah sempit itu. Menarik tubuh Rossa, sedikit demi sedikit Rossa bisa keluar dari tempat itu.
Hap! Aria menangkap tubuh Rossa. Darurat, istilah itu yang selalu digunakan Aria saat menyentuh Rossa. Seperti sekarang, Rossa berada dalam pelukan Aria. Tubuh depan keduanya saling menempel. Tatapan keduanya bertemu, dengan jantung mereka berdebar kencang. Satu detik, dua detik, tiga detik....."Aduhhh, kakiku kram." Keluh Rossa sambil meringis.
Wk...wk...wk...hilang sudah momen romantis yang hampir saja tercipta antara dua orang dengan aura permusuhan terselip di antara keduanya. Namun tangan Aria justru mendekap Rossa semakin erat.
"Nongki sama setan, dikunciin oranglah." Judes Rossa.
"Kamu ini udah ditolongin gak ada terima kasih, terima kasihnya sama sekali." Protes Aria. Pria itu berjongkok di depan Rossa yang duduk di lantai semen. Kan aku gak minta tolong situ, batin Rossa dalam diam. Wanita itu menarik kakinya, waspada. Dia harus menjaga jarak dari Aria.
"Sini tak liatin!" Aria menarik kaki Rossa. Amato melotot melihat tindakan Aria, sangat di luar akal. Seorang Aria yang selalu diajarkan untuk menghindari sentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, kali ini malah sengaja menyentuh Rossa, yang jelas masuk kategori tidak boleh disentuh oleh Aria.
"Bosmu sengaja ya?" Shilda berbisik di telinga Amato, membuat pria itu reflek menjauh. Satu lagi, makhluk yang setipe Aria. Amato melirik Shilda yang hanya nyengir melihat reaksi Amato. "Gak tahu." Amato menjawab singkat, padat dan jelas.
Di depan mereka ada Aria dan Rossa yang tengah tarik menarik kaki. "Gak apa-apa!" tegas Rossa. Wanita itu berdiri, meski sedikit terhuyung, tapi setidaknya dia bisa menghindar dari Aria. Rossa menatap sang bos penuh percaya diri. "Baguslah kalau tidak apa-apa. Sekarang ceritakan kenapa kamu bisa ada di dalam?"
__ADS_1
Sambil berjalan berpegangan pada Shilda, Rossa mulai bercerita, dari awal sampai dia terjebak di jendela kecil itu. Mau bagaimana lagi, Rossa tidak tahan dengan panas dan pengapnya ruangan itu. Aria dan Amato saling kode, mereka perlu menyelidiki kejadian ini. Aria tidak menyukai bullying terjadi di pabriknya. Pria itu akan mengusut kasus ini sampai tuntas.
Keempatnya berpisah di tempat parkir. Shilda dan Rossa mengambil motor, lalu melajukan motor mereka keluar pabrik. "Satu lagi, Pak." Kata Aria, si satpam mengangguk paham.
Dan kejadian itu ternyata dilihat Angga dari lantai dua. Dia cemburu melihat Aria dekat dengan Rossa. "Apa dia sengaja mendekati Rossa? Bukankah dia tahu kalau Rossa adalah istriku." Tangan Angga terkepal, marah. Pria itu masih bisa melihat Aria mengawasi motor Rossa sampai hilang di persimpangan.
**
**
Aria dan Amato sudah stand by di rumah sakit, tempat Santo diketahui berada tiap bulannya. Kenapa tiap bulan, karena Santo mengawal nyonyanya saat mengontrolkan Adnan. Tapi sepertinya bulan ini Santo tidak menemani Mala. Berhubung banyak pesanan bothok manding, akhirnya Rossa yang mengantar Adnan sendiri. Dia sudah biasa melakukan ini, jadi tidak masalah.
Kenapa Mala sampai sekarang tidak tahu identitas Adnan sebenarnya? Itu karena semua berkas Adnan di pegang oleh Rossa dan Angga. Dengan kopian ada pada Nurul, perawat yang bertugas mendaftarkan Adnan tiap bulannya. Santo sampai sekarang tidak bisa menemukan cara untuk mencuri data diri Adnan dari Nurul. Berapa cara Santo sudah coba, selalu saja gagal. Nurul sangat amanah, satu hal yang membuat Santo tertarik pada perawat itu.
"Kok mobilnya Santo gak ada." Gumam Amato.
Pria itu sudah celingak celinguk ke sana ke sini, tapi tidak melihat Santo. Pun dengan Aria. "Apa kita perlu masuk?" Aria bertanya, memakai kacamata juga maskernya. Keduanya memutuskan untuk masuk ke bangunan besar dengan aroma khas obat tersebut.
Dua pria itu berjalan beriringan. Begitu santai dan tenang. Meski begitu, mata mereka dengan teliti memindai tiap sudut rumah sakit. Hingga mata Aria menangkap satu sosok yang dia kenal.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Aria dalam hati.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***