
Aria mengusap punggung Rossa yang terbalut selimut. Wanita itu hanya mengenakan kemeja Aria yang pria itu jumpai di kamar tersebut, enggan mencari ke walk in closet. Sesi panas perdana mereka berakhir, dengan durasi tak begitu lama. Baru test drive jadi tidak perlu lama-lama, yang penting terasa. Weehhh...
Aria menatap wajah lelah Rosaa yang terlelap. Tidak percaya jika dugaannya selama ini meleset semua. Apa yang dipikirkan Aria tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
"Adnan bukan putra kandungku. Dia hanya anak panti asuhan yang aku adopsi enam tahun lalu, dengan ayahku sebagai pihak yang mengadopsi."
"Anak adopsi? Karena itu Rossa belum pernah melahirkan dan Angga tidak pernah menyentuh Rossa. Hebat."
Gumam Aria, terjawab sudah semua teka teki soal siapa Adnan. Anak adopsi yang Rossa miliki dengan perantara sang ayah, Zaiharudin. Sebab syarat untuk mengadopsi adalah sudah menikah. Itulah kenapa Zai sempat bersitegang dengan Rossa, saat anak itu jatuh sakit. Dengan teganya Zai menyuruh Rossa mengembalikan Adnan ke panti asuhan. Dengan dalih Adnan hanya anak adopsi, ke depannya keberadaan Adnan hanya akan merepotkan Rossa, belum lagi biaya besar yang harus mereka keluarkan untuk Adnan.
Terang saja Rossa tidak mau. Dia sudah mengambil komitmen untuk menjadi orang tua bagi Adnan, karena itu saat Adnan divonis sakit dengan penyakit yang serius dengan akibat sampai sedemikian rupa. Rossa tidak berniat untuk mundur, dia akan merawat Adnan semampu dia. Mengusahakan pengobatan terbaik bagi sang putra.
Meski itu harus dibayar mahal oleh Rossa. Kemarahan Zai membuat pria itu memaksa Rossa untuk memilih. Dirinya atau Adnan. Dan Rossa menjatuhkan pilihannya pada Adnan. Hari itu juga dia angkat kaki dari rumahnya. Membawa Adnan dengan derai tangis di pelupuk mata. Kemarahan Zai benar-benar menutupi hati nurani sang ayah. Rossa pikir Zai akan baik-baik saja tanpa dirinya. Tapi Adnan, bocah malang itu tidak punya siapa-siapa.
Bujukan Adinda sama sekali tidak mempan bagi Zai. Dari semua kejadian itu satu orang tertawa puas. Sebab dia yang paling diuntungkan dengan kepergian Rossa, dia adalah Yuna. Si musuh dalam selimut sejak dulu. Di depan semua orang Yuna baik. Tapi di balik itu semua, sifat Yuna sangat tidak terpuji.
Yuna tidak pernah bersyukur dengan apa yang sudah dia miliki. Limpahan kasih sayang dari sang paman justru membuat rasa iri di hati Yuna kian besar. Yang jadi sasarannya tentu saja Rossa, putri tunggal keluarga Hutomo. Hidup bak putri sejak kecil, cantik, baik hati, disukai banyak orang. Hal itu membuat Yuna gelap mata, hingga wanita itu berpikir ingin mendapat spot sama seperti Rossa, tanpa berkaca siapa dia dan dari mana dia berasal.
Kembali pada Aria, pria itu pada akhirnya jadi semakin sayang pada Rossa setelah tahu yang sebenarnya. "Benar-benar berlian yang langka." Pantas saja Angga begitu sulit melepas Rossa. Meski dia sudah punya Yuna. Haish, nenek lampir model Yuna tidak perlu di beri perhatian.
"Nur, aku jadi heran. Kenapa cuma Angga yang terlihat mengejarmu padahal aku yakin banyak pria yang menginginkanmu di luar sana."
__ADS_1
Tanya Aria keesokan harinya, setelah keduanya selesai melakukan kewajiban dua rakaat serta membaca kitab suci mereka meski hanya beberapa ayat. Satu ibadah yang kini akan mereka jadikan kebiasaan untuk membuka hari.
"Oh itu karena mas Angga selalu berkoar-koar kalau aku pacarnya." Balas Rossa enteng setelah mencium tangan sang suami.
"Isshh, sepertinya aku harus memberinya bonus besar. Sudah menjaga calon istriku bertahun-tahun." Seloroh Aria gemas. Pria itu mulai menciumi wajah Rossa setelah wanita itu melepas mukenanya.
"Jangan, dia kaya raya dari kecil. Lagi pula itu akan menyakiti hatinya." Jawab Rossa di tengah deru nafas yang mulai memburu. Sedikit sentuhan Aria membuat Rossa kelabakan.
"Kenapa?" Aria menghentikan aksinya mengecup leher jenjang Rossa.
"Tidak ingat kalimat yang lagi viral, pacaran yang berujung bubar, seperti definisi jagain jodoh orang. Sakit gak tuh." Rossa melepaskan diri dari dekapan Aria tanpa pria itu sadari. Meninggalkan sang suami yang tengah mencerna ucapan Rossa. Benar juga ya, pikir Aria. Meski begitu dia tetap ingin berterima kasih pada Angga. Tapi bagaimana caranya. Entah, kita pikirkan besok.
Uhukkkk, Rossa tersedak air putih hangat yang sedang dia minum saat Aria memeluknya dari belakang. Tirai jendela di belakang mereka masih tertutup, menandakan kalau hari masih gelap. Efek dari pesta kemarin, sepertinya semua penghuni rumah belum ada yang bangun.
"Mas...." Aria membenarkan, dia geli tiap kali Rossa memanggil pak bos padanya.
"Iya...iya...apaan sih?" Rossa sepertinya mulai terbiasa dengan kehadiran Aria dalam hidupnya. Juga mulai paham soal kelakuan sang suami yang seperti bocil di luar urusan kantor.
"Mau lagi, tahu sendiri kan kodratnya dia kalau pagi. Minta jatah." Bisik Aria. Lagi satu, sepertinya Rossa harus mulai membiasakan diri dengan mulut asal njeplak sang suami. Tanpa menunggu jawaban Rossa, pria itu menggendong sang istri ke kasur. Aria langsung melepas baju koko miliknya, melemparnya ke lantai asal. Tak berapa lama desahann mulai terdengar di kamar besar juga kedap suara itu.
Di lantai bawah, tepatnya di kamar Amato, yang terjadi justru sebaliknya. Jika di kamar atas boleh dikatakan seperti war of the world versi pengantin baru, di tempat itu justru adem ayem. Pasangan couple newbie itu memang sudah tidur sekasur. Tapi tidak terjadi apa-apa. Tidak tahu apa sebabnya, tapi baik Amato maupun Shilda hanya tidur saling memunggungi sepanjang malam.
__ADS_1
Bertengkar? Tidak, mereka memutuskan menunda acara debat unfaedah mereka. Dengan alasan yang membuat orang lain akan terbahak bila mendengarnya. Untuk menjaga image pengantin baru yang baru saja mereka sandang. Aneh kan?
"Shil...bangun ritual dulu yuukk." Gumam Amato sambil menoel bokoong Shilda dengan kakinya. Alarm Amato sudah berisik dari tadi. Tapi si empunya hanya mengubah posisi tidur jadi terlentang di tepi kasur besarnya. Yaahh, Amato terpaksa berbagi kasur sekarang.
"Kamu aja. Wakilin aku, kan sekarang dosaku yang nanggung elu." Wk wk wk gak gitu juga kali konsepnya Shilda.
Amato seketika membuka mata mendengar jawaban setengah sadar dari Shilda, sang istri terabsurd. "Mana ada yang begitu. Yang ini kamu sendiri yang nanggung. Ayo bangun kalau gitu. Idih ogah gue nanggung dosa elu yang kek gunung Himalaya gedenya." Gerutu Amato.
"Eh gue gak sejelek itu ya." Kilah Shilda.
"Ya sudah bangun ayo!"
Shilda beranjak dengan malas dari kasurnya, aksi berikutnya membuat Amato melotot. Shilda dengan santai menenteng penutup dadanya yang berwarna putih, entah sejak kapan gadis itu melepasnya.
"Jadi dia tidur gak pake dalaman." Kepala Amato seketika puyeng dibuatnya, bayangan gunung kembar Himalaya yang sudah berizin untuk didaki, tapi Amato belum berani melakukannya.
"Aslii maakk kepalaku nyut-nyutan jadinya." Gumam Amato stres. Pria itu bergegas masuk ke kamar mandi setelah Shilda berteriak dari ruang sebelah.
Pagi pertama yang berbeda untuk dua pasang pengantin baru yang sudah sepakat untuk menjalani biduk rumah tangga bersama.
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***