My Sweet Journey

My Sweet Journey
Kejutan


__ADS_3

Yuna terkejut saat melihat Adinda ada di depan matanya. Wanita yang selama ini Yuna kenal hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Kali ini wajah mama Rossa itu tampak berbeda. Ketegasan dan rasa percaya diri terlihat jelas di mata Adinda.


"Sejak kejadian itu, aku lebih suka diam. Tapi sekarang tidak lagi. Aku memberimu peringatan, jauhi Rossa, jangan coba mengacaukan pernikahannya. Kalau tidak, kau akan kubuat menyesal."


Satu peringatan dari Adinda membuat Yuna ragu, haruskah dia mundur? Wanita itu terdiam, kembali teringat akan ancaman Adinda. "Jika kau melakukan hal buruk pada Rossa, aku pastikan suami tercintamu yang masih mencintai Rossa akan tahu kelakuanmu."


Yuna tersenyum mengejek. Angga sudah tidak punya rasa pada Rossa, begitulah yang ada di pikiran Yuna. Terbukti dengan Angga mau menceraikan Rossa. Padahal Angga mau berpisah dengan Rossa justru karena rasa cintanya masih besar pada Rossa, Angga ingin Rossa menemukan kebahagiaannya.


Yuna sejenak berpikir, dia tidak mungkin mundur. Ancaman Adinda hanyalah angin lalu bagi istri Angga itu. Wanita itu melangkah menuju mobilnya, pergi ke suatu tempat menemui seseorang. Dia harus berusaha lebih keras untuk mempengaruhi orang itu, agar masuk dalam rencananya.


Seminggu berlalu, sesuai kesepakatan dengan Zai, batas waktu yang ditentukan telah tiba. Hari ini Aria sendiri yang datang. Rossa tidak ikut, sebab Aria ingin menghadapi Zai sendiri. Aria hanya tidak ingin ayah dan anak kembali bersitegang.


Zai sudah menunggu Aria saat mobil pria itu masuk ke halaman keluarga Hutomo. Rossa sama sekali tidak ingin kembali jika sang ayah tidak mengizinkan Adnan untuk ikut dengannya. "Dia cuma anak kecil Yah, tidak pantas menanggung kebencian ayah. Dia juga tidak bisa memilih ingin lahir dari ibu atau rahim yang mana."


Ucapan Rossa yang membuat Zai kembali naik pitam saat terakhir kali mereka bertemu. Dan Aria tidak ingin itu terjadi lagi. Kalau Zai ingin mengamuk, biarlah dirinya saja yang jadi korban kali ini.


Salam Aria lantunkan, dengan Zai langsung menyahut. Ingatan Zai berkelana ke beberapa waktu yang lalu. Di mana Yuna kembali menghasutnya. Perempuan itu menunjukkan bukti kalau Aria bukan pria baik. Sejumlah lembar foto yang menunjukkan kedekatan Aria dengan...Katy. Zai sesaat sempat emosi, sampai ucapan Adinda, sang istri membuat Zai berpikir ulang soal semua ucapan Yuna.


"Keponakanmu tidak sebaik yang kau lihat. Kau harusnya menyelidiki semua sebelum bertindak."


Mengingat ucapan sang istri, Zai segera mengirim orang untuk menyelidiki Aria. Dan hasilnya membuat Zai tercengang. Kali ini Zai ditemani Hamzah, kakak Rossa. Ini momen pertama Aria bertemu dengan kakak Rossa. Seorang pria bertubuh tinggi besar, dengan aksen lokal yang kentara. Kakak Rossa mendapat dominasi gen dari sang ayah yang beraksen lokal.


Aria sesaat menjabat tangan Hamzah, pria itu tersenyum hangat. Sikap Hamzah lebih ramah dibanding sang ayah, Zai. Hamzah sangat pandai bicara, tidak seperti Zai yang masih belum menerima Aria, Hamzah justru sebaliknya. Pria itu begitu welcome pada Aria.

__ADS_1


"Jadi sudah siap dengan buktinya. Kesempatanmu hanya satu kali." Suara Zai masih terdengar sama, dingin dan kaku. Terlihat kalau Zai belum bisa sepenuhnya menganggap Aria jadi calon mantunya. Yah bagaimana ya? Dengan Rossa saja, Zai masih berseteru ringan.


Zai sebenarnya sangat lega mengetahui Rossa baik-baik saja. Pria itu bahkan cukup terkejut mendengar kalau Adnan sudah sembuh. Padahal dulu dokter pesimis dengan keadaan Adnan, mereka mengatakan kalau kondisi Adnan akan lama bahkan mustahil bisa sembuh. Satu hal yang membuat Zai dan Rossa bertengkar.


"Sebentar Om, orangnya baru di jalan." Aria meletakkan ponselnya di depan Zai dan Hamzah. Zai mengerutkan dahi. Orangnya sedang di jalan? Maksud Aria apa? Aria tampak mengulum senyum, melihat kebingungan Zai dan Hamzah.


Tak berapa lama, ponsel Aria berdering. Sebuah panggilan internasional, dengan kode 21 sebagai kode kotanya tempat si pemanggil tinggal, Shanghai, Cina.


"Assalamu'alaikum, Amar. Apa kabarmu?"


Zai dan Hamzah saling pandang. Yang menghubungi Aria adalah Amar Ahmad Liu, pria yang dijodohkan dengan Rossa. Tanpa basa basi, Aria mengatakan tujuannya, meminta Amar menghubunginya.


"Maaf sebelumnya untuk Uncle Zai...." Selanjutnya yang terdengar adalah pernyataan Amar kalau dia tidak bisa menerima perjodohannya dengan Rossa. Selain mengganggap Rossa hanya sebagai adik, hati Amar juga sudah menemukan pelabuhannya.


Terdengar gelak tawa dari ujung sana, di mana Kenzo, ayah Amar turut bicara. Pria itu juga meminta maaf, tidak bisa mempererat tali persaudaraan lewat pernikahan putra putri mereka. Namun Kenzo memastikan kalau kerjasama mereka tidak akan terpengaruh karena hal ini.


Suasana menjadi hening setelah panggilan dari Amar berakhir. Aria hanya bisa diam, bagaimanapun sebagai pihak yang melamar, dia hanya memiliki dua pilihan, ditolak atau diterima. Dan itulah lebihnya pihak perempuan. Mereka bisa menolak sebuah lamaran.


Zai menghela nafasnya. Lalu melihat ke arah Aria. "Apa yang bisa kau janjikan pada putriku?" tanya Zai. Senyum Hamzah mengembang, sang ayah sudah memaafkan sang adik.


"Kebahagiaannya akan jadi prioritasku. Dan juga Adnan, In sya Allah, aku akan menerimanya, menyayanginya sepenuh hati."


"Bisa kau berjanji, menjadikannya satu-satunya dalam hidupmu?" Aria memandang Zai sejenak. Hingga satu jawaban dari Aria membuat Zai puas.

__ADS_1


"Persiapkan semuanya. Begitu masa iddah Nur selesai, aku akan menikahkan kalian."


Lantunan ucapan syukur terucap dari bibir Aria dan Hamzah, tak lama pria itu sudah meraih tangan Zai, mencium tangan pria itu penuh hormat sekaligus terima kasih. "Terima kasih Om, sudah merestui kami."


"Huufttt aku pikir jodoh putriku akan datang dari negeri Cina, ternyata circle itu terus berputar saja. Putra Magenta Aria Loka yang menikahi putriku." Tawa Aria lolos mendengar ucapan Zai.


"Sama Om, aku pikir pria mana yang sudah dijodohkan dengan Nur, ternyata si kampret sialan dari Shanghai, uppppss, Astagfirullah, keceplosan."


Hamzah seketika memicingkan matanya. "Kenal dengan Amar?" todong calon kakak ipar Aria.


"Temen ngaji waktu di Munawir, Krapyak." Cengir Aria.


"Astahfirullah!!" Zai dan Hamzah berucap bersamaan. Ternyata mereka terlibat dalam satu pertemanan yang sama. Keluarga mereka hanya berputar di situ-situ saja. Ini satu kejutan untuk mereka semua.


Adinda menghela nafasnya lega, akhirnya kebahagiaan itu datang pada keluarga Hutomo. "Aku berharap ini akan berjalan lancar. Kupastikan kalau Yuna tidak bisa berulah lagi." Batin Adinda. Kedepannya dia akan bertindak sendiri, tanpa menunggu pergerakan atau perintah Zai.


Belajar dari kejadian terdahulu, Adinda akan mengantisipasi semua kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Dan itu dimulai dari menghandle Yuna. Lama berpikir, senyum Adinda terbit. Dia tahu satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Yuna. Adinda pastikan Yuna akan duduk diam tanpa banyak tingkah jika orang itu ada di samping Yuna.


"Kita lihat sejauh mana kau bertindak." Adinda akan menjalankan perannya dengan baik kali ini.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2