My Sweet Journey

My Sweet Journey
GATOT!


__ADS_3

Senyum Katy melebar, melihat siapa yang datang. Mobil sedan hitam parkir di depan rumah. Wanita itu merapikan tampilannya, dres sedikit ketat membalut tubuh seksinya. Bagian dada dan paha mengekspose jelas tubuh wanita itu. Bersiap dengan rencana licik di benaknya. Sementara di dalam mobil, dua orang justru berdebat.


"Ngapain ke sini? Rumah siapa ini Pak?" tanya Rossa heran. Berkali-kali melirik ke arah jam tangannya. Sangat takut dengan rekor kerjanya yang mengkhawatirkan.


"Pak tolong biarin saya balik ke pabrik ya. Nanti saya kena alpa lagi. Bisa dipecat saya." Aria tersenyum tipis, merasa menemukan kelemahan Rossa.


"Biarin aja kamu dipecat karena alpa. Kamu sering bolos ya?" todong Aria. Rossa gelagapan, mengaku sering tidak masuk kerja di depan bos besar, bahaya ini. "Saya ada urusan, Pak. Kalau gak ada, saya juga gak akan bolos." Kilah Rossa.


Senyum Aria semakin lebar, kemarin saja Rossa sangat percaya diri, melompati pagar rumahnya, lantas berkata tidak takut dipecat. Sekarang lihatlah perempuan ini. Wajah ketakutan dengan tangan beberapa kali saling bertaut, gugup. Jelas terlihat jika Rossa tidak mau kehilangan pekerjaan ini.


Tidak mempedulikan wajah Rossa yang memelas, Aria keluar dari mobil. Membukakan pintu mobil untuk Rossa. "Pak......" Mohon Rossa.


"Turun!" Satu perintah keluar dari bibir Aria. Rossa bergeming di tempat duduknya. Aria yang sedang mode sabar limited, mendengus kesal. Menarik tangan Rossa untuk keluar dari sana. Membawa gadis itu masuk ke dalam rumah.


"Pak....ini mau ngapain sih sebenarnya?"


"Nikah!" Rossa menelan ludahnya. Nikah? Yang benar saja. Perempuan itu berkali-kali mencoba menarik diri. Namun Aria justru semakin kuat mencekal tangan Rossa. Hingga mereka benar-benar masuk ke ruang tamu. Heran, Rossa melihat ke Aria yang sepertinya mudah sekali masuk ke rumah itu. Seperti rumah sendiri.


"Aria kamu datang." Aria memberi kode pada Katy untuk duduk saja. Sementara baik Rossa maupun Katy seketika saling pandang. Kenapa dia ada di sini? Begitulah pertanyaan yang ada di pikiran dua wanita tersebut.


"Kenapa dia ada di sini?" Katy buru-buru bertanya. Bisa kacau rencananya kalau ada pengganggu. "Dia? Dia di sini untuk minta maaf." Aria mendorong tubuh Rossa mendekat ke arah Katy.


Rossa sedikit bimbang, pasalnya beberapa hari terakhir ini, dia sibuk memikirkan kejadian tabrakan, merasa kalau hal itu sengaja dilakukan Katy. Katy sengaja menabrakkan diri ke arahnya. Namun itu hanya akan jadi angan Rossa saja, sebab dia tidak punya bukti apapun. Setakat menduga saja. Biarlah, kalaupun dia tidak bersalah, satu hari nanti semua akan terbongkar.


"Maaf, mbak saya...saya tidak melihat mobil mbak. Jadi maaf jika saya menabrak mbak." Rossa berkata dengan wajah takut. Ucapannya pun terbata-bata.


Katy menggeram marah, bukan ini yang dia harapkan. Yang dia inginkan dapat bermanja dengan Aria. Kenapa juga Aria justru membawa pengacau ini?! Katy ingin meledakkan amarahnya tapi tidak bisa. Ada Aria yang kini duduk manis di depannya tanpa Katy suruh.

__ADS_1


Suasana rumah yang sepi, beruntung Aria bertemu Rossa, hingga dia punya ide untuk menyeret Rossa agar ikut dengannya. Dua lalat sekali tepuk. Dia bisa mengerjai Rossa, sekaligus menjadikan wanita itu tameng saat berada di rumah Katy. Berduaan dengan Katy? No way!


Aria belajar banyak hal, termasuk tidak berduaan dengan perempuan yang kurang beradab. Kenapa Katy dibilang begitu? Lihat saja dandanan Katy, sudah seperti wanita penghibur yang ada di klub-klub malam. Dalam pandangan Aria.


Pria itu tidak banyak bicara. Dia hanya diam, memperhatikan Katy yang tampak salah tingkah sekaligus kesal. Semua kacau! Begitulah yang ada di pikiran Katy.


Aria menarik Rossa yang sedari tadi berdiri. Wanita itu mendelik marah, menoleh pada Aria yang duduk di sampingnya. Pria itu nampak santai, menepis pelan jasnya, lalu membalas tatapan jengkel Rossa. "Jangan marah, minumlah kau pasti haus." Kata Aria memberikan secangkir teh yang sudah ada di atas.


Mata Katy melotot, seolah ingin keluar dari tempatnya. Cangkir itu! Teh itu! Katy seketika menjerit dalam hati, ingin sekali berteriak jangan! Namun Aria sudah memaksa Rossa untuk meneguk minuman itu. Sudut bibir Aria tertarik sedikit. "Sorry, kau harus jadi kelinci percobaanku."


Ekor mata Aria melirik Katy yang terlihat panik. Wanita itu bingung, harus berbuat apa. Sampai air teh itu tandas oleh Rossa, Katy melongo dibuatnya. "Eh maaf, mbak. Saya memang haus. Biar saya cucikan gelasnya." Rossa beranjak dari duduknya, merasa kasihan pada Katy yang belum bisa berjalan Rossa berinisiatif untuk meringankan pekerjaan Katy.


"Biarkan saja, ada bibi yang akan mencucinya. Dia sedang pergi ke pasar." Katy berkata setengah berteriak. Dan semua tingkah Katy, tidak luput dari perhatian Aria. Ada yang aneh, Katy tidak merasa kesakitan sama sekali. Padahal seharusnya, bekas luka operasi pemasangan platina, memerlukan waktu lumayan lama untuk sembuh. "Haisshh, sepertinya janda pirang ini juga harus kuselidiki." Batin Aria, mengusap pelan dagunya.


"Jadi kapan kontrol lagi?" tanya Aria. Katy tersenyum, lalu menjawab. Berharap Aria akan mengantarkan. "Baik, kalau begitu biar kamu diantar supir mama. Dia ngangur gak ada kerjaan."


"Aku sibuk, kau tahu itu. Lagi pula urusan rumah sakit selalu lama dan ribet. Padahal sudah bayar cash." Kilah Aria. Pria itu berdiri saat melihat Rossa kembali dari dapur. Dia harus segera membawa Rossa keluar dari rumah ini.


Katy jelas ingin menahan Aria, wanita itu masih ingin Aria menemaninya, Katy merasa kesepian. Aria melirik ke arah Rossa, tubuh Rossa mulai limbung.


"Lain kali aku datang dengan Amato." Aria berlalu dari hadapan Katy. Kembali menarik tangan Rossa yang langsung berpamitan pada Katy.


"Brengsekkk!! Sepertinya dia tahu rencanaku." Geram Katy. Gatot semua rencananya. Gagal total!


Aria langsung memapah tubuh Rossa, jika dugaannya benar. Katy memberi obat tidur pada teh tadi. "Pak, kok ngantuk banget sih saya." Keluh Rossa. Aria tidak menjawab, pria itu membuka pintu mobil, hingga dia menyadari Rossa sudah tidur menyandar pada dirinya.


"Astaga, dia kasih berapa banyak dosis obat tidurnya. Bisa langsung tepar begini." Gumam Aria. Perlahan mendudukkan Rossa di kursi depan.

__ADS_1


Dari kejauhan, Katy hanya bisa melihat pemandangan itu dengan rasa geram di hati. Tangan Katy terkepal, "Kau berani mengacaukan rencanaku. Awas saja! Kubalas kau nanti." Batin Katy marah.


Di jalan Aria bingung harus membawa Rossa ke mana. Ke hotel, jelas bisa menimbulkan kontroversi dan skandal. Mengantarnya ke rumah, ada pasukan julid super heboh yang akan jadi teror menakutkan untuk Rossa.


Jadi paling aman ya ke sini. Bik Sumi melongo melihat tuan mudanya membawa seorang wanita yang kemudian dia tahu adalah tamu tuannya yang datang kemarin, dalam keadaan tertidur.


"Tuan...tuan...itu kenapa? Mau dibawa ke mana?"


"Kamar tamu, bukain. Dia dikasih obat tidur sama janda kuburan." Bik Sumi melotot mendengar penjelasan Aria.


"Tuan gak boleh pegang."


"Tahu bi, belum mahram. Tapi darurat. Kan kulitnya gak bersentuhan."


Belum mahram, bukane seharusnya bukan mahram. Apa si tuan muda berniat menghalalkan wanita yang bik Sumi akui cantik ini. Wanita itu melepas jas Aria yang digunakan untuk membalut tubuh Rossa.


"Lebih cantik dari si janda kuburan." Bik Sumi seketika menepuk dahinya. Ketularan tuan mudanya yang kadang somplak seperti nyonyanya.


"Siapa sih perempuan ini? Adem banget lihatnya."


Tak berapa lama, ponsel di sling bag Rossa berdering. "Tuan....."


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2