My Sweet Journey

My Sweet Journey
Sepaket


__ADS_3

Nisa berusaha menampilkan senyum terbaiknya saat menemui Rossa dan Aria, keesokan harinya. Tidak bisa Nisa pungkiri, hatinya iri pada Rossa. Wanita itu bisa menarik perhatian seorang Aria. Pria yang terkenal cukup sulit didekati. Nisa, jika bukan karena perjodohan dan pertemanan dua orang tua mereka, Aria tidak akan menganggap dirinya ada. Dinotice pun tidak.


Bagaimanapun Nisa juga tidak ingin menghalangi jodoh seseorang. Terlebih itu Rossa, seorang wanita yang Nisa tahu sangat berat berjuang untuk hidupnya. Mungkin sudah tiba waktunya Rossa mendapat balasan dari semua usaha dan doa, yang Nisa yakin Rossa panjatkan setiap malam.


Dalam kesempatan itu, Nisa sembari menguatkan hati mengatakan kalau dirinya akan melupakan perjodohan ini. Dia akan menerima kalau Aria bukanlah jodohnya. "Tidak ada yang tahu tentang jodoh. Seberapa keras usahaku untuk merayu-Nya, ternyata aku kalah. Jadi aku akan berusaha menerimanya. Menikahlah, tidak baik menunda hal yang bisa mendatangkan kebaikan pada kita. Aku merestui kalian."


Lagi-lagi Nisa berusaha tersenyum saat mengatakan hal itu. Sesak tengah dia rasakan di dada. Namun apa yang bisa dia lakukan, jika doa yang dia langitkan membawa kabar buruk untuknya. Semua tidak sesuai harapannya.


"Selamat ya, mbak. Aku tunggu undangannya." Kata Nisa pada Rossa. Senyum di bibir Rossa mengembang, dipeluknya tubuh Nisa. Satu ucapan terima kasih juga syukur terlantun dari bibir Rossa.


Nisa tentu saja terkejut dengan reaksi Rossa. Melihat bagaimana sikap Rossa, berarti wanita itu juga punya rasa pada Aria. Oh ya Allah, maafkan hamba yang tidak tahu akan isi hati hambamu yang lain. Batin Nisa penuh rasa bersalah. Dengan sikap Nissa dipastikan dia sudah menambah deret dosanya sendiri.


"Terima kasih. Terima kasih sudah melapangkan jalan kami. Aku harap jalan jodohmu akan terbuka lebar untukmu." Balas Rossa di telinga Nisa. Gadis itu tersenyum kecut.


"Aku hanya sedang meringankan jalanku untuk kembali padanya." Batin Nisa melihat ke arah Aria yang kini mampu tersenyum.


"Dengan mbak Rossa, mas Aria bisa tersenyum." Lagi-lagi Nisa hanya bisa menahan sedih melihat kebahagiaan Aria.


Aria dan Rossa sudah berada di dalam mobil. Suasana jadi sangat canggung untuk Rossa, ini kali kedua mereka berada di mobil yang sama. Tapi vibes-nya berbeda. Ada yang lain di antara mereka.


"So....sebenarnya kamu punya rasa sama aku? Sejak kapan?" tanya Aria. Rossa mengerutkan dahinya. Rasa? Dia masih sebatas tertarik pada sikap Aria yang sangat agamis. Lain belum.


"Rasa apa?" Rossa balik bertanya.


"Cinta." Rossa mengembangkan senyumnya. Tidak ada kata cinta dalam hidup Rossa sebelum melewati garis pernikahan. Semua yang dia rasakan kini, masih sebatas kagum pada sosok Aria.

__ADS_1


"Cinta? Tidak ada kata itu sebelum proses ijab kabul ku lalui." Jawab Rossa enteng. Aria dengan cepat menoleh ke arah Rossa. Mahal sekali kata cinta dari bibir ibu Adnan ini.


"Berapa lama lagi?" Aria lanjut bertanya.


"Apanya?" Rossa lebih suka memandang ke luar mobil, daripada harus melihat ke arah Aria. Lelaki di sebelah Rossa lama-lama gemas juga dengan sikap wanita itu. Dia tahu Rossa tengah menghindari kontak dengannya. Padahal dia juga tidak ada niatan berbuat macam-macam pada Rossa.


"Lihat aku. Aku mengajakmu bicara."


"Tidak mau."


Aria mengulum senyumnya. Kokoh sekali pendirian Rossa. Aria lantas menagih jawaban Rossa. Hingga waktu sebulan setengah terucap dari bibir wanita itu. Satu pertanyaan membuat wajah Rossa berubah drastis. Saat Aria bertanya, ke mana dia harus melamar.


"Itu...siapa yang bilang aku mau menikah denganmu?"


Mobil Aria berhenti mendadak, pria itu menekan pedal rem begitu dalam. Aria menatap ke arah Rossa yang mengusap kepalanya sebab terbentur dashboard mobil Aria. "Apaan sih, Pak?" protes Rossa.


"Bukan begitu. Tapi ini soal...."


"Adnan? Aku tidak peduli kalau dia anak Angga. Aku in sya Allah berjanji akan menyayanginya seperti putraku sendiri." Potong Aria cepat.


Nafas Aria memburu, dia sungguh tidak tahu lagi cara apa yang harus dia tempuh untuk mempersunting Rossa, menjadikan ibu Adnan itu satu-satunya wanita dalam hidupnya. Rossa terdiam mendengar luapan emosi Aria.


"Maaf, aku bukan Dia yang perlu kamu sembah. Atau puja. Aku hanya wanita biasa yang ingin menjalani hidup sesuai jalur yang benar. Meski mungkin aku telah melakukan kesalahan besar."


Ada kesedihan mendalam saat Rossa mengatakan hal itu. Aria seketika terkesiap, akankah dugaannya benar? Adnan adalah anak di luar nikah.

__ADS_1


"Boleh aku tahu, apa itu?" Aria mencoba menguatkan hati, jika Rossa mau membuka diri untuk bercerita padanya. Aria akui, dia sungguh kepayahan untuk mendapatkan jawaban iya dari wanita cantik ini.


Terdengar helaan nafas berat dari Rossa. "Mulailah membuka diri. In sya Allah aku amanah." Ujar Aria serius. Hening...


♧♧♧♧


Kali ini tarikan nafas terdengar dari bibir Aria. Sepertiga malam sudah berlalu, dengan hari menjelang pagi. Namun pria itu tak juga bisa memejamkan mata. Gelisah, gundah, bingung, semua rasa tersebut berkecamuk dalam hatinya.


Haruskah aku mundur? Aria menghembuskan nafasnya kasar. Kemarin dia begitu yakin soal perasaannya pada Rossa, tapi sekarang keraguan menyerangnya. Mengikis keyakinan yang tadinya sudah tertanam kuat di hati.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Aria bingung.


Hari berganti, Rossa baru saja memasukkan spong cake yang akan dia gulung menjadi bolu mandarin. Juga kue sarang semut pesanan seorang tetangga. Wanita itu sudah selesai memandikan Adnan. Kini Rossa tampak termenung. Dia telah pasrah, setelah beberapa hari lalu dia menceritakan semua kisah hidupnya pada Aria. Dia tidak berharap banyak.


Dari reaksi Aria, terlihat jika pria itu cukup shock dengan cerita Rossa. Siapa wanita itu, juga bagaimana dia bisa sampai berada di tempat ini. Bersama putranya. Satu hal yang belum Rossa beritahukan adalah soal Adnan. Rossa masih bungkam perihal siapa Adnan.


Sebaris salam membuyarkan lamunan Rossa. Dilihatnya Adnan berlari keluar, menyambut seorang pria yang langsung merentangkan tangannya. "Kasih yang aku punya untuk anak ini sudah terlalu dalam. Aku tidak mungkin mundur lagi. Aku tidak bisa kehilangan kalian berdua." Batin Aria.


"Aku hanya ingin menekankan satu hal. Terlepas dari semua yang sudah aku ceritakan padamu, syarat lain jika kamu menginginkan aku adalah kamu harus bisa menerima kami berdua, tanpa perlu bertanya siapa Adnan. Kami tidak bisa dipisahkan, karena kami sepaket sampai kapanpun."


"Aku terima syarat darimu. Jadi kapan kita akan menemui orang tuamu, papamu Zaiharudin Hutomo."


****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2