
Nurul tampak menautkan jemarinya dengan gugup. Dua hari setelah lamaran Santo. Di jari manis Nurul tersemat cincin pemberian dari Santo. Ya, setelah drama ala anak itik Meri yang kekeuh tidak mau menerima pelangkah dari Santo, pada akhirnya ketegasan orang tua Nurul yang menyelesaikan semua. Perlu setengah jam, menunggu sidang pleno keluarga Nurul. Diwarnai teriakan tidak terima dari Meri, sidang keluarga itu berlangsung dramatis.
Ayah Meri dengan tegas menekan Meri untuk memberi jalan pada Nurul agar menikah lebih dulu. Bapak Nurul pernah mengatakan, siapa yang menemukan jodoh lebih dulu maka dia yang akan menikah duluan.
"Tapi Meri menyukai mas Santo." Kekeuh Meri.
"Tapi Santo tidak! Sejak awal dia datang, dia hanya memandang Nurul bukan kamu. Jadi sadarlah, kalau Santo tidak menyukaimu." Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya hati Meri mendengar ucapan sang ayah. Lebih tajam dari pisau yang buat jagal sapi saat kurban kemarin.
Meri hanya bisa tertunduk lesu, terlebih saat Santo secara gamblang menyatakan perasaannya pada Nurul. Pria itu mengatakan kalau sejak awal hanya menargetkan Nurul, bukan gadis lain. Lagi-lagi Meri si anak itik harus merasakan rasa sukanya layu sebelum berkembang. Sedih, jelas, sakit hati entahlah.
Mengingat Nurul adalah adik yang baik untuknya. Tidak pernah melawannya, selalu berkata iya tiap kali Meri bicara. Satu hembusan nafas kasar keluar dari bibir Meri. Sepertinya dia memang harus menerima kalau Santo bukanlah pria yang diciptakan untuknya.
"Kenapa melamun?" Suara Rossa mengagetkan Nurul. Mereka janjian bertemu lagi, kali ini ada Shilda dan Adnan juga. Si bocah langsung duduk di sebelah Nurul mulai memainkan tab-nya. Rossa sedikit tidak setuju dengan tindakan tiga pria yang membelikan gadget untuk Adnan. Namun tiga pria itu kekeuh kalau benda itu ada timer-nya. Benda tersebut akan mengunci diri tiap setengah jam, hingga Adnan harus berhenti menggunakan benda pipih itu setelah waktu itu.
"Mbakmu ngeplaki kamu?" Shilda bertanya bak ember bocor. Tanpa tedeng aling-aling.
"Gaklah, mbak Meri jadi pendiam sekarang." Keluh Nurul. Ketiganya saling tatap.
"Biarlah, asal dia tidak berbuat aneh-aneh." Rossa akhirnya berucap lirih. Nurul mengangguk pelan. Dua bulan waktu yang disepakati untuk mempersiapkan pernikahan Nurul dan Santo. Kali ini kanjeng mami tidak gedubrakan seperti kemarin. Maklum, dua bulan itu lumayan lama. Sedang konsep sudah disiapkan oleh Arch.
Ijab kabul akan diadakan di rumah besar Aria, mengingat keadaan Meri yang masih tidak baik-baik saja. Jadi bapak dan ibu Nurul menurut saja saat Mala mengusulkan hal itu.
__ADS_1
"Oh iya Nan, kata dokter Tio, Adnan sudah dapat jadwal sunatnya." Wajah Adnan berbinar cerah, bocah itu sebulan terakhir sibuk minta sunat. Namun mengingat keadaan Adnan kemarin, dokter Tio perlu konsul ke beberapa dokter terkait. Setelah diskusi beberapa waktu, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan prosedur itu laksana operasi, dengan bius total akan diberikan pada Adnan.
"Kapan?" tanya Adnan antusias. Keempatnya lantas berbincang diselingi tawa, sungguh bahagia datang setelah mendung bergelayut di langit sana. Pepatah itu memang benar adanya, akan ada pelangi setelah badai.
(😪😪 pelangiku kapan datang yo)
Saat mereka sedang asyik berbincang, satu teriakan terdengar dari arah tangga. Seorang pelayan tampak bersimpuh di ujung tangga, dengan seorang wanita berada di pangkuannya. Pelayan itu minta tolong sambil menangis. Nurul bergerak cepat, diikuti Shilda dan Rossa yang menggandeng Adnan.
"Astagfirullah, ini kenapa?" Nurul bertanya panik, perawat itu memeriksa nadi wanita berhijab itu. Lemah, ada darah yang mengalir di lantai, dipastikan ada luka luar akibat benturan.
Rossa seketika menutup mulut dengan ucapan istighfar terdengar dari bibir wanita itu. "Nisa....."
Baik Nurul maupun Shilda langsung menolah pada Rossa. "Itu tante yang datang ke rumah sakit kan, Bu." Adnan ikut bicara.
"Nunggu ambulans kelamaan, kita bawa saja ke rumah sakit." Usul Nurul. Yang lain mengangguk setuju, dibantu seorang security perempuan, mereka menggotong tubuh Nisa ke mobil Shilda. Nurul lebih dulu melaju dengan motornya, untuk menyambut Nisa di IGD.
Suasana dalam mobil cukup panik, darah tak henti keluar dari luka Nisa. Pakaian Rossa yang memangku kepala Nisa mulai berbau anyir khas darah. Di sisi depan, tampak Shilda menghubungi Mala, meminta kanjeng mami untuk menjemput Adnan di rumah sakit. Wanita itu tentu panik, berpikir kalau terjadi apa-apa dengan Adnan.
Lima belas menit yang serasa sejam. Mobil Shilda mulai masuk kawasan rumah sakit. Nurul segera menyambut Nisa dengan brankar, membawanya masuk ke ruang tindakan. Shilda dan Rossa bingung harus menghubungi siapa, hingga kanjeng mami datang. Wanita itu langsung menghubungi Heru Subagya begitu tahu kalau yang terluka adalah Nisa.
Setelah menghubungi Heru, Mala membawa Adnan pulang, tidak baik bagi anak itu berlama-lama di rumah sakit. Adnan masih dalam pengawasan dokter, jadi sedikit ketat perlakuan pada bocah itu.
__ADS_1
Hampir setengah jam Rossa dan Shilda menunggu, dengan Heru yang datang sejak sepuluh menit lalu. Pria itu jelas khawatir saat Mala memberitahu kalau Nisa dibawa ke rumah sakit. Saat datang, Heru disambut Rossa dan Shilda yang ada di sana. Keduanya menceritakan sedikit kronologi kejadian mereka bertemu Nisa.
Pintu ruang IGD di buka, Nurul keluar lebih dulu. Ini jatah liburnya, jadi dia hanya sekedar membantu. Wajah calon istri Santo itu tidak terbaca, antara bingung, panik dan juga cemas.
"Dia sebenarnya kenapa? Lama sekali di dalam?" tanya Shilda yang heran. Hanya luka benturan, kenapa lama sekali penanganannya. Belum sempat menjawab, Nurul dan yang lainnya dikejutkan dengan kedatangan rombongan dokter yang langsung masuk ke ruang tindakan. Seorang dokter tampak mengangguk pada Nurul, kenal dengan perawat itu.
"Itu kan Prof Pujo dari bagian Onkologi, Rul memangnya Nisa kenapa?" Desak Rossa. Adnan pernah ditangani prof Pujo, mengira kalau tidak bisa melihatnya Adnan bisa disebabkan karena adanya benjolan tumor atau kanker. Tapi hal itu tidak ditemukan di kepala Adnan.
Nurul terlihat ragu untuk menjawab, semua yang terjadi di dalam belum pasti, tapi 70% dugaan semua dokter yang tengah menangani Nisa tidak mungkin meleset. Dan kedatangan Prof Pujo tadi untuk memastikan diagnosa dokter yang bertugas.
"Pak Heru apa sebelumnya Nisa sering sakit?" tanya Nurul. Heru mengangguk. Ditambah keterangan Rossa yang sering bertemu Nisa di rumah sakit.
"Dia bilang nganterin saudaranya periksa." Nurul menundukkan kepala, seiring air mata yang meleleh di pipi. Sedikit cerita soal Nisa, Nurul tahu dari Rossa. Kini dia tahu bagaimana rasa yang Nisa alami saat tahu Aria memilih Rossa.
"Aku tidak bisa membayangkan rasa yang Nisa alami, menanggung dua penderitaan sekaligus." Batin Nurul sedih.
"Malah diam, dia sebenarnya kenapa sih?" tanya Shilda tidak sabaran.
"Pak Heru sebenarnya.... Nisa sakit kanker otak stadium 3."
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***