My Sweet Journey

My Sweet Journey
Saling Pukul


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Aria termenung di ruang kerja yang ada di rumahnya. Pria itu teringat soal kejadian di rumah sakit. Dia justru melihat Rossa di sana. Dia bolos lagi hari itu. Mengantri di bagian pengambilan obat. Siapa yang sakit? Pikir Aria. Setelah ditunggu lama, Rossa beranjak pergi dari sana. Menemui seorang perawat yang tampak akrab dengan Rossa. Mereka berbincang sejenak, sebelum si perawat pergi dan Rossa melanjutkan menunggu panggilan mengambil obat.


Tidak ada Santo, atau orang lain, Aria justru melihat Rossa. Dan satu orang yang membuat pria itu berlari meninggalkan Amato. Satu orang yang menarik perhatian Aria karena dari gerak tubuhnya, terlihat begitu serius dan terburu-buru.


Aria hampir memanggil orang itu saat ponselnya berdering, panggilan dari Amato. Mereka harus kembali ke pabrik sekarang.


Aria mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sosok tadi, tapi nihil. Sosok itu menghilang bagai ditelan bumi. Aria melihat di mana dia berdiri saat ini. Pria itu berada di depan ruangan pemeriksaan dengan tulisan Onkology. Aria mengerutkan dahinya, Onkology? Apa itu. Tak sempat mencari tahu, Aria segera pergi dari tempat itu. "Apa yang Nisa lakukan di tempat itu?" gumam Aria pelan.


Belum lagi soal orang yang mengunci Rossa di gudang. Haisssh banyak sekali yang harus diselidiki. Pusing kepala Aria dibuatnya. Pria itu menaik nafas lantas menghembuskannya. Mencari ketenangan. Setelah beberapa waktu bukannya pikirannya menjadi jernih, yang ada Aria malah terbayang Angga yang makan bersama wanita lain.


"Apa dia beneran selingkuh? Wehh ini tidak bisa dibiarkan!" Rasa tidak rela merasuki hati Aria. Dia tidak terima jika Angga mengkhianati Rossa. Apa salah perempuan itu? Rossa bahkan mau bekerja, padahal dengan kekayaan Angga, pria itu bisa membuat Rossa duduk manis di rumah tanpa perlu bekerja.


"Rekaman kamera pengawas tidak merekam wajah pelaku. Orang itu memakai hoodie dan masker."


Satu pesan dari Amato membuat Aria gusar. Buntu, kenapa semua jalan serasa tidak ada ujungnya. Pria itu mengusak kasar wajahnya. Semua bertambah rumit menurut Aria.


Sementara itu ketegangan tengah meliputi ruang tamu Rossa. "Itu gak bener, Mas!" Rossa menyangkal tuduhan Angga kalau dirinya dekat dengan Aria.


"Tapi semalam aku melihat dia dan kamu bersama. Juga hari itu, kalian menengok Katy sama-sama kan?" Kata Angga dengan suara tertahan. Tidak ingin menarik perhatian tetangga yang super kepo. Untungnya Mala sedang keluar. Rossa sesaat mengerutkan dahi. Dari mana Angga tahu kalau dirinya menjenguk Katy hari itu. Ini pasti ulah bos tukang paksa itu. Teringat Aria yang berani membalas pesan Shilda. Tidak menutup kemungkinan kalau Aria juga membalas pesan Angga.


Tak pelak Rossa pun menceritakan kejadian dirinya yang terkunci di gudang. Di mana Aria juga Shilda dan Amato kebetulan ada di sana lalu menolongnya.

__ADS_1


"Kamu gak bohong?" Angga bertanya. Rossa mengangguk, membenarkan. Aria hanya memastikan dia baik-baik saja. Tidak lebih.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Lucu ya, kamu cemburu sama aku, sama mbak Yuna gitu juga gak?" Angga menggelengkan kepalanya, tidak tahu. Entahlah, memang dari awal tidak ada cinta untuk Yuna di hati Angga, tapi lambat laun perasaan itu tumbuh juga.


Angga memandang wajah Rossa. Cantik, itulah yang selalu Angga lihat dari Rossa. "Mas, permintaanku masih sama. Lepaskan aku."


Amarah Angga yang sempat mereda kini mencuat naik kembali. "Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu!" Geram Angga, pria itu mencengkeram kuat dua lengan Rossa.


"Tapi Mas, aku hanya tidak mau membuat posisi Mas semakin sulit. Mbak Yuna sudah tahu. Dia lebih penting untukmu..."


"Aku bilang tidak mau!" Tegas Angga. Rossa meringis saat cekalan tangan Angga semakin kuat. Sakit, itu yang Rossa rasakan. Sementara Angga tampak tidak peduli pada rasa sakit yang sang istri rasakan.


"Aku peringatkan Cha, aku tidak suka mengulangi perkataanku. Jadi jangan minta berpisah lagi, karena aku tidak akan mengabulkannya." Angga melenggang pergi dari hadapan Rossa. Meninggalkan Rossa yang hanya bisa diam terpaku, membisu, hingga perlahan air matanya mengalir.


"Kamu kenapa Cha?" Mala meletakkan belanjaannya sembarangan. Lalu berlari memeluk Rossa. "Bu, Mas Angga tidak mau melepaskan saya. Saya ingin lepas dari mas Angga. Tidak mau mengganggu rumah tangga mereka lagi."


Mala mengusap pelan kepala Rossa. Bertambah lagi cobaan untuk wanita ini. "Padahal kemarin dia bilang akan melepaskanku kalau aku menemukan pria yang tulus mencintaiku..."


"Memangnya kamu sudah bertemu lelaki itu?" Mala bertanya setengah kecewa, tapi gelengan kepala Rossa membuat Mala menghembuskan nafasnya lega. Tidak banyak yang Mala katakan, sebab dia tahu Rossa tidak membutuhkan kata-kata penghibur. Dia hanya perlu tempat untuk meluahkan perasaannya. Menangis dan sejenisnya. Setelahnya Rossa akan merasa lebih baik. Berusaha tegar dan kuat untuk menghadapi semua ujian yang ada di depannya.


Mala mulai merasa iba, tekanan yang datang pada Rossa begitu besar. Dia pikir jika Aria mau menikahi Rossa, wanita itu akan banyak tertolong. Namun membuat Aria menikahi Rossa, jelas tidak mudah. Meski Rossa cantik, tapi dia tidak yakin kalau Aria akan begitu saja mau mempersunting Rossa jadi istrnya.


"Apa sudah waktunya aku pulang?" Batin Mala.


Sementara itu, Angga tampak berjalan masuk ke rumah Aria. Setelah perselisihannya dengan Rossa tadi, Angga berpikir kalau ini semua ada hubungannya dengan Aria. Pasti pria itu kepincut kecantikan Rossa.

__ADS_1


"Aria...!" Panggil Angga keras. Pria itu berdiri di ruang tamu sambil berkacak pinggang. Marah, Angga tidak terima jika Aria mendekati Rossa. Pada panggilan kedua, Aria muncul dari ruang kerjanya.


Bugghhhh


Tanpa basa basi, Angga memukul Aria. Pria itu jatuh tersungkur. Aria mengusap pipinya sambil menatap tidak percaya lada Angga.


"Kenapa kau memukulku?!" Teriak Aria sambil bertanya.


"Kau brengsekk!" Berani sekali menggoda istriku!" Maki Angga, satu pukulan kembali mendarat di pipi Aria. Merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan, Aria meledak. Kemarahannya meroket naik, terlebih saat dia teringat Angga yang berkencan dengan wanita lain.


"Kau yang brengsekk!" Gantian Aria yang memukul Angga. Pria itu tidak terima dengan tuduhan Angga padanya, juga perlakuan Angga pada Rossa.


Dua orang itu saling pukul, suara pukulan membuat Bi Sumi menjerit melihat dua pria baku hantam di ruang tamu. Berlari keluar rumah mencari bantuan.


"Kau berani mendekati istriku!" Kata Angga.


"Kau suami kurang ajar! Tidak pantas dipertahankan!" Aria tidak mau kalah. Dua pria itu masih terus saling pukul sampai satu suara membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


"Berhenti kalian berdua!"


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2