
Tubuh Aria lemas, mamanya mengalami benturan dengan aspal, luka sepanjang lima senti terdapat di bagian belakang kepala Mala. Bahkan sampai saat ini perempuan itu belum sadarkan diri. Meski perdarahan sudah berhasil dihentikan. Dari cerita warga sekitar, Aria mendengar selentingan kalau sang mama kelelahan. Menjaga anak Rossa sekaligus berjualan. Detik berikutnya amarah Aria meledak. Dia tidak terima, mamanya diperlakukan seperti pembantu oleh Rossa.
Rasa benci mula merayap masuk ke hati Aria. Terlebih Katy sejak tadi mengompori pikiran Aria. Wanita berambut pirang itu mengatakan kalau Rossa sengaja melakukan itu. Sebagai langkah awal untuk mendapatkan Aria. Dalam keadaan bingung dan kalut. Pikiran Aria tidak mampu berpikir jernih.
Melihat keadaan Mala yang tergolek lemah di ranjang pasien membuat hati Aria sedih, sekaligus marah. Tak berapa lama, pria itu sudah mengambil keputusan kalau Rossa bersalah dalam hal ini. Dia tidak terima ibunya jadi begini.
Baru kemarin hati pria itu dipenuhi rasa bahagia karena satu nama yang memenuhi hatinya. Hari ini, seperti telapak tangan yang dibalik, semua berubah dengan cepat. Seorang Aria, pria yang terkadang mengambil keputusan tanpa berpikir panjang, untuk urusan di luar pekerjaan. Itulah kelemahan Aria. Urusan pekerjaan sangat bisa diandalkan, tapi urusan lain dia nol besar.
"Mat, kamu tungguin mama ya." Pamit Aria, pria itu keluar dengan wajah seperti ingin menelan orang. Belum pernah Aria merasa semarah ini. Dia harus membalas perbuatan Rossa.
"Mau ke mana mas bos?!" teriak Amato.
"Nyari biang kerok!"
Amato melongo, biang kerok? Pikiran Amato seketika mengarah pada Rossa. Jangan-jangan Aria ingin melakukan hal buruk pada wanita itu. Amato segera menghubungi Santo, si asisten robot. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Mala belum sadar, dan Santo jelas satu-satunya orang yang tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya.
"Apa?" Santo bertanya datar dari ujung sana.
"Buset dah, gini amat orang kalau setelannya robot." Gumam Amato. Detik selanjutnya, Santo berlari keluar dari kantor atasannya yang sudah dia jaga enam bulan ini, setelah mendengar penuturan Amato.
"Halo, kirim perawat home care ke alamat ini." Satu hal yang langsung terpikirkan oleh Santo adalah Adnan. Beberapa waktu mengikuti kanjeng mami cosplay jadi orang miskin, membuat Santo tahu benar, jika ada hal buruk menimpa Mala saat Rossa tidak ada di rumah, Adnan yang harus jadi prioritas.
Pria itu berlari ke arah mobilnya, ini akan membuat Santo kesulitan, jarak kantor Mala ke rumah sakit lumayan jauh, satu jam lamanya. Meski setelah sepuluh menit berkendara, Santo mengubah arah tujuannya. Sesuai arahan Amato, rumah sakit akan Amato handle, dan Santo harus mencari Aria. Pria yang nekat saat sedang marah. Jangan pikir Aria sosok pria sempurna, dia juga manusia biasa, tempat salah dan khilaf.
Seperti sekarang ini, bak orang kesetanan, pria itu sudah menyeret Rossa keluar dari pabriknya. Membawanya paksa ke satu tempat yang tidak pernah Rossa bayangkan. Kantor polisi. Rossa jelas tidak tahu apa salahnya, wanita itu hanya terus bertanya kenapa dia di bawa ke tempat ini. Aksi Aria membawa Rossa tentu jadi tontonan satu pabrik. Terlebih aura Aria benar-benar mengerikan.
__ADS_1
Shilda yang mencegah Aria membawa Rossa pun terkena dampaknya. Gadis itu dipecat saat itu juga. Aria mode berandalan sangat menyeramkan. Shilda sesaat melongo ketika Aria memecatnya, meski detik berikutnya dia tersenyum senang.
Sebelum Rossa dibawa pergi oleh Aria, Shilda menendang tulang kering Aria, pria itu jelas marah. Marah besar. Namun fokus Aria bukan pada Shilda, tapi pada Rossa. "Aku akan buat perhitungan denganmu nanti!"
"Aku tidak takut! Mantan pak bos!" teriak Shilda berani. Siapa Shilda sebenarnya? Rahasia....
"Pak, saya mau dibawa ke mana?" tanya Rossa. Wanita itu berusaha tidak menangis. Menahan sakit di tangannya bekas cekalan tangan Aria.
"Ke tempat di mana kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" Balas Aria dingin. Aura Aria benar-benar membuat Rossa ketakutan. Apa salahnya?
Sepuluh menit menaiki mobil, Aria masuk ke kantor polisi terdekat. Rossa tentu terkejut, apalagi dia kembali diseret paksa oleh Aria. "Pak, kenapa ke sini?"
"Diam!" Bibir Rossa terkatup, mendengar jawaban kasar dari Aria. Seorang anggota polisi menyambut kedatangan Aria.
"Saya ingin melaporkan dia, dia sudah menculik ibu saya, menyekapnya di rumah."
Mata Rossa melotot mendengar ucapan Aria. "Pak, maksud Bapak apa? Menculik? Menculik siapa?" Sorot mata Aria tajam, penuh kebencian saat memandang Rossa. Hilang sudah wajah penuh kasih yang Rossa lihat beberapa hari lalu. Pria yang kini berdiri di hadapannya saat ini bagai singa yang ingin menelan mangsanya hidup-hidup.
"Nirmala Putri Loka, wanita yang ada di rumahmu, dia adalah ibuku. Kau sengaja kan menculiknya. Kau ingin menggunakannya untuk menjeratku."
Rossa memundurkan langkah, mendengar apa yang Aria katakan. "Bu Mala... ibumu?" hanya itu yang bisa Rossa ucapkan sebagai respon atas perkataan Aria.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Aku salah menilaimu rupanya. Penjarakan dia Pak, saya menuntutnya atas kasus penculikan ibu saya, penyekapan juga penganiayaan. Laporan dan bukti akan segera saya lampirkan."
"Pak bos, pak bos tunggu! Pak bos salah paham sama saya!" Rossa berteriak saat seorang polisi menarik dirinya dari cekalan Aria.
__ADS_1
"Kau jelaskan itu nanti! Awas saja kalau sampai sesuatu terjadi pada mama, aku tidak akan mengampunimu!" Ancam Aria.
"Pak bos, saya bisa jelasin! Dengarkan saya dulu!" Rossa terus berteriak saat si polisi membawanya ke sel tahanan sementara. Sedang Aria langsung diarahkan ke bagian pelaporan. Di mana dia akan membuat tuntutan. Diliputi kemarahan, pria itu sama sekali tidak berpikir dua kali.
Si polisi mengerutkan dahinya, melihat bagaimana lancarnya Aria menuliskan data diri Rossa. "Dia siapanya bapak? Kenapa dilaporkan?"
"Karyawan saya." Ketus Aria. Si polisi mengerutkan dahi, cuma karyawan tapi semua data diri apal semua. Heran.
"Pak Aria! Saya gak salah! Kenapa saya dipenjarain!" protes Rossa dari balik jeruji besi. Bukan dia takut berada di sana. Tapi bagaimana nasib Adnan, mengingat hal itu. Air mata Rossa tumpah. Dia tidak bisa membayangkan, siapa yang merawat Adnan sekarang.
"Pak! Bebasain saya! Anak saya lagi sakit. Gak ada yang nungguin!"
"Berisik!" satu tahanan bertampang seram membentak Rossa, wanita itu seketika merapatkan dirinya ke tembok. Rossa ketakutan melihat wajah sangar dan badan penuh tato dari nara pidana yang baru saja bersuara.
"Ya Allah, lindungi Adnanku." Pinta Rossa dalam hati.
Tak berapa lama, Aria datang. "Kau akan tinggal di sini sampai aku memasukkanmu ke rutan sana!" Rossa tidak mampu menjawab. Hanya air mata yang mengalir di pipi wanita itu.
"Ujianku masih kurang berat ternyata." Batin Rossa lagi, wanita itu meringkuk di sudut sel, memeluk dirinya sendiri. Seolah memang tidak ada yang mampu menguatkannya selain dirinya.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1