
Dua bulan kemudian, setelah semua rangkaian peristiwa yang terjadi, baik yang sedih maupun senang. Akhirnya satu persatu dari mereka mulai menemukan ritme hidup masing-masing. Dimulai dari Shilda yang sesuai prediksi Adnan, melahirkan bayi laki-laki yang langsung membuat si bapak, bertingkah dramatis bin lebay.
Meski sebenarnya Amato tengah mengendalikan euphoria luar biasa yang memenuhi dada dan jiwanya. Pria yang kini bergelar ayah itu menangis saat menggendong bayi mungil yang tenggelam dalam rengkuhan lengan kekarnya, suara Amato bahkan terputus-putus saat meng-adzani sang putra. Persalinan normal Shilda terhitung lancar dengan Amato setia mendampingi.
"Apa ku bilang, cowok kan?" Seru Adnan, meski dari hasil USG pun sudah menunjukkan hasil laki-laki.
"Iya deh iya." Semua orang kompak mengiyakan. Senyum Adnan mengembang saat diberi kesempatan bertemu putra Amato. Sebaris salam Adnan ucapkan, diiringi sebuah perkenalan. Putra Amato tampak paham dengan apa yang Adnan ucapkan, meski detik berikutnya bayi merah itu menangis kencang. Lirikan Adnan seketika tertuju pada Sobri yang langsung nyengir sambil menggaruk kepalanya. "Pengen kenalan juga." Bisik Sobri.
Kebahagiaan terus berlanjut dengan persiapan pernikahan Angga dan Meri juga Hamzah dengan Dewi. Ya, Dewi akhirnya menerima pinangan Hamzah, seminggu setelah surat adopsi di keluarkan oleh pengadilan setempat. Kini Dewi, Dwi dan Dewa resmi menyandang nama Subagya di belakang nama mereka. Perubahan terjadi menyeluruh hingga ke akta kelahiran ketiga anak itu. Setelah terlebih dulu meminta izin pada Paman dan Bibi Dewi, keluarga Dewi yang masih ada.
Ketiganya pun kini tinggal dengan Heru. Menemani Heru mengisi masa tuanya. Meski Dewi tidak, sebab Dewi akan menikah dengan Hamzah, hingga otomatis akan tinggal di kediaman Hutomo sesuai permintaan Zai pribadi. Dan Dewa yang kekeh akan masuk taruna angkatan laut setelah lulus SMA, maka tinggal Dwi yang akan menemani Heru. Gadis yang baru masuk 16 tahun itu bahkan sudah diajari bisnis oleh Heru.
Heru sendiri sangat antusias menyiapkan Dwi menjadi penerusnya, dan sepertinya gadis itu berbakat dalam mengelola bisnis mebelnya. Rumah Heru kini tak lagi sunyi. Selalu ada keributan yang terdengar saat Dwi dan Dewa bertengkar sesama sendiri. Entah ada saja yang dua saudara itu ributkan.
"Berisik ya Yah?" tanya Dewi sembari menghidangkan secangkir teh pada Heru. Ayah Nisa itu mengulum senyumnya. Begitu bahagia, di usia senjanya dia tidak lagi kesepian.
"Bagus itu. Ayah suka mereka begitu. Rame." Ujar Heru berbarengan dengan tawa meledak dari ruang keluarga di mana Dwi dan Dewa menonton televisi.
"Ehhh, mereka sudah keterlaluan." Dewi beranjak ingin menegur sang adik. Tapi Heru mencegah. "Biarkan saja. Oh iya besok, mamamu akan mengajakmu memilih baju. Biar bisa barengan sama Meri." Kata Heru pelan. Ada sendu dalam nada bicara pria itu.
"Boleh nikah gak nih? Kalau gak Dewi batalin aja," kata Dewi enteng.
"Eh jangan dong, undangan sudah mau dicetak sama Arch kok kamu mau mundur. Mau Hamzah bunuh diri ya." Kekeh Heru. Pria itu sama sekali tidak keberatan dengan Hamzah yang terlihat begitu menyayangi Dewi, sebab pria itu tahu. Hamzah menyiapkan satu tempat khusus bagi Nisa, putrinya di sudut hatinya. Pun pesan terakhir Nisa pada Heru mengatakan agar sang papa tidak membenci Hamzah jika kelak menemukan pendamping baru.
"Bagaimana bisa Ayah membenci Hamzah jika pendamping barunya adalah adikmu. Anak Ayah yang lain." Batin Heru. Pria itu menatap bahagia pada putra dan putrinya. "Ayah akan hidup bahagia sampai akhir. Ayah janji." Tambah Heru lagi. Setitik air bening mengalir dari sudut mata lelaki itu. Berharap sang putri juga baik-baik saja di sana.
Rona bahagia kian dekat menyambut semua orang. Rossa yang perutnya makin besar, membuat semua orang di kediaman Aria Loka mulai waspada. Tak ingin kejadian Shilda terpeleset terulang lagi. Untungnya si baby kuat dan tidak apa-apa. Rossa masih menjalani aktifitasnya mengurus pabrik brownies milik kanjeng mami. Tentu dengan Edi dan Edo yang mengawalnya.
"Dah kek tahanan aja aku." Keluh Rossa saat Edi membukakan pintu untuknya.
"Sabar Bu, saya bisa paham dengan kecemasan pak Aria. Saya aja juga akan begitu ke Dina (istri Edi)." Balas Edi. Hari ini dia akan ikut sang ibu, Adinda untuk fitting baju pengantin calon kakak iparnya.
"Keturutan juga aku manggil Umi dengan sebutan mbak ipar." Tawa Edi dan Edo pecah.
"Nyesel amat punya kakak ipar Bu Dewi."
"Gak gitu Do, lihatin aja abang aku. Mubeng minger cari jodoh. Eh jatuhnya ke tutornya Adnan." Rossa menepuk dahinya.
Fitting berjalan lancar, semua sesuai keinginan dua calon pengantin yang sama-sama berhijab. Simple dan elegan. Sementara Rossa dia hanya akan duduk manis sebagai penonton. Kehamilannya sudah masuk trimester kedua, dengan keluhan mual dan muntah sudah berkurang. Wanita itu kini tengah kuat-kuatnya makan, tapi body stay langsing.
Nurul saja sampai heran, ke mana larinya semua itu makanan. Sebab berat bayi Rossa sesuai standar, tidak berlebih. Tanpa mereka tahu, olahraga malamlah yang menguras tenaga Rossa. Dia lebih agresif sekarang. Hingga Aria kadang sampai ternganga melihat tingkah sang istri. "Nikmati ajalah, sebelum badai puasa datang menerpa." Begitulah prinsip Aria saat ini.
__ADS_1
Persiapan pernikahan mula dilakukan, dua minggu sebelum hari H. Rumah Heru dan kediaman Hutomo, rumah Merri dan Angga. Angga sendiri kali ini membawa keluarga besarnya. Satu hal yang membuat pernikahan pria itu berbeda.
Angga pulang ke rumah utama keluarga Daniswara. Secara khusus meminta restu pada ayah dan ibunya, yang seketika berkaca-kaca melihat putra bungsunya pulang. Ayah Angga bukan tidak tahu soal kehidupan sang putra di luar rumah. Namun pria itu membiarkannya saja. Asal Angga tidak keluar dari jalur semestinya. Orang tua Angga setuju-setuju saja dengan pilihan Angga.
Seolah berkaca dari pernikahan sebelumnya dengan Yuna yang berakhir nestapa, Angga ingin pernikahannya kali ini mendapat berkah dan doa dari semua orang yang dikasihinya, terutama ayah, ibu dan kakaknya.
"Kirain Papa masih mau nguber si Ocha meski udah jadi istri orang." Kekeh papa Angga.
"Dosa Pa. Kita berteman saja sekarang. Dia juga sudah mau lahiran ini. Eh gak tahu nding. Pokoknya sudah hamil." Suasana keluarga Daniswara mendadak ramai setelah kabar Angga ingin menikah tersebar.
Bahkan di tengah heboh persiapan pernikahan Angga, ada satu kabar buruk yang seolah memuluskan jalan Angga menuju pelaminan bersama Meri. Yuna ditemukan meninggal dengan luka serius di kepala. Wanita itu diduga membenturkan kepalanya ke dinding kamar ruang rawatnya, mengakibatkan cedera kepala yang berat juga perdarahan dalam yang hebat. Darah keluar dari lubang telinga, hidung dan mulut Yuna.
Angga hanya bisa menatap sendu pada jasad Yuna sebelum ditutup dengan tanah. Sedih tentu, tapi apa daya. Angga tidak bisa melakukan apa-apa. Semua sudah menjadi takdir Yuna. Pria itu hanya bisa berdoa, semoga seberat apapun dosa dan kesalahan Yuna mendapat ampunan dari-Nya.
"Kamu tidak keberatan kan kalau luang kita datang ke sini?" tanya Angga menoleh pada Meri. Tinggal mereka berdua yang ada di tempat itu. Keluarga Hutomo dan Aria sudah lebih dulu pergi.
"Tidak masalah. Kita akan sama-sama berdoa untuknya." Senyum Angga melebar, mendengar jawaban Meri, ucapan Meri mampu menghapus sedih yang tadi memenuhi hati Angga.
"Dihh, makin gak sabar deh nunggu besok."
"Lusa!"
Angga berdecak kesal. "Kenapa gak bisa besok aja sih." Keluh Angga.
"Nyicil masak gak boleh." Cup, satu mendarat di pipi Meri, membuat gadis itu merengut.
"Dosa, aku yang tanggung." Kekeh Angga melihat rona wajah Meri yang memerah. Malu sekaligus takut. Angga kini bisa melanjutkan hidup dengan hati lega. Pria itu tersenyum, rencana-Mu memang yang terbaik, the bestlah pokoknya, batin Angga dengan sudut bibir melengkung membentuk senyuman.
Hari H tiba, pernikahan Hamzah yang lebih dulu digelar, berselang sehari kemudian giliran Angga yang naik pelaminan. Sama seperti Amato dan Aria yang tidak bisa menghadiri ijab kabul masing-masing tapi masih bisa bertemu di acara resepsi.
Hamzah bak tersihir begitu melihat Dewi untuk pertama kali setelah prosesi ijab berlangsung. "Untukmu yang teristimewa, istriku terkasih Aruna Dewi Subagya. Maharnya juga spesial." Gubraakkk, moment yang dikira semua orang akan romantis hancur lebur saat sifat gesrek Hamzah keluar.
"Didikan lu berhasil Ar," teriak Santo dari arah luar. Aria hanya nyengir sambil menampilkan kode peace dengan dua jarinya. Masalahnya kanjeng mami sudah memberi lirikan maut pada tiga putranya. Santo sendiri bukan lagi asisten robot seperti dulu, pria itu jadi sosok yang berbeda setelah menikahi Nurul.
Dewi tersenyum menerima mahar istimewa dari Hamzah. Satu seri buku yang jadi favoritnya dan yang jelas, dulu dia tidak mampu membelinya. Satu prosesi selesai, keesokan harinya giliran rumah Meri yang heboh. Angga memang tidak bercerita soal siapa orang tua kandungnya. Hingga ketika rombongan keluarga Angga datang bersama keluarga Hutomo dan Aria, mereka sedikit terkejut.
"Itu siapa, Rul?" tanya Meri pada sang adik.
"Oh itu tuan Daniswara Yudha, bapak mertuamu. Selamat mbak, Angga lebih tajir dari suami gue." Meri jelas melongo, Daniswara Yuda, pengusaha hotel itu. Tubuh Meri terhuyung ke belakang.
"Mas Angga sia....!"
__ADS_1
"Saaahhhh!!!"
Suara teriakan kencang dari Aria, Amato, Santo dan Hamzah membuat umpatan Meri terpotong. Gadis itu seketika membekap mulutnya sendiri. "Em...em....di larang mengumpat suami sendiri. Dan jangan pingsan. Nohh, suami sama mertuamu." Bola mata Meri membulat melihat Angga diantar masuk oleh ayah dan ibunya.
Satu hal yang membuat semua orang melongo sekaligus tergelak adalah sikap Meri yang spontan mengulurkan tangan lalu salim sembari mencium punggung tangan orang tua Angga dengan takzim, bukannya menemui sang suami lebih dulu. Barulah setelah sadar, Meri jadi salah tingkah. Apalagi tatapan mata Angga berubah menakutkan.
"Papa suka pilihanmu," bisik Yuda di telinga Angga.
"Mati kamu mbak, habis sama mas Angga kamu malam ini." Kompor Nurul rusuh. Meri seketika menjadi ngeri saat mencium tangan Angga untuk pertama kalinya. Terlebih saat Angga berucap, "Bersiaplah untuk malam ini. Aku sudah puasa terlalu lama." Waktu pria itu mencium keningnya setelah memasangkan cincin di jari manis Meri.
Glek!! Meri menelan ludahnya susah payah. Nurul terkekeh melihat ekspresi Meri, apalagi dia dengar bisikan Angga tadi. "Ya terima ajalah mbak. Dia jelas lebih pro ketimbang mereka. Mantan duda beneran. Bukan duper, duda perjaka." Nurul balas berbisik sembari melirik ke arah para suami dan berakhir pada Hamzah.
Meri menarik nafasnya dalam. Apapun itu, dia dan Angga sudah resmi menikah, sah negara dan agama. Jadi apapun yang akan Angga lakukan padanya, asal tidak menyalahi aturan dan syariat, Meri akan menerimanya.
Dan pesta resapsi malam itu menjadi penutup kebahagiaan bagi semua orang. Setelah malam sebelumnya pesta pernikahan Hamzah dan Dewi digelar tak kalah meriah.
"Ayyooo kita foto semua guyssss," Teriak Amato, si paling heboh dari dulu. Ada Adnan di depan pengantin. Tentu dengan sohibnya, Sobri. Meri, Nurul, Rossa, Shilda dan Dewi. Angga, Santo, Aria, Amato dan Hamzah.
Semua memasang wajah terbaik mereka, hingga pada hitungan ketiga, lampu flash menyala. Cekrek!!
"Bahagia untuk kita semua!" Teriak para pria, bersamaan dengan lampu yang padam tiba-tiba. Suasanan hening, hingga teriakan kesal dari Aria terdengar. "Archie Aodra Wijaya! Denda 5%!!!"
"Sorry Bro, sorry. Kesalahan teknis!" balas si empunya nama. Detik berikutnya lampu menyala, dan tawa pecah dari atas pelaminan.
END
****
...Yes, readers tercinta, Aria and friends berakhir sampai di sini. Semoga kalian menyukainya dan terhibur. Mohon maaf jika ada salah kata ya atau typo, beneran deh sengaja...becanda guys. See you next time. Byeeee, terima kasih buat supportnya. Love you all, 🥰🥰🥰...
Bonus...
Aria, Angga, Amato, Santo dan Hamzah
Last bonus, sebab author rindu sama ni orang ðŸ¤
Kredit Pinterest.com
__ADS_1
Archie Aodra Wijaya dari karya In Mya Dream
****