My Sweet Journey

My Sweet Journey
Sepenuhnya


__ADS_3

Semua demi kesembuhan Adnan. Rossa mengulangi perkataannya pada Aria. Lagi-lagi Aria hanya santai menanggapi. Tidak ingin berpikir terlalu jauh, tapi mengharap dalam hati. Tidak sinkron sama sekali.


Hari pertama, Adnan tersedak parah saat mencoba makan menu bubur lembut melalui mulut. Bocah itu sempat sesak nafas sebentar, hingga oksigen diperlukan untuk melegakan nafas Adnan. Dokter Tio sempat berpikir untuk memasang kembali NGT, tapi Adnan menolak.


Sampai akhirnya bocah itu bisa makan pada hari kedua. Itupun dengan usaha dan dorongan dari semua orang. Semua bergantian menyuapi Adnan. Tulang rahang Adnan harus sering digerakkan agar lebih cepat lemas. Dengan begitu proses mengunyah jadi lebih sempurna.


Rossa jelas protes saat Aria menempatkan Adnan di ruang rawat kelas satu. Dia tentu tidak mampu. Asuransi yang dia punya hanya sanggup membayari kelas tiga. Terlebih Adnan akan tinggal lama di rumah sakit. Dia harus ikut terapi intensif yang sudah dokter Hendra siapkan, untuk melatih semua otot di tubuh Adnan yang vakum lima tahun lebih.


"Pindahin!"


"Jangan ngeyel napa sih. Kelas tiga panas, sempit, gak ada AC. Gak kasihan kamu sama Adnan." Dua orang itu berdebat layaknya ayah dan ibu.


"Gak punya duit aku!" Kata Rossa terus terang.


"Blak-blakan banget sih ngomongnya. Aku yang bayarin."


"Gak mau utang sama kamu!"


"Ya gak usah dibalikin. Nur, dengerin aku, aku in sya allah ikhlas nolongin Adnan. Kamu bisa bayangin jika mereka semua masuk ke kelas 3, mau ditaruh di mana?"


"Ya gak bisa gitu dong." Rossa menjawab dengan mata melihat ke arah Mala, Shilda, Amato dan Santo. Mereka semua datang berkunjung. Dalam sekelip mata, Adnan seperti memiliki keluarga yang lengkap. Ada ayah (menurut Adnan), ibu, nenek, om, tante. Semua membuat senyum Adnan tak luntur sejak bocah itu bangun.


"Sayang mbah kakung (kakek) gak suka sama Adnan." Dua hari dan kemampuan bicara Adnan sudah pulih. Hebat, ditambah dokter neurologi anak (saraf anak) mengatakan kalau Adnan tidak kehilangan memorinya, dengan kata lain anak tersebut mengingat semua yang terjadi sebelum musibah itu menimpanya.


"Mbak kakung sudah gak ada, Le. Tapi kalau ada dia pasti sayang sama Adnan." Kata Mala.


"Mbah kakung yang ada di rumah lama, rumah besar, mbah." Balas Adnan dengan wajah sendu.

__ADS_1


Mala sejenak menatap Shilda, tapi perempuan itu menggeleng pelan. "Adnan punya mbah kakung?" Tanya Mala. Dan Adnan mengangguk. Bocah itu lantas bercerita bahwa dia dan ibunya dulu tinggal di rumah besar, bagus. Kamarnya sangat luas, tapi saat Adnan sakit, bocah itu mendengar kalau mbah kakungnya marah pada sang ibu. Dengan nama Adnan dibawa-bawa.


Mala melirik ke arah Santo. Cerita Adnan mungkin terlalu mengada-ngada, tapi bocah itu jelas tidak berbohong. Adnan hanya bercerita potongan hal yang dia dengar. Ditambah Adnan belum paham dengan percakapan orang dewasa, mengingat usia Adnan baru empat tahun saat itu.


"Apa perlu diselidiki, Nya?" tanya Santo. Mala memberi kode "sebentar" Mala lantas bertanya apa Adnan ingat nama mbah kakung Adnan. Bocah itu mengangguk. Dan satu nama meluncur dari bibir Adnan. Mala dan Santo saling pandang.


"Wah tambang emas juga ternyata," kekeh Mala dalam hati. Jika dugaannya benar maka tidak perlu meragukan lagi soal identitas Rossa. Mala berani bertanya pada Adnan karena tinggal mereka bertiga yang ada di kamar anak itu. Yang lain sedang keluar mencari makan.


"Apa mbah kakungmu yang ini?" tanya Santo menunjukkan layar laptopnya pada Adnan.


"Ho o Om, ini mbah kakungku." Fix, mereka harus mencari tahu kenapa Rossa bisa terdampar di kontrakan sempit bin murah bersama Adnan yang sedang sakit.


"Ya sudah. Adnan tidur dulu ya. Besok mau latihan jalan sama om dokter. Biar bisa cepat lari. Main bola sama ayah, sama om."


Adnan mengangguk antusias, dengan senyum lebar menghiasi giginya yang mulai berkurang karangnya. Perlu waktu agak lama untuk membersihkan semua karang gigi, serta memperbaiki struktur gigi Adnan yang berantakan. Adnan jatuh sakit saat giginya dalam proses pergantian dari gigi susu ke gigi tetap.


Tanpa Rossa ketahui, Aria sudah berkonsultasi dengan ahli gigi dan mulut. Aria meminta dokter itu melakukan apapun untuk memperbaiki susunan gigi Adnan hingga terlihat rapi dan bagus. Biaya jangan ditanya, Aria bersedia membayar berapapun asal hasilnya oke.


Hari-hari Rossa lalui dengan seabrek jadwal yang sudah disiapkan dokter Tio. Beruntungnya Rossa masih punya tabungan sedikit untuk menopang hidupnya selama di rumah sakit. Setidaknya dia berpikir setelah ini akan bekerja dari rumah. Adnan akan jadi prioritasnya. Dia akan memanfaatkan kesempatan kedua ini dengan baik, menebus lima tahun yang mereka lewati tanpa senyum bahagia.


"Kita akan hidup bahagia setelah ini." Batin Rossa, melihat Adnan tengah melakukan pemanasan sebelum berlatih berdiri. Pelan tapi pasti, Adnan menunjukkan kemajuan yang membuat semua orang yakin kalau anak itu akan pulih sepenuhnya.


Di tempat lain, Katy si bule abal-abal tengah mengamuk. Dipecat dua bulan lagi, hal itu membuat Katy sakit kepala. Meski tabungannya banyak, tapi tetap saja akan habis jika dia tidak bekerja.


"Wanita siallan! Gara-gara dia aku dipecat. Aku harus membuat perhitungan dengan perempuan itu." Tekad Katy.


Wanita itu melenggang keluar dari rumahnya. Dia akan menemui satu temannya yang punya agensi model. Lumayan untuk menambah isi dompet.

__ADS_1


Di rumah Angga, pria itu tampak memperhatikan Yuna yang tengah memasak. Yuna benar-benar memperhatikan Angga sekarang. Kemajuan yang sangat bagus.


"Yuna, aku mau bertanya. Apa kamu menemui Rossa lagi akhir-akhir ini?"


Yuna menghentikan gerakannya ingin membalik daging steak yang sedang dia masak. Mood Yuna selalu memburuk tiap mendengar nama Rosaa disebut. Rasa cemburu Yuna pada Rossa sangatlah besar.


"Kenapa kau bertanya? Kau ingin membelanya?" Wajah Yuna berubah kesal. Angga pun mulai menyadari, kalau yang dikatakan Aria benar. Yuna sama sekali tidak bisa menerima Rossa sebagai madunya.


"Bukan begitu. Aku hanya bertanya apa itu salah."


Yuna menarik nafasnya pelan. Dia tidak boleh kalah dari Rossa. Dia harus memiliki hal yang lebih baik dari punya Rossa. Begitulah prinsip Yuna. Iri rupanya menguasai hati Yuna sejak dulu.


"Ya, aku memang menemuinya. Aku hanya memberi sedikit pelajaran padanya."


"Kau melukainya Yuna, di situ salahmu." Yuna mendengus geram mendengar ucapan Angga. Jawaban Angga terdengar seperti pembelaan untuk Rossa.


"Kau membelanya lagi!" Yuna melepas celemaknya. Meninggalkan panggangan daging yang sepertinya akan segera matang sempurna alias well done. Wanita itu berlari masuk ke kamar mereka di lantai.


"Aku semakin membencinya tiap kali kau membelanya." Gumam Yuna. Di luar pintu kamar, terdengar ketukan pintu. Angga menyusulnya.


"Yuna dengarkan aku. Aku tidak membelanya, aku juga tidak marah padamu. Jangan merajuk lagi. Aku akan menceraikan Rossa setelah anaknya sembuh."


Mata Yuna membulat, terkejut sekaligus senang. Angga akan menceraikan Rossa, ini kabar bagus. Dia akan menjadi satu-satunya istri seorang Daniswara Angga.


"Ini yang aku tunggu. Akhirnya Angga hanya akan jadi milikku. Milikku sepenuhnya." Batin Yuna bahagia.


***

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2