My Sweet Journey

My Sweet Journey
Dijodohkan


__ADS_3

Rossa termenung di bangku taman. Kemarahan Angga baru saja membuat Rossa kalut. Empat tahun lebih saling mengenal baru kali ini Angga marah besar padanya, sebagai suami tentunya. Selama Angga meluapkan amarah, Rossa sama sekali tidak bicara sepatahkatapun. Dia hanya diam.


Lama termenung akhirnya bulir bening itu luruh juga. Dia tidak menyalahkan Angga, dia merasa ini semua salahnya. Angga sudah melakukan banyak hal untuknya, tapi dia? Apa yang sudah dia lakukan untuk Angga. Tidak ada, Rossa ingin lepas dari Angga. Dia ingin agar Angga lebih fokus pada rumah tangganya sendiri. Tidak melulu mengurusi dirinya. Tapi bagaimana caranya? Berulang kali dia minta talak, tapi Angga tidak mau memberikannya. Dia harus melakukan apa sekarang.


Rossa melangkah pergi dari tempat itu, berjalan menuju motornya. Angga memilih pulang naik taksi setelah mendapat telepon dari Yuna. Wanita itu berkata kalau dirinya sedang sakit. Lagi-lagi Rossa hanya diam saat Angga meninggalkannya begitu saja. Rossa mengusap air matanya dengan cepat. Menghindari pikiran buruk orang-orang yang melihat dirinya.


Saat ada di parkiran, satu mobil menghampiri Rossa. Pengemudinya dengan cepat keluar, lantas berlari ke arah Rossa. "Kamu tidak apa-apa?" Satu pertanyaan yang membuat Rossa terpaku.


Selama ini tidak pernah ada yang bertanya soal keadaannya. Semua orang hanya mengatakan padanya untuk sabar, sabar dan sabar. Namun tidak pernah ada yang bertanya bagaimana dirinya? Apakah baik-baik saja.


"Nur, jawab aku. Jangan diam saja. Kamu baik-baik saja kan, dia tidak melukaimu?" Pria itu Aria, dengan wajah membiru di beberapa tempat, pria itu justru bertanya pada Rossa tentang keadaan wanita itu. Bukan memikirkan lukanya. Rossa menggeleng pelan.


"Maaf." Satu kata dari Aria, dan detik berikutnya Rossa sudah berada dalam pelukan pria itu. Awalnya Rossa terkejut, tapi tak lama tangis wanita itu pecah.


"Menangislah." Ucap Aria, pria itu perlahan mengusap punggung Rossa. Pria itu membiarkan Rossa menumpahkan segala rasa yang entah apa sebutannya. Rossa terisak, sedih, kecewa, bingung semua menjadi satu. Dia ingat bagaimana hidupnya berjalan lima tahun terakhir. Penuh liku, dengan cobaan datang dari segala arah. Keluarganya, putranya, suaminya. Dan kini kemungkinan dia akan terlibat dengan pria yang bukan siapa-siapa untuknya. Apalagi yang akan terjadi besok, dia tidak tahu.


**


**


"Bi... jangan pergi." Pinta Rossa.


"Iya, non." Balas bi Sumi. Pukul delapan malam, dan wanita itu sangat ketakutan jika ditinggal berdua dengan Aria. Dua orang itu kembali ke rumah Aria. Tidak masuk akal, tapi kenyataannya begitu.


Kini di ruang tamu keluarga itu, ada empat orang yang tengah saling diam. "Pelan napa, Nur." Rintih Aria. Merasa dikerjai, Rossa justru menekan alat kompres yang ada di pipi Aria.


"Astagfirullah, sakit!" protes Aria. Namun Rossa seolah tidak peduli.


"Jadi kalian hanya nikah siri. Dan yang kemarin itu malah istri sahnya Angga?" Amato bertanya sambil memakan apelnya, berdua dengan bi Sumi. Aneh, keluarga Aria memang terkenal sangat baik dengan para ART-nya. Bi Sumi malah sering menemani nyonyanya makan di meja makan kalau tuan mudanya tidak ada.


Seperti sekarang, "bantuin habisin lo." Ancam Amato. Bi Sumi mendengus geram. Pasalnya dia juga merasa dikerjai oleh Amato, pria itu mengupas apel dan dia yang disuruh makan. Menyebalkan.

__ADS_1


Rossa mengangguk menjawab pertanyaan Amato. Ada binar senang di wajab Aria. Hanya istri siri, akan mudah melepaskannya. Gila! Aria mungkin sudah tidak waras. Berniat merebut istri orang. Bodo! Sepertinya pria itu sudah mengakui kalau dia menyukai Rossa alias Nur.


"Lalu kamu ingin pisah? Kenapa dulu kalian menikah? Kenapa hanya siri?" Sederet pertanyaan keluar dari bibir Aria. Rossa menjelaskan kalau dia ingin berpisah dengan Angga sekarang, dia ingin Angga lebih memperhatikan istri pertamanya, Yuna. Untuk pertanyaan lain, Rossa belum ingin menjawab.


**


**


Amato seketika menyadari sikap Aria yang ternyata punya rasa pada Rossa. "Mas bos, jangan aneh-aneh deh. Masak benaran mau jadi pebinor. Bukannya membantu mereka baikan, malah ngomporin mereka pisahan."


"Bukannya kau dengar sendiri. Kalau dia ingin pisah dari Angga." Pria itu menatap keluar jendela ruang kantornya. Melihat ke gedung sebelah, di mana Rossa berada di gedung itu.


"Iya, dia memang ingin pisah. Tapi alangkah baiknya, mas bos tunggu sampai dia benar-benar pisah dari Angga. Jika mas bos mendekatinya sekarang, orang akan berpikir dia selingkuh dari Angga. Dan itu akan membuat citranya buruk. Sudahlah istri kedua, siri, selingkuh pula. Mas bos gak kasihan sama dia?"


Aria mengerutkan dahinya mendengar ceramah Amato yang tumben lempeng. "Jadi?"


"Jauhi dia untuk sementara sampai dia benar-benar bebas dari suaminya. Setelah itu terserahlah jika mas bos ingin menikahinya."


"Nah tu tahu aturannya. Jadi please, jangan buat skandal. Kanjeng mami tak sayang Aria belum pulang." Aria mendelik mendengar panggilan Amato untuk ibunya.


"Aku sayang mamalah." Gumam Aria. Pria itu terdiam, sedang mencerna saran Amato. Aria mengakui kalau apa yang dikatakan Amato benar. "Sepertinya aku memang harus menjauhimu untuk sementara waktu."


"Jika mas bos benar-benar mencintainya...."


"Untuk menyempurnakan agamaku." Potong Aria cepat.


"Iya pak ustadz, jika mas bos menginginkan dia, lakukan saranku."


Baru dua hari lalu berandalan mode on, hari ini sudah berubah jadi mode ustadz. Amato menggelengkan kepala melihat kelakuan Aria, yang sering berubah moodnya seperti bunglon.


Sementara itu, Rossa yang sudah pulang kerja. Kini kembali ke pergi lagi. Setelah memberikan sonde pada sang putra, wanita itu pamit untuk menemui Nisa.

__ADS_1


Ya, Rossa rupanya kenal dengan Nisa, gadis yang dijodohkan dengan Aria. Bagaimana mereka bisa kenal? Semua berawal dari seringnya mereka bertemu di rumah sakit. Nisa saat itu berkilah sedang menemani saudaranya yang sedang berobat. Dari sana keduanya mulai akrab. Saling bertukar nomor ponsel. Nisa yang paham ilmu agama, banyak memberi semangat pada Rossa.


Pertemanan mereka baru berlangsung setahun, sesudah Nisa pulang dari Mesir, setelah gadis itu menyelesaikan pendidikannya di sana. "Bu, Ocha keluar sebentar ya. Ditunggu Nisa di kafe ujung itu." Pamit Rossa.


Mala mengiyakan, toh biasanya jam segini Adnan sudah anteng, tinggal menunggu tidur. Wanita itu kembali sibuk dengan kegiatan favoritnya, masak.


Rossa sampai di kafe dekat rumah wanita itu, hanya perlu sepuluh menit dari kontrakan Rossa. Sebaris salam Rossa ucapkan saat melihat Nisa. Gadis itu tersenyum, meski wajahnya pucat. Satu salam balasan terlantun dari bibir Nisa.


"Maaf, membuat kakak harus keluar malam-malam begini." Ujar Nisa merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Adnan juga sudah mau tidur."


"Syafakallah untuk Adnan ya, Kak." Rossa tersenyum sambil mengaminkan doa Nisa.


"Oh iya mau curhat apa ni." Rossa bertanya sambil meletakkan sling bagnya.


"Ini soal pria yang dijodohkan sama Nisa, dia menolak. Dia bilang tidak cinta padaku."


"Lah aku pikir Hamzah suka padamu." Nisa menggeleng, menampik kalau bukan pria yang bernama Hamzah yang dijodohkan dengannya.


"Lalu siapa dia?" Rossa iseng bertanya.


"Mas Aria, Riffaldo Aria Loka namanya."


Bak disambar geledek, Rossa terkejut. Aria ternyata sudah dijodohkan dengan Nisa. Dunia ternyata sangat sempit. Cemburukah Rossa saat mendengar Aria ternyata sudah dijodohkan.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2