My Sweet Journey

My Sweet Journey
Disekap


__ADS_3

Rossa melangkah masuk ke rumahnya dengan riang. Punya banyak bahan untuk membuat roti adalah hal paling menyenangkan bagi seorang Rossa. Dia bisa membuat banyak roti lalu menjualnya. Promosi di WA, lalu menunggu pesanan datang.


Mala cukup heran, melihat Rossa pulang lebih awal, setelah menjawab salam gadis itu. Tumben jam segini sudah pulang. Ini bukan hari Sabtu, akhir pekan jam kerja hanya sampai jam dua siang.


"Tumben dah pulang Cha." Ujar Mala sambil menyiapkan sonde untuk Adnan. Pukul tiga sore, waktunya bocah itu makan, setelah itu mandi.


"Biar Rossa aja Bu." Pinta Rossa melihat Mala membawa mangkok berisi sonde untuk Adnan. Namun Mala menolak, wanita itu malah menyuruh Rossa untuk segera menjalankan salat Ashar dulu. Kemudian memandikan sang putra. Rossa seketika menepuk dahinya. Dia lupa akan hal itu.


"Oh iya kok pulang awal?" Kejar Mala setelah dia selesai memberikan sonde pada Adnan. Rossa menjawab kalau dia diberi kompensasi karena menemani bosnya menjenguk orang sakit. "Aneh ya, Bu."


"Bos? Apa Rossa sudah bertemu anaknya? Tidakkah ini bagus. Doaku terkabul." Batin Mala senang. Mala sudah tahu kalau Rossa bekerja di pabrik Aria. Sedikit berharap kalau dua orang itu bertemu.


"Bos? Mas Angga?" kepo Mala.


"Bukan....dirutnya, mereka manggilnya pak Aria." Senyum Mala mengembang sempurna. Akhirnya Rossa dan Aria bertemu. Mala sangat senang akan hal itu.


"Dia orangnya seperti apa?" pancing Mala, ingin mengetahui penilaian Mala soal sang putra.


"Menjengkelkan! Tukang paksa!" Mala melongo mendengar jawaban Rossa. Dasar Aria tidak sayang mama, bisa-bisanya menunjukkan sisi menyebalkannya, saat di depan mantu idaman. Tidak bisa apa jadi model alim seperti biasanya.


Wajah Mala manyun seketika. Dasar Aria tak mama, tidak bisa diajak bekerja sama. Mala sibuk memaki Aria dalam hati sambil menghidupkan kompor. Memasak air untuk mandi Adnan.


Hachhiiiiii


Aria mengusap hidungnya yang tiba-tiba gatal. Pria itu bersin beberapa kali. "Kayak kalau mama lagi ngomongin Aria." Gumam Aria pelan. Di mana ya sang mama sekarang, sedang nggibah sama siapa. Pikir pria itu, rindu.

__ADS_1


Aria baru saja melakukan kewajiban empat rakaatnya petang itu. Saat ini lelaki tersebut tengah menikmati waktunya di sebuah kafe. Menghabiskan waktu setelah membereskan kekacauan yang dibuat oleh seorang stafnya. Pegawainya salah membuat label sehingga barang dari pabrik Aria dikirim ke tempat yang salah. Padahal ekspedisi sudah separuh jalan.


Setelah melakukan negosiasi dengan pihak pengiriman barang, mereka bersedia putar balik dan mengantarkan barang mereka ke tempat yang benar. Meski dia harus mengeluarkan dana ekstra dari kantongnya sendiri. Bagian pengiriman barang menolak mengeluarkan biaya tambahan untuk putar balik mobil box menuju ke kota yang benar.


Mereka berniat membebankan biaya itu pada si pembuat masalah. Aria tidak tega setelah melihat pegawai yang membuat masalah, hanyalah seorang gadis baru lulus, yang baru bekerja delapan bulan. Karena itu Aria berbaik hati menanggung semua kerugian yang ditimbulkan bocah tersebut. Pria itu maklum, belum berpengalaman, tiap orang bisa saja membuat kesalahan.


Awalnya Aria begitu pusing sebab masalahnya tidak hanya itu saja. Staf itu juga lupa menambahkan beban pajak pada produk tersebut. Hingga masalah bertambah ruwet.


Aria menghela nafasnya dalam. Cukup pusing dengan banyak masalah yang dia hadapi beberapa waktu terakhir ini. Untung saja pabrik brownis sang mama dan service AC belum dialihkan padanya. Jika iya, bisa dibayangkan betapa runyamnya hidup Aria.


Pria itu akan meminum kopinya saat matanya menangkap pemandangan yang membuat...emosinya naik. Aria melihat Angga sedang makan berdua dengan seorang wanita. Dan itu bukan Rossa. Keduanya tampak mesra.


"Bukannya itu Angga. Bagaimana bisa dia makan dengan wanita lain? Mesra lagi." Aria menggelengkan kepalanya, melihat Angga yang bahkan mencium pipi wanita itu.


Ini keterlaluan! Pikiran Aria langsung mengarah pada Rossa. Perempuan yang baru saja ditemuinya beberapa waktu lalu. Beberapa dugaan berkecamuk di benak Aria. Apakah Angga sedang berselingkuh dari Rossa? Jika iya betapa kasihannya Rossa. Rasa iba seketika menyeruak di hati Aria untuk Rossa.


Hari berganti, Aria berulang kali ingin bertanya soal siapa wanita itu. Tapi kesibukan di pabrik membuat Aria tidak punya waktu untuk menemui Angga. Beberapa hari ini dia juga tidak sempat mengerjai Rossa, melihat pun tidak. Saat dia sibuk dengan pekerjaannya, satu lagi masalah datang padanya.


"Aria....aku sudah sembuh!"


Aria memejamkan mata, "Janda pirang datang lagi." Batin Aria kesal. Namun pria itu berusaha tersenyum di depan Katy. Menanyakan kabar wanita itu. Juga basa basi minta maaf karena tidak menjenguk Katy lagi sejak dia datang bersama Rossa. Sebenarnya ya memang hari itu saja, Aria menjenguk Katy. Itupun membawa Rossa sebagai tumbal.


Katy mencoba mendekati Aria, tapi saat kesempatan itu datang. Amato menerobos masuk ke ruangan Aria tanpa permisi. Aria menarik sudut bibirnya. Timing yang bagus, bersamaan dengan Katy yang memaki dalam hati. "Asisten sialan!" Katy kembali menjauhkan diri.


Dongkol! Itulah yang Katy rasakan. Wanita itu memilih keluar dari sana. Aria dan Amato jika sudah berdua, lupa pada waktu dan cenderung mengabaikan kehadiran orang lain. Mereka seperti kekasih, uppsss Katy menepis dugaan itu. Dia yakin Aria masih normal.

__ADS_1


"Terima kasih. Kau menyelamatkanku." Kata Aria.


"Aku memang ada hal penting yang harus aku laporkan padamu." Aria kini menatap penuh tanya pada Amato.


"Santo selalu pergi ke rumah sakit ini tiap bulan." Aria melihat satu nama rumah sakit yang Amato tunjukkan. Apa yang dia lakukan? Begitulah arti tatapan Aria. Amato mengedikkan bahu.


"Itu yang harus kita selidiki." Amato menjawab tatapan Aria. Dua pria itu melihat tanggalnya. Lusa.


Di lantai bawah, karyawan sudah mulai keluar dari line. Jam kerja berakhir. Rossa keluar belakangan. Menunggu yang lain bubar. Dia biasanya akan menjalankan ibadah Magrib terlebih dulu. Dari pada kehabisan waktu waktu di jalan.


Saat melewati loker untuk mengganti alas kaki, seseorang menarik tangan Rossa, membawanya menjauh dari tempat itu. Rossa berteriak, tapi orang itu tidak peduli pada Rossa.


"Lepaskan!"


"Diam!" Desis suara itu. Suara yang membuat Rossa melotot. Dia kenal suara ini. Meski orang itu memakai hoodie dan masker.


Orang itu membawa Rossa ke sudut gedung. Di mana sebuah gudang berada. Rossa di dorong paksa masuk ke dalamnya. Lalu menguncinya. Rossa jelas panik, dia dikurung di sana. Apa salahnya?


Wanita itu menggedor pintu, tapi tidak ada sahutan. Orang itu sudah pergi. Meninggalkan Rossa berada di ruangan itu. Rossa panik bukan kepalang.


"Tolong! Tolong! Tolong aku disekap!" Teriak Rossa, berharap ada yang mendengarnya dan menolongnya.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2