My Sweet Journey

My Sweet Journey
Ultimatum


__ADS_3

Santo berlari menerobos masuk ke ruangan di mana Mala di rawat. Nafasnya memburu seperti orang yang baru saja lari maraton. Panggilan dari Amato membuat Santo segera bergegas ke rumah sakit. Sampai di sana, Santo lihat Aria yang tengah menggenggam tangan Mala, dengan dokter yang tengah memeriksa kondisi wanita itu.


"Bagaimana?" bisik Santo pada Amato.


"Baru sadar, tapi masih lemah." Balas Amato tak kalah lirih.


Keduanya pun diam saat si dokter menjelaskan keadaan Mala. Meski ada retak sedikit di bahu Mala tapi itu tidak apa-apa. Bisa sembuh dengan sendirinya. Luka di kepala juga sudah membaik, setelah pemeriksaan MRT dan CT Scan tidak ditemukan luka dalam, serta gumpalan darah di otak juga tidak ada. Meski begitu, Mala diharuskan istirahat total. Agar luka-lukanya cepat sembuh. Aria mengangguk paham dengan perkataan dari dokter.


Setelah si dokter keluar, Santo mendekat ke arah Mala. Tidak peduli pada tatapan maut Aria. Mala terlihat lemah, wanita itu tampak lemas, ada luka di dahi wanita itu yang tertutup plester dan kasa.


"Nanti saja, Nya." Santo berujar, dia cukup tahu apa yang dikhawatirkan oleh tuannya itu. Bukan Aria atau pabriknya. Tapi Rossa dan Adnan. Kenapa begitu? Sebab Aria jelas baik-baik saja. Sedang Rossa, Mala tahu benar keadaannya.


"Awas kalau kau sampai mengadu sama mama!" Ancam Aria.


"Meski aku tidak mengadu, tapi dia tetap akan tahu. Apa kamu tidak mengerti seperti apa hubungan mereka?"


"Dia hanya berpura-pura baik sama mama. Dia punya tujuan lain." Aria bersikeras pada pendapatnya.


"Terserah!" Santo berlalu dari hadapan Aria. Melempar tatapan sengit pada Katy yang baru saja datang.


"Dasar janda pirang. Wanita licik!" Umpat Santo. Pria itu tidak peduli kalau Katy mendengar makiannya. Dia geram pada Katy, marah pada Aria yang sudah termakan hasutan Katy.


Santo keluar dari rumah sakit, satu kode dari sang nyonya, "lakukan yang terbaik untuk Rossa." Pria itu melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Sementara di tempat lain, Yuna tertawa terbahak, mendengar Rossa yang masuk penjara. Wanita itu bahagia bukan kepalang, dia tidak perlu bersusah payah menyingkirkan Rossa, sudah ada orang lain yang melakukannya. Rupanya haters Rossa tidak hanya dirinya. Ada orang lain di luar sana juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Senyum Yuna menghilang saat mendengar mobil Angga masuk ke parkiran. Dia harus membuat Angga tidak mengetahui soal Rossa. Tanpa Yuna tahu, Angga sudah menjenguk istri sirinya itu di penjara. Angga mendengar dari supervisor line kalau Rossa dibawa pergi Aria. Awalnya dia ingin marah, tapi setelah melihat keadaan Rossa, pria itu tidak jadi marah. Angga sendiri sedang mencarikan pengacara untuk Rossa, jika kasus ini sampai bergulir ke meja hijau.


Yuna menyambut Angga dengan senyum manis. Akhir-akhir ini Yuna banyak memperbaiki diri. Perempuan itu mencoba jadi istri yang baik untuk sang suami. Yuna lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, semua keperluan Anggga kini Yuna yang menyiapkan. Bukan lagi ART.


"Aku masak makanan kesukaanmu, Mas." Pikiran Angga masih berpusat pada Rossa. Hingga tidak terlalu memperhatikan Yuna. "Awas saja kamu Mas, kamu berani mengabaikan aku yang selalu ada di samping kamu." Geram Yuna dalam hati. Perempuan itu kesal tapi berusaha menyembunyikannya. Sekarang dia harus pandai mengambil hati Angga, agar pria itu lebih cepat melupakan istri sirinya.


Di sel penjara, tampak Rossa yang khusyuk melakukan ibadah malamnya, berdoa di sepertiga malam seperti kebiasaannya saat di rumah. Mukena Rossa dapatkan dari Santo yang mengantarkannya ke sana atas perintah Nurul. Sepertinya selain kanjeng mami, hanya Nurul yang mampu mengendalikan Santo. Jodohkah mereka? Semoga.


Bukan pembebasan dirinya yang Rossa minta, tapi kebaikan untuk Adnan, seperti biasa. Kesembuhan, kesehatan bagi anak itu. Dan saat ini yang paling penting adalah, ada orang yang bisa merawat Adnan dengan sungguh-sungguh, benar juga penuh kasih sayang.


Air mata itu kembali mengalir saat dia teringat wajah sang putra. Senyum yang baru saja dia lihat, Rossa begitu merindukannya. Juga panggilan ibu yang sudah lima tahun tidak dia dengar.


"Ibu merindukanmu, Nak." Lirih Rossa dalam isak lirih tertahannya. Dia sama sekali tidak berani bersuara di tempat itu. Satu napi dengan wajah sangar selalu mengintimidasi dirinya. Apalagi setelah tiga pria tampan mengunjungi Rossa. Meski Aria datang hanya untuk memarahinya.


Napi yang lain memandang rendah pada Rossa, berpikir kalau Rossa adalah pelakor yang tertangkap oleh istri sah pria yang dikencaninya. Beberapa dari mereka bahkan tega menyebut Rossa jallang dan pelacuurr. Kejam sekaligus menyakitkan. Namun Rossa tidak ambil pusing. Justru wanita itu bisa mengambil sisi baiknya, dipenjara memang dia terpisah dari putranya, tapi saat seperti ini bisa dia gunakan untuk mendekatkan diri pada penciptanya.


Tak lupa satu bait doa tulus Rossa panjatkan untuk kesembuhan Mala, wanita yang selama enam bulan lebih bersamanya. Membantunya merawat Adnan, perempuan yang sama sekali tidak dia sangka adalah ibu Aria. Sungguh di luar dugaan.


Di tempat lain, saat hari mulai berganti. Mala membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah satu ruangan bercat putih. Fixs, dia di rumah sakit. Wanita itu menoleh ke kiri, dilihatnya sang putra yang tidur di sisi ranjangnya. Rindu? Dia jelas rindu pada putra tunggalnya itu.


Terlihat wajah lelah Aria. Rossa juga melihat Santo dan Amato yang tidur di sofa. Kepala wanita itu masih terasa berat. Jam di dinding menunjukkan waktu subuh. Mala pelan menyentuh lengan Aria, membangunkan sang putra untuk melakukan kewajiban dua rakaat.


"Ar...bangun. Subuh dulu." Aria menggeliat pelan sebelum membuka mata, saat mendengar suara lirih si mama tak sayang Aria.


"Ma...Mama sudah baikan?" Aria bertanya dengan wajah cemas sekaligus senang. Mala mengangguk lemah. Senyum seketika mengembang di bibir Aria, mengetahui sang mama baik-baik saja.

__ADS_1


Pukul tujuh pagi, dokter sudah selesai visit dan memeriksa Mala. Wanita itu terlihat jauh lebih baik. Sudah bisa duduk, sambil bersandar pada kepala ranjang pasien. Mala melihat Aria yang sedang menikmati sarapannya bersama Amato, di depannya duduk Santo.


Sesekali Aria melemparkan tatapan dinginnya pada Santo. Dia tahu kalau si asisten robot akan mengadukannya soal Rossa. Tak berapa lama, helaan nafas terdengar dari bibir Mala, setelah Santo selesai bercerita.


"Berapa lama?"


"Sejak kemarin siang." Jawab Santo pelan. Santo hanya setia pada Mala, bahkan Aria pun tidak bisa memerintah Santo, jika itu bukan atas kehendak sang kanjeng mami.


"Aria...."


"Gak Ma! Aria gak akan bebasin dia!" Aria tahu benar arah pembicaraan Mala.


"Kamu membantah perintah Mama?!" Suara Mala meninggi. Santo dengan cepat menenangkan Mala. Tekanan darah Mala agak tinggi. Jadi mereka harus ekstra hati-hati mulai sekarang.


"Ma....kenapa sih mama gak sadar juga. Dia cuma manfaatin mama, dia suruh mama ngerawat anaknya. Kerja buat cari tambahan uang. Dia keterlaluan!" Aria mulai emosi.


"Hei, kamu tahu apa soal Rossa. Tahu apa kamu soal apa yang Mama lakukan. Dia gak nyulik Mama, tapi Mama sendiri yang ikut dengannya. Mama kerja karena Mama memang suka. Bukan karena dipaksa. Meski gajinya kecil tapi Rossa memberikan gajinya pada Mama," ucapan Mala terpotong saat kepalanya mulai berdenyut nyeri.


"Ma...Mama...Mama gak apa-apa kan?" tanya Aria panik.


"Gak apa-apa. Bebaskan dia atau Mama tidak mau pulang!" Sebuah ultimatum Mala berikan. Satu hal yang membuat Aria tidak berkutik.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2