
Hamzah berlari masuk ke ruang rawat inap Nisa yang ada di gedung Tulip. Gedung yang dikhususkan untuk penderita kanker. Di belakang Hamzah ada Aria dan Rossa. Mereka mengekor langkah cepat Hamzah. Sampai di depan ruangan Nisa, tampak Heru yang berdiri dengan cemas. Pria itu terlihat lebih kurus, beberapa hari menemani Nisa di rumah sakit, sekaligus memantau toko mebel miliknya. Usaha yang digeluti oleh Heru.
"Apa yang sebenarnya terjadi Om?" tanya Hamzah panik.
"Nisa drop." Hanya itu yang mampu Heri beritahu. Selebihnya mereka harus menunggu penjelasan dokter. Heru yang melihat Aria datang, mendekati suami Rossa itu. "Bisa kita bicara, Om mohon." Pinta Heru sembari melihat ke arah Rossa.
Aria mengekor langkah Heru, entahlah, Aria pikir dia tahu apa yang akan Heru bicarakan. Hanya perlu sepuluh menit, dua pria lintas generasi itu sudah kembali, dengan dokter Bimo yang keluar dari ruangan Nisa. Satu penjelasan yang membuat semua orang saling pandang.
Rossa hanya bisa diam mendengar penuturan dokter Bimo. Tanpa Rossa sadari air matanya meleleh. Tidak sanggup mendengar apa yang dokter Bimo katakan.
"Nisa terpaksa harus dipakaikan ventilator, paru-parunya tidak mampu bekerja tanpa alat bantu. Sel kanker sudah menyebar ke organ itu."
Kata-kata dokter Bimo terngiang di telinga semua orang terutama Rossa. Semua tampak menghela nafas saat dokter Bimo kembali masuk ke ruangan Nisa yang kembali dipindahkan ke ICU. "Om mohon, kabulkan permintaan Nisa." Pinta Heru dengan wajah menghiba. Dia sendiri sudah siap dengan hal paling buruk yang bakal menimpa putri tunggalnya.
Aria hanya terdiam mendengar perkataan Heru. Tatapan mata Aria tak lepas dari wajah sang istri tercinta. Tercinta di bawah naungan cinta yang dia miliki untuk penciptanya. Belahan jiwa, separuh hati, hidup dan matinya, Nurmala Alika Rossa. Senyum terukir samar di bibir Aria. Berbanding terbalik dengan rasa gundah di hati Rossa.
"Mas...Mas....tolong dipertimbangkan lagi," Rossa berhenti bicara saat Aria berbalik menghadapnya. Pria itu menatap heran pada Rossa. Mereka sudah ada di kamar.
"Kamu tidak mencintaiku?" satu pertanyaan terlontar dari mulut Aria.
"Tentu saja aku mencintaimu, Mas..." sebuah ciuman mendarat di bibir sang istri. Untuk sesaat pria itu menikmati lembutnya bibir Rossa yang kadang membuat Aria pusing dengan permintaan yang tidak masuk akal.
Seperti saat ini, Rossa terang-terangan meminta Aria menikahi Nisa. Gila gak tu, istri mana yang mau dimadu.
"Dengarkan aku. Kamu tidak perlu melakukan itu untuk mendapat surgamu. Kamu tidak usah mengambil jalan pintas."
__ADS_1
"Tapi Nisa...."
"Aku tidak mau melakukannya, sebab apa? Aku yakin tak mampu bersikap adil pada pada kalian. Aku bukan Dia, aku hanya manusia biasa. Karena itu aku tidak akan memenuhi permintaan gilamu ini." Aria menatap dalam manik mata Rossa.
"Lalu Nisa bagaimana? Dia perlu support untuk tetap bertahan. Bagaimana jika ini permintaan terakhirnya?"
"Tetap saja aku tidak mau. Hei, ijab kabul itu berat, kamu tahu sendiri."
"Mas....."
"Cukup Nur, jangan mendorongku, jangan menjauhiku. Aku tidak suka. Kita akan temukan cara untuk keluar dari masalah. Nisa ingin menikah? No problem." Balas Aria tenang. Kini giliran Rossa yang terdiam. Bagaimana bisa Aria begitu tenang menolak permintaan Heru. Dia takut hal ini akan berpengaruh pada kestabilan mental Nisa, yang bisa saja berimbas pada keadaan Nisa.
Rossa tergugu saat Aria meraih tubuhnya, mendekapnya hangat. Mata Rossa terpejam, menikmati kenyamanan yang dia rasa tiap kali Aria memeluknya. "Percayalah padaku. Aku tidak ingin menyakitimu, membuatmu menangis. Bibirmu bisa berkata memintaku menikahi Nisa, tapi apa hatimu rela saat melihatku kembali menggoyahkan tahta Arsy, mengemban satu lagi amanat untuk menjadi penanggungjawab dosa untuk istriku yang lain. Tidak Nur, aku saja tidak bisa membayangkan hal itu. Aku bukan pria yang baik, aku tidak sebaik itu." Aria mengeratkan pelukannya pada Rossa, benar-benar tidak ingin melakukan hal itu. Meski agamanya mengizinkannya.
"Lalu Nisa?"
"Yuhh, Nisa mulu, aku kapan sih diperhatiin." Rossa melongo, melihat wajah Aria manyun, pria itu melangkah masuk ke walk in closet dengan rasa kesal di dada.
"Lah sama Nisa aja cemburu." Rossa menggelengkan kepalanya pelan, baru dua menit yang lalu, Rossa memuji betapa dewasanya sang suami, sekarang sepertinya dia harus mengubah kembali penilaiannya.
"Bentukannya aja gede, dalamnya mah bocil." Gumam Rossa, sambil meminum air putih, untuk membasahi kerongkongannya yang sejak tadi kering kerontang.
"Siapa yang bocil?" Mata Rossa membulat, salah omong dia.
"Ngatain aku bocil? Gak ingat ya bocil ini selalu buat kamu keenakan tiap malam kecuali kalau lagi kena palang merah." Rossa nyengir mendengar balasan sarkas dari Aria.
__ADS_1
"Kenapa? Nantangin ya? Masih kurang bukti?"
"Modus!" Maki Rossa spontan.
"Eh nantangin beneran!" Aria langsung menarik tangan Rossa, membawanya ke ranjang.
"Mas....Mas...masih siang." Ucap Rossa sambil menahan nafas, saat Aria melepas kaos yang baru saja dia pakai, hingga tubuh seksi sang suami terpampang di depan mata.
"Bodo amat. Masih ada waktu dua jam sampai Ashar." Rossa mendelik mendengar ucapan Aria. Dua jam? Yang benar saja. Terdengar bunyi klik, Aria mengunci pintu menggunakan remote juga menutup jendela dengan tirai tipis yang perlahan bergerak saat Aria menekan tombol di atas nakas.
"Mari kita lihat, bocil ini bisa melakukan apa." Rossa memejamkan mata saat Aria mulai menyerangnya.
Di rumah Angga, mata Yuna melotot melihat dua garis merah tercetak jelas di test pack yang iseng dia beli. "Positif? Aku hamil!" Teriak Yuna. Antara bingung dan takut. Anak? Dia tidak pernah ingin punya anak. Dia hanya ingin bersenang-senang dengan pernikahannya. Anak hanya akan membuatnya repot. Belum lagi dengan tubuhnya yang akan berubah setelah melahirkan. Tidak! Yuna tidak mau itu terjadi.
Jika tubuhnya tidak seksi lagi, Angga pasti akan meninggalkannya. Angga pasti akan mencari wanita lain. Padahal Angga sebenarnya ingin sekali memiliki anak. Lima tahun menikah dan belum dikaruniai keturunan, Angga tidak berpikir macam-macam. Dia pikir mungkin ini belum rezekinya.
Tanpa dia tahu, Yuna ternyata memakai alat kontrsepsi selama ini. Itulah yang membuat Yuna tidak bisa hamil anak Angga meski mereka bergulat panas tiap malam.
Yuna berjalan mondar mandir di kamarnya. Dia tidak mau anak ini. Janin ini hanya akan membawa masalah padanya. Yuna benar-benar gila. Bagiamana dia bisa berpikir seperti itu. "Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau hamil dan Angga meninggalkanku." Gangguan paranoid Yuna sepertinya semakin parah. Wanita itu seharusnya sudah mendapat perawatan kejiwaan. Pikirannya makin lama makin tidak waras.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1