
Aria keluar diiringi Amato, keduanya begitu penasaran dengan siapa yang datang. Seorang wanita tampak berdiri di sisi gerbang, rambut panjang di gerai, mengenakan celana jeans dan kemeja flanel, juga jaket denim. Penampilan Rossa sungguh berbeda dari biasanya.
Aria bahkan sampai ternganga melihat kecantikan Rossa. Jauh dari saat berada di pabrik. Aria tidak mendekat ke gerbang, tapi Amato yang menjemput Rossa, meminta wanita itu membawa motornya masuk. Namun Rossa menolak. Wanita itu mengekor Amato masuk. Berhenti di depan Aria yang berdiri di teras rumahnya.
"Selamat pagi, maaf mengganggu. Saya tidak lama, hanya ingin memberikan ini." Rossa mengulurkan satu amplop yang wanita itu berikan pada Amato, lantas di serahkan pada Aria.
"Apa ini?" tanya Aria, membuka amplop dari Rossa yang ternyata berisi uang.
"Itu untuk biaya perbaikan mobil bapak yang saya tabrak. Untuk mbak Katy saya minta maaf, saya tidak melihat mobilnya saat saya menyeberang."
Rossa berbalik, setelah dirasa cukup mengatakan apa yang ada di kepalanya. "Weehh, wanita ini sangat berani." Gumam Aria. Benci itu kemarin, sekarang rasa penasaran itu kembali menyeruak.
"Tutup gerbangnya!" Teriak Aria. Satpam langsung menekan tombol dan gerbang itu tertutup cepat, tak lebih dari dua detik.
"Pak, motor saya!" Protes Rossa. Meski cuma second, tapi Blacky banyak membantu. Dan hari ini, Adnan ada sesi terapi dengan seorang terapis independen di sebuah komunitas disabilitas, di desa sebelah.
"Nanti saya ganti kalau ilang. Masuk!" Perintah Aria.
"Tapi...."
Amato melotot saat Aria menarik tangan Rossa masuk ke ruang tamu. Pun denganRossa, bukannya kemarin Aria meneriakinya sebagai wanita pembawa sial. Kenapa sekarang Aria malah membawa Rossa ke rumahnya.
"Duduk!" Aria menghempaskan Rossa di sofa ruang tamu.
"Pak, bapak kemarin mengatai saya pembawa sial. Gak takut bapak ketiban nasib buruk karena saya."
__ADS_1
"Nanti saya ruqyah eh ruwat biar ilang." Rossa melongo mendengar jawaban Aria. Kini pria itu duduk di hadapan Rossa yang tengah menunduk. Keringat tampak mengalir di wajah Rossa. Bisa pastikan jika wanita itu tidak menggunakan make up. Bare face Rossa sangat mempesona.
"Saya gak mau terima uang ini." Aria melemparkan amplop itu di atas meja. Ya Allah, Rossa pontang panting membuat roti untuk melunasi biaya perbaikan mobil Aria. Tapi pria itu malah sama sekali tidak menganggapnya. Dasar orang kaya.
"Terus maunya bapak gimana? Saya buru-buru, ada janji." Aria memicingkan mata. Janji? Dengan Angga kah? Bukannya Angga sudah punya istri? Kalau iya, apa Angga sedang berselingkuh dari istrinya. Ini tidak bisa dibiarkan, bagaimanapun janjian dengan pria bersuami itu tidak baik.
Aria terdiam, pria itu berpikir bagaimana cara menahan Rossa agar tidak bertemu Angga. Padahal yang ada dipikiran Rossa adalah harus segera pulang untuk mengantarkan Adnan untuk terapi. Saat Rossa tengah bingung, satu pesan masuk ke ponselnya. Angga sudah mengantar Adnan ke tempat terapi. Kalimat syukur terucap dari bibir Rossa, hal yang membuat Aria heran.
Jika Adnan sudah diantar ke tempat terapi, itu berarti dia perlu menjemput anak itu dalam satu setengah jam mendatang. Satu tarikan nafas lega terdengar.
"Sekarang bapak maunya apa?" Rossa mulai menunjukkan taringnya. Sedikit tegas dan kesal.
"Tiap hari Minggu kamu masak di sini." Aria asal berucap. Dengan Rossa langsung melotot. Di dapur, Amato langsung tersedak kopinya. "Mas bos ini bagaimana sih. Katanya benci, kok sekarang suruh masak di sini. Modus ah, mas bos ini." Gumam Amato yang disambut senyum tipis bi Sumi si ART.
"Gak mau! Saya sudah membayar uang perbaikan mobil bapak. Anggap saja, kita sudah impas!" Rossa keluar dari rumah Aria, meninggalkan si pemilik rumah yang melongo. Kemarin Rossa terlihat begitu menurut, tapi sekarang dia berani melawan.
"Bodo!" Aria melotot mendengar balasan Rossa. Berani sekali dia. Aria berlari keluar rumah. Melihat Rossa tengah meminta si satpam membuka gerbang. Aria menggeleng dari kejauhan. Dan si satpam hanya bisa meminta maaf. Rossa seketika menoleh, melihat Aria yang tersenyum lebar sambil berkacak pinggang. Merasa menang. Di sampingnya ada Amato tengah memakan snack kentang. Seolah menonton sebuah pertunjukkan.
Tatapan dua orang itu saling menantang. "Kembali kau!" Batin Aria.
"Dasar tuan bos tukang paksa!" Batin Rossa. Detik berikutnya, semua orang berteriak keras, dengan Aria dan Amato berlari ke arah gerbang. Saat Rossa memanjat gerbang setinggi satu setengah meter itu dengan cepat.
"Gila! Tu cewek nekad amat!" Teriak Amato. Berlari sambil melahap keripik kentangnya.
"Turun!" Pekik Aria, melihat Rossa yang sudah separuh jalan memanjat pagar. "Ogah! Saya ada urusan!" Rossa melompat, dalam sekali hentak, wanita itu sudah berada di luar pagar.
__ADS_1
"Pecat saja. Saya tidak takut, karena saya benar."
"Nur...Nur....jangan kabur kamu!" Amato mendelik mendengar Aria memanggil Nur pada Rossa. Sedang Rossa sejenak menghentikan gerakannya memakai helm, mendengar Aria memanggilnya Nur. Sudah lima tahun tidak ada yang memanggilnya menggunakan nama itu. Mata Rossa berembun saat wanita itu melajukan motornya dari halaman rumah Aria. Mengabaikan teriakan Aria dan pujian yang keluar dari bibir Amato.
"Hebatnya!" Puji Amato dengan mata berbinar. Sementara Aria hanya bisa mendengus geram. Melihat si Blacky mulai menghilang dari pandangan. "Awas kau Nur!" Amato meledakkan tawanya.
"Benci apa cinta?" Ledek Amato. Tanpa menjawab, Aria berjalan masuk kembali ke rumah.
Sementara itu, Rossa memarkirkan motornya di depan rumah terapi, di mana Adnan tengah menjalani terapi. Saat masuk, wanita itu disambut pemandangan yang membuat matanya berkaca-kaca. Adnan berdiri dibantu sebuah alat, berupa sandaran dari papan triplek dan busa, hingga punggung bocah itu tidak terasa sakit. Beberapa helai kain diikatkan pada tubuh Adnan, mencegah tubuh bocah itu ambruk.
"Kekuatan kakinya meningkat banyak mbak." Bu Wid menyambut Rossa. "Benarkah?" tanya Rossa melihat ke arah Mala dan terapist yang menangani Adnan, Yocky.
"Iya, mbak. Sukses kamu nerapinya." Ujar pria tinggi besar itu. Sedang Mala hanya bisa menarik nafas dalam. "Itu juga karena ibu. Terima kasih Bu." Mala tersenyum mendengar ucapan Rossa.
Dua orang itu menatap Adnan. "Selanjutnya kita perlu memperbanyak oral terapinya, mbak. Agar Adnan bisa segera lepas dari NGT-nya." Saran Yocky sambil memberi contoh oral terapi. Satu pijatan untuk melemaskan otot-otot di sekitar mulut, dagu, leher, supaya Adnan bisa belajar menelan tanpa tersedak.
Rossa dan Mala memperhatikan Yocky, sesekali bertanya jika ada hal yang tidak mereka pahami. "Sabar mbak Rossa, semoga ada keajaiban untuk Adnan. Mbak sudah melakukan semua yang mbak bisa." Bu Wid mengusap pelan bahu Rossa. Wanita itu tahu bagaimana perjuangan Rossa dalam mencari kesembuhan untuk Adnan.
"Semoga saja Bu. Saya rindu mendengar dia memanggil saya ibu, saya ingin melihat senyumnya lagi." Kata Rossa sendu. Tangannya mengusap sayang kepala Adnan.
Keajaiban, itulah yang Rossa minta dalam tiap sujudnya. Terlebih sujud di sepertiga malamnya. Doa yang dia lambungkan ke langit, berharap kalau doa-doanya selama ini tidak kembali dengan tangan kosong.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***