
Aria menghembuskan nafasnya pelan. Dilihatnya sang mama sudah tidur. Besok Mala sudah bisa pulang. Satu hal yang membuat Aria merasa lega. Namun pikiran Aria justru mengarah pada Rossa. Perempuan itu tidur di kursi tunggu berdua dengan Shilda. Aria sudah menawarkan agar mereka tidur di kamar Mala yang VVIP, tapi keduanya menolak.
Sikap Rossa kini berubah keras pada Aria. Wanita itu menolak semua bantuan yang Aria tawarkan. Sementara Aria mati-matian ingin memperbaiki kesalahannya. Dalam sekejap mata, hati Aria berubah. Dari benci menjadi iba. Dia pikir terlalu kejam pada Rossa.
Sang mama sendiri sudah bercerita bagaimana kehidupan Rossa. Satu hal yang membuat Aria semakin merasa bersalah. Mala juga memberitahu kalau dirinya terluka kemarin sebab ingin menolong anak tetangga yang jatuh di tengah jalan.
Aria kembali turun untuk memastikan kalau Rossa nyaman dengan tempat dia tidur. Saat di ruang tunggu IGD, dilihatnya Rossa yang meringkuk adu kepala dengan Shilda. Tak bisa berbuat banyak, Aria pun melepaskan jasnya. Diletakkannya di tubuh Rossa. Cukup menghalau hawa dingin juga menutupi lekuk tubuh Rossa.
"Maaf," lirih Aria. Pria itu berjongkok di depan Rossa. Gurat lelah dan sedih terlihat jelas di wajah Rossa. Aria sejenak menatap Rossa. Setelahnya dia beralih melihat Adnan. Bocah itu masih berada di ruang perawatan intensif, ICU. Keadaannya mulai stabil dalam beberapa jam terakhir. Satu hal yang membuat Rossa bisa bernafas lega.
"Encephalopathy," gumam Aria pelan. Beberapa perawat tampak memeriksa keadaan Adnan. Rutinitas wajib yang diperintahkan oleh dokter Tio. Aria menoleh saat mendengar pergerakan dari belakangnya.
"Kamu bangun?" Aria bertanya saat Rossa sudah duduk. Wanita itu tampak masih mengantuk. Pukul 2 dini hari, Rossa beranjak gontai dari tempatnya. "Tunggu, aku panggilkan Amato untuk nungguin Shilda."
Tak menjawab, Rossa hanya diam. Namun wanita itu menuruti saran Aria. Tak berapa lama, Amato turun dengan wajah bantal dan mata setengah terpejam. Pria itu langsung melanjutkan tidurnya di sebelah Shilda setelah menyuruh Rossa bergeser.
Setengah jam kemudian, Rossa terlihat memicingkan mata, melirik Aria yang duduk di sampingnya. Keduanya berada di warung kopi. Setelah Rossa selesai dengan ibadah malamnya bersama Aria. Pria itu memaksa Rossa untuk mengganjal perut. Untunĝnya ada kedai kopi yang buka 24 jam, meski harus berjalan lumayan jauh.
"Makanlah, untuk ganjel perut."
"Kenapa tiba-tiba baik? Bukannya kemarin bapak bilang benci sama saya?" Sindir Rossa. Aria menghela nafas, mengaku kalau semua itu benar.
"Saya gak suka dikasihani. Asal bapak tahu." Tegas Rossa.
__ADS_1
"Tidak Nur. Bukan begitu. Ini karena aku sudah bersalah padamu. Aku ingin menebus kesalahanku."
"Tidak perlu." Rossa berjalan menjauhi Aria. Kembali ke rumah sakit, menenteng air mineral juga roti. Lagi-lagi, Aria hanya bisa menarik nafasnya dalam.
Dua hari berlalu, Mala sudah sepenuhnya sembuh. Luka di kepala dan bahunya telah pulih. Perempuan itu bahkan sudah menjenguk Adnan beberapa kali, mengajak bicara bocah yang sudah dianggapnya cucu.
Dalam kesempatan itu, Mala selalu datang sendiri. Hanya diantar supir. Aria, Amato dan Santo, mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Keadaan Adnan membaik seiring berjalannya waktu. Sungguh satu kejadian yang membuat dokter Tio tercengang. Sempat mengalami henti jantung, Adnan mampu bertahan. Dan kini bocah itu malah menunjukkan perubahan yang kentara. Hasil pemindaian MRT dan CT Scan menunjukkan keadaan Adnan baik-baik saja. Bahkan rekam otak menunjukkan adanya peningkatan gelombang otak yang mengarah pada perbaikan saraf yang mengalami banyak perubahan.
"Kita tinggal menunggu dia bangun. Semua akan terjawab saat itu." Dokter Tio berucap setelah visit pagi itu. Rossa dan Shilda mengangguk paham. Ketiganya berjalan keluar dari ruangan itu. Dokter Tio mengajak Rossa untuk bicara di ruangannya. Sementara Shilda pamit untuk pulang sebentar.
Pintu ruangan Adnan terbuka, setelah semua orang keluar. Seuntai salam terucap, dengan kelopak mata Adnan bergerak pelan sebagai respon. "Masih belum mau bangun. Ibu sudah nunggu lama lo. Om juga nunggu tapi gak selama ibu. Kan Om baru tahu Adnan seminggu ini. Jadi maaf." Tangan pria itu perlahan mengusap tangan Adnan. Jari bocah itu merespon.
"Om tungguin buat main bola lo." Satu kecupan melandas di kening Adnan, disertai doa kesembuhan untuk anak itu. Pria itu pamit pada Adnan. Dia sering menemui Adnan, meski tidak lama. Sering mengajak bicara, meski tak ada jawaban, datang memperkenalkan diri sebagai Om.
Pria itu berbalik, langkahnya terhenti saat Angga berada di depannya. Wajah Angga berubah kelam, ingin rasanya menghantam wajah Aria, yang seketika menarik Angga keluar dari ruangan Adnan.
"Apa yang kau lakukan?" Angga bertanya judes. Pria itu menatap tajam pada Aria. Keduanya duduk di sebuah coffe shop yang ada di sekitar rumah sakit.
"Hanya menemui Adnan, bicara padanya sebentar." Balas Aria santai. Sama seperti Angga, Aria pun menatap judes pada Angga, pria yang kini Aria ketahui adalah suami siri Rossa.
"Suami siri? Bisa-bisanya dia menjadikan Rossa istri kedua." Batin Aria. Menurut pria itu Rossa harusnya jadi satu-satunya istri bagi sang suami.
"Kau tidak boleh menemuinya!" Desis Angga.
__ADS_1
"Kenapa? Karena kau suaminya? Aku menemui anaknya, bukan ibunya. Salahku di mana?" Tantang Aria. Toh selama Aria diam-diam menemui Adnan, Rossa dan yang lainnya tidak pernah tahu. Aria datang saat semua orang pergi makan atau beribadah. Yang jelas, Aria selalu memastikan tidak ada yang tahu kedatangannya.
"Kau jangan memaksaku berbuat nekad lagi..."
"Ingin memukulku lagi? Tidak masalah, kau bisa lakukan itu. Asal kau lepaskan dia!" Mata Angga melotot mendengar permintaan Aria.
"Jangan gila kau!"
"Kau yang gila! Kalau kau tidak bisa berbuat adil, pilih salah satu. Jika begini, kau membuat mereka menderita. Istrimu melabrak Rossa, itu satu bukti kalau dia tidak puas dengan perlakuanmu."
Angga terdiam, ucapan Aria benar-benar tepat sasaran. "Kau diam. Berarti ucapanku benar. Melabrak mungkin masih lumrah, tapi istrimu menyerang Rossa. Hampir melukainya. Aku tidak membela siapapun di sini. Hanya saja pikirkan lagi. Tidakkah tujuan kita hidup untuk mencari ridho-Nya dan juga bahagia tentunya."
Aria meninggalkan Angga yang termenung di tempat duduknya. Pikiran pria itu bercabang. Dia ingin bahagia, hidup tenang. Haruskah dia melepas Rossa, membiarkan wanita itu mencari kebahagiaannya sendiri.
"Kau ingin membantunya? Masih banyak cara untuk membantunya tanpa membuatnya tersiksa." Satu lagi kalimat Aria yang menyentil hati Angga.
Hari berganti, Aria lagi-lagi datang menemui Adnan. Hari ini tepat sepuluh hari Adnan dirawat. Keadaan anak itu stabil, organ vitalnya juga bekerja dengan baik. "Hai, boy. Yah... masih belum bangun juga." Celoteh Aria. Pria itu sudah seperti ayah yang bicara pada putranya sendiri.
Aria duduk di samping Adnan, membacakan satu surat dari kitabnya. Suara Aria terdengar merdu mengalun di ruangan itu. Keindahan suara Aria mampu menggetarkan hati orang yang mendengarnya. Termasuk satu orang yang kini terpaku di tempatnya berdiri. Rossa ingin marah, saat melihat Aria berada di ruangan Adnan. Namun rasa marah itu menghilang saat tahu apa yang Aria lakukan.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Aria menghentikan aksinya. Suara itu terdengar penuh amarah. "Mati aku, terciduk ibu ratu, uuppssss."
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***