
Pesta berlangsung meriah dan sukses. Semua berjalan lancar di bawah komando Arch dan Alicia. Raut bahagia jelas terpancar di wajah semua orang. Terlebih untuk Adnan, setelah lima tahun, dia kembali dipertemukan dengan Zai dan Adinda. Adinda tersenyum lebar melihat Adnan yang bisa sembuh total. Pun dengan Zai, pria paruh baya itu akhirnya minta maaf atas kelakuannya dulu. Bisa dibayangkan bagaimana tangis Rossa waktu melihat Adnan bisa akrab kembali dengan sang papa.
Sedang disatu sisi, Santo dan Nurul saling lirik tajam. Pasangan yang sering bertemu dan bersama tanpa status yang jelas. Santo masih terngiang soal siapa Adnan. "Ingin rasanya aku memberitahu Aria tapi sekarang tidak mungkin." Santo beberapa kali meraup wajahnya gusar. Ingin melakukan apa yang otaknya perintahkan tapi situasi tidak mengizinkan.
"Jangan khawatir, aku yakin Rossa sendiri yang akan memberitahu siapa Adnan." Nurul berlalu dari hadapan Santo dengan binar senang di wajahnya. Sedang Santo hanya bisa menggeram marah beberapa kali.
Namun dari semua wajah senang dan bahagia, ada satu orang yang wajahnya selalu tertekuk sepuluh sepanjang pesta berlangsung. Siapa lagi jika bukan Yuna. Wanita itu jelas kesal sampai ke ubun-ubun. Rencananya untuk menggagalkan pernikahan Rossa kacau balau. Semua tidak berjalan sesuai keinginannya.
Kekesalan Yuna bertambah besar, saat dia melihat Rossa tidak terganggu dengan kemesraan yang dia pamerkan bersama Angga, saat memberikan selamat untuk dua pasang pengantin baru tersebut. Kehadiran Yuna cukup membuat Rossa dan Aria terkejut. Terlebih setelah Adinda memberitahu siapa Yuna.
"Aku tidak percaya kalau nenek lampir itu adalah sepupu jauhmu. Apa modusnya dia melakukan semua hal buruk padamu kemarin?" tanya Aria sembari menggelengkan kepala, mengingat kelakuan Yuna.
"Jawabannya cuma satu dia cemburu padaku. Dia takut kalau aku merebut suaminya." Balas Rossa lirih. Aria menghela nafas, ya cemburu memungkinkan orang bisa melakukan hal di luar nalar.
Pesta usai, keduanya kini berada dalam perjalanan pulang, dengan Adnan tidur di pangkuan Aria. Tiga mobil masuk ke rumah besar Aria Loka. Mobil Santo masuk paling belakang setelah mengantar Nurul lebih dulu. Meski jengkel pada Nurul tapi Santo tetap gentle, mengantar pulang gadis itu sampai depan rumahnya.
"San, bawa Adnan ke kamar saya." Pinta Santo yang duduk bersebelahan dengan bi Sumi. Santo mengangguk paham. Namun yang terjadi justru Aria sendiri menggendong Adnan sendiri ke kamar sang mama. "Nitip ya Ma." Cengir Aria penuh kode.
"Dasar pengantin baru. Tapi mama pesen pelan-pelan saja ya, maklum masih segelan."
Aria mengerutkan dahi mendengar ucapan si mama. Segelan? Bukannya Rossa sudah pernah melahirkan Adnan. Lagipula Rossa adalah janda Angga, masak masih perawan. Tidak mungkin.
Mala memang tidak tahu pasti soal siapa Adnan, siapa orang tua dari bocah yang kini sedang diganti pakaiannya oleh bi Sumi. Anak yang sebentar lagi akan masuk usia remaja, bocah yang saat ini sudah meringkuk di ranjang besarnya. Satu hal yang Mala tahu, Angga tidak pernah menyentuh Rossa. Semua akan terbukti kalau Aria sudah melakukan malam pertamanya bersama sang istri.
__ADS_1
Dan kata-kata Mala sukses memenuhi otak Aria. Pria itu berjalan masuk ke kamarnya, sejenak berhenti di ujung tangga, melihat Amato dan Shilda saling keplak sebelum masuk ke kamar sang asisten di lantai satu. "Manten aneh, gak ada mesra-mesranya." Gumam pria itu sebelum membuka pintu kamarnya.
Saat masuk, dilihatnya Rossa tampak kebingungan membuka resleting gaunnya. Hal klasik yang dialami banyak wanita. "Perlu bantuan Nur?" Tubuh Rossa mematung, saat tangan Aria menyentuh punggungnya. Kenapa rasanya jadi lain ya saat berduaan, tadi waktu di pesta masih biasa saja rasanya.
Aria sendiri langsung deg-degan saat melihat sekilas punggung Rossa dari balik gaun mewah tersebut. Mulus, jangan ditanya godaannya seperti apa. Yah tidak apa-apa sih, godaannya sudah halal untuk dijabanin, ditindaklanjuti lantas dieksekusi.
Namun semua buyar saat Rossa menarik diri, masuk ke kamar mandi. Huft, Aria menghembuskan nafas pelan. Pria itu mulai melerai kancing bajunya. Melepas pakaian yang sejak tadi membuatnya susah bernafas. Ketat, tidak juga hanya berlapis-lapis pakaian yang harus dia pakai membuatnya gerah.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Aria menoleh. Tampak Rossa keluar memakai piyama dengan rambut basah, seksii weeii.
"Pak bos, buruan mandi. Belum Isya."
"Yaelah masak manggilnya pak bos. Gak romantis amat sih." Balas Aria sembari melenggang masuk ke kamar mandi. "Jangan kaget ya?" Ujar Aria sebelum masuk ke kamar mandi. Rossa menghela nafas. Berjalan masuk ke walk in closet Aria, menyiapkan pakaian untuk sang suami. Sedikit menghela nafas saat harus berurusan dengan pakaian dalam Aria.
Aria kembali heran, sikap Rossa sungguh seperti seorang gadis yang baru pertama kali berduaan dengan laki-laki. Harusnya Rossa lebih pro ketimbang dirinya. Tapi sikap malu-malu Rossa membuat Aria terngiang ucapan kanjeng mami. "Apa benar Rossa masih segelan. Tapi itu tidak mungkin." Batin Aria perang sendiri.
Pria itu mulai mengajak Rossa bicara, dia ingin sang istri terbiasa dengan kehadirannya. Sebab seterusnya mereka akan selalu bersama. Malam beranjak larut, saat tanpa sadar keduanya tertidur. Awalnya tidur saling berjauhan, tapi lama-lama kian berdekatan, hingga berakhir pelukan. Merasa nyaman satu sama lain.
"Jangan mancing-mancing," gumam Aria yang merasa Rossa semakin erat memeluknya. Tidak ada sahutan, Aria lalu membuka mata. Dilihatnya wajah Rossa yang berada di depannya. Kepala gadis itu berada di atas dada Aria. "Alah bodolah, halal ini." Aria mencium pelan kening Rossa, turun ke hidung dan berlabuh di bibir sang istri. Manis seperti madu, itu kata Aria lo ya. Makin lama gerakan bibir Aria membuat Rossa terganggu.
"Pak bos...."
"Pengen e Nur, boleh gak?" Lah penganten baru tidak pakai basa basi ini, to the poin sekali. Rossa mengangguk malu, mau bagaimana lagi, jika suami sudah meminta, istri wajib melayani.
__ADS_1
Yesss!! Aria bersorak senang, lampu hijau sudah dia dapat. Pria itu melantunkan doa guna menggauli sang istri untuk pertama kali. Rossa hanya bisa diam, menerima semua perlakuan Aria. Kembali Aria dibuat heran, sikap Rossa yang kaku saat berinteraksi intim dengannya, semakin menguatkan dugaan, kalau yang dikatakan sang mami adalah benar.
Aria semakin penasaran, hingga tak sabar ingin mencicipi menu utama. Namun pria itu tidak boleh gegabah. Jika Rossa masih segelan, dia harus ektra hati-hati. Aria harus melakukan foreplay lumayan lama untuk membuat tubuh Rossa siap menerima dirinya.
Menu utama sudah di depan mata. Sedikit terburu-buru karena hasrat sudah diubun-ubun, membuat Aria tidak mampu mengendalikan diri. Alhasil dia menerobos masuk terlalu kuat, hingga Rossa seketika berteriak kesakitan, dengan air mata mengalir dari sudut matanya.
Aria tergugu di tempatnya, gerakannya terhenti. Pria itu bisa merasakan satu cairan hangat mengaliri miliknya. "Rossa masih gadis! Aku tidak dapat second-an." Teriak Aria dalan hati.
"Kamu berhutang penjelasan, Nur." Aria berucap sembari menciumi wajah sang istri.
"Tapi...."
"Tidak sekarang! Aku harus menyelesaikannya dulu. Nanggung, sudah diujung." Mata Rossa membulat mendengar ucapan frontal, tanpa basa basi dari Aria. Pria itu lantas meneruskan aksinya, meraih surga dunia yang kini siap untuk mereka reguk.
"Inikah yang dimaksud kejutan oleh mama?" Batin Aria. Penjelasan dari Rossa akan mengungkap semua.
***
Up lagi readers, jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1