My Sweet Journey

My Sweet Journey
Adnan Dan Sobri


__ADS_3

Sejak kejadian Katy di tangkap dan dibuang ke Macau, suasana keluarga Aria jadi kembali tenang. Dan berita gembira kembali hadir di tengah keluarga tersebut. Rossa di nyatakan hamil. Satu kabar yang membuat semua orang mengucap syukur bersamaan, dengan wajah Adnan yang seketika berbinar cerah.


"Yesss, adik cantikku akan segera datang." Perkataan Adnan sontak menarik perhatian banyak orang.


"Belum juga lahir, sudah klaim cantik aja." Santo yang berkomentar.


"Lihat aja Om kalau gak percaya nanti. Dia cowok, dan adikku cewek." Balas Adnan enteng. Bocah sepuluh tahun itu menunjuk ke arah perut Shilda yang sudah besar, delapan bulan. Wanita itu tinggal menunggu waktu si anak lahir.


"Oke, kita buktikan saja itu nanti." Aria menyudahi percakapan itu. Sebab sang putra punya bibit debat yang cukup mumpuni. Jika Adnan sudah mulai bicara, yang lain akan dibuat kicep. Aura bocah itu hampir seperti Aria saat di kantor, tak terbantahkan.


"Boy, mau sekolah di mana?" tanya Santo. Adnan sendiri masih sibuk dengan buku-bukunya. Menunggu Umi-nya datang. Bahu Adnan berkedik tidak tahu, " Manut Ibu." Balas Adnan.


"Lo kalau manut mamamu ya dipondokkan kamu." Santo ikut mengompori.


"Gak mau! Nanti gak bisa main sama adik." Tolak Adnan tegas. Sorot mata Adnan menajam, dengan raut wajah mengeras, Adnan marah.


Dua pria itu mengulum senyum, Adnan dari dulu memang tidak mau masuk asrama, atau sekolah pondok. Bagi Adnan, rumah itu tempat ternyaman untuknya. Padahal undangan mondok dari berbagai pesantren sudah berdatangan, mengingat keluarga Aria dan Hutomo menjadi donatur tetap di beberapa pesantren di kota itu.


Aria dan Rossa sepertinya cukup independen dalam mendidik Adnan. Tidak memaksakan kehendak, selalu melibatkan sang putra saat mengambil keputusan yang berkaitan dengan Adnan, serta pendapat Adnan akan jadi pertimbangan dua orang itu.


"Aihhh, datang lagi." Gumam Adnan. Bocah itu menatap bosan ke sudut ruangan.


"Opo Le?" tanya Mala yang mendengar gumaman sang cucu.


"Kata Umi setann takut sama kita yang doyan ngaji. Tapi itu ada satu yang nongol. Sering lagi." Mala seketika mengerutkan dahi. Apa maksud sang cucu?

__ADS_1


"Maksudnya apa Le?" Mala bertanya sebab dia tidak menemukan apapun saat mengikuti arah pandang Adnan.


"Adnan kayaknya bisa lihat setan deh mbah." Mala sontak menatap horor pada Adnan. Lah kenapa si cucu jadi makin aneh begini setelah disunat. Iya, tingkah Adnan sedikit berubah setelah bocah itu disunat beberapa waktu lalu. Adnan kerap mengatakan melihat setan, yang dia diskripsikan sebagai anak kecil seumuran dirinya dengan pakaian dan penutup kepala berwarna putih.


"Adnan keknya indigo sekarang." Info Mala pada Amato yang saat itu ada di dapur.


"Masak sih Kanjeng Mami." Amato bertanya heran. Amato mengikuti arah pandang Mala, di mana Adnan tampak menatap tidak suka pada apa yang ada di hadapannya. Padahal tidak ada apa-apa di depan anak itu.


"Lah kok aku merinding disko begini ya." Amato merasa bulu kudunya meremang. Mala sesaat terdiam, hingga kemudian teringat ucapan seorang ustadz yang pernah mampir untuk mendoakan Adnan, "Anak ini akan punya keistimewaan jika dia sembuh nanti." Begitu perkataan ustadz tersebut waktu itu. Apa ini yang dimaksud oleh si ustadz. Adnan bisa melihat makhluk tak kasat mata di sekelilingnya.


"Kamu ini siapa sih? Ngikutin aku terus." Gerutu Adnan, setelah menyelesaikan sholat Ashar berjamaah bersama Santo dan Aria hari berikutnya. Sepertinya Adnan tidak merasa takut sedikitpun dengan sosok tersebut. Adnan cukup kesal sebab bocah itu mengikuti ke manapun dia pergi. Ikut shalat, ikut mengaji kecuali ke kamar mandi.


Saat ini keduanya ada di kamar Adnan. Putra Aria itu menelisik penampilan bocah yang ada di hadapannya. Pakaian putih, dengan penutup kepala seperti sorban juga berwarna putih. Wajah anak itu terlihat bercahaya dengan raut wajah yang selalu terlihat tersenyum.


"Namaku Sobri, aku temanmu." Balas sosok itu santun.


"Aku bukan setan, tapi jin. Jin Islam. Jadi aku melakukan semua ibadah yang manusia lakukan untuk memuji penciptaku." Adnan mengerutkan dahi. Jin Islam? Sepertinya Adnan pernah membacanya di sebuah buku yang Dewi pinjamkan.


"Jin Islam?" Ulang Adnan. Si Sobri mengangguk senang. Pantas saja Sobri baik-baik saja saat dirinya mengaji, bahkan Sobri juga ikut melaksanakan shalat sejak Adnan bisa melihatnya.


"Terus kamu mau ngapain ngikutin aku?" Adnan mengutarakan keingintahuannya.


"Mau belajar tentang Islam sama kamu. Belajar ngaji juga. Intinya aku mau temenan sama kamu." Sobri berujar dengan wajah antusias. Adnan mengerutkan dahi mendengar jawaban Sobri.


"Mau belajar bagaimana? La wong aku saja masih thimik-thimik le sinau (belajar perlahan)." Sobri terlihat tersenyum, sepertinya Adnan mulai menerima dirinya.

__ADS_1


"Kita belajar sama-sama kalau begitu. Jangan kamu usir aku." Pinta Sobri memelas. Berapa lama Sobri mencari satu tempat yang dipenuhi cahaya karomah, sebab seluruh penghuninya melaksanakan syariat Islam dengan baik dan benar. Satu rumah yang diberkati dengan rahmat-Nya karena pemiliknya berusaha taat pada perintah-Nya. Dan Sobri menemukannya di rumah keluarga Adnan.


Adnan sesaat terdiam, berpikir dan mempertimbangkan. "Tapi gak boleh ganggu ya. Nanti mereka ketakutan." Adnan mulai berkompromi. Sepertinya tidak buruk juga punya teman, mengingat dia sendiri memang tidak punya teman hampir enam tahun ini.


Sobri tentu saja senang. Anak itu eh apa ya nyebutnya, Sobri aja deh, mengulurkan tangannya pada Adnan seolah mengajaknya berkenalan. Adnan langsung menyambut tangan Sobri yang anehnya bisa bersentuhan. "Dia bahkan bisa menyentuhku." Batin Sobri bertambah senang.


"Tapi kalau bayi-bayi kecil itu lahir, kemungkinan mereka bisa lihat aku." Sobri memberi pertimbangan.


"Asal kamu jangan nakutin sama gangguin sudah. Kalau kamu ketahuan godain adikku, awas ya!" Ancam Adnan. Sobri memberi hormat sebagai tanda setuju dan paham.


Di tempat lain, kehebohan terjadi di ruang rawat Yuna. Perempuan itu mengamuk saat Angga berkunjung. Bermaksud meminta izin untuk menikahi Meri, Angga malah diserang oleh Yuna. Bukan tidak menyetujui pernikahan Angga dan Meri, Yuna justru histeris berteriak kalau Anggalah penyebab dia menggugurkan kandungan.


"Pergi kau! Kau sudah membunuh anakku!" teriak Yuna berulang kali. Angga ditarik paksa keluar dari ruang rawat Yuna dengan lengan berdarah. Yuna berhasil melukai Angga dengan gunting yang entah perempuan itu dapat dari mana.


Para perawat membiarkan Yuna mengamuk di dalam kamarnya, sebab jika didekati sekarang Yuna akan bertambah beringas. Biasanya mereka akan menunggu hingga Yuna lemas, dengan terus mengawasi pergerakan perempuan itu. Setelah lemas dan tenang, baru mereka masuk memberi obat penenang agar Yuna benar-benar istirahat.


Di ruang perawatan, Angga meringis setelah lukanya di bersihkan, cukup dalam, meski tidak sampai mengenai nadi. "Pak sepertinya keadaan ibu Yuna semakin parah saja." Lapor dokter Kanti.


Angga terdiam, membiarkan seorang perawat menjahit lukanya. "Lakukan apa yang sekiranya perlu dilakukan. Saya akan mengikuti apapun prosedur rumah sakit untuk merawat dia." Tatapan mata Angga tampak kosong. Sungguh dia tidak menyangka kalau seorang Yuna akan berakhir di tempat ini dengan keadaan yang begitu memprihatinkan.


"Apa ini karma untuk semua perbuatannya? Ya Allah tidakkah ini terlalu berat untuknya? Apa dosa Yuna sebelumnya juga teramat berat, hingga begini cara yang Kau berikan untuk menghapusnya." Berbagai pertanyaan muncul di benak Angga.


****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2