
Kredit Pinterest.com
Rossa berkali-kali menarik nafasnya. Dia dan Aria kini berada di depan sebuah rumah besar, boleh dikatakan mewah. Rumah dengan halaman luas itu, tampak sepi. Lampu-lampu yang dinyalakan menambah kesan megah pada bangunan dua lantai itu.
Terlihat sekali jika rasa gugup tengah memenuhi hati Rossa. Lima tahun dia pergi dari rumah itu. Dan sekarang dia kembali meminta restu sebagai syarat mutlak untuk menikah. Kali ini pernikahan resmi yang Aria inginkan. Bukan siri atau diam-diam dan sejenisnya.
Aria kembali memantapkan hatinya setelah dia mendengar semua cerita Rossa soal siapa dirinya, kenapa dia bisa meninggalkan rumahnya sendiri. Toh di mata Aria, tidak ada yang salah dengan tindakan Rossa dan papanya. Mereka berdua tengah dilanda emosi. Salah paham ditambah sifat keras kepala dari masing-masing pihak. Aria tidak akan menyalahkan siapapun dalam hal ini.
"Ayo," Aria memberanikan diri menggenggam tangan Rossa. Mengajaknya masuk ke rumah Rossa. Kediaman Hutomo. Satu hal yang membuat Aria tidak terkejut, mendapati Rossa berasal dari keluarga berada. Zaiharudin Hutomo, salah satu saudagar dengan usaha di bidang jual beli emas, pencetakan perhiasan dan sejenisnya. Toko ayah Rossa memiliki puluhan cabang di kota ini juga kota besar lain seantero negeri.
Bel ditekan disertai lantunan salam terdengar. Rossa sudah berkeringat dingin di belakang Aria. Sementara pria itu tampak tenang. Hal paling buruk adalah ditolak. Dan Aria siap dengan hal itu. Menyerahkan anak gadisnya untuk dipinang pria lain, ohoooo tidak semudah itu kawan. Aria yakin akan ada drama ala ikan terbang yang sebentar lagi akan dia hadapi.
Wajah terkejut terlihat dari seorang wanita yang membukakan pintu untuk Aria dan Rossa. Meski tak lama senyum mengembang di bibir wanita itu. "Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, selamat malam Nyonya Adinda Hutomo." Sapa Aria.
Wanita yang tengah berdiri di depan Aria adalah Adinda Yanti Hutomo, mama Rossa. Balasan salam, diiringi tetesan air mata haru terdengar.
"Kamu pulang, Nak." Adinda memeluk tubuh Rossa yang tampak terkejut. Rossa pikir sang ibu masih marah padanya.
"Ma...."
"Kenapa baru pulang sekarang? Mama rindu padamu." Kali ini tangis Rossa ikut pecah. Ibu dan anak ini saling berpelukan untuk beberapa waktu.
Sampai Rossa melerai dekapan sang mama, lantas memperkenalkan Aria. Pria yang sejak tadi hanya diam, tak ingin mengganggu momen dua orang itu. Aria menangkupkan tangan di depan dada, tapi detik berikutnya pria itu mengulurkan tangan. Menjabat tangan Adinda lantas mencium punggung tangan wanita tesebut.
"Mari masuk kalau begitu." Adinda sungguh terkesan dengan perilaku Aria. Ketiganya baru melangkah masuk ke ruang tamu saat sebuah suara yang begitu dingin terdengar dari arah tangga.
__ADS_1
"Masih berani pulang kamu?"
Semua mata tertuju pada pria paruh baya, tinggi, berkacamata dengan kulit bersih, hidung mancung serta jenggot dan kumis tipis tumbuh di wajah lelaki itu.
"Ayah," gumam Rossa pelan. Aria perlahan maju, menyapa pria yang dia tahu sebagai papa Rossa, Zaiharudin Hutomo. Pria itu tampak acuh meski membalas salam Aria.
"Siapa kau?" Tanya Zai ketus.
Aria menarik sudut bibirnya, dia tidak terkejut dengan sikap Zai. Kenapa? Sebab dia juga akan bersikap sama pada pria yang datang bersama putrinya kelak. Susah weeii mau menyerahkan anak gadis untuk dinikahi pria lain.
Tidak rela, mungkin itulah rasa yang tiap ayah rasakan. Namun Zai sepertinya tidak demikian. Pria itu menatap tajam ke arah sang putri, kenangan pertengkaran lima tahun lalu terlintas di benaknya. Karena seorang Adnan, Rossa berani melawannya.
Aria maju memperkenalkan diri, tanpa basa basi dia menyebut dirinya calon suami Rossa, datang ke sini untuk meminta restu pada Zai. Ayah Rossa tertawa kecil, dia teringat Angga yang datang padanya empat tahun yang lampau dengan niat yang sama. Hanya saja waktu itu Angga mengungkapkan niatnya untuk menikahi Rossa secara siri bukan resmi.
"Jadi kau sudah sudah bercerai dengannya?" tanya Zai pada sang putri.
Ada cibiran yang terasa dari ucapan Zai. Saat itu Zai tidak datang menikahkan Rossa, kemarahannya yang meledak-ledak, membuat pria itu enggan melihat sang putri.
"Lalu kau ingin menikah dengannya?" Zai mengangkat dagunya tinggi, meremehkan seorang Aria Loka. Rossa ingin menjawab tapi sentuhan tangan Aria membuat gadis itu urung bicara. Keempatnya sudah duduk di ruang tamu luas rumah tersebut. Meski terkesan tidak menyukai kepulangan sang putri, terlebih membawa Aria, Zai masih bisa menahan diri untuk tidak memaki sang putri atau memarahinya.
"Saya harap anda mengabulkan permintaan saya. Menjadi wali nikah Rossa untuk saya nikahi." Senyum mengejek menyambut ucapan Aria. Lagi-lagi tidak ada rasa kaget dalam diri Aria mendapati penolakan halus dari Zai.
"Sebuah berlian tidak akan mudah didapatkan. Ada perjuangan ekstra keras bagi mereka yang ingin mendapatkan batu permata dengan kualitas terbaik."
"Kalau aku tidak merestui kalian?" to the poin sekali Zaiharudin ini.
"Maka saya tidak akan menyerah begitu saja. Saya yakin niat baik saya akan punya jalan keluarnya, In Sya Allah."
__ADS_1
"Boleh juga pria ini. Tapi siapa yang tidak kenal putra Magenta Aria Loka. Mas, analisamu tidak meleset." Batin Zai, pria itu diam-diam menarik dua sudut bibirnya.
Adinda tampak menyentuh lengan sang suami. Dia tahu kemarahan Zai telah lama sirna, hanya saja hasutan dari satu keponakannya membuat Zai tidak mampu berpikir jernih. Adinda selama ini hanya diam, menyaksikan kejadian itu. Perhatian lebih yang mereka berikan ternyata membuat anak itu ngelunjak. Hingga sikapnya kadang tidak terpuji.
Adinda sudah lama paham dengan kedengkian dan iri hati yang tumbuh di hati sepupu Rossa. Saudara jauh yang bahkan Rossa sendiri tidak mengenalnya. Meski perempuan itu sering datang ke rumah. Heran tapi itulah yang terjadi. Siapa sangka jika Ayuna Pratiwi adalah sepupu Rossa, keponakan Adinda dan Zai. Putri dari kakak Zaiharudin yang sudah lama meninggal. Wasiat terakhir mengatakan kalau kakak Zai menitipkan Yuna pada lelaki itu.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan Yuna merusak kebahagiaan Nur. Sudah cukup dia mengadu domba Nur dan ayahnya lima tahun lalu." Batin Adinda.
Zai menatap tajam pada Rossa, tidak ada yang berubah dari sosok putri bungsunya. Cantik, tegas, dewasa sejak awal lagi. "Kau tahu sejak lama, kalau ayah sudah menjodohkanmu dengan putra dari Kenzo Liu."
"Dan ayah telah tahu kalau sejak dulu, saya menolak perjodohan itu. Nur dan Kak Amar sudah seperti kakak adik."
"Waahh, ternyata mereka juga memanggilmu Nur cucok ya." Batin Aria tersenyum geli pada Rossa. Pria itu tidak terganggu dengan perjodohan Rossa dan entah siapa itu. Tidak tahu kenapa Aria begitu santai.
"Dari mana kau tahu? Perasaan seseorang mana ada yang tahu." Zai berusaha menekan Rossa. Dia sepertinya masih belum puas dengan pertengkaran mereka lima tahun lalu.
"Kak Hamzah yang memberitahu Nur. Kak Amar sudah punya pilihannya sendiri."
Zai tertawa keras. "Jangan bohong pada Ayah. Kau pikir aku tidak tahu, ini hanya akal-akalan kalian saja."
Suasana mulai menegang. Zai sepertinya tidak ingin mempermudah jalan Rossa untuk menikah kali ini. Entah apa yang dipikirkan oleh orang tua itu.
"Bagaimana jika saya bisa membawa bukti kalau Amar Ahmad Liu benar-benar menolak perjodohan ini." Sambar Aria tiba-tiba.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***