My Sweet Journey

My Sweet Journey
Solusi


__ADS_3

Sementara itu di kamar Yuna, wanita itu tengah mengamuk. Dia tahu Rossa tengah dekat dengan pria bernama Aria, tapi yang dia tidak tahu adalah siapa Aria yang ini. Hingga ketika informasi soal Aria datang, Yuna langsung menggeram marah.


"Kenapa?! Kenapa dia selalu mendapat pria tajir. Riffaldo Aria Loka, di bahkan lebih kaya dari Angga. Sialann!!" Maki Yuna.


Iri dan dengki itu sudah mendarah daging sejak dulu. Yuna anak paman Rossa, selalu menginginkan apa yang Rossa miliki sejak dia dititipkan pada Zai.


Yuna dulu sangat iri saat Angga sering menemui Rossa waktu masih kuliah. Terlebih, Yuna menyukai Angga, tapi pria itu tidak pernah tahu. Yuna juga tak pernah bertemu Angga. Yuna selalu memperhatikan Angga dari jauh. Selalu mengikuti pria itu kemanapun lelaki itu pergi. Lama-lama Yuna terobsesi pada Angga. Wanita itu ingin merebut Angga dari Rossa, padahal tidak ada hubungan apa-apa antara Rossa dan Angga kala itu. Walau Angga menyukai Rossa, tapi pria itu hanya memendamnya dalam hati.


"Sekarang aku harus memikirkan cara untuk menggagalkan pernikahan mereka. Rossa tidak boleh bahagia. Hanya aku! Aku yang berhak mendapatkan semua!"


Tawa Yuna bergema di kamar wanita itu. Kamar yang hampir tiap malam menjadi saksi pergumulan panas antara Angga dan Yuna. Wajah Yuna berubah cepat, tadi wanita itu tertawa tapi kini raut kecemasan terlihat jelas di wajah Yuna. Wanita itu langsung menuju meja riasnya. Membuka laci lantas meminum satu butir pil penenang.


Gangguan panik Yuna semakin parah. Pikiran parnonya juga semakin gak ngotak, tidak masuk akal. Selalu dilanda kecemasan kalau Rossa akan merebut Angga darinya, atau Rossa akan merebut kembali perhatian semua orang. Karena itulah Yuna menghasut Zai, ayah Rossa lima tahun. Memperuncing perbedaan pendapat ayah dan anak itu sejak kehadiran Adnan.


Yuna berjalan mondar mandir dalam kamarnya. Beberapa waktu berpikir, hingga satu ingatan masuk ke kepalanya. Satu nama terlintas di benaknya. Senyum Yuna kembali mengembang. Wanita itu menyambar tas dan kunci mobilnya, keluar dari rumahnya untuk menemui seseorang.


"Kali ini aku tidak akan gagal." Mobil Yuna menghala ke sebuah sekolah berbasis agama. Di mana orang yang akan dia temui mengajar di sana. Seorang lulusan dari Al Azhar, Mesir.


♧♧♧♧


Aria masih bekerja di kantor, saat kanjeng mami tak sayang Aria menerobos masuk ke ruangannya. Tumben bosnya bos besar datang. Ada urusan apa? Gak mungkin dong mau order dalaman sama anak lanang.


"Ada apa Ma? Tumben kemari. Nyari Katy? Katy gak ada. Sudah Aria lempar ke kutub Korea." Tanya Aria tanpa melihat ke arah sang mama yang baru saja meletupkan suara emasnya.


Menyinggung soal Katy, demi kesejahteraan eh keamanan bersama, pria itu benar-benar mengirim Katy ke negeri ginseng itu. Anak buah Amato melaporkan kalau Katy beberapa kali terlihat berada di sekitar kontrakan Rossa. Meski belum ada pergerakan, tapi Aria kadung takut kalau si bule abal-abal akan mengancam calon istrinya. Cie...cie...calon istri.

__ADS_1


Aria meringis saat si mama mengeplak lengannya. "Malah santai-santai di sini. Itu bagaimana ceritanya si camermu. Sudah nemu solusinya belum."


Mala terlihat khawatir, yang mau nikah siapa, yang ribet bin cemas siapa. Itu jelas terjadi pada Mala, sebab jika Aria menikah maka Amato juga menikah. Mala harus mempersiapkan double pernikahan, dan itu semua dimulai dari sekarang. Waktu yang dia punya satu setengah bulan.


Aria hanya bisa menghela nafas. Dia bukannya tidak mencari jalan, tapi dia tengah menunggu seseorang menghubunginya kembali. Asisten orang itu berkata tuannya sangat sibuk, karena itu tidak bisa menjawab panggilan Aria. Siapa dia?


"Dia sibuk sekali Ma akhir-akhir ini. Tapi dia janji akan meneleponku jika sudah sempat."


"Dan kamu percaya?" Mala bertanya dengan ekspresi wajah tidak percaya.


"Dia tidak akan ingkar janji, aku percaya padanya."


"Terserahlah, pokoknya mama tidak mau tahu. Katering, dekor, undangan, MC, campur sari, dangdutan, gedung semua sudah mama booking."


Wagelaseeh, si mami gercep amat sih. Padahal Zaiharudin Hutomo saja belum memberi restu. Bagaimana bisa mamanya sudah booking sana, booking sini. Gila gak sih? Aria langsung memijat pelipisnya, pusing. Bukan mumet karena memikirkan mencari bukti untuk diberikan pada Zai. Tapi pusing sebab ulah si mama yang sangat antusias mau punya gawe.


"Kan mereka bisa tetap kerja, mama pesan tanpa kasih tanggal." Cengir Mala. Aria auto melongo. Bagaimana bisa si mama melakukan hal itu.


"Astagfirullah Ma, itu gantungin rezeki orang namanya."


"Gaklah, semua itu kan punya sepupumu sendiri. Jadi mama bebas dong."


Aria seketika menepuk dahinya pelan. Dia lupa kalau si sepupu punya WO yang terkenal, Dreamaker Wedding Organizer. Ada yang ingat WO ini, ya ini milik Archie Aodra Wijaya dari karya In My Dream, mampir ya 🤭🤭


"Trus?" Mala lantas menjelaskan kalau dia hanya meminta Archie dan staf untuk stand by. Sebab tanggal pernikahan akan keluar secara tiba-tiba. Saat itu tiba, Mala tidak akan mengambil masa tenggang. Zai setuju, berkas naik KUA, beres, akad akan langsung dilaksanakan.

__ADS_1


"Bakal pusing gak tu orang." Gumam Aria mengingat Archie juga orang sibuk.


"Bodo amat, yang penting dia saguh (sanggup)." Balas Mala cuek.


"Tunggu, apa yang mama janjikan ke budhe Lani?" Aria memicingkan mata, menatap curiga pada kanjeng mami tak sayang Aria.


"Tidak ada. Hanya menagih janji dulu, Mbak Lani bilang kalau kamu nikahan nanti, WO-nya pakai punya dia. Harus katanya. Ini sudah bagus mama booking sebulan lebih. Bagaimana jika besok kamu nikah, hari ini baru mama bilang ke Arch."


"Alah terserah mamalah. Yang penting sah negara agama, itu sudah cukup bagi Aria."


"Iyalah tu." Mala menyahut enteng.


Keheningan memenuhi ruangan itu, Aria kembali sibuk dengan pekerjaannya, sedang Mala tengah mencari ide konsep pernikahan yang akan mereka gunakan nanti.


"Kamu ingin nikahan yang seperti apa?" tanya Mala.


"Begituan jangan tanya Aria, tanya pengantin perempuannya." Sahut Aria cepat. Terdengar gumam persetujuan dari Mala.


Keduanya kembali asyik dengan kesibukan masing-masing. Sampai dering ponsel terdengar. Senyum Aria mengembang. Ini yang dia tunggu-tunggu. Solusi untuk restu Zai sudah ada di tangannya.


"Bersiap Ma, kita pesta." Kata Aria yakin. Senang sekali sepertinya dua orang itu. Tapi dari siapakah telepon tadi? Mala sendiri tidak tahu.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2