My Sweet Journey

My Sweet Journey
Kena Batunya


__ADS_3

Rossa berlari menuju IGD, di mana Shilda tengah menunggu dengan cemas. Di depannya tampak beberapa tenaga kesehatan sedang menangani Adnan. Termasuk Nurul.


"Adnan....." Rossa berteriak pilu dengan air mata mengalir. Santo dengan sigap menahan Rossa yang ingin menerobos masuk ke ruang IGD.


"Cha...biarkan mereka bekerja." Santo menarik Rossa mundur. Di mana Shilda juga tengah menangis sama seperti Rossa.


"Apa yang terjadi?" Rossa bertanya dengan tubuh lemas dalam cekalan Santo.


"Adnan tiba-tiba kejang. Dan kita tidak punya obatnya. Kan dia tidak pernah kejang selama ini." Balas Shilda di antara isak tangisnya.


Tubuh Rossa ambruk dengan Santo tak mampu menahan. Rossa sama sekali tidak bisa berkata-kata. "Istighfar Cha." Satu saran masuk ke telinga Rossa. Setelahnya kalimat itu terlantun dari bibir Rossa, disusul Shilda yang turut mengucapkannya. Dua tangan wanita itu saling menggenggam, saling menguatkan.


Rossa dan Shilda tidak bergeming sama sekali, bahkan ketika monitor pendeteksi detak jantung jantung mengeluarkan suara paling menakutkan untuk semua orang. Garis lurus kini tergambar di layar benda persegi tersebut. Santo bisa melihat Nurul yang memundurkan langkah, tidak sanggup melihat apa yang terjadi pada Adnan. Rekan Nurul menarik gadis itu mundur. Membiarkan yang lain memberi pertolongan pada Adnan.


"3..2...1...go!" Tubuh Adnan melenting saat defibrilator menghentak dada kecilnya.


"Lagi!" Dokter Tio sendiri yang turun menangani Adnan.


Rossa semakin tertunduk lemas. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dia dan Shilda menangis tersedu. "Cha, mau ke mana?" Shida berteriak saat Rossa berlari pergi dari sana.


Rossa berjalan cepat mencari tempat yang paling dia perlukan saat ini. Tanpa dia sadar, wanita tersebut melewati Aria yang mematung di tempatnya berdiri, pria itu melihat semua yang terjadi. Satu kode dari Santo, membuat Aria berbalik, lalu mengikuti Rossa.


Aria sempat kehilangan jejak Rossa, sampai dia menemukan wanita itu mengambil air wudu di mushola dekat IGD. Memang sudah waktunya salat Ashar, jadi pria itu ikut masuk, untuk melakukan kewajibannya.


"Kita jamaah." Rossa bergeming mendengar suara Aria. Namun begitu, perempuan itu mengikuti kemauan Aria. Rossa sama sekali tidak bisa menghentikan laju air matanya saat mendengar lantunan ayat suci dari bibir Aria. Pria yang beberapa waktu lalu menyatakan benci padanya, tapi kini malah menjadi imamnya


Empat rakaat selesai mereka tunaikan, dengan Rossa tetap menangis, bahkan setelah Aria selesai mengucapkan salam. Aria membalikkan tubuhnya, hingga dilihatnya Rossa yang masih terisak. Dengan dua tangan menadah, menghadap ke atas.


"Jangan ambil dia, ambil saja aku. Aku rela menggantikannya. Hamba mohon."


"Nur....." Aria geram mendengar doa Rossa. Wanita itu tidak peduli pada keberadaan Aria. Pria tersebut sesaat menatap Rossa. Bisa dia lihat bagaimana hancurnya Rossa. Wanita itu hanya bisa menangis dengan doa sama yang terucap berulang kali dari bibirnya.


"Ya Allah, berikan yang terbaik baginya." Rossa terkejut saat Aria meletakkan tangannya di bawah miliknya. Hingga dua pasang tangan itu seolah tengah menjadi satu saat berdoa. Hanya terhalang kain mukena yang Rossa pakai.


"Betulkan doamu." Kata Aria.

__ADS_1


"Jangan ambil dia...."


"Nur...."


"Kau tidak tahu apa-apa, jadi kau diam saja!"


Bungkam, Aria tidak mampu membalas ucapan sarkas dari Rossa. Meski begitu Aria tidak mengubah doanya. Hingga dua orang itu berdoa dengan hajat masing-masing. Rossa begitu acuh pada Aria. Hampir sepuluh menit, keduanya tetap dengan posisi itu, dengan hal sama yang mereka lakukan.


Aria sesekali mencuri pandang ke arah Rossa. Hatinya dengan cepat luluh. "Turunlah, dan kau akan tahu betapa berharganya dia. Bahkan suami sirinya pun tak mampu menyentuh hatinya. Dia istimewa."


Perkataan Mala membuat Aria mengikuti kata hatinya yang mulai terbuka. Sampai pria itu melihat seorang Rossa yang sebenarnya. Berdiri di antara lemah sekaligus berusaha tegar. Sosok Rossa kini terlihat berbeda di mata Aria. Kecantikan fisik yang didukung kecantikan hati. "Ambil aku, jangan putraku. Berikan dia kesempatan untuk melihat dunia...."


"Apa yang akan dilakukannya, jika dia tidak lagi bisa melihat ibunya?" potong Aria.


"Setidaknya dia sembuh dan hidup. Akan ada banyak orang yang sudi merawatnya."


"Bagaimana jika dia hanya ingin ibunya?"


Diam, Rossa sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Aria. "Dia akan menemukan sosok..."


Lagi-lagi Rossa hanya bisa terdiam. Hingga satu gelengan pelan menjadi jawaban. "Ibu..ibu...aku rindu ibu." Kalimat itu tiba-tiba terucap dari bibir Rossa.


Ingin rasanya Aria memeluk Rossa, tapi dia sadar, itu tidak boleh dilakukan. "Menangislah jika mau menangis, tapi setelah ini jangan tunjukkan kesedihanmu di depannya."


"Tapi dia....."


"Tidak yakin pada-Nya?"


"Dia akan memberikan yang terbaik bagi umat-Nya, meski itu sangatlah pahit."


Rossa melihat Aria. "Tapi aku tidak percaya padamu!" Rossa melepas mukenanya lantas berdiri, meninggalkan Aria yang hanya bisa menghela nafasnya. "Cha...."


Aria berdiri dengan cepat, melihat Shilda yang berada di luar mushala. "Adnan Cha, dia...."


Tangis Rossa kembali pecah saat perempuan itu mencium kening Adnan. Dokter Tio berhasil mengembalikan denyut jantung Adnan. "Terima kasih Dok. Dua kali anda menyelamatkan putraku." Ucap Rossa saat berhadapan dengan dokter Tio, Tiona Romawli.

__ADS_1


"Sudah tugas saya. Adnan hebat mampu bertahan sejauh ini. Setelah keadaannya stabil, saya akan melakukan check up ulang menyeluruh. Menurut Nurul, respon Adnan meningkat pesat beberapa hari ini."


"Benar Dok."


"Bagaimana? Berubah pikiran?" tanya Santo. Dua pria itu berdiri di luar ruangan tindakan IGD. Di mana keduanya hanya dipisahkan oleh sekat kaca. Hingga mereka bisa melihat bagaimana keadaan di dalam sana.


"Dia putranya? Dengan Angga?" tanya Aria.


"Masih diragukan." Aria seketika melihat ke arah Santo. Apa maksudnya masih diragukan. Apa Rossa hamil terlebih dulu, lalu Angga yang bertanggungjawab.


"Jangan berbelit-belit. Kau tahu kesabaranku setipis tisu dibelah dua saat ini."


"Heh korban nopel onlen." Cibir Santo asal.


Aria ingin bertanya lagi, tapi Rossa keluar bersama dokter Tio. "Dia akan diawasi intensif 24 jam. Mengingat kejangnya bisa datang menyerang lagi. Ingat, sama seperti perawatan di PICU."


Rossa mengangguk paham. Ketiganya menatap dokter Tio yang berlalu dari hadapan mereka."Makan dulu yuk." Ajak Shilda, gadis itu datang dengan dua kantong kresek di tangannya.


"Gak lapar." Rossa berjalan menuju kursi tunggu.


"Makan dulu, Nur." Pinta Aria.


Rossa hanya diam. Dia sama sekali tidak ada keinginan untuk bicara pada Aria. Benci? Tidak. Hanya enggan untuk melakukan hal yang tidak penting menurutnya.


"Nur...."


"Jangan sok perhatian!" Aria membulatkan mata mendengar perkataan judes Rossa.


"Kapok!! Makanya jadi orang kalau bertindak di pikir dulu." Ledek Shilda, ikut mendudukkan diri di samping Rossa.


Santo sendiri tidak banyak komen. Namun dari raut wajahnya, jika bisa dijabarkan akan terucap kata, "Selamat, anda sudah kena batunya."


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2