My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Ciuman Kening Pertama


__ADS_3

"Sial!!"


"Tenanglah tuanku, masih ada waktu saat ulang tahunnya." bujuk Hutch.


"Tapi... Kenapa serigala hybrid itu malah menyerang manusia seperti yang kamu katakan? Kenapa tidak anak sialan itu?" tanya Ordovic.


"Sepertinya anak perempuan itu ada ditempat yang tidak tepat dan di waktu yang salah. Serigala hybrid itu telah di beri mantra. Tapi menurut saya itu hal yang bagus." kata seseorang yang mengenakan baju berwarna hitam panjang.


"Hal bagus? Yang ada kegagalan!" Ordovic tampak sangat kesal.


"Tenanglah yang mulia." Hutch kembali membujuk.


"Beta anda benar yang mulia, tenanglah. Emosi yang berlebihan tidak akan memecahkan masalah dan juga tidak baik untuk kesehatan anda." lelaki berbaju hitam itu tersenyum. "Hal bagusnya adalah saya jadi mengetahui apa yang salah malam itu."


"Yang salah? Apa itu? Cepat katakan Horvick." tanya Ordovic.


"Anak perempuan yang diserang itu yang salah. Dia bisa menetralkan monster itu. Bukannya seharusnya saat anak itu menjadi monster, dia tidak akan berubah kecuali ditusuk pedang perak itu? Tapi saat berdekatan dengan anak perempuan itu, anak itu berubah kembali menjadi manusia. Berarti anak perempuan itu bisa jadi penghalang kita." jelas pria bernama Horvick.


"Dan halangan harus kita singkirkan." gumam Ordovic.


"Benar." jawan singkat dari Horvick.


"Hutch, singkirkan dia. Culik kalau perlu bunuh dia. Anak perempuan itu. Apa kamu sudah tahu siapa namanya?"


"Sudah my lord. Tania Reynolds."


****


"Masuklah." kata Kei saat sudah di depan rumah Tania.


Kei mengantarkan Tania pulang. Awalnya tania tidak mau karena ingin bertemu dengan Wolfs, serigala besar yang sebenarnya Kei sendiri. Tapi Kei memaksa untuk mengantar. Akhirnya disinilah mereka berdua, didepan rumah Tania.


"Harusnya kamu tidak usah mengantarku, aku ingin bertemu dengan temanku tadi." kata Tania.


'Aku tahu kamu ingin bertemu dengan serigalaku Tania, tapi sebaiknya tidak hari ini ya, besok saja.' gumam Kei dalam hati.


"Aku tahu, tapi ini sudah malam Tania, aku juga tahu kalau kamu sudah lelah karena latihan hari ini. Jadi sebaiknya istirahatlah." kata Kei lembut.


'Ya! Lelah tubuh dan hatiku. Jantungku tidak bisa ku normalkan selama latihan itu. Bahkan mendengar suara lembutnya pun jantungku sudah tidak karuan. Kenapa dia harus berbicara lembut seperti itu? Bikin gugup saja.' kata Tania dalam hati. Tania menggigit bibir bawahnya.


"Kamu kenapa Tania?" tanya Kei bingung melihat perubahan raut wajah Tania.


"Eh? Tidak apa-apa." kata Tania cepat. Kei yang melihat Tania tampak gugup langsung tersenyum.


"Masuk sana. Tapi.. Kenapa rumahmu gelap?" tanya Kei.


"Ahh sepertinya kak Andy belum pulang." Tania melihat ke jam tangannya. "Biasanya kak Andy pulang jam tujuh malam. Ini masih jam 06.30 malam. Aku yakin sebentar lagi kak Andy pulang."


"Apa kamu tidak apa-apa sendirian? Apa perlu memanggil temanmu Casey atau Anne?"


"Ti-tidak perlu. Aku baik-baik saja."


"Baiklah. Tapi jika ada sesuatu telpon temanmu, oke?"


Tania mengangguk. "Oke."


"Bagus. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Jangan kemana-kemana setelah ini. Dirumah saja, tunggu kakakmu pulang." kata Kei. Semenjak penyerangan itu, dia benar-benar ingin memperhatikan Tania. Tidak perduli orang lain yang jelas dia harus melindungi Tania.


Tania mengangguk dan tersenyum. "Iya. Terima kasih." ucap Tania.


Kei mengangguk dan tersenyum lembut. Membuat Tania terperangah melihat senyum itu. Kei berbalik untuk pulang tapi baru dua langkah dia berjalan, dia membalikkan badannya lagi lalu mendatangi Tania. Kei mencium kening Tania. Tania membeku di tempatnya. Dia sangat terkejut.


"Selamat malam." bisik Kei di telinga Tania lalu segera pergi.


Tania masih membeku ditempatnya. Dia tidak bergerak maupun bersuara. Kakinya terasa di paku di jalanan itu dan suaranya terasa hilang di telan bumi.


"Ehem!!" suara deheman seseorang mengagetkannya. Tania menoleh dan sudah ada Andy dan Elena berdiri di sana. Andy melihatnya dengan tatapan yang sulit dimengerti sementara Elena tersenyum geli.


'Kak Andy? Kak Elena? Astaga! Apa mereka lihat?'


"Mesra sekali ciumnya." goda Elena.


'Aaahh mereka melihat. Aduh malunya...'


Tania menundukkan kepalanya lalu langsung berlari masuk kedalam rumah. Elena dan Andy geli tertawa melihat Tania.


****


Tania makan malam beserta kak Andy dan calon kakak iparnya Elena.


"Tadi itu siapa Tania?" tanya Elena.

__ADS_1


"Ehm? Siapa?" tanya Tania balik.


"Ha! Sudah lupa ingatan dia. Apa kamu yakin tidak ingat? Tampan juga dia." goda Elena sementara Andy hanya diam mendengarkan. Tania tersentak saat menyadari siapa yang dimaksud.


"Bu-bukan si-siapa-siapa." jawab Tania mulai gugup.


"Kamu yakin?"


"Kak Elena!"


Elena cekikikan melihat Tania gugup dan wajahnya menjadi merah.


"Teman sekelas?" tanya kak Andy. Tania menganguk pelan. "Kakak tidak pernah melihatnya. Anak baru?"


"Iya."


"Nama keluarganya siapa?" tanya kak Andy. Tania mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Andy. Tapi kemudian dia berusaha mengingat.


"Laros, iya Laros kak."


"Laros? Berarti dia keponakan dari walikota Sebastian Rowen, yang baru pindah itu."


"Keponakan walikota?" tanya Elena. Andy mengangguk.


"Whoa... Kekasih Tania ternyata keponakan walikota. Tania kamu luar biasa. Anak itu bahkan sangat tampan." puji Elena.


"Kenapa kamu terus menyebutnya tampan?" tanya Andy tidak suka.


"Kenapa memangnya? Dia memang tampan."


"Tidak perlu berlebihan seperti itu." gerutu Andy.


"Aku tidak berlebihan tapi mengatakan sesuai fakta." Elena membela diri.


"Tidak, kamu sangat berlebihan."


"Sayang, kamu cemburu?" tanya Elena memandangi wajah Andy yang datar. Tania yang sedari tadi hanya mendengarkan juga ikut menatap kakaknya.


"Mungkin." jawab Andy lalu dengan segera berdiri dan meletakkan piringnya di wastafel. Saat beranjak pergi, Elena memeluk Andy dari belakang. Tania hanya menaikkan satu alisnya.


"Jangan marah sayang, aku hanya memuji kekasih Tania, itu saja. Siapa tahu dia jadi calon adik iparmu." kata Elena.


"Kak Elena!" protes Tania tapi Elena tidak perduli.


"Benarkah?" tanya Andy.


"Tentu, kamunya saja yang lama menikahiku. Sebal." kali ini gantian Elena yang cemberut.


"Maafkan aku sayang. Tapi sudah ada cincin itu di jarimu yang artinya aku sudah mengikatmu dan segera menikahimu." kata Andy disambut senyuman Elena. Tania yang menyaksikan itu hanya bergidik.


'Apa-apaan dua orang itu?' pikirnya.


Andy dan Elena berciuman lembut di depan Tania tiba-tiba, membuat Tania tambah bergidik.


"Aaakhh.... Kalian ini. Cari kamar sana!" pekik Tania dan langsung berlari ke kamarnya.


"Sebentar lagi kamu akan merasakannya juga sayang.." kata Elena setengah berteriak lalu dia tertawa geli.


****


Kei merebahkan tubuhnya setelah menggantung tasnya di kursi. Kei menutup kedua matanya. Dia mengingat saat dia menciun kening Tania tadi. Dia tersenyum geli. Terlebih mengingat ekpresi Tania saat dia menciumnya. Manis sekali, pikirnya.


"Kamu sudah gila ya, senyum-senyum sendiri." tanya seseorang. Kei membuka matanya lalu duduk di tepi ranjang. Sudah ada Bian di sana.


"Bagaimana kamu bisa masuk? Aku yakin tadi aku sudah mengunci pintunya."


"Kamu lupa ya siapa aku?"


"Ah iya, kamu jin." kata Kei seenaknya.


"Apa?!"


"Eh tidak, tidak. Penyihir maksudnya. Habis kamu suka menghilang dan muncul seperti itu."


"Kami para penyihir bisa berteleportasi. Jadi kami bisa berpindah tempat." jelas Bian sedikit kesal tadi saat Kei menyebutnya jin.


"Aaahh mirip jin kan?" tanya Kei usil. Bian sudah cemberut ria didepannya membuat Kei tertawa geli melihat ekpresi Bian.


"Ternyata yang terpilih bisa cemberut juga." katanya masih sesekali tertawa.


"Tentu saja. Aku kan masih manusia. Meskipun aku yang terpilih, yang tertua, yang termuda, yang terjelek, dan yang ter ter yang lain. Aku manusia." kata Bian kesal. Kei semakin tertawa geli.

__ADS_1


"Berhenti tertawa. Tidak lucu tahu."


"Iya, iya aku berhenti." kata Kei masih dengan tertawanya tapi sudah tidak sebanyak tadi.


"Jadi... Mau apa kamu dikamarku?" tanya Kei saat tawanya sudah berhenti.


"Cuma memeriksa kamu. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bian.


"Tentu, kamu tidak usah khawatir. Kamu mampir hanya untuk bertanya itu saja?" tanya Kei.


"Tentu saja. Aku ingin melihat keadaanmu. Aku akan di kota ini sampai hari ulang tahunmu lewat. Untuk memastikan kalung itu bekerja dengan baik dan membantumu saat kalung itu tidak bekerja dengan baik. Boleh aku melihatnya?"


Kei mengangguk. Bian mendekat dan meraih kalung Kei. Dia hanya ingin memastikan tidak ada sesuatu yang aneh pada kalung itu karena ini semua menyangkut orang banyak jadi Bian tidak mau mengambil resiko.


"Apa baik-baik saja?" tanya Kei.


"Mm.. Baik." kata Bian lalu duduk di sebelah Kei. Bian mengamati Kei yang sedang memegang kalungnya.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu menyukaiku?" tanya Kei yang tahu dirinya di perhatikan.


"Iya, aku sangat menyukaimu." kata Bian dengan tatapan intensnya. Bahkan dia tidak melepaskan pandangannya pada Kei. Kei menjadi gugup.


"Be-benarkah?"


"Bwuahahahha...." Bian tertawa geli sambil memegangi perutnya. Bian tahu awalnya Kei hanya bercanda padanya tapi justru Kei yang tertipu. Bian tertawa melihat ekspresi Kei yang gugup dan sekarang cemberut.


Kei mendengus kesal.


'Sial! Kenapa aku bisa tertipu?' umpat Kei dalam hati.


"Tapi jujur." kata Bian lagi setelah tawanya reda. "Aku memang menyukaimu karena kamu mirip adikku. Kamu mengingatkanku padanya."


"Memangnya dimana adikmu sekarang?" tanya Kei.


"Dia berada di tempat yang jauh." kata Bian sambil melihat-lihat langit kamar Kei.


"Dia... Sudah mati?"


"Hah? Ahhh tidak, tidak, tidak. Dia tidak mati. Dia berada di belahan dunia lain. Jauh dari sini. Tempat asalku. Tapi dia tidak akan mengingatku. Karena aku menghilangkan ingatannya. Tidak hanya ingatan adikku, tapi seluruh keluargaku." jelas Bian.


"Kenapa kamu menghilangkannya?"


"Kei, aku yang terpilih, aku penyihir terkuat didunia. Menjadi penyihir terkuat tidak semerta-merta membuatku bahagia atau aku hanya santai-santai saja. Tapi musuhku juga banyak dan dari beberapa kalangan. Aku tidak mau para musuhku menjadikan keluargaku sebagai alat untuk menyakitiku."


"Lalu kenapa kamu cerita padaku? Apa kamu tidak takut aku akan mencelakaimu?"


"Aku akan mengapus ingatanmu tentang keluargku."


"Hanya begitu saja?"


"Lalu kamu mau apa? Mau aku membunuhmu?" tanya Bian lalu di mengeluarkan api biru di tangannya.


"Ini... Api itukan? Api yang bisa membakar semua makhluk supranatural? Yang kamu gunakan untuk membakar serigala Hybrid itu?" tanya Kei. Bian mengangguk.


"Jangan disentuh." kata Bian saat melihat Kei ingin menyentuhnya. "Terkena sedikit saja bisa merubahmu menjadi abu."


Bian menghilangkan api itu dari tangannya.


"Dari mana asal hybrid itu? Aku tidak tahu disini ada serigala Hybrid." gumam Kei yang didengar jelas oleh Bian.


"Dari pamanmu. Ordovic."


"Apa? Dari mana kamu tahu?"


"Tentu aku tahu. Aku mencari tahu asal serigala hybrid itu dan kenapa saat bukan bulan purnama mereka bisa mengganti shift menjadi serigala. Seharusnya mereka hanya bisa berubah menjadi serigala saat bulan purnama. Dan disaat aku mencari tahu, aku mengetahui jika pamanmu Ordovic telah bekerja sama dengan penyihir, lebih tepatnya kaum hitam. Aku rasa mereka merencanakan sesuatu yang besar dan jahat. Hati-hatilah Kei."


"I will."


"Jangan khawatir. Aku tahu meskipun tanpa monster itu, kamu tetap manusia serigala yang kuat dan aku akan ada disini bersamamu. Jika mereka sudah menggunakan penyihir berarti aku juga harus ikut bertindak. Yang perlu kamu ingat adalah kamu tidak sendirian." kata Bian lalu tersenyum dan mengacak rambut hitam Kei.


"Terima kasih." kata Kei.


"Hoahem... Aku ngantuk. Aku pulang dulu." Bian berdiri.


"Daagghh adik manis."


Bian menghilang begitu saja membuat Kei menggelengkan kepalanya lalu tersenyum


'Dia masih memanggilku adik manis. Tapi sepertinya itu bukan panggilan yang buruk.'


****

__ADS_1


Tadariez


__ADS_2