My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Aku adalah malaikat mautmu


__ADS_3

Bian berdiri menatap ke arah yang ditunjuk Nick. Dia berdiri tegak sambil menyentuh gelang yang dikenakannya. Nick ikut berdiri disebelah Bian, menyambut kedatangan tamu yang datang tiba-tiba. Tak lama datang beberapa vampir dan serigala. Vampir yang paling depan tersenyum pada Bian dan Nick. Dia mengenakan jubah panjang berwarna hitam dan rambut merahnya yang panjang, dibiarkan tergerai.


"Selamat malam yang terpilih. Kejutan yang menyenangkan." sapa vampir yang paling depan.


"Selamat malam, Eduardo." sapa Bian.


"Yang terpilih bersama pangeran vampir yang menyedihkan ini. Sungguh perpaduan yang menarik." ejek Eduardo.


"Aku raja, pangeran bodoh. Aku sama seperti ayahmu." protes Nick dan itu membuat Eduardo tertawa.


"Jangan menyamakan ayahku denganmu Nick. Mungkin kamu memang raja tapi kalian berdua sama sekali tidak mirip. Kamu terlalu membela serigala itu daripada kaummu sendiri."


"Cih! Lihat saja yang berbicara. Bahkan dia membawa serigala bersamanya." gumam Nick. Eduardo tersenyum sinis.


"Ada apa kemari? Membawa serigala? Kombinasi yang menarik. Aku kira vampir tidak pernah akur dengan serigala."


"Mereka terlihat seperti rombongan sirkus." ejek Nick. Bian menatap Nick. Dia hampir kelepasan tersenyum geli.


"Sangat lucu sekali Nick." kata Eduardo. "Kami mendengar kamu ada disini. Kami ingin berbicara sesuatu."


"Tentang apa?" tanya Bian.


"Tentang raja dan alpha keturunan itu tentu. Kita harus membicarakan hal itu."


"Ada apa dengan itu?" tanya Bian heran.


"Apa kamu tidak merasa mereka terlalu meresahkan?"


"Dalam hal apa?"


"Mereka menebarkan ketakutan di antara semua makhluk."


"Ha! Omong kosong!" sahut Nick.


"Mereka menginginkan perang." kata Eduardo lagi tanpa menghiraukan kata-kata Nick.


"Apa tidak salah? Bukankah itu kemauan dari alpha Roger? Benarkan alpha?"


"Ohh jangan membuatku terlihat buruk. Mereka menyerang packku." kata Roger yang telah berubah menjadi manusia lalu duduk di atas batang kayu.


"Karena kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu alpha."


"Ahh benarkah? Seingatku Aaron adalah milikku."


"Dia bukan milikmu alpha tapi dia kawananmu. Tapi itu tidak penting lagi. Aaron bukan anggota packmu lagi. Dia sudah menjadi beta."


"Ahh ya benar. Sayang sekali."


"Tapi aku mendengar kamu ikut membantunya?" tanya Eduardo.


"Membantu? Tidak secara langsung. Aku hanya datang meminta penjelasan dari alpha Roger tentang kenapa dia mencuri kristal yang seharusnya bukan miliknya dan di letakkan di rumahnya."


"Untuk apa kamu perduli dengan itu?" tanya Eduardo.


"Sepertinya dia terlalu menyukai para serigala itu sehingga dia ikut campur." tambah Roger membuat Bian menatapnya heran.


"Apa kamu bercanda? Apa kalian lupa kristal itu milik siapa? Maria, jika kalian lupa. Maria adalah penyihir, yang terpilih pendahuluku jadi itu adalah urusanku. Jadi jangan memutar balikkan kenyataan. Bahwa aku yang salah begitu juga dengan para manusia serigala muda itu." kata Bian mulai marah. "Dan Eduardo, apa ayahmu tahu kamu melakukan ini?"


Eduardo hanya diam menatap Bian tajam.


"Aku rasa tidak, benarkan? Ayahmu paling tidak suka berurusan denganku."


"Jangan sebut-sebut nama ayahku."


"Kenapa? Apa kamu takut padanya?" tanya Bian.


"Whoaa... Benarkah? Ini sangat menarik." ejek Nick. Eduardo mengepalkan tangannya.


"Pergilah, tidak ada yang perlu di bicarakan disini. Tidak ada yang melakukan kesalahan." pinta Bian.


"Bagaimana dengan alpha keturunan murni yang membunuh vampir dan pangeran bodoh itu membantunya." Eduardo menunjuk Nick dengan dagunya.


"Pangeran bodoh. Kenapa dia selalu memanggilku seperti itu?" gumam Nick.


"Apa Zigor tidak memberitahukanmu? Para vampir itu tidak melakukan kesalahan pada manusia biasa. Hanya saja bukan alpha Zach yang memulainya, tapi vampir itu. Bukankah pertarungan vampir dan serigala merupakan hal yang sering terjadi. Terlebih jika itu semua terjadi di wilayah netral seperti Rotternville. Semua tergantung dengan siapa yang memulai pertarungan." jawab Bian.


"Ahh baiklah, baiklah. Lalu apa kamu tidak resah dengan semua ini? Anak itu terlalu muda untuk memimpin!"


"Usia bukan masalah tapi cara dia memimpin, mengatasi masalah dan menjaga packnya itu yang terpenting. Bukan seperti satu alpha yang menggunakan segala cara bahkan dengan membunuh dan memanfaatkan orang yang tidak bersalah untuk tujuannya." Bian menatap alpha Roger.


"Maksudmu aku? Hahahahah... Aku tidak sehebat itu." ejek Roger. 


"Terlalu percaya diri." Nick mendengus kesal.


"Lagipula bukan dia yang meminta untuk menjadi raja, melainkan kekuatan itu sendiri yang memilihnya."


"Lalu.. Apa kamu akan menyetujui perang ini?"


"Tentu saja tidak. Tapi bukan raja itu yang harus dipermasalahkan melainkan alpha Roger yang menabuhkan genderang perangnya."


"Aku? Tidak, tidak. Aku sudah memberi penawaran pada raja itu untuk damai."


"Dengan menukar alpha Zach dan betanya untuk penawaran? Kau sudah gila." kata Nick.


"Banyak nyawa ditukar dengan dua anggota pack kurasa bukan masalah besar. Apa ini karena kamu adalah mate dari alpha itu, Bian?"


"Dia bukan mateku dan lagipula, semua nyawa berharga alpha." Bian menghelas nafas. "Jika kalian ingin membicarakan ini, bukankah seharusnya mengajak Kei dan Zach?"


"Tidak perlu mengajak anak kecil. Itu sungguh sangat merepotkan." kata Eduardo.


"Aku beri saran padamu, Eduardo. Para serigala tidak mempunyai masalah dengan vampir jadi kamu dan pasukanmu tidak bisa ikut campur dalam masalah ini dan sebaiknya jangan. Itu urusan mereka."

__ADS_1


"Bukankah kamu seharusnya mengatakan semua ini pada dirimu?"


"Aku akan ikut campur selama kaum hitam ikut campur. Sayangnya ada seseorang yang membuat kaum hitam terlibat."


"Aku ti--"


"Jika..." Bian memotong kata-kata Roger. "... Jika kaum hitam dan kaum lain tidak terlibat, aku akan menyerahkan sepenuhnya pada para manusia serigala. Asalkan tidak melibatkan dan menyakiti kaum lain, terutama manusia, aku tidak masalah siapa yang menang atau kalah."


Mereka terdiam dan hanya menatap satu sama lain.


"Apa kamu yakin bisa melakukannya yang terpilih?" tanya Roger.


"Tentu. Tapi apa kamu bisa bertarung tanpa menggunakan kaum lain seperti yang biasa kamu lakukan alpha?" tanya Bian pada Roger.


"Mungkin." jawab Roger.


"Jika kamu bisa bertarung tanpa menggunakan kaum lain, aku juga akan melepaskan tanganku dari mereka." kata Bian. Bian beralih ke Eduardo. "Dan kau Eduardo, sebaiknya jangan ikut campur. Ini bukan pertarunganmu. Jika kamu dan pasukanmu ikut campur, aku tidak akan tinggal diam."


"Apa kamu mengancamku, yang terpilih?"


"Ohh sayang sekali itu bukan sebuah ancaman. Tapi itu akan aku lakukan jika kamu masih ikut campur. Jika perlu aku akan membicarakan ini dengan ayahmu. Karena aku tahu sekali ayahmu sangat benci ikut campur dengan urusan yang bukan urusannya. Terlebih, jika itu hanya masalah sepele." kata Bian tegas.


Eduardo tertawa keras lalu dengan secepat kilat dia muncul di depan Bian dengan jarak yang sangat dekat.


"Kamu pikir kamu bisa mengalahkanku yang terpilih?" kata Eduardo. Bian tersenyum.


"Apa kamu lupa jika aku pernah melawan keluargamu dan membunuh keluarga kerjaan yang lain? Aku tidak takut padamu Eduardo, meskipun kamu membawa pasukan itu. Aku tahu mereka. Mereka pasukan vampir terkuat dikerajaanmu dan kau membawanya? Untuk apa? Membunuhku? Kamu tahu, membunuhku tidaklah mudah."


"Sombong sekali." Eduardo sinis. "Kita lihat siapa yang menang antara kalian berdua..." Eduardo menatap Nick lalu berganti Bian. "Atau pasukanku."


"Siapa bilang kami hanya berdua?" kata Bian lalu tersenyum, membuat Eduardo menatap heran.


Tak lama muncul satu persatu Elder dan dengan jumlah yang sangat banyak. Eduardo terkejut.


"Kamu membawa pasukanmu yang terkuat dan aku membawa Elder yang terkuat. Aku benar-benar ingin tahu siapa yang menang." Bian tersenyum penuh kemenangan.


"Kita lihat saja nanti yang terpilih, aku akan segera membunuhmu."


"Aku akan menunggu kesempatan itu." kata Bian.


Eduardo mundur seketika, berdiri sejajar kembali dengan pasukannya. Dia menatap Bian marah dan membalikkan tubuhnya.


"Ahh dan Eduardo? Aku ingatkan. Kata-kataku tadi bukanlah ancaman. Jadi jangan sampai kamu membuatku menjadi orang yang membunuhmu."


Eduardo mendengarkan tanpa membalikkan tubuhnya. Dia mendengus kesal lalu dengan segera meninggalkan Bian. Alpha Roger kembali berubah menjadi serigala dan beranjak pergi.


"Dan kamu juga alpha, jangan membuatku ikut campur lagi dan menghancurkan seluruh pasukanmu."


Roger menggeram pelan dan berlari di ikuti beberapa pasukannya. Bian hanya menghela nafas panjang.


"Whoaa... Dari mana kamu bisa memanggil mereka?" kata Nick terpana melihat banyaknya Elder yang datang termasuk Damian.


"Aku baik." jawab Bian lalu beralih ke Nick. "Nick, lakukan rencananya. Aku akan bertemu dengan Kei dan alpha Sebastian."


"Tentu, akan aku lakukan." kata Nick lalu melesat pergi.


"Mari kita kembali." kata Bian.


"Apa kamu tidak akan memberitahu Kei tentang ini?"


"Tentu akan saya beritahu. Saya akan pergi ke pack alpha Sebastian besok. Sekarang kita kembali dulu." pinta Bian.


"Baiklah."


****


"Kei..." panggil Tania saat di kelas keesokan harinya.


"Hmm..." jawab Kei seadanya. Dia sedang mencari buku di dalam tasnya.


"Kei..."


"Tunggu sebentar Tania." jawab Kei lagi.


"Apa kamu benar-benar tidak akan menghiraukanku seperti itu?" protes Tania.


"Tania, aku tidak-- akhh baiklah, baiklah. Ada apa?" kata Kei menatap Tania.


"Kira-kira, berapa lama aku akan berada di Lykort?" tanya Tania. Kei menghela nafas.


"Kita sudah membahas ini Tania. Sampai keadaan membaik."


"Aku hanya khawatir dengan kakakku, Andy."


"Bukankah dia sudah ada Elena? Justru jika dia tidak ikut dia tidak akan terlibat. Kita setuju untuk tidak melibatkan kakakmu kan?"


Kei menghela nafas lalu memegang tangan Tania.


"Sayang, semua akan baik-baik saja. Pasukan paman akan menjaga Andy dan tunangannya."


"Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi kenapa Ryan ikut kita?"


"Dia betaku, dan aku juga akan melindunginya. Jangan khawatir."


Brakk!!


Kei dan Tania terkejut lalu menoleh. Sudah ada Jason disana, berdiri disebelah mereka dengan membawa bola basket yang di pukulkannya di meja tadi.


"Whoaa... Apa kalian tidak keterlaluan? Ini masih siang dan ini disekolah. Lagipula, apa kalian tidak lelah bermesraan terus seperti itu?"


"Mau apa kamu Jason?" tanya Kei malas.

__ADS_1


"Whoa.. Galak sekali." kata Jason. "Ayo kita bertanding basket."


Kei menatap bola basket yang di bawa Jason lalu menatap Jason.


"Tidak, aku sedang malas." jawab Kei.


"Oh ayolah Kei.. Yang lain sudah menunggu di Gym." bujuk Jason.


"Yang lain?"


"Ya, Zach, Ian, Aaron.. Semua.. Hanya kamu yang masih disini dan bermesraan."


"Aakhh baiklah. Tapi kamu tidak akan memintaku untuk melepaskan pakaianku lagi kan?"


"Ohh itu harus. Peraturannya kita harus membukanya. Lagipula tubuh kita bagus. Jadi tidak masalah." kata Jason sambil mengangkat kemeja sekolahnya sehingga perut sixpacknya terlihat dan itu membuat pekikkan kecil terdengar di belakang Kei. Kei dan Jason menoleh dan melihat beberapa gadis sudah salah tingkah.


"Untuk itulah aku menolak untuk melakukannya." ucap Kei.


"Oh ayolah Kei... Hanya buka kemeja dan--"


Brakk!!


Tania memukul mejanya. Kei dan Jason menoleh kaget.


"Kei tidak boleh bermain jika dia harus melepaskan kemejanya." kata Tania.


"Aaahh Tania... Jangan terlalu menganggapnya serius. Kami hanya akan bermain bakset."


"Karena itu, bermainlah basket. Tidak perlu membuka baju."


"Tapi ini sudah tradisi Tania... Lagipula kit--"


"Tidak boleh!!" pekik Tania membuat Jason terdiam seketika. "Kei tidak boleh bermain jika dia membuka bajunya dan tidak ada tapi tapi!! Apa kamu mau mengerti?!"


Tania menatap Jason marah. Jason diam bahkan dia tidak bergerak sama sekali. Kei tersenyum geli.


"Itu ratumu, Jason. Apa kamu mau melawan perintahnya?" tanya Kei. Jason dengan cepat menggelengkan kepalanya. Kei tertawa geli melihat Jason. Kei berdiri dari duduknya. Dia mencium kening Tania lalu pergi.


"Ayo Jason." ajak Kei.


"Eh? Oh? Iya baiklah. Sampai jumpa yang mulia." kata Jason pada Tania lalu berlari ke arah Kei. Kei tertawa sambil menepuk pundak Jason. 


****


Karen berjalan-jalan di belakang rumah Alpha Sebastian. Dia tampak termenung. Dia baru tahu ternyata Zach mempunyai dua mate, itupun karena dia mendengar pembicaraan para gamma. Jika mate satunya Zach adalah manusia biasa mungkin dia akan percaya diri tapi mate Zach adalah Bian yang menurutnya tidak bisa dia saingi.


"Karen..."


Panggil seseorang. Karen menoleh, tapi tidak ada siapapun disana.


"Karen..."


Panggil suara itu lagi. Lagi-lagi Karen mencari arah suara tapi tetap tidak menemukannya. Dia menggelengkan kepalanya. Tidak, aku yakin hanya halusinasiku saja. Iya.


Karen mencoba meyakinkan hatinya.


"Karen..."


Panggil suara itu lagi. Kali ini Karen yakin itu bukan halusinasi. Karen kembali mencari ke arah suara dan tak lama dia menemukan seorang wanita berpakaian serba hitam berdiri didekat pohon dan tersenyum padanya. Karen memperhatikan wanita itu. Dia tidak mengenalnya.


Tiba-tiba wanita itu beranjak pergi dan masuk ke dalam hutan. Karen terkejut lalu mengikuti wanita tadi masuk ke dalam hutan. Sebenarnya dia tidak ingin mengikutinya tapi dia penasaran.


Karen masih terus mengikutinya.


"Karen...." panggil wanita itu. "Apa kamu merasa tersaingi Karen? Cintamu di ambil orang lain? Hahahahaha..."


Karen menghentikan langkahnya. Di menatap kesekelilingnya.


"Karen... Ohh Karen.... Zach tidak mencintaimu Karen... Dia mencintai orang lain." sahut suara wanita itu.


"Tidak mungkin!! Siapa kamu?!" pekik Karen.


"Ya itu benar Karen. Siapa kamu di bandingkan Bian, yang terpilih? Kamu hanya manusia biasa. Kamu lemah!! Tentu saja Zach akan memilih Bian sebagai lunanya. Bersamanya Zach akan semakin kuat sementara bersamamu? Zach akan lemah!!"


"Siapa kamu?! Tunjukkan dirimu!!"


Tiba-tiba ada bayangan hitam melewatinya. Karen terkejut dan memekik. Lalu bayangan itu lewat lagi. Kali ini membuat Karen terjatuh di tanah. Dia semakin ketakutan. Dia tidak melihat ada siapapun disana. Dia mendengar suara tertawa yang keras. Tiba-tiba dia melihat seseorang di depannya. Seorang wanita paruh baya berdiri di depannya. Wanita itu berpakaian hitam. Wanita itu tersenyum menatap Karen.


"Bagaimana rasanya tidak di cintai Karen? Apa itu menyakitkan?" kata wanita itu. Karen tidak menjawab. Dia masih terkejut. Wanita itu berjalan mendekat. "Dia tidak akan pernah mencintaimu Karen."


"Ka-kamu bohong." ucap Karen.


"Aku? Berbohong? Apa kamu tidak melihat cara Zach menatap Bian? Atau mungkin kamu terlalu naif untuk menyadarinya?" kata wanita itu lagi. Karen terdiam.


"Zach akan meninggalkanmu Karen.. Dia tidak akan menyukai wanita lemah sepertimu."


"Diam!!"


"Kau akan ditinggalkan, dibuang!!"


"Kubilang diam!!!" Karen menutup kedua telinganya dengan tangannya.


Wanita itu tertawa. Karen menatap wanita yang sudah berdiri di depannya.


"Si-siapa kamu??" tanya Karen gugup.


"Aku adalah malaikat mautmu." kata wanita itu. Tangan wanita itu sudah berubah menghitam. Jari-jarinya memanjang dan kukunya menjadi panjang dan tajam. Wanita itu lalu mengangkat satu tanganya tinggi, bersiap menyerang Karen.


****


tadariez

__ADS_1


__ADS_2