My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Racun Kristal


__ADS_3

Tdar!!


Terdengar suara tembakan. Semua orang terkejut. Mike menggeram lalu berubah menjadi serigala dan mendatangi arah suara tembakan. Semua orang terkejut dengan tindakan Mike yang tiba-tiba.


"Tidak, Mike!!" Jake mencegah Mike tapi Mike tidak mendengar. "Sial!!"


Jake berubah menjadi serigala dan mengejar Mike. Adrian mengikuti Jake. Mereka berlari menyusuri hutan dan mengejar Mike.


"Kamu sudah merasa baikkan?" tanya Livia. Aaron mengangguk.


"Iya."


"Biar aku berikan Jinx. Ini akan mempercepat penyembuhanmu. Kamu sudah mempunyai kemampuan menyembuhkan diri dan ini akan mempercepatnya." Livia memberikan ramuan Jinx lalu membaca mantra. Luka Aaron langsung menutup dan sembuh.


"Kenapa anda disini beta? Bukankah seharusnya anda bersekolah?" tanya Roland.


"Aku... Melihat orang mencurigakan." kata Aaron.


"Orang mencurigakan?"


"Iya."


Flashback on


Aaron pergi menuju belakang sekolah. Dia mencari Kei atas permintaan Zach. Dia sudah mencari ke seluruh sudut sekolah tapi tidak menemukan Kei. Akhirnya dia memutuskan mencarinya di belakang sekolah. Aaron berjalan di seluruh belakang sekolah tapi tetap tidak menemukan Kei. Dia ingin kembali tapi kakinya terhenti saat dia mendengar seseorang berbicara.


"Tapi aku sudah berusaha, dia terlalu dingin. Paman katakan jika dia sudah menemukan mate. Akan sulit sekali jika dia sudah menemukan mate-nya." kata seseorang yang Aaron yakini seorang gadis. Awalnya Aaron tidak ingin mendengarkan tetapi kata-kata mate membuatnya ingin mendengarkannya lagi. Aaron semakin mendekat dan mendengarkan. Dia tahu mereka membicarakan manusia serigala.


"Aku tahu, tapi racun itu harus bisa masuk kedalam dirinya." kali ini suara laki-laki.


"Dia bahkan tidak ke kantin. Jadi Aku... Aku melakukan cara lain."


"Apa maksudmu Jane? Cara apa yang kamu bicarakan."


"Aku... Menciumnya... Raja itu."


"Apa? Jika kamu menciumnya berarti racun itu harus kamu letakkan di--"


"Bibir, iya. Tapi bukannya tidak apa-apa? Racun itu hanya berpengaruh untuk manusia serigala."


"Tapi kita tidak boleh mengambil resiko, Jane! Apa kamu sudah gila?!"


"Maaf... Aku tidak tahu harus bagaimana."


"Apa kamu sudah meminum penawarnya?"


"Belum."


"Kenapa kamu bodoh sekali!!"


"Tapi tidak terjadi apapun!"


"Kita tidak mungkin menunggu untuk hal itu terjadi kan? Pergi kerumah dan minum penawarnya. Paman akan berjaga disini."


"Baik paman."


Aaron mendengar suara langkah kaki.  Dia mengintip di balik dinding. Dia melihat seorang gadis berjalan menuju hutan sementara seorang pria dewasa berjalan berlawanan arah.


'Gadis itu mengenakan seragam sekolah ini, berarti dia bersekolah disini. Mereka menyebut raja, apa itu berarti Kei? Lalu.. Racun? Mencium? Apa maksudnya?'


Aaron memutuskan untuk mengikuti gadis itu dan masuk kedalam hutan. Aaron berusaha menjaga jarak dari gadis itu agar gadis itu tidak menyadari Aaron mengikutinya. Dari pembicaraan yang Aaron dengarkan tadi, gadis itu manusia biasa. Aaron terus mengikutinya. Dia fokus melihat gadis itu dan...


Krakk!


Dia menginjak ranting pohon. Dia terdiam di tempatnya sejenak lalu bersembunyi. Jane mendengar bunyi patahan ranting itu dan berbalik. Dia tertegun karena tidak ada satu orangpun. Dia berbalik kembali lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya kemudian berjalan lagi.


Aaron keluar dari persembunyiannya lalu kembali mengikuti Jane. Aaron terkejut karena Jane menghilang. Dia tidak melihat Jane dimanapun. Dia mempertajam pendengarannya. Dia mendengar detak jantung yang cukup cepat. 'Dia disini. Dia bersembunyi.'


Dar!!


Sebuah peluru melewati Aaron dan mengenai sebuah pohon. Aaron terkejut lalu menoleh ke arah datangnya peluru itu. Gadis itu! Jane berjalan mendekat ke Aaron sambil mengacungkan senjatanya.


"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Jane.


"Siapa kamu?" tanya Aaron.


"Tidak perlu tahu siapa aku. Tapi sepertinya mendapatkan seorang beta tidak terlalu buruk." kata Jane tersenyum.


"Dari mana kamu tahu aku adalah beta?"


"Oh aku tahu tentang kalian semua. Alpha, beta... Semua. Dan yang perlu kalian ketahui adalah kalian akan mati, semuanya." kata Jane. Senyuman kecil tersungging di bibirnya.


"Kenapa kami harus mati? Dan siapa kamu sebenarnya?" tanya Aaron heran. Jane tersenyum pada Aaron.


"Selamat tinggal beta."


Jane menembak Aaron, tepat di dadanya. Aaron meringis kesakitan lalu tubuhnya oleng dan jatuh. Jane berlari meninggalkan Aaron sendirian.


Flashback end


"Tunggu dulu, jadi gadis bernama Jane ini... Yang menembak anda?" tanya Roland. Aaron mengangguk.


"Dia masih mengenakan seragam yang artinya dia masih remaja dan bersekolah disini, sekolah yang sama."


"Atau berpura-pura menjadi remaja. Kita tidak tahu itu. Tapi yang jelas dia adalah pemburu." kata Livia.


"Livia benar, kita harus waspada."


"Maafkan aku... Ini semua salahku yang kurang waspada. Aku sudah menyusahkan kalian." kata Aaron. Dia merasa bersalah.


"Jangan berkata seperti itu beta, itu tidak masalah." kata Adrian.


"Jadi apa yang kalian tunggu? Ayo kita bawa dia kerumah sakit." ajak Ryan yang sedari tadi diam. Dia heran kenapa mereka sedari hanya berbicara bukannya melarikan Aaron ke rumah sakit.


"Rumah sakit?" tanya Kian bingung.


"Iya rumah sakit! Dia kan terluka! Dia tertembak, demi tuhan!"


"Uhmm beta, dia tidak perlu rumah sakit. Kita, manusia serigala, bisa menyembuhkan diri dengan cepat."


"Jadi maksud kamu... Dia sudah sembuh?" Ryan terkejut dan bingung.


"Ya. Asalkan peluru wolfsbane itu sudah keluar dari tubuhnya, beta Aaron akan baik-baik saja. Lukanya akan menutup dengan sendirinya."


"Peluru wolfsbane? Apa itu?"


"Peluru perak yang telah di lapisi oleh wolfsbane. Wolfsbane adalah sejenis racun yang bisa melemahkan bahkan membunuh manusia serigala. Jika kita terkena wolfsbane, kita akan sulit untuk menyembuhkan diri." jelas Roland.


Tak lama terdengar langkah kaki. Jake, Mike dan Adrian sudah kembali.


"Bagaimana? Apa kalian melihat pemburu itu?" tanya Kian.


"Tidak, aku tidak melihat mereka." kata Mike. "Mereka melarikan diri."


"Kata para omega, ada sebuah keluarga yang baru saja pindah kemari. Mungkin saja itu mereka, para pemburu itu." kata Jake.

__ADS_1


"Mungkin, kita akan mencari tahu."


"Untuk apa kalian mencari tahu? Kami disini." kata seseorang. Semua menoleh. "Perkenalkan, nama saya Henry, Henry Dixon."


Mike menggeram kasar, dia ingin menyerang para pemburu yang berjumlah lima orang itu. Tapi Jake menghentikannya.


"Cukup Mike." kata Jake. "Apa maumu diwilayah kami?"


"Aku ingin bertemu dengan alpha Sebastian." kata Henry. Mike menggeram semakin keras.


"Easy, Mike. Untuk apa anda ingin bertemu dengannya?" tanya Jake lagi.


"Aku teman dekatnya dan ingin menyampaikan sesuatu yang penting."


"Teman dekat katamu?! Bagamana bisa teman dekat menyakiti kami?"


Mike tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia berubah menjadi serigala, begitu pula Kian. Semua pemburu siaga dengan senjata mereka masing-masing.


"Hei tenanglah, Mike! Kian!" kata Jake.


"Tunggu dulu, ada apa ini?" tanya Henry bingung. "Kenapa kalian ingin menyerang kami?"


"Karena kalian menyerang kami lebih dulu." kata Adrian.


"Aku? Kami? Kapan?" Henry terlihat bingung. Jake mempertajam pendengarannya. Dia mendengarkan detak jantung dari pemburu.


"Apa kalian yang menembak beta kami?" tanya Jake.


"Tentu saja tidak, kami baru saja datang." kata Henry tegas. Jake memeriksa detak jantung. 'Normal. Dia tidak berbohong.'


Jake menatap Adrian, Adrian juga menatap Jake. Mereka mengangguk setuju, jika para pemburu itu tidak berbohong. Detak jantung mereka akan berdetak lebih cepat jika mereka gugup atau berbohong.


"Mike, Kian, berubah kembali. Bukan mereka." pinta Jake. Serigala Mike menoleh dan menatap heran lalu menggeram kecil. "Bukan mereka Mike, berubahlah."


Mike akhirnya berubah menjadi manusia, begitu pula Kian.


"Apa kalian telah diserang?" tanya Henry.


"Iya, mereka menembak beta Kami." kata Jake.


"Itu bukan kami. Kami baru saja datang. Dan apa kalian tidak mengingat kami? Kami membantu kalian saat kejadian raja kalian yang berubah menjadi monster Lycan yang kuno itu."


"Kalian... Pemburu itu?" tanya Kian.


"Ya itu kami. Alpha Sebastian sendiri yang meminta bantuan kami." jawab Henry.


"Lalu... Apa kalian mengenal peluru ini?" Jake menyerahkan peluru yang tadi berada di dada Aaron. Henry mengambil dan memeriksanya. Dia mengerutkan keningnya.


"Dari mana kalian mendapatkan ini?"


"Dari dada beta kami." jawab Adrian.


"Apa dia selamat?"


"Tentu saja." kata Jake.


"Aku disini." sahut Aaron yang sudah berdiri tegak. "Apa kalian menginginkan aku mati?"


"Tentu saja tidak. Tapi aku mengenal peluru ini."


"Apa dari salah satu pemburumu?" tanya Aaron.


"Tidak, bukan. Bukan milik kami." Henry menyerahkan sebuah peluru yang mereka miliki dan peluru yang mengenai Aaron ke Aaron. Aaron memperhatikannya lalu menyerahkan pada Jake.


"Peluru yang berbeda." gumam Aaron.


"Lalu... Kemana alpha Sebastian pergi?" tanya Henry.


"Dia pergi mengunjungi beberapa pack lain." kata Jake.


"Apa ini karena alpha Roger dari pack Moon Bykort?"


"Bagaimana anda tahu?" Jake terkejut.


"Aku kemari untuk menyampaikan sesuatu pada alpha Sebastian tentang alpha Roger dan setelah aku melihat peluru tadi, aku rasa ini buruk."


"Memangnya peluru apa itu?"


"Itu peluru yang biasa digunakan oleh keluarga Cigeira, keluarga pemburu yang... Cukup kejam. Lebih kejam dari kami. Keluarga Cigeira merupakan keluarga pemburu paling tua dan mereka tidak mengenal gencatan senjata. Mereka akan membinasakan pack yang menurut mereka mengancam keselamatan manusia." jelas Henry.


"Tapi kami tidak pernah menyakiti manusia biasa."


"Aku tahu itu tapi mereka tidak perduli. Kalian manusia biasa, buruan mereka, itu yang mereka perdulikan." kata Henry.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Kei yang baru saja datang. Para manusia serigala membungkuk hormat.


"Kamu adalah... Raja itu." kata Henry.


"Benar. Alpha Sebastian sedang tidak berada disini. Bicara dengan saya saja tuan..."


"Dixon, Henry Dixon."


"Tuan Dixon. Bicara saja dengan saya." kata Kei. Dia mengulurkan tangannya, mencoba bersikap ramah. "Anda tidak menganggap saya terlalu muda untuk menjadi raja kan?"


Henry tersenyum lalu menyambut uluran tangan Kei. "Tentu saja tidak, meskipun saya ingin. Anda memiliki moster itu jadi suka tidak suka, anda adalah raja dan saya menghormati anda. Lagipula anda tidak terdengar masih remaja bagi saya."


"Bagus kalau begitu." Kei tersenyum.


"Tapi yang mulia, sedang apa anda disini? Bukankah ini masih jam sekolah?" tanya Jake.


"Zach merasakan sesuatu pada betanya."


"Ya tapi sepertinya dia baik-baik saja." gumam Zach sambil memperhatikan Aaron. 


"Saya baik alpha." kata Aaron.


"Tadi beta Aaron tertembak, oleh pemburu." kata Adrian.


"Apa?" Zach melihat Henry memegang senjata lalu menggeram keras.


"Tenang alpha, itu bukan mereka." kata Adrian.


"Dia benar alpha. Aku memiliki perjanjian dengan alpha Sebastian, jadi kami tidak akan menyakiti atau membunuh manusia serigala. Tepatnya pack kalian asalkan kalian masih memegang janji kalian."


"Baiklah, aku akan... Uhuk... Menunggu anda... Uhuk..." Kei terbatuk. Dari mulutnya keluar darah.  Semua terkejut.


"Yang mulia? Anda baik-baik saja?" tanya Jake panik.


"Kei!!"


Kei lemas, dia terjatuh di tanah.


"Ini karena gadis itu." gumam Aaron.


"Gadis? Gadis apa Aaron?" tanya Ian.

__ADS_1


"Uhmm... Apa yang mulia ada mencium seorang gadis? Maksud saya... Selain yang mulia ratu?"


"Itu hanya salah paham." kata Ian.


"Saya tahu tapi... Apa benar?"


"Iya, ada seorang gadis menciumnya. Kami melihatnya." kata Jason di sambut anggukan Moles. "Namanya Jane, Jane Cigeira."


Semua orang saling menatap.


"Ada apa ini? Apa ada masalah?! Katakan!!" pekik Ian. Dia bingung melihat semua orang hanya diam.


"Uhmm beta, sepertinya raja telah di racuni."


"Racun?"


"Gadis bernama Jane itu mengolesi racun dibibirnya kemudian dia mencium yang mulia."


"Jadi itu tujuannya mencium Kei." gumam Ian.


"Biar aku periksa. Kita harus mencari tahu racun apa yang dia berikan."


Henry mendekati Kei dan melihat mulutnya. Dia membuka mulut Kei dan memperhatikan bibirnya yang berubah menjadi keunguan.


"Hampir tidak ada sisa lagi." Henry mendekatkan hidungnya ke mulut Kei. "Baunya seperti... Wolfsbane."


"Tidak, jika wolfsbane, kami sudah menciumnya."


"Ada satu wolfsbane didunia yang tidak bisa tercium baunya namun sangat mematikan."


"Tentu, hanya satu. Tapi itu sudah punah! Maksud aku... Hanya satu di--" Ian terdiam. Dia baru menyadari sesuatu. "Kristal itu."


****


Suara geraman serigala semakin jelas terdengar dan semakin banyak. Yang awalnya hanya satu serigala, kini ada tiga serigala yang mengikuti. Manuel terus berlari. Dia berhasil lolos dari penjara. Manuel berlari di tengah malam. Dengan tubuh yang penuh luka yang belum sembuh sempurna, dia berusaha berlari tanpa berhenti. Dia memaksakan dirinya untuk berlari sekuat tenaga yang dia bisa. Dia bisa mendengar alpha Roger memerintahkannya untuk berhenti. Tapi Manuel tidak nenurutinya kali ini. Hanya satu yang ada dipikirannya saat ini yaitu keluar dari pack itu.


Semakin banyak serigala yang datang dan bergabung untuk menghentikannya dan menangkapnya. Ada dua serigala yang menghadangnya di depan. Dengan tenaga yang tersisa, beta Manuel lompat tinggi dan menerjang salah satu serigala itu lalu menggigitnya dan menghempas serigala satunya dengan kepalanya. Serigala beta Manuel kembali berlari. Sebentar lagi, sebentar lagi dia sampai di perbatasan. Satu serigala melompat kearahnya dari arah samping. Serigala Manuel memutar tubuh belakangnya, menghindar dari lompatan itu lalu kembali berbalik dan berlari.


Serigala Manuel berhasil keluar! Tapi tidak sampai disitu. Semua serigala itu masih mengejarnya meskipun sudah keluar dari batas wilayah. Manuel bisa mendengar jelas perintah alpha Roger yang memerintahkan mereka menangkap Manuel hidup atau mati. Manuel hampir menyerah. Dia sudah sangat kelelahan. Tapi jika dia berhenti, dia akan tertangkap. Dia tidak ingin tertangkap, setidaknya dia ingin melihat Nathan anaknya, untuk terakhir kalinya.


Sudah beberapa lama dia berlari. Serigala di belakangnya mulai menyusul. Serigala Manuel ingin berlari lebih cepat lagi tapi tenaganya sudah tidak ada lagi. Dua serigala sudah berlari di sebelahnya. Kedua serigala itu mendekat dan melompat ke arahnya. Serigala Manuel berhenti tepat kedua serigala tadi hampir mengenainya, membuat kedua serigala itu saling bertabrakan. Satu serigala menerjangnya. Kali ini serigala Manuel tertangkap. Di berguling di tanah. Dia berusaha bangkit lagi. Serigala Manuel diserang dengan lima serigala sekaligus. Dengan tenaga yang terkuras dan kondisi yang lemah, Manuel tidak bisa mempertahan diri dengan baik. Dia sudah tergeletak di tanah, tidak berdaya.


'Apa yang harus kita lakukan sekarang?'


'Perintah alpha jelas. Tangkap dia hidup atau mati.'


'Tapi dia beta kita'


'Apa kamu mau melawan perintah alpha? Kita sudah sejauh ini!'


'Bunuh aku.' kata beta Manuel. Semua serigala menoleh. 'Bunuh aku. Aku mohon.'


Semua serigala saling menatap.


'Kita bunuh saja dia.'


'Benar. Seperti kata alpha tadi, hidup atau mati. Kita bisa membunuhnya dari pada kita bersusah payah menggeretnya sampai pack. Pack kita sangat jauh dari sini.'


'Baiklah. Siapa yang akan melakukannya?'


'Biar aku saja.'


Serigala itu bersiap untuk menggigit tapi tiba-tiba terdengar suara geraman. Geraman marah dan kasar. Mereka semua menoleh dan terkejut. Mereka kemudian ikut menggeram marah.


'Siapa kalian? Mau apa di wilayah pack kami?'


Mereka terkejut. Mereka tidak menyadari jika mereka masuk ke dalam wilayah pack lain. Mereka saling menatap satu sama lain.


'Aku bertanya pada kalian? Kalian siapa?!'


'Kamu sendiri siapa?'


'Aku Aiden, beta dari pack Moon Sykort. Kalian siapa?'


Mereka terkejut. Mereka tidak menyadari mereka berada di wilayah Sykort. Sykort adalah satu dari tiga pack terbesar. Lykort, Bykort dan Sykort.


'Kami.. Kami.. '


'Beta, sepertinya mereka adalah omega.'


'Dari pack mana kalian berasal?'


'Kami.. Dari pack Bykort.'


'Bykort? Berani sekali kalian masuk ke sini!'


'Maafkan kami beta. Kami mengejar buronan ini sampai kami tidak sadar sudah masuk ke wilayah anda. Kami mohon maaf.'


'Buronan?'


Beta Aiden mendekat ke Manuel.


'Jangan dekat-dekat, beta. Dia akan melukaimu.'


'Aku tidak takut. Lagipula dia terlihat sangat lemah.'


Beta Aiden mengendusnya dan memperhatikannya. Dia kemudian menyadari sesuatu.


'Pergilah. Pergi dari sini!'


'Baik beta, kami akan pergi dan juga buronan ini.'


'Tidak, buronan ini tinggal disini.'


'Ta-tapi beta...'


'Tidak ada tapi-tapi. Pergi dari sini dan tinggalkan buronan ini disini atau kalian hadapi pasukanku dan kalian tahu pasukan kami sama kuatnya dengan pasukan Bykort.'


Muncul satu persatu pasukan serigala Sykort. Kelima serigala itu tampak ketakutan. Mereka saling menatap sejenak kemudian berlari pergi meninggalkan pack Sykort diikuti beberapa pasukan Sykort untuk memastikan mereka benar-benar pergi.


'Kenapa anda membiarkan mereka pergi beta?'


'Biarkan saja. Aku yakin alpha mereka akan mengurus mereka dengan baik.'


'Lalu.. Kenapa dia ditinggal?'


'Karena aku ingin tahu kenapa dia menjadi buronan dan karena aku mengenalnya. Benarkan beta Manuel? Kita pernah bertemu sebelumnya.'


Beta Manuel menatap beta Aiden lalu berubah menjadi manusia. Beta Manuel tidak sadarkan diri.


'Bawa dia masuk. Aku akan menemui alpha.'


Beta Aiden berlari menuju rumah alpha mereka. Beberapa omega berubah menjadi manusia dan mengangkat beta Manuel masuk.


****

__ADS_1


Tadariez


__ADS_2