
"Kamu tidak bercanda kan?" tanya Tania. "Hey, jawab aku!"
Cayden menghentikan langkahnya. Dia mendengus kesal. Cayden menatap Tania.
"Cerewet sekali. Tidak bisa kah kamu diam?"
"Aku tidak akan diam kalau kamu tidak menjawabnya."
"Apa aku perlu menjawabnya lagi?" tanya Cayden. Tania hanya menatap kesal Cayden sambil melipat tangannya. "Aarrggh baiklah! Ya, benar ayahku yang mengirimku kesini."
"Tapi untuk apa? Lalu kenapa dia menculik kakakku?"
"Aku tidak tahu, oke? Aku sungguh tidak tahu. Sudah kukatakan aku hanya ditugaskan untuk memastikan kamu menerima surat itu dan memastikan kamu datang. Itu saja. Jadi berhentilah bertanya karena aku tidak tahu apapun!!"
Tania masih menatap kesal Cayden. Dia benar-benar ingin tahu.
"Apa kakakku baik-baik saja?" tanya Tania dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Aku tidak tahu. Bukan aku yang seharusnya menjawab itu. Ayolah, kamu ingin bertemu kakakmu atau tidak?! Karena orang yang tahu di mana kakakmu sedang menunggumu."
Tania menghela nafas. LOL"Baiklah."
Tania kembali berjalan mengikuti Cayden. Mereka sampai di sebuah dinding tebing yang sangat tinggi. Ada semak belukar yang menutupi dinding tebing itu. Cayden menyingkirkan semak belukar itu tanpa merusaknya. Tak berapa lama mereka melihat gua. Gua itu gelap dan terlihat sangat menyeramkan. Tania bergidik melihatnya. Cayden berjalan masuk kedalam gua.
"Eh tunggu dulu. Aku tidak akan masuk juga kan?"
"Bukannya kamu membawa senter? Nyalakan lampu senternya."
"Aku.. Aku benar-benar harus masuk?"
Cayden tidak menggubris pertanyaan Tania. Dia justru masuk ke dalam gua. Tania mendengus kesal lalu mengeluarkan senternya dan menyalakannya.
"Hey, jangan jauh-jauh dariku. Kamu tidak memiliki senter." tegur Tania pada Cayden.
"Tidak apa. Aku masih bisa melihat."
"Oh ya?" Tania terkejut.
"Aku manusia serigala, aku bisa melihat saat malam." kata Cayden.
"Ahh benar juga." gumam Tania.
"Dan kamu." Cayden membalikkan tubuhnya. Tania melihat dengan jelas kini bola mata Cayden berwarna biru. "Sebaiknya tetap didekatku."
"Baiklah." kata Tania. Cayden berbalik dan kembali berjalan. "Bola matamu berwarna biru. Berarti kau adalah... Gamma. Benarkan?"
"Sepertinya kekasihmu itu sudah banyak memberitahukanmu tentang kaum kami. Apa kamu tidak takut pada kami? Kami bisa saja memakanmu."
Tania terkekeh.
"Mungkin, tapi sebenarnya bagiku kalian sungguh imut dan menggemaskan." kata Tania membuat Cayden menghentikan langkahnya dan mengerutkan keningnya. Tania ikut menghentikan langkahnya. Cayden kembali berjalan, begitu pula dengan Tania.
"Walau aku akui tubuh kalian yang besar itu sungguh menakutkan, tapi kalian tetap menggemaskan." kata Tania.
"Kau aneh."
"Aku tidak aneh." protes Tania. "Tapi... Sepertinya kamu berbeda dari ayah dan kakakmu."
"Apa maksudmu?"
"Kamu terlihat seperti... Orang baik." kata Tania. Cayden menghentikan langkahnya lagi.
"Kamu tidak tahu apapun tentangku." jawa Cayden lalu berjalan kembali.
"Mungkin aku memang tidak mengenalmu tapi aku tahu pasti kamu orang baik."
"Jangan mudah percaya pada orang. Terutama orang yang terlihat baik, karena belum tentu orang itu benar-benar baik."
"Aku tahu. Tapi itu adalah pilihan. Kita bisa memilih apa yang bisa di percaya apa yang tidak dan aku tahu kamu orang baik."
"Aku bukan orang baik."
"Menjadi jahat untuk menutupi sifat asli dirimu atau terpaksa berubah jahat karena orang lain, bukan berarti sifat aslimu akan hilang."
Cayden menghela nafas kasar.
"Terserah padamu saja. Tapi apa kamu tidak takut? Kamu akan dipertemukan dengan ayahku. Bukankah seharusnya kamu takut?"
Tania terdiam sejenak.
"Uhmm... Cayden? Apa ayahmu akan membunuhku?" tanya Tania. Cayden menghentikan langkahnya untuk ke tiga kalinya. Dia terdiam sejenak lalu melangkahkan kakinya kembali.
"Aku tidak tahu." jawab Cayden akhirnya.
"Aku tidak masalah dia membunuhku asal dia membebaskan kakakku." kata Tania.
"Apa kamu tidak memikirkan kekasihmu?" tanya Cayden.
"Kei? Dia akan baik-baik saja. Dia akan mendapatkan mate kedua jika aku mati."
"Itu tidak akan semudah yang kamu katakan." kata Cayden. "Kami bukan manusia biasa. Mate bagi kami adalah sebagian dari hidup kami. Kehilangan mate berarti kehilangan setengah hidup kami dan itu sungguh menyakitkan. Butuh waktu untuk sembuh dan bisa menerima mate kedua."
"Sepertinya kamu tahu sekali. Apa kamu sudah memiliki mate?"
"Itu bukan urusanmu." jawab Caydem datar. "Kita sudah sampai."
Mereka sampai di ujung gua. Banyak semak belukar yang menutupi ujung gua itu, sama seperti pertama mereka masuk tadi. Cayden membuka jalan untuk mereka.
Tak lama Tania melihat api unggun dan beberapa orang disana. Tania mengenali satu orang di sana, Ordovick. Tania berjalan tepat di belakang Cayden.
"Ayah..."
"Ahh Cayden akhirnya. Apa kamu membawanya?"
"Ya, ayah." Cayden menoleh kebelakangnya. Tania mengintip sedikit dari balik tubuh Cayden. Tania sekarang seperti sedang sembunyi di belakang Cayden.
"Halo yang mulia." sapa Ordovick. Tania menatap Cayden yang sedang menatapnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disana?" tanya Cayden. Tania berdehem lalu keluar dari balik tubuh Cayden.
"Di mana kakakku?" tanya Tania. Dia merasa gugup tapi dia berusaha menyembunyikannya. Ordovick tersenyum.
"Disuatu tempat." jawab Ordovick singkat.
"Bebaskan kakakku."
"Dan sebagai gantinya?"
"Kalian bisa membawaku." kata Tania. Kali ini ada ketegasan di suaranya. Ordovick tertawa.
"Itu yang ingin kudengar. Bawa dia."
"Tidak!! Sampai kalian melepaskan kakakku. Jika tidak..." Tania mengeluarkan pisau kecil dari sakunya. "Apa kalian tahu jika raja Lycanthrope bisa merasakan jika pasangannya merasa sakit? Dan dia bisa mencari jejakku dengan mudah jika dia mencium darahku karena penciumannya jauh lebih tajam dari manusia serigala biasa."
"Kamu mengancamku yang mulia?"
__ADS_1
"Tidak, tapi aku akan benar-benar melakukannya." kata Tania menatap tajam Ordovick. Ordovick menatap Tania. Dia ingin tahu apa Tania hanya mengancamnya. "Apa kamu tidak akan membebaskan kakakku?"
Tania mendekatkan pisau kecil itu pada tangannya dan mulai menggores.
"Tunggu!" cegah Ordovick. Tania menghentikan tindakannya. Hanya ada sedikit darah yang keluar. Lukanya juga hanya goresan kecil. "Bebaskan dia."
Satu orang bertubuh besar membawa Andy yang sudah penuh lebam dan luka. Kedua tangannya terikat di belakang.
"Kak Andy..." gumam Tania. Dia masih berdiri di tempatnya.
"Tania?!" Andy terkejut mendapati Tania. "Tania!!"
Andy ingin menghampiri Tania tapi di tahan oleh pria yang bertubuh besar yang sedang memeganginya.
"Tania....!!" pekik Andy.
"Aku baik-baik saja kak, jangan khawatir." sahut Tania.
"Bawa dia pergi dan bebaskan dia." sahut Ordovick pada pria yang memegangi Andy.
"Baik, alpha."
Mereka membawa pergi Andy yang masih memanggil nama Tania.
"Apa kamu yakin kamu akan melepaskannya?" tanya Tania.
"Tentu saja, lagipula aku tidak membutuhkannya lagi. Kamu sudah ada disini." kata Ordovick. Dia menyeringai senang. Tania bergidik ngeri mendengar perkataan Ordovick barusan. Cayden yang sedari tadi berdiri di sebelah Tania membalikkan tubuhnya. Dia menatap lurus ke depan.
"Kamu sudah melakukan kesalahan." sahut Cayden pelan di dekat telinga Tania lalu beranjak pergi.
Benarkah?
****
Andy berjalan bersama kedua orang anggota kawanan Ordovick dan anak tertua Ordovick, Fred.
"Hanya untuk membuang anak ini saja merepotkan sekali." keluh Fred. "Sudah cukup jauh, berhenti disini saja."
Mereka berhenti berjalan saat sudah sampai di perbatasan. Mereka bahkan nekat memasuki wilayah Lykort.
"Buka penutup matanya." pinta Fred.
"Tapi.. Alpha bilang--"
"Buka saja!" sahut Fred tidak sabaran.
Salah satu anggota pack Ordovick membuka penutup matanya. Andy menggelengkan kepalanya, mencoba melihat dengan jelas.
"Mau apa kalian?" tanya Andy.
"Membebaskanmu tentu."
"Apa maksudmu? Dimana adikku?"
"Ohh dia ada.."
"Aku ingin bertemu dengannya."
"Sayang sekali itu tidak akan terjadi." kata Fred.
"Apa maksudmu? Aku ingin bertemu adikku!!"
"Kamu sudah di bebaskan tapi sayangnya mungkin adikmu tidak akan seberuntung dirimu."
"Sialan!! Siapa kalian sebenarnya?!"
"Apa maksudmu?"
"Kamu memang di bebaskan tapi aku tidak bilang dalam keadaan hidup." Fred menyeringai, semantara Andy mulai gugup. "Ahh iya, kau bertanya siapa aku? Nama ku Roger, alpha dari pack Moon Bykort."
Fred menyebut nama Roger lalu merubah dirinya menjadi serigala. Andy terkejut. Dua anggota kawanan yang lain melepaskan Andy.
"Ka-kalian mau apa?!"
Andy melangkah mundur perlahan sementara Fred terus menggeram keras. Andy berbalik dan berlari. Dia berlari tidak tentu arah.
'Dasar manusia bodoh!'
Fred berlari mengejar Andy dengan masih berwujud serigala. Dengan sekejap Fred sudah berada di depan Andy. Andy terkejut. Dia berbalik arah dan berlari kembali tapi dalam waktu singkat Fred sudah berada di hadapannya lagi. Andy berjalan mundur dan semakin lama semakin cepat. Tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon. Andy terjatuh, berguling cepat ke dasar jurang yang cukup dalam. Sesekali kepalanya terkena batu. Tak lama tubuhnya sampai ke dasar. Tubuhnya penuh luka dan darah. Andy tidak sadarkan diri.
****
Brakk!!
Pintu ruangan pertemuan terbuka kasar. Semua orang terkejut.
"Ada apa ini?" tanya ayah Kei.
"Kei, Tania menghilang." kata Anne.
"Apa?!" Kei terkejut.
"Aku tadi ke kamarnya dan dia tidak ada." kata Anne.
"Mungkin dia hanya berjalan-jalan." kata Ian.
"Kami sudah mencarinya keseluruh istana dan tidak ada tanda-tandanya!!" kata Anne setengah berteriak.
"Tadi sebelum kemari, aku bertemu dengan Tania, maksudku yang mulia. Dia sedang berjalan-jalan di taman. Katanya hanya sebentar." kata Jason.
"Kenapa tidak memberitahukannya padaku?"
"Maafkan aku Kei-- yang mulia. Tania yang memintaku untuk tidak memberitahukan padamu karena dia hanya ingin berjalan-jalan sebentar. Jadi aku menyetujuinya karena kurasa tidak akan ada apa-apa." jelas Jason.
"Jason..."
"Maaf.." Jason menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, ayo kita cari. Cari di sekeliling istana terlebih dahulu." perintah Kei.
"Baik yang mulia."
Semua orang keluar dari ruangan itu dan langsung sibuk menacari Tania. Semua maid dan penjaga di kerahkan tapi Tania tetap tidak ketemu.
"Kei, sepertinya Tania tidak disini." mindlink Ian.
"Aku tahu Ian, aku tidak merasakan kehadirannya maupun mencium aromanya dimanapun."
"Apa dia keluar istana? Malam-malam seperti ini?"
"Aku tidak tahu Ian, tapi perasaanku tidak enak. Ajak semua gamma beserta Zach dan betanya. Kita cari Tania diseluruh Lykort. Terutama perbatasan."
"Baik Kei."
Perasaan Kei mulai gelisah, dia tidak tenang. Dia tahu ada sesuatu dengan Tania.
__ADS_1
Sudah dua jam lebih mereka mencari, tapi tetap tidak menemukan Tania.
"Bagaimana?"
"Tidak ada Kei. Seperti ada yang menutupi aroma Tania. Kami tidak bisa menciumnya."
"Sial!!" pekik Kei. Dia sudah mulai marah.
"Disini!!" sahut seseorang. Semua orang berjalan ke arah mereka.
"Ada apa?"
"Kami menemukan sesorang di dasar jurang."
"Apa?! Ohh.. Tidak, tidak mungkin."
Kei ingin masuk ke jurang tapi Ian mencegahnya.
"Jangan Kei."
"Tapi aku harus memastikan itu Tania atau bukan!!"
"Sepertinya bukan yang mulia. Orang itu laki-laki." sahut omega yang baru saja keluar dari dasar jurang. Dia dan beberapa orang lainnya membawa Andy dari dasar jurang.
"Arahkan senternya." pinta Kei. Semua orang menyinari wajah Andy. Kei terkejut. "Dia... Andy."
"Kakaknya Tania. Benarkan?" tanya Ian. Kei mengangguk.
"Ian, panggil Ryan dan kalian, bawa Andy ke rumah sakit."
"Baik yang mulia."
"Suruh Ryan ke rumah sakit. Aku akan pergi kesana duluan."
"Baik, Kei."
Semua orang kembali ke istana dan ke rumah sakit tapi beberapa masih mencari Tania. Andy sudah berada di ruang gawat darurat. Kei dan Ryan menunggu di ruang tunggu dengan cemas.
"Alpha, cari saja Tania. Biar saya menunggu Andy disini." kata Ryan.
"Tidak Ryan, tidak apa-apa." jawab Kei.
"Kei..." panggil Ian.
"Apa ada kabar?"
"Tidak ada Kei, Tania hilang tanpa jejak." kata Ian. Kei mendengus kesal. "Tapi ada kabar dari alpha Sebastian."
"Apa paman menjelaskan kenapa Andy sampai di serang?"
"Lebih tepatnya pack alpha Sebastian di serang Kei."
"Apa?! Oleh siapa?!"
"Alpha Roger."
"Jadi... Maksud kamu... Semua ini karena Roger?"
"Kata alpha, mereka di serang dan katanya mereka adalah suruhan dari alpha Roger."
"Jadi maksudmu.. Mereka tidak melihat Roger?"
"Roger tidak pernah menyerang sasarannya sendiri. Dia selalu mengerahkan pasukan terbaiknya. Dia tidak akan turun tangan langsung." kata ayah Kei yang baru saja datang.
"Lalu.. Tania hilang karena Roger juga? Dan bagaimana Andy bisa sampai di Lykort?"
"Ayah tidak tahu Kei. Tapi sepertinya ini sudah di rencanakan."
Kei mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa sangat marah.
"Maaf.. Siapa yang bernama Kei?" tanya salah satu perawat yang keluar dari ruang gawat darurat.
"Saya Kei." kata Kei maju kedepan perawat itu.
"Maaf tapi pasien yang bernama Andy ingin bertemu dengan anda."
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ryan.
"Dia mengalami retak di tengkoraknya akibat terbentur dan beberapa luka sobek di wajah dan kaki. Dia juga ada pendarahan dalam. Kami harus segera mengoprasinya. Tapi sebelum itu, dia ingin bertemu dengan anda. Ikut dengan saya."
Perawat itu menuntun Kei untuk bertemu dengan Andy. Kei masuk dan melihat jelas tubuh Andy yang penuh luka.
"Andy.." panggil Kei. Andy menoleh dengan lemah.
"Roger.." kata Andy hampir tidak terdengar.
"Roger..." kata Andy lagi berusaha berbicara lebih keras agar Kei mendengar. Kei mendekatkan mulutnya ketelinga Andy.
"Berbicara pelan saja kak, aku mendengarnya." bisik Kei.
"Ro-Roger men-menculik Tania." kata Andy pelan, bahkan sangat pelan.
"Dari mana kakak tahu semua itu?"
"D-dia... me-menyebutkan... namanya... Roger... It-itu... Namanya..."
Terdengar suara mesin. Kei bingung. Beberapa perawat masuk.
"Kita harus segera mengoperasinya. Silahkan tunggu di luar."
Kei segera pergi dari ruangan itu.
"Ada apa Kei?" tanya ayah Kei.
"Andy harus segera di operasi. Dan ini semua karena Roger."
"Roger?"
"Andy bilang Tania dia bawa oleh seseorang bernama Roger."
"Andy yang bilang begitu?"
"Orang itu menyebutkan sendiri namanya, Roger."
"Tapi bisa saja itu bukan Roger."
"Tidak, saya yakin itu Roger." kata Ryan. "Bukankah dia juga ingin menculik Tania waktu itu? Tapi anak alpha Jackson mencegahnya."
"Itu benar, bagaimana Kei?"
Kei masih diam.
"Kita kembali ke istana. Kita harus menyusun rencana untuk menyerang pack itu. Dan kali ini, aku pastikan tidak akan ada yang lolos."
****
__ADS_1
tadariez