My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Menyelamatkan Tania


__ADS_3

"Aku sedang tidak bermimpikan?" tanya Ian. Ian melangkah maju dan memperhatikan sekelilingnya. "Kei ini... Benar-benar gila. Jadi para alpha itu disiksa lalu di awetkan dan dipajang disini?! Dia psikopat Kei!!"


"Aku tahu Ian. Dan tidak hanya manusia serigala disini tapi kaum hitam, kaum putih, bahkan vampir? Seandainya para vampir itu melihat ini, aku yakin mereka akan menyerang pack ini."


"Kalau begitu Kei, kita beritahukan saja pada para vampir. Ahh!! Keluarga Valhant. Jadi kita tidak perlu melawan alpha psikopat itu."


"Sebaiknya jangan. Ini adalah pertarungan kita dan sebaiknya kita yang menyelesaikannya."


"Baiklah, jika itu maumu."


"Kita pergi dari sini Ian. Aku tidak ingin membuang waktu."


Kei dan Ian pergi dari ruangan itu. Mereka keluar diam-diam dari rumah. Mereka cukup ahli dalam hal itu. Sampai di luar mereka berpura-pura sebagai anggota pack dan membaur.


Mereka dengan mudah sampai di hutan kembali.


"Untung saja tadi itu cukup mudah." sahut Kei.


"Benar, ini karena kita selalu menyelinap saat masih ada Dylan dulu."


"Hahaha ya benar. Kamu masih ingat itu Ian?"


"Tentu saja. Terlebih dibagian saat Dylan di hukum menari saat pertemuan. Bwahahaha... Bahkan itu masih sangat lucu sampai saat ini."


"Hahaha ya benar. Kasihan sekali kak Dylan. Aku jadi merindukannya." kata Kei. Ian merangkul pundak Kei.


"Aku juga Kei dan aku masih disini bersamamu."


"Aku tahu Ian, terima kasih."


"Yang mulia?" panggil seseorang. Kei dan Ian berhenti berjalan lalu menoleh. Mereka berdua terkejut. Bruce, beta alpha Roger berada di belakang Kei dan Ian. Dia sama terkejutnya dengan Kei.


"Ada penyusup, panggil penjaga!!!"


Kei dan Ian berbalik lalu berlari menjauhi Bruce. Dia dengan segera berubah menjadi serigala, begitu pula dengan Bruce dan kedua gamma yang dia bawa.


'Sebelah mana Ian? Arrgghh aku begitu buruk mengingat arah!'


'Sebelah sini Kei!'


Ian memimpin karena dia ingat dan tahu harus kemana.


'Zach?! Zach kau mendengarku?!'


'Iya Kei, aku mendengarmu.'


'Kamu di mana Zach? '


'Kami sedang mencari di hutan bagian lain wilayah ini. Kami tidak menemukan Tania di manapun.'


'Berhenti mencari Zach. Kembalilah ketempat pertemuan. Kita telah di ketahui.'


'Apa?! Baiklah. Aku akan kesana bersama yang lain.'


Bruce berlari lebih cepat. Dia melompat tinggi, mencoba menerkam salah satu dari dua serigala di depannya. Kei dan Ian berpisah sehingga Bruce tidak bisa menerkam mereka. Bruce mengejar Ian. Ian berbalik dan menyerang Bruce. Sementara Kei menghadapi dua gamma yang juga ikut mengejar. Bruce melayangkan cakarnya. Ian menghindar dan menerkam tubuh Bruce. Mereka berguling di tanah. Mereka saling melepaskan diri dan menggeram, mencoba mengamati lawannya.


"Grrr.. "


Bruce dan Ian maju bersamaan. Mereka saling menyerang. Ian melayangkan cakarnya dan mengenai Bruce tepat di wajahnya. Bruce berjalan mundur dan menahan sakit. Ian mungkin lebih muda dari Bruce tapi Ian sangat cepat. Dia memiliki kecepatan yang melebihi bahkan dari alpha biasa. Ian kembali menggeram.


'Ian, kita tidak punya waktu untuk bertarung. Kita harus pergi!'


'Kita sudah ketahuan Kei, sekalian saja.' Ian berlari ke arah Bruce.


'Tidak... Ian!!'


Ian kembali bertarung.


'Sial!'


Kei mengalahkan dua gamma yang menyerangnya. Ian terhempas didekat kaki Kei.


'Ian ayo kita pergi. Bukan saatnya bertarung. Tania, Ian dan keselamatan yang lain.'


'Benar, maaf.'


'Tidak masalah. Kita alihkan lalu pergi.'


'Baik.'


Ian dan Kei berlari lalu menyerang kedua gamma dan Bruce bersamaan. Mereka menggigit, menendang bahkan menghempas. Kei menghadapi Bruce dan terus memojokkannya. Sementara Ian sudah melumpuhkan satu gamma. Bruce terhempas keras dan mengenai dua pohon yang berdiri berdampingan. Tubuh Bruce jatuh mengenai pohon. Tubuhnya berada di atas pohon yang tumbang. Tak lama pohon yang lain yang di tabrak Bruce ikut tumbang dan menimpa tubuh Bruce. Sementara Ian sudah menggigit beta lain.


'Ian, sekarang!!'


Ian dan Kei berlari menjauh. Mereka langsung menuju ke tempat pertemuan.


'Zach, kamu di mana?'


'Sudah sampai Kei, kamu dimana?'


'Menuju kesana. Suruh mereka pergi, sekarang Zach.'


'Baik, ada beberapa penjaga dan warrior datang. Tapi akan aku perintahkan mereka untuk pergi.'


'Mereka tidak akan menurut. Gunakan posisi alpha keturunan murnimu Zach.'


'Apa itu perlu?'


'Lakukan saja!!'


"Ahh baiklah.' Zach memutuskan mindlink mereka.


'Aku rasa akan ada perang setelah ini.'


'Tidak masalah Ian. Yang terpenting kita harus menemukan Tania. Peperangan ini memang sudah mereka rencanakan. Jadi aku tidak akan terkejut lagi.'


'Benar.'


Ian dan Kei semakin mempercepat langkah mereka. Dari belakang sudah ada beberapa serigala mengejar. Kei bisa melihat Zach sedang bertarung. Zach melihat Kei dari kejauhan dan berusaha mengakhiri pertarungannya. Dia mencoba membuka jalan agar Kei dan Ian bisa lewat. Zach menghempas keras serigala yang ada di hadapannya. Kei dan Ian berlari melewati Zach. Zach ingin menyusul tapi tiba-tiba dia diserang oleh satu serigala. Zach berguling di tanah. Kei berhenti saat sudah diluar pack.


'Tidak, Zach!!'


Zach langsung bangkit. Zach melawan serigala yang tadi menyerangnya. Dia mengigit telinga serigala itu. Serigala itu mengerang. Zach kembali berlari. Tapi dia diserang lagi. Tiga serigala sekaligus. Zach terbaring di tanah, tiga serigala itu menahannya.


'Sial!!'


Kei berlari masuk ke dalam pack. Kei mendatangi Zach dan menghempas kuat salah satu serigala itu. Zach menendang salah satu serigala yang berada di atas tubuhnya. Zach mencoba bangkit tapi serigala lain menggigit kaki depan Zach. Zach mengerang kesakitan. Serigala yang di hempas Zach sudah berada di dekatnya lagi untuk menyerang. Kei dengan sigap menghadang.


'Zach pergilah!'

__ADS_1


'Tidak Kei, kita pergi bersama'


Kei dan Zach secara bersamaan melawan serigala itu. Semakin lama semakin banyak serigala yang datang. Kei dan Zach panik. Mereka di kelilingi oleh serigala yang sangat banyak.


'Tidak!! Kei!!'


'Alpha!!'


'Jangan Ian! Jangan mendekat!'


'Tidak Kei...'


'Jangan resikokan semua Ian. Aku mohon pergilah dan cari Tania, untukku.'


'Kei...'


Kei memutuskan mindlink mereka. Kei masih menatap semua serigala itu.


'Apa kamu bersama ku Zach?'


'Tentu Kei, selalu.'


Sruk!!


Sebuah pedang menancap ke tubuh Kei. Pedang perak berlapis wolfsbane. Zach yang ingin menolong Kei, ikut tertusuk. Zach mengerang kesakitan. Dia dan Kei jatuh ke tanah dan berubah menjadi manusia kembali.


"Ohh tidak... Kei!!" panggil Ian.


"Ayo kita pergi dari sini." ajak Livia.


"Apa kamu sudah gila?! Kita tidak bisa meninggalkan mereka!! Buka lagi pelindung ini."


"Maafkan aku Ian, aku tidak bisa. Karna aku sudah berjanji." kata Livia. Ian menatap Livia heran.


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah berjanji pada Kei, apapun yang terjadi padanya, kalian harus pergi dari sini dan melanjutkan mencari Tania."


"Tapi itu tidak mungkin!!" pekik Jason.


"Livia benar. Kei membuat kami bersumpah." kata Lily.


"Tidak! Kalian sudah gila!! Buka sekarang!!"


"Sudah kukatakan aku tidak bisa. Sebaiknya kita pergi dari sini dan mencari Tania."


"Dan membiarkan Kei disana?! Dia bisa mati!!"


"Dia tidak akan mati! Apa kamu tidak mempercayai Kei?!" pekik Livia. "Kei mempercayai kalian untuk mencari Tania sementara dia disana yang aku yakin akan disiksa. Kei akan bertahan karena itu kalian harus cepat!!"


Ian terdiam. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Kei akan baik-baik saja. Dia memintaku untuk percaya padanya. Dia meminta kamu dan kalian semua untuk percaya padanya dan menyerahkan Tania pada kalian!! Apa kalian akan menyerah sementara Kei dan Zach mencoba untuk bertahan. Temukan Tania lalu kita selamatkan Kei dan Zach, meskipun akan terjadi perang. Apa kalian mengerti?!" tegas Livia.


Ian tampak mengerti sementara yang lain tertunduk.


"Kita tidak punya waktu banyak Ian..." bujuk Livia.


"Baiklah. Ayo kita lakukan. Kita pergi dari sini." kata Ian akhirnya. Semua mengangguk lalu berubah menjadi serigala dan berlari menjauh. Ian masih terdiam di tempatnya dan menatap wilayah pack Roger.


'Bertahanlah Kei, Zach. Aku pasti akan datang untuk kalian.'


****


Roger hanya diam duduk melihat mereka di cambuk. Bahkan dia duduk tanpa berekspresi. Sebagian dari dirinya merasa berterima kasih atas apa yang di lakukan Ordivick di belakangnya, tanpa sepengetahuannya. Disisi lain dia merasa dikhianati. Dia menyadari mendapatkan Kei dan Zach seperti saat ini adalah suatu kebetulan. Jika tidak, mungkin dia akan kecolongan lagi.


Masih terdengar suara cambukan yang mengenai tubuh Zach dan Kei.


"Alpha, apa kita bunuh saja mereka?" tanya Bruce.


"Tidak, jangan. Aku masih ingin menyiksa mereka." jawab Roger.


"Tapi alpha, cepat atau lambat mereka akan menyerang kita untuk mendapatkan mereka kembali." Bruce menunjuk Zach dan Kei.


"Meskipun raja dan alpha ingusan itu kita bunuh, mereka akan tetap datang kemari. Jadi aku rasa tidak masalah jika aku bersenang-senang dengan mereka terlebih dahulu. Perketat penjagaan dan hentikan seluruh kegiatan kita menindas pack kecil. Suruh semua orang pulang. Kita perlu pasukan sebanyak mungkin. Lykort bukan pack kecil dan terlebih memiliki dukungan di sana sini membuatnya terlihat kuat."


"Baik alpha, akan segera saya lakukan." Bruce meninggalkan ruangan itu.


"Hentikan. Sudah cukup untuk hari ini. Kita lanjutkan besok lagi. Tinggalkan mereka. Dengan wolfsbane didalam tubuh mereka, mereka tidak akan sembuh."


"Baik alpha."


Empat orang yang mencambuk Kei dan Zach beranjak keluar dari ruangan. Roger berjalan mendekati Kei dan Zach.


"Ini sangat menyenangkan. Aku hanya ingin satu alpha dan satu beta. Tapi aku mendapatkan satu alpha dan satu Raja!! Hahahaha... Ternyata kamu hanya raja ingusan yang naif dan bodoh. Aku akan memastikan kamu kehilangan segalanya, tahtamu, keluargamu, packmu bahkan... Matemu."


Roger tertawa keras lalu meninggalkan Kei dan Zach.


"Zach..." panggil Kei dengan suara serak dan pelan. "Zach.."


Zach tersadar. Tubuhnya sakit dan penuh luka tapi dia masih bisa mendengar dengan jelas.


"Zach, kita harus... cari cara untuk.. Bisa lepas.. Dan pergi dari sini." kata Kei lagi. Zach mengangguk lemah. Kei memeriksa sekitarnya dengan sisa tenaganya. Sesekali dia meringis karena luka yang di dapatinya. "Semua penuh dengan wolfsbane."


"Apa... Apa kamu.. Yakin.. Kita bisa.. Pergi dari sini?"


"Tentu Zach, kita harus yakin. Aku yakin mereka akan menyerang pack ini secepatnya. Kita harus.. Bertahan sampai saat itu tiba."


"Akan aku... Coba. Aku.. Ingin ber... Istrirahat."


"Tidurlah, aku akan berjaga dan mencari cara."


Zach menutup matanya. Dia merasa sangat lelah dan kesakitan.


****


Beberapa serigala berlari dengan sangat cepat. Mereka berhenti di depan perbatasan Lykort.


'Kita bagi tugas. Jake dan Roland, pergi ke pack Roykolt dan beritahukan pada alpha Sebastian apa yang terjadi disini. Brad dan Jason, kalian beritahukan Alpha Oston. Adrian dan Mike, kumpulkan alpha-alpha pendukung kita. Moles, Kian dan Austin, persiapkan pasukan.' perintah Ian tegas.


'Lalu... Apa yang akan anda lakukan beta?'


'Aku dan Aaron akan mencari Tania. Aku sudah memiliki petunjuk, jadi kalian semua, pergilah! Kita tidak punya waktu.'


'Baik beta!!'


Semua orang berjalan berpisah. Mereka ketempat tujuan yang sudah di perintahkan. Hanya tinggal Ian dan Aaron.


'Apa yang akan kita lakukan sekarang? Petunjuk apa?'

__ADS_1


'Sewaktu aku kerumah alpha Roger kami mendapat petunjuk dimana Tania. Meskipun tidak secara detail, tapi sepertinya aku tahu dimana itu'


'Kau tahu? Kau tahu di mana Tania?' tanya Ryan yang baru datang.


'Ya, Ryan. Sepertinya aku tahu. Kita akan menyerang pack Bykort besok jadi kita harus bisa menemukan Tania malam ini juga.'


'Tapi kita melawan Ordovick. Kita tidak bisa hanya bertiga.'


'Apa kamu percaya padaku Aaron?'


'Tentu saja.'


'Bagaimana denganmu Ryan?'


'Tentu aku percaya.'


'Kalau begitu, percaya padaku. Aku sudah mempunyai rencana untuk itu.'


'Baiklah. Kami percaya.'


'Ayo kita pergi, kita tidak punya waktu banyak.'


Mereka bertiga kembali berlari. Ian memimpin perjalanan itu. Sampai akhirnya mereka sampai di dinding tebing yang tinggi. Ian merubah dirinya menjadi manusia, begitu juga Aaron dan Ryan.


"Untuk apa kita disini?" tanya Ryan. Dia menatap kesekelilingnya.


"Sepertinya itu ada disini. Kalau aku tidak salah ingat."


"Itu?"


"Itu. Pintu masuk sebuah gua. Ada sebuah goa. Goa itu akan menuntun kita ke sebuah hutan di luar Lykort. Aku, Dylan dan tentu Fred sering ke hutan itu lewat goa ini."


"Kamu dan.. Anaknya Ordovick... Berteman?"


"Dulu, ya.. Kami berteman." jawab Ian.


"Apa yang terjadi?" tanya Aaron.


"Dia terlalu ingin mendapatkan perhatian ayahnya. Ibu mereka sama seperti ibuku, meninggal sewaktu kami kecil. Dia kehilangan ibunya dan mencoba mencari perhatian ayahnya yang keras. Ayahku termasuk orang yang keras dan kaku tapi aku masih bisa merasakan kasih sayangnya. Tapi Ordovick sangat keras pada anak-anaknya. Jadi wajar jika anak-anaknya ingin perhatian dari ayahnya."


"Kejam sekali."


"Begitulah."


Ian mencari-cari mulut goa di balik semak belukar yang tinggi dan banyak. Aaron dan Ryan ikut mencari.


"Dapat!! Disini!!" Ian menyingkirkan semak yang menutupi mulut goa. Mulut goa itu tidak besar, hanya cukup di lewati satu orang. "Ayo kita masuk."


Ian masuk terlebih dahulu. Kemudian disusul Aaron dan Ryan.


"Gelap sekali disini." sahut Ryan.


"Gunakan mata serigalamu Ryan." ucap Ian.


"Mata serigala?"


"Seperti ini." Ian menunjukkan matanya yang bersinar berwarna kuning terang karena dia adalah beta.


"Oh wow.." gumam Ryan melihat bola mata bersinar dari Ian dan Aaron. "Apa aku juga bisa seperti itu?"


"Tentu Ryan.. Kamu beta, bola matamu akan berwarna sama. Cobalah."


"Bagaimana caranya?"


"Tutup matamu dan konsentrasilah. Rasakan kekuatan manusia serigalamu."


Ryan menurut dan menutup matanya. Tak lama dia membuka matanya dan bola matanya berubah menjadi kuning terang dan bersinar.


"Oh wow.. Ini luar biasa. Bahkan aku bisa melihat dengan jelas ditempat gelap seperti ini. Ini seperti kamera night vision yang aku punya tapi ini versi sempurnanya."


Kata-kata Ryan membuat Ian dan Aaron tertawa geli.


"Apa? Kenapa? Kenapa kalian tertawa?"


"Hanya kamu yang bisa membuat kami tertawa di saat penting seperti ini. Membuat kami lebih tenang." puji Ian lalu kembali berjalan.


"Aku bahkan tidak tahu kenapa kalian tertawa." gumam Ryan. Dia menggaruk-garukan kepalanya. Ian dan Aaron kembali tertawa.


Tak lama mereka sampai di ujung goa. Mereka mendengar suara beberapa orang disana.


"Sampai kapan kita ada disini? Aku sudah bosan berada disini." keluh satu orang disana. "Aku yakin mereka juga sudah tahu pelakunya adalah kita."


"Lalu? Disini tempat paling aman. Biar mereka menyerang alpha Roger terlebih dahulu." kata orang yang lain.


"Tapi sepertinya gadis itu semakin lemah."


"Lalu kenapa? Dia yang memilih untuk tidak makan. Lagipula Cayden, kenapa kamu begitu perhatian padanya? Jangan katakan kau jatuh hati padanya?"


"Aku tidak perhatian padanya atau jatuh hati padanya. Tapi bukankah kita menculiknya untuk memancing Kei?"


"Biarlah adikku. Lagipula gadis itu akan mati pada akhirnya."


"D-dia akan mati?" tanya Cayden. Fred mengangguk pasti.


"Tentu dia akan mati."


"Tapi kenapa harus seperti itu? Kita ingin melukai dan membunuh Kei, bukan gadis itu!"


"Ohh tenanglah. Ada apa denganmu?" Fred menatap Cayden heran. "Ahh apa ini karena mate-mu yang mati itu? Siapa namanya? Keyra?"


"Bukan urusanmu." jawab Caydrn ketus. Fred tertawa.


"Baguslah jika dia mati. Mate hanya akan menyusahkan saja."


"Karena itu kamu tidak mencari mate-mu Fred?"


"Karena itu kita tidak perlu memiliki mate!" kata Fred tegas. "Kita akan membunuh gadis itu, segera. Maka kita akan bisa membunuh Kei dengan mudah."


Dari goa terdengar suara geraman Ryan.


"Sialan."


"Sabarlah Ryan. Kita akan mencari cara untuk-- Ryan.. Tidak!!"


Ryan keluar dari persembunyian mereka dan langsung berubah menjadi serigala lalu menyerang yang ada disana. Ian dan Aaron saling tatap. Gawat!


****


tadariez

__ADS_1


__ADS_2