My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Penyerangan ke Bykort


__ADS_3

Pasukan Cavril masuk ke wilayah Bykort, sementara pasukan Bykort siaga untuk menerima serangan. Satu persatu mereka berubah menjadi serigala besar dan saling menyerang. Semua perbatasan Bykort sudah di jaga oleh pasukan Lykort. Pasukan Lykort menyerang dari segala arah. Roger terlihat tersenyum lalu merubah dirinya menjadi serigala. Dia belari cukup cepat menjauhi pertarungan. Ian, Ryan dan Aaron berlari masuk ke dalam wilayah Bykort setelah mereka merubah wujud mereka menjadi serigala. Sesekali mereka di hadang. Tapi dengan kerja sama mereka bisa melewatinya.


'Sekarang kita ke mana? Penjara khusus?' tanya Ian.


'Aku rasa percuma kita berada di sana. Aku yakin mereka tidak ada disana.'


'Bagaimana kamu bisa yakin Aaron?'


'Karena itu terlalu jelas kan? Memudahkan kita untuk menemukan mereka.'


'Tapi kita tidak bisa mengambil resiko.'


'Ryan benar, sebaiknya jangan ambil resiko. Ada berapa penjara khusus disini?"


'Dua. Ayo, aku tunjukkan jalannya.'


Aaron berlari terlebih dahulu lalu disusul Ian dan Ryan. Mereka menuju penjara khusus pertama. Penjara itu pernah di tempati Aaron sebelumnya. Beberapa serigala menyerang mereka tapi mereka bisa melewatinya dengan mudah.


Tak lama mereka sampai dia penjara khusus itu. Mereka berhenti di pintu masuk. Tidak ada yang berjaga.


'Aku tidak merasakan kehadiran Kei disini.'


'Aku juga. Tidak merasakan alpha Zach.'


'Tapi kita tetap harus mencarinya.'


Ian berubah menjadi manusia, disusul Aaron dan Ryan. Mereka mencari ke semua sudut penjara.


Sementara itu...


"Tuan Cavril.."


"Alpha Edward... Saya tidak menyangka anda ikut kemari. Seharusnya pasukan anda saja." kata Cavril.


"Tidak apa-apa Cavril. Aku hanya akan memantau. Tidak enak hanya menunggu." sahut Edward. "Apa anda tidak ikut bertempur tuan?"


"Segera, aku sedang mengamati keadaan."


"Apa ada yang salah?"


"Sepertinya. Lihat mereka." Cavril menunjuk beberapa orang berkumpul tak jauh dari medan pertempuran.


"Ada apa dengan mereka? Bukankah mereka hanya warga biasa? Kita sudah sepakat untuk tidak menyerang warga biasa."


"Aku tahu alpha. Tapi tidak semua dari mereka adalah warga, alpha. Anda lihat kumpulan lelaki disebelah mereka?" tanya Cavril. Edward mengangguk. "Mereka bukan warga biasa. Mereka terlihat bisa bertempur dan terbiasa bertempur. Saya tebak, mereka adalah warrior."


"Warrior? Tapi untuk apa mereka berpura-pura menjadi warga biasa?"


"Saya tidak tahu. Tapi sepertinya mereka menunggu."


"Menunggu? Menunggu apa?"


"Saya tidak tahu alpha. Dan lihatlah mereka yang bertempur. Gerakan mereka seakan-akan ingin mengulur waktu. Mereka terus menghindar dari serangan. Bukan menyerang. Ini aneh."


"Maksud anda ini semua jebakan?"


"Mungkin, saya tidak tahu pasti. Yang jelas perasaan saya tidak enak tentang ini."


"Tapi kita memiliki pasukan yang lebih dari cukup untuk mengalahkan Bykort."


"Ya, anda benar. Mungkin hanya perasaan saya saja."


"Mungkin."


Cavril terdiam. Dia terus berpikiran ada yang salah dengan pertempuran ini.


Sementara itu para beta..


"Bagaimana?" tanya Ryan.


"Tidak ada." jawan Aaron.


"Aku juga." Ian juga menjawab.


"Lalu dimana?" Ryan mendengus kesal. "Kita tidak punya waktu banyak."


"Kita ke penjara khusus yang lain. Tunjukkan jalannya Aaron."


Aaron berlari keluar dari goa. Tapi langkahnya tiba-tiba berhenti saat dimulut goa. Dia juga menghentikan Ian dan Ryan dan mengajak mereka bersembunyi.


"Ada apa Aaron?" tanya Ian. Aaron meminta Ian diam. Dia meletakkan jari telunjuk di mulutnya lalu melihat ke luar goa. Ian dan Ryan ikut melihat ke luar goa.


"Mereka warrior dari kuil MoonGoddes." kata Aaron


"Kuil? Untuk apa mereka kemari?" tanya Ian.


"Sepertinya untuk membantu alpha Roger."


"Bagaimana mereka mengenal alpha Roger?"


"Aku tidak tahu Ian. Tapi ini sangat berbahaya."


"Tunggu dulu. Ada apa ini? Kuil? Warrior?"


"Ada sebuah kuil, bernama kuil Moongoddess. Di sana tersimpan rahasia dari manusia serigala. Tapi masalahnya bukan itu. Yang menjaga kuil itu adalah para warrior yang sangat kuat. Kekuatannya setara dengan para alpha. Mereka sangat sulit di kalahkan, Ryan. Satu saja sulit apalagi jika kita harus mengalahkan selusin warrior itu."


"Bagaimana mereka bisa begitu kuat?" tanya Ryan.


"Akan aku jelaskan lain kali. Tapi ayahku tidak tahu menahu soal ini. Kita harus bagaimana?"


"Kata beta Cavril, kita harus terus maju mencari Kei apapun yang terjadi." kata Aaron.


"Tapi mereka bisa mati."


"Tapi Ian, usaha mereka akan sia-sia jika kita gagal. Lagipula kita juga tidak bisa membantu mereka. Hanya yang mulia yang bisa."


"Aaron benar Ian. Kita harus tetap mencari Kei." tambah Ryan.


"Baiklah. Ayo pergi."


Ian berjalan keluar goa. Dia berubah menjadi serigala dan berlari menuju penjara khusus lainnya dipimpin Aaron. Tapi di tengah jalan langkahnya terhenti.


'Aaron! Ryan! Berhenti!'


Aaron dan Ryan menghentikan langkah mereka.


'Ada apa Ian?'

__ADS_1


'Roger.' geram Ian.


Ian berlari berbeda arah dari penjara khusus ke dua. Aaron dan Ryan yang bingung ikut berlari menyusul Ian.


'Ian ada apa?'


'Itu Roger. Kita harus mengikutinya.'


'Tapi kenapa? Kita harus menyelamatkan Kei dan Zach.'


'Aku tahu Ryan tapi sepertinya firasatku mengatakan Roger akan membawa kita ke Kei dan Zach. Lihatlah, dia tidak menuju istananya. Dia pasti menuju tempat lain.'


Ian, Aaron dan Ryan masih terus berlari mengikuti Roger. Roger berlari menuju hutan. Tiba-tiba..


Bam!!


Satu serigala berdiri di hadapan mereka. Serigala itu menggeram marah. Ada bekas cakaran di wajahnya. Ian mengenali serigala itu. Bruce.


'Kalian pergi dan ikuti Roger. Aku disini menghadapi dia.'


'Tapi Ian...'


'Pergilah..!!'


Aaron dan Ryan pergi mengikuti Roger kembali. Ian menggeram keras ke arah Bruce.


'Kita bertemu lagi. Bagaimana jika kita melanjutkan pertarungan lagi?'


'Dengan senang hati.'


****


Aaron dan Ryan terus berlari semakin masuk ke dalam hutan. Hutan kali ini berbeda dari hutan yang tadi. Pohonnya sangat rimbun dan tidak tersentuh jadi terkesan membuat hutan itu jadi gelap dan mengerikan. Roger masuk ke dalam hutan itu. Aaron sedikit ragu namun akhirnya tetap masuk ke dalam hutan diikuti Ryan. Jarak mereka dengan Roger mulai menjauh dan lama kelamaan menghilang dalam gelapnya hutan.


'I-ini di mana?'


'Hutan Black. Tidak ada yang ingin memasuki hutan ini. Hutan ini terlarang di Bykort.'


'Kenapa terlarang?'


'Aku tidak tahu. Alpha Roger selalu melarang kami semua untuk masuk ke dalam hutan ini. Jika ada yang melanggar, akan di hukumnya. Bahkan banyak yang mati karena itu.'


'Hanya karena masuk hutan ini?'


'Begitulah. Dia alpha terkejam, kamu ingat?'


'Ah ya, Benar. Dan sekarang kita kehilangan jejaknya.'


'Benar.'


Mereka berdua menghentikan langkahnya. Aaron memperhatikan sekelilingnya. Entah kenapa dia merasa familiar dengan hutan ini. Tiba-tiba matanya tertuju pada semak belukar dan pohon disebelahnya. Dia mendatangi pohon itu. Ada sebuah goresan di pohon itu. Tidak jelas goresan apa tapi Aaron seperti mengenali goresan itu.


'Jadi... Kita ke arah mana Aaron?'


Aaron masih diam membisu. Dia masih memperhatikan goresan itu. Dia yakin dia mengenalnya. Dia lalu menoleh ke semak belukar di sebelahnya. Ya, dia mengenalnya. Aaron berlari menerobos semak itu.


'Hei! Kamu mau kemana?!'


Ryan mengejar Aaron menerobos semak itu. Aaron terus berlari tanpa memperdulikan semak yang dia tabrak. Sampai akhirnya dia menemukan jalan setapak. Aaron menghentikan langkahnya.


'Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba berlari?' tanya Ryan yang terkejut dengan sikap Aaron. Aaron hanya diam. Dia juga mengenali jalan setapak itu. Bagaimana bisa?


'Maafkan aku. Aku hanya seperti mengenal hutan ini.'


'Kamu mengenalnya? Bukankah ini hutan terlarang?'


'Ya dan aku tidak tahu kenapa. Tapi hutan ini terasa familiar bagiku.'


'Apa kamu pernah masuk ke dalam hutan ini?'


'Aku rasa tidak. Aku tidak tahu. Aku tidak mengingatnya. Tapi ini terasa sangat... Familiar. Lewat sini!'


Aaron kembali berlari. Dia berlari melewati jalan setapak itu. Tapi anehnya jalan setapak itu berakhir di depan semak belukar yang lebih tinggi dari sebelumnya. Aaron dan Ryan saling pandang lalu mengangguk setuju. Aaron berjalan terlebih dahulu memasuki semak belukar itu, diikuti Ryan. Mereka tidak melihat apapun awalnya dan mereka berjalan dengan pelan.


Tak berapa lama mereka sampai di ujung semak. Mereka terkejut. Ada dua serigala yang berjaga di sana. Tiba-tiba satu serigala menggeram karena dia melihat Aaron dan Ryan. Lalu serigala satunya juga ikut menggeram. Kedua serigala itu berlari menuju Aaron dan Ryan. Mereka melompat tinggi.


****


Cavril mulai kelelahan, sementara pasukannya banyak yang tumbang. Mereka menghadapi para Warrior penjaga kuil. Tubuh Cavril penuh luka cakaran dan gigitan. Edward memperhatikan dari jarak jauh. Cavril memintanya untuk tidak ikut bertempur. Karena Cavril tahu Edward sudah lama tidak merubah dirinya menjadi serigala dan tidak bertarung seperti serigala karena Edward sudah terlalu lama menjadi manusia biasa dan hidup di dunia manusia biasa.


Salah satu warrrior itu maju dan menghempas tubuh Cavril sekali lagi. Cavril sulit untuk bangkit. Warrior itu maju lagi. Kali ini untuk serangan terakhirnya. Warrior itu menggeram pelan sambil menatap Cavril dengan tajam. Edward yang melihat itu mulai panik. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia sudah lama tidak berubah dan menggunakan otot-otot serigalanya. Terakhir dia berubah saat menyelamatkan Ian. Itupun dia lakukan hanya untuk menakuti pasukan Ordovick. Dia tidak bertarung dengan menggunakan serigalanya. Aku harus bagaimana?


Warrior itu semakin dekat. Dia bersiap melompat untuk menyerang Cavril. Warrior itu melompat dan..


Bukk!!


Warrior itu terhempas kasar, namun masih bisa bangkit kembali. Warrior itu sedikit terkejut melihat siapa di hadapannya. Serigala berbulu putih dan berbola mata merah pekat, menunjukkan siapa diri dari serigala putih itu.


Edward menggeram keras. Dia sudah berubah menjadi serigala.


'Hentikan semua ini!'


Edward menatap tajam warrior itu. Datang lagi dua warrior yang lainnya.


'Kamu.. Alpha.'


'Kenapa kalian menyerang kami dan membantu Roger?'


'Kami tidak membantu siapapun. Kami hanya melakukan tugas kami sebagai warrior penjaga kuil.'


'Disini? Di medan pertempuran ini?!'


'Kami mendengar ada yang menyalahgunakan pedang yang di pinjam oleh penyihir itu dan juga kami ingin mengambil bola kristal.'


'Apa?' Edward terkejut


'I-itu...' Cavril membuka suaranya. Cavril berusaha bangkit dengan sisa tenaganya. 'Itu... Sebuah kesalahan.'


'Benar, kesalahan. Pedang itu hanya di pergunakan pada raja Lycanthrope saja. Untuk mengendalikan, bukan membunuh. Apa kalian tahu bahayanya jika pedang itu di gunakan pada manusa serigala biasa? Mereka mati. Dan kami dengar sudah dua manusia serigala mati karenanya dan kami tidak bisa mentoleransinya lagi. Terlebih, kristal itu juga tak kunjung kembali.'


'Lalu kamu menuduh kami semua itu? Apa Roger yang memberitahukan?'


'Tidak penting siapa yang memberitahukan.'


'Oh tentu saja penting, benarkan tuan Cavril?'


'Tentu alpha. Roger hanya--'

__ADS_1


'Tidak masalah. Kami datang hanya untuk menghukum karena telah menyalah gunakan barang dari kuil Dan kalian pantas untuk itu.'


Para warrior menggeram lalu mereka maju dan menyerang Edward. Edward terkejut dan kewalahan menghadapi para warrior. Warrior juga terkejut melihat cara bertempur Edward yang terkesan, lemah. Tidak seperti alpha biasanya.


'Hentikan alpha, anda bisa terluka.'


'Tidak masalah Cavril. Urus saja lukamu.'


'Tidak alpha. Mereka sangat kuat. Anda sudah lama tidak bertarung dan--'


Belum selesai Cavril berbicara, Edward sudah melompat tinggi menerjang warrior yang paling depan. Warrior itu bersiap menerima serangan Edward. Kaki depan Edward mengenai tubuh Warrior. Mereka saling mencoba menggigit. Mereka berguling ditanah dan saling melepaskan. Mereka menggeram dan kembali menyerang. Warrior itu dengan sigap menghempas tubuh Edward dengan satu dorongan kepala. Edward langsung bangkit dan mencoba menyerang lagi. Lagi-lagi Edward terhempas. Warrior mendatangi Edward yang masih di terbaring di tanah dan melayangkan cakarnya. Edward dengan cepat menghindar. Warrior itu tidak menyerah. Dia terus menyerang Edward dengan agresif sementara Edward mencoba bertahan dan menghindar. Edward mencoba mengelak lagi dari serangan warrior itu tapi terlambat. Dia terkena cakaran cukup dalam di punggungnya. Edward mengerang. Kaki belakang warrion menendang Edward keras hingga membentur dinding rumah dan rumah itu roboh seketika.  Edward mencoba bangkit perlahan.


'Sudah cukup! Aku mohon!!' kata Cavril yang kini sudah berada di antara Edward dan warrior itu.


'Menyingkirlah.'


'Tidak akan!'


'Warrior itu benar tuan Cavril, anda sudah terluka parah. Menyingkirlah. Biarkan ini menjadi pertarunganku dengannya.'


'Tidak alpha. Saya tidak pergi. Dan saya mohon panggil saya dengan beta Cavril.'


'Aku mohon pergilah Cavril. Aku tidak akan pernah berhenti bertarung. Pergi!!'


'Maafkan saya alpha tapi saya tidak akan pergi.'


Edward menggeram marah dan akhirnya memijakkan kakinya disisa-sisa dinding yang masih ada lalu melompat tinggi melewati Cavril dan mendarat tepat di hadapan Cavril.


'Kamu alpha, tapi kamu tampak tidak seperti alpha. Kamu lemah!'


'Ya, mungkin. Karena aku jarang menggunakan kekuatan serigalaku. Tapi aku tidak akan pernah berhenti bertarung.'


'Kenapa?'


'Mereka tidak bersalah. Mereka hanya terpaksa menggunakan pedang itu dan percayalah, yang mati karena pedang itu, memang pantas untuk mati.'


'D-dan kristal itu... Itu ulah Roger.' tambah Cavril.


'Tidak mungkin, dia yang memberitahukan jika kalian yang menyimpan kristal itu.'


'Itu benar, kami memang menyimpannya. Tapi sebelumnya kami mengambil kristal itu dari Roger. Karena kami yakin, dia akan menggunakan kristal itu untuk membunuh kami, para keturunan murni. Kami akan mengembalikannya setelah perang ini selesai. Percayalah.'


Warrior itu dan kedua temannya terdiam. Mereka tampak berpikir.


'Maaf.. Tapi kami tidak akan percaya dengan mudah. Suruh raja itu menemui kami. Karena kami hanya akan menuruti perkataan raja itu.'


'Roger menawannya.'


'Apa?! Bagaimana bisa?'


'Kalian pikir bagaimana perang ini bisa dimulai sekarang. Karena kami ingin menyelamatkan raja kami.'


Warrior itu terdiam lagi.


'Tidak, kami tidak percaya. Mari selesaikan ini dengan pertarungan.'


Para warrior itu menggeram dan bersiap menyerang. Gawat!


****


Aaron dan Ryan mengalahkan kedua serigala tadi dengan mudah. Mereka langsung berlari menuju sebuah goa disana. Tapi belum sampai mereka di hadang Roger yang berdiri dan menunggu.


'Lancang! Sudah kukatakan padamu, ini daerah terlarang.'


'Dan sudah saya katakan, saya bukan lagi anggota pack anda lagi.'


'Kalau begitu, kamu harus menghadapi aku.'


'So be it.'


Aaron berlari ke arah Roger. Ryan sudah memanggil Aaron beberapa kali tapi Aaron tidak mendengar. Aaron terus berlari dan menyerang Roger. Dengan mudah Roger menghempas tubuh Aaron. Aaton segera bangkit dan menyerang kembali. Tapi lagi-lagi Roger menghempasnya dengan mudah. Terus begitu sampai akhinya Roger muak dan menyerang Aaron terlebih dahulu. Roger menendang dan melayangkan cakarnya. Aaron terkena semua itu. Dia mulai lemas. Roger mendatangi Aaron yang terbaring lemah di tanah. Ryan datang dan menerjang Roger. Roger hanya termundur sedikit. Dia menggeram marah dan langsung menyerang agresif Ryan. Ryan keawalahan menahan serangan Roger. Dia terkena semua pukulan, cakaran bahkan dia terhempas berkali-kali.


Ryan dan Aaron sudah terbaring lemah tidak berdaya.


'Anak ingusan ingin melawanku? Aku?! Alpha terhebat didunia?! Kalian bodoh. Kalian sudah seharusnya mati. Dan akan aku pastikan raja dan alpha ingusan itu juga akan mati.'


Roger membuka mulutnya. Dia akan menggigit Ryan dan Aaron.


'Alpha!! Tidak..!!'


Manuel menerjang Roger. Roger terguling di tanah bersama Manuel.


'Kau!! Berani sekali..'


'Maaf yang mulia, tapi--'


Belum selesai Manuel berbicara, Roger sudah menyerang Manuel secara membabi buta. Dia sangat marah mengetahui Manuel menghalanginya.


'Alpha... Tunggu...'


Roger tidak mau mendengar. Dia terus menyerang Manuel.


'Alpha.. Saya mohon..' Manuel memelas.


Akhirnya Roger menghentikan serangannya.


'Berani sekali kamu'


'Maaf alpha.. Ma-maafkan sa-saya.. Tapi.. Tapi.. Para warrior...'


'Kenapa dengan mereka?'


'Mereka.. Telah mengetahui.. Sebenarnya..'


'Apa?! Sial!! Dimana Bruce?!'


'Saya tidak tahu alpha, saya tidak menemukannya.'


'Ikut denganku!!'


Roger berlari lebih dulu. Manuel berusaha bangkit dengan susah payah. Tubuhnya masih sakit. Dia berjalan pelan melewati Aaron. Dia menatap Aaron yang juga menatapnya.


'Cepatlah! Waktumu tidak banyak.' sahut Manuel pelan lalu berlari menyusul Roger.


'Ryan.. Ayo.. Kita harus.. Cepat..'


Aaron bangkit. Ryan juga ikut bangkit. Mereka berjalan mendekati Goa. Tapi mereka terkejut. Sudah ada satu lusin manusia serigala disana dan mereka semua adalah warrior Roger. Tidak lagi..

__ADS_1


****


tadariez


__ADS_2