
Dikelas menjadi penyiksaan sendiri bagi Tania. Pasalnya di begitu gugup. Lebih gugup dari biasanya. Karena kehadiran Kei tentu saja. Tidak hanya itu. Mata Tania juga tidak bisa di ajak kerja sama. Tania tidak ingin melihatnya tapi matanya terus saja melihat atau bahkan hanya sekedar melirik. Sialnya bagi Tania, setiap kali di melihat ke arah Kei, Kei pun juga melihat ke arahnya dengan senyuman manis pula. Huh! Rontok sudah pertahanannya. Jantungnya mulai tidak karuan lagi.
Dari belakang, Casey melihat kejadian aneh dan langka itu. Casey terus melihat Tania dan Kei secara bergantian. Bahkan Casey sampai terperanjat tidak percaya melihat senyuman manis Kei. Casey menarik satu lembar kertas dari buku tulisnya. Dia menuliskan sesuatu disana.
"Sstt... Tania." bisik Casey memanggil Tania. "Tania..."
Tania yang mendengar, berbalik. Casey dengan cekatan memberikan kertas yang di tulisnya tadi pada Tania. Tania mengambil kertas itu dan berbalik kembali.
Tania membuka kertas itu dan terkejut.
"Tania, kamu dan Kei kenapa? Apa kalian berkencan dan menjadi sepasang kekasih?"
Tania menoleh kebelakang dan memasang tampang galaknya. Casey hanya mengangkat bahu. Tania segera membalas tulisan Casey dan memberikan padanya.
"Tentu saja tidak, jangan berpikiran aneh-aneh!"
Casey tersenyum geli membaca tulisan Tania lalu menulis kembali.
"Aku tidak berpikiran aneh Tania tapi melihat keanehan. Bayangin saja, si Kei yang terkenal dengan ice prince aka gunung everest, tiba-tiba jadi taman bunga tulip di belanda. Senyum terus dan lebih aneh hanya padamu. Kamu yakin tidak berkencan? Atau mungkin dia menyukaimu? Jangan-jangan kalian sudah sembunyi-sembunyi berpacaran ya?"
Casey menyerahkan kertas itu lagi dan langsung di buka oleh Tania.
"Hah?!" Tania kelepasan. Suaranya nyaring dan satu kelas yang sedang tenang belajar, kaget dan menoleh.
"Ada apa Tania? Apa ada masalah?" tanya guru kimianya, Yamato Fujiro.
"Eh? Ti-tidak pak. Tidak ada." jawab Tania. Tania menoleh kebelakang dan melihat Casey yang tertawa geli tanpa bersuara. Bahkan dia sudah memegang perutnya yang sakit akibat tertawa.
Tania mendengus kesal melihat kelakuan sahabatnya. Gara-gara Casey dia jadi anak aneh hari ini. Tiba-tiba ada kertas baru yang sudah berada di meja Tania. Tania menoleh, mencari-cari si pemilik kertas dan menemukan Kei yang sedang menunjuk kertas itu. Tania menunjuk kertas itu lalu menunjuk Kei, meyakinkan bahwa kertas itu memang dari Kei. Kei mengangguk dan tersenyum. Tania langsung membuka kertas itu.
"Nanti malam aku jemput jam 7 ya, dandan yang cantik. Meski bukan prom tapi aku harap aku bisa menjadi pasanganmu sampai selesai nanti."
Blush... Pipi Tania langsung merona. Dia menggigit bibir bawahnya. Tania menutup matanya untuk menenangkan dirinya dan jantungnya dan Tania juga mengatur nafasnya. Saat merasa sedikit tenang, dia menoleh ke Kei dan tersenyum kaku. Kei tentu membalas senyuman itu dengan senyuman manis dan tatapan menggoda. Oh my god, i can't take it anymore. It's too much.,
Jantung Tania mulai tidak karuan lagi. Kei Lyroso Laros, kamu sudah meruntuhkan benteng pertahananku. Apa... Apa aku mulai menyukaimu?
****
Istirahat tiba. Tania dengan cepat menarik tangan Anne untuk keluar kelas karena tidak ingin Kei menegurnya. Anne yang bingung terpaksa mengikuti Tania.
"Eh Tania!! Kok aku ditinggal? Mau kemana?!" Casey dengan segera berlari menyusul Tania dan Anne. Kei dan Ian yang melihat itu hanya menatap heran dan saling pandang.
Kei berjalan ke kantin bersama Ian. Mereka tampak diam dan tenang. Ian sudah mulai berubah menjadi Ian yang dulu. Tenang dan dewasa.
"Oh iya Kei." kata Ian membuka pembicaraan. "Kamu jadi datang ke acara ulang tahun Sarah bersama Tania?"
"Jadi. Kamu dengan Anne kan?"
"Tentu. Ehm..." Ian tampak ragu. ".... Aku juga akan mengajak Anne berkencan denganku malam ini."
"Benarkah? Wah itu hebat!" kata Kei bersemangat.
"Hehehe iya." Ian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi untuk siapa diriku sebenarnya, aku tidak akan mengatakannya dulu. Aku tidak tahu sebenarnya apa aku punya keberanian mengatakan sebenarnya. Dia mate-ku. Aku takut jika dia tahu sebenarnya tentang siapa aku, bukan, apa aku. Aku takut dia akan pergi meninggalkanku."
Kei terdiam. Memang benar. Anne adalah manusia biasa, bukan manusia serigala. Tidak sedikit manusia biasa lari ketakutan gara-gara tahu siapa mereka. Ian begitu tersiksa dengan semua hal itu. Kei diam-diam juga merasakannya. Bagaimana jika Tania mengetahui semuanya. Tidak, Tania pernah mengetahuinya dan dia begitu takut dan terpukul sehingga Bian terpaksa menghilangkan ingatannya. Kei dan Ian menghela nafas berat bersamaan dan berjalan menunduk.
"Kenapa kalian lesu sekali?" tanya seseorang. Kei dan Ian mengangkat wajah mereka dan mendapati Bian sudah berdiri didepan mereka sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apa ada yang mati? Kenapa kalian terlihat mengerikan begitu? Apa ada kucing tetangga yang mati?" tanya Bian lagi.
Kei dan Ian hanya bengong melihat Bian datang ke sekolah mereka. Mereka memperhatikan Bian. Baju lengan panjang berwarna biru malam dan celana jeans berwarna putih. Rambut panjang Bian dibiarkan tergerai indah.
"Dia terlihat..." kata-kata Kei menggantung.
"Cantik." Ian melengkapi kata-kata Kei.
"Hei! Kenapa kalian jadi bergumam tidak jelas dan menatapku seperti itu?" Bian berjalan mendekati mereka.
"Ti-tidak. Tidak apa-apa. Sedang apa kamu disini? Jangan bilang kamu mau bersekolah disini." kata Kei.
"Aku belum gila. Tentu saja tidak. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi murid SMA lagi. Aku tadi habis berkeliling di sekitar sekolah bersama para gamma. Alpha yang meminta. Untuk berjaga-jaga dari...." Bian melihat ke sekelilingnya. "Serigala hybrid." bisiknya. Ian dan Kei ber oh ria bersama.
"Kalian mau kemana?" tanya Bian lagi.
"Ke kantin." jawan Ian.
"Ohh thank godness. Aku lapar. Aku ikut ya." Bian memposisikan dirinya di tengah-tengah Ian dan Kei. Lalu tangan kanannya di kalungkan ke lengan Ian dan tangan kirinya di kalungkan ke lengan Kei. "Ayo jalan."
Bian menarik kedua orang itu dengan paksa. Ian dan Kei tersenyum dan mau tidak mau ikut dengan Bian. Tapi belum lama jalan, Bian menghentikan langkahnya.
"Ehm... Kekantin sebelah mana ya? Kenapa sekolah ini besar sekali?" Bian celingukan mencari jalan. Kei dan Ian tertawa geli.
__ADS_1
"Makanya jangan seenaknya tarik orang, akhirnya tidak tahu jalan." omel Kei.
"Iya, iya maaf. Jadi kita kemana adik manis?" tanya Bian.
"A-adik manis?" Ian tampak bingung.
"Iya, panggilan kesayangku untuk Kei." Bian terkekeh. Ian menatap tidak percaya sementara Kei hanya cemberut ria. "Kenapa Ian? Apa kamu mau di panggil adik manis juga?"
"Ahh **-ti-tidak. Tidak." Ian menggelang kepalanya cepat.
"Dia tidak bisa di panggil adik manis, dia sudah terlalu tua untuk dipanggil adik manis." ucap Kei.
"Tua? Setua apa?" tanya Bian bingung.
"Alpha Sebastian dan alpha Oston yang menyuruhku masuk sekolah lagi. Tapi sebenarnya umurku sudah dua puluh lima tahun." kata Ian. Bian melongo. Lalu Bian melepas tangannya dari Ian mengamati Ian dari atas sampai bawah.
"Bwahahaha....!!" Bian tertawa geli. Dia memegangi perutnya. Ian hanya mendengus melihatnya.
"Ian, aku tahu kamu ingin cepat dewasa tapi jangan terlalu berlebihan. Tidak baik buat kesehatan mentalmu." kata Bian disela-sela tertawanya.
"Bian, dia tidak berbohong, dia memang berumur dua puluh lima tahun." jelas Kei.
"Hah?! Benarkah? Whoa..." Bian mendekati Ian. Dia memandangi wajah Ian dari dekat membuat Ian jadi salah tingkah. "Benar-benar berbeda."
"A-apanya?" tanya Ian.
"Wajahmu tidak sesuai dengan umurmu."
"Ten-tentu saja. Aku kan baby face."
Bian berdecak. "Huh terlalu percaya diri."
"Memang benar kok." Ian terkekeh
"Iya, iya. Terserah sajalah. Sekarang ayo kita kekantin. Aku lapar." rengek Bian. Kei dan Ian tertawa geli.
"Iya, ayo. Kasihan Jin kita satu ini sudah kelaparan." ucap Kei.
"Huh seenaknya saja Jin. Ku makan baru tahu rasa." ancam Bian.
"Oh? Kok kamu yang makan aku? Harusnya aku yang makan. Kan aku serigala."
"Aduh... Iya, iya serigala cerewet." Bian kembali menarik tangan kedua lelaki itu.
"Kamu kenapa Ian?" tanya Bian bingung.
"Ada Anne." sahut Ian.
"Anne? Siapa? Pacarmu?"
"Mate."
"Whoa, benarkah? Apa sudah kamu klaim?" tanya Bian lagi. Ian hanya menggeleng. "Kenapa? Apa karena dia manusia?" tanya Bian lagi. Ian mengangguk. "Oh kasihan. Tapi dia menyukaimu juga kan?"
"Itu..."
"Kamu tidak tahu?"
"Sulit menjelaskan." kata Ian akhirnya. Bian hanya mengangguk.
"Ayo kita masuk. Aku sudah sangat lapar." Bian menarik tangan Ian dan Kei lagi sampai ke meja yang diduduki Anne, Casey dan Tania.
Anne yang melihat kedatangan mereka langsung memasang wajah tidak bersahabat. Pasalnya Bian masih mengalungkan tangannya pada Ian.
"Hai..." sapa Bian ramah. Hening, tidak ada yang jawab. Hanya terdengan suara ribut murid lain. Justru mereka menatap Bian dengan pandangan berbeda.
Casey memandang Bian dan mengagumi kecantikannya. 'Wah dia cantik sekali. Tapi apa hubungan dia dengan Ian dan Kei? Kenapa mereka terlihat dekat? Apa mereka bersaudara? Ah tidak mungkin. Aku dengar Kei memang mempunyai adik perempuan tapi... Dia tidak terlihat lebih muda dari Kei? Lalu dia siapa?' Di kepala Casey sudah dipenuhi pertanyaan yang bahkan dia sendiri bingung untuk menyimpulkan.
Sementara Anne, Anne tampak tidak suka bahkan dia membencinya. Dia melihat tangan Bian dilengan Ian. 'Siapa gadis itu?! Seenaknya saja dia meletakkan tangannya disitu. Ian juga, kenapa dia mengijinkan? Huh aku sebal melihatnya. Ian menyebalkan!!' Anne mendengus kesal.
Dan Tania sibuk menata hatinya. Disisi lain dia tidak begitu perduli siapa yang di bawa Ian dan Kei. Tapi entah kenapa sisi hatinya yang lain begitu sakit. Dia merasa sakitnya sampai membuatnya sesak nafas. Ada apa denganku? Cemburu? Ah itu tidak mungkin? Apa iya?
"Sepertinya kamu benar Kei, sepertinya aku memang jin. Lihat saja, bahkan sapaanku tidak ada yang balas. Apa aku tidak kelihatan ya?" tanya Bian. Kei tertawa geli.
"Hei! Kalian kenapa tidak membalas sapaannya? Malah diam seperti itu?" Ian mencoba menyadarkan mereka.
"Ah iya. Maaf." sahut Casey. "Hai juga. Aku Casey."
"A-aku Tania. Salam kenal." kata Tania mencoba seramah mungkin.
"Aku Anne." kata Anne dingin.
__ADS_1
"Aku Bian. Kei, apa kita duduk disini?" tanya Bian sambil menatap Kei dengan wajah yang di imut-imutin. Kei terkejut melihat perubahan Bian tiba-tiba.
"Oh? Ten-tentu. Ayo duduk." ajak Kei.
'Ih siapa yang menyuruhnya duduk disini? Apa Ian akan diam saja?' gumam Anne dalam hati.
"Ian, kenapa kamu berdiri saja. Ayo duduk." ajak Bian lembut, ralat, sangat lembut. Lalu menepuk tempat duduk tepat di sebelahnya.
"Iya." sahut Ian lalu dengan segera duduk disebelah Bian. Anne melihat itu tambah kesal. Pasalnya Ian selalu duduk disebelahnya dan tidak pernah absen. Tapi Bian datang dan semua berubah seketika. Anne mendengus kesal.
"Aku lapar. Ada makanan apa?" tanya Bian.
"Kalau mau makan, ambil di sebelah sana." Kei menunjuk arah tempat beberapa orang telah mengantri.
"Jadi aku harus antri? Ah aku tidak mau!" kata Bian. Kesal Anne semakin bertambah saja. Hampir mencapai batas maksimal. 'Manja sekali cewek itu!'
"Ya sudah, kalau begitu aku ambilkan, tunggu sebentar ya?" Kei beranjak pergi membuat Tania terkejut. 'Hah? Apa-apaan dia? Tadi dia bilang ingin menjadi pasanganku tapi dia malah bersikap manis pada gadis ini. Tidak konsisten! Eh? Kenapa aku jadi kesal? Tidak Tania.. Kei bukan kekasihmu dan tidak akan pernah.'
"Kalau begitu aku yang ambil minum untukmu."
Ian langsung beranjak pergi. Anne melongo tidak percaya. Dia lalu cemberut dan memajukan bibirnya. Dan tiba-tiba..
Bukk!!
Anne memukul meja didepannya. Sontak semua orang jadi kaget. Termasuk Tania dan Casey.
"Kamu... Kenapa Anne?" tanya Casey bingung. Anne tidak menjawab hanya mendengus kesal.
Tania sebenarnya tahu kenapa. Itu semua gara-gara Ian dan cewek di depannya ini. 'Memang pantas Anne marah. Bayangkan saja, tadi Ian masuk di gandeng gadis ini, lalu duduk disebelahnya dan ditambah mengambilkan minuman? Wah Ian keterlaluan. Aku saja cemburu Kei begitu apalagi Anne. Eh? Kenapa aku cemburu? Tidak, tidak, tidak. Aku tidak cemburu. Jangan mengada-ngada Tania!'
Tania memukul kepalanya lalu menggeleng cepat. Bian yang melihat kejadian itu hanya tersenyum geli karena rencananya berhasil. Rencananya adalah membuat kedua cewek itu, Anne dan Tania, cemburu. Bian ingin tahu apa mereka mempunyai perasaan dengan Ian dan Kei atau setidaknya ada rasa cemburu. Anne sepertinya sudah termakan rencananya sementara Tania masih bisa menahan diri meskipun sesekali terlihat rautnya yang kesal. Bian mencoba dengan keras menyembunyikan senyumannya.
Tak lama Ian dan Kei datang. Kei membawa nampan makanan sementara Ian membawa sekotak jus dan coke.
"Waahh akhirnya datang juga!" pekik Bian. "Aku sudah lapar."
"Ini. Makan yang banyak. Jin juga perlu makan yang banyak." kata Kei. Sebenarnya itu ejekan buat Bian. Bian paling tidak suka dipanggil Jin. Tapi kali ini Bian mencoba menahan kekesalannya dan berubah semanis mungkin.
"Terima kasih serigala manisku." kata Bian lalu mencubit pipi Kei. Kei terkejut setengah mati. 'Kerasukan apa gadis ini?'
Bian memulai makannya. Sementara trio macan eh bukan, trio di depannya hanya memandangnya. Siapa lagi jika bukan Tania, Casey dan Anne.
"Kalian tidak makan?" tanya Bian. Trio itu serempak menggeleng.
"Sudah tadi." jawab Casey. Bian hanya mengangguk.
"Kamu tidak makan Kei?" tanya Bian.
"Nanti saja." jawab Kei.
"Aku suapin ya? Aaaa...." Bian menyuruh Kei membuka mulutnya. Kei menatap Bian heran. 'Kenapa lagi gadis satu ini?'
Bian menatap tajam pada Kei karena Kei masih tidak mau buka mulut dan masih memandangnya dengan tatapan aneh.
"Aaaa.. Kei.." paksa Bian. Dengan terpaksa Kei membuka mulutnya dan membiarkan Bian menyuapinya. Bian tersenyum penuh kemenangan. Dia melirik Tania. Dia melihat kekesalan disana dan Tania mencoba menyembunyikannya. 'I got you, girl'
Bian usil.
"Kamu juga Ian. Ayo buka mulut."
"Ahh tidak, tidak. Aku akan makan nanti." kata Ian. Dia sudah melihat tatapan membunuh dari Anne.
"Huh tidak seru." Bian menyendokkan makanan ke mulutnya. Tiba-tiba Bian tersedak dan batuk. Tentu saja itu hanya pura-pura. Huh Bian memang usil. Ian yang melihat itu langsung mengambil jus, membuka sedotannya dan memberikannya pada Bian.
"Pelan-pelan makannya." sahut Ian lembut lalu mengelus pelan punggung Bian. Bian meminum jus itu sambil menahan tawanya. 'Ah aku sudah hampir tidak bisa menahan tawa lagi.'
"Terima kasih serigala manisku." kata Bian lalu mendekatkan wajahnya pada Ian dan mencubit pelan pipi Ian. Ian terkejut tapi tidak terlalu menggubrisnya. Dia hanya tersenyum.
Brukk!!
Ini kali kedua Anne memukul meja. Semua kembali terkejut dan menatapnya.
"Cukup sudah, aku tidak tahan lagi!" kata Anne setengah berteriak. Dia berdiri dari duduknya.
"Anne, kamu kenapa?" tanya Casey.
Anne berjalan dan berhenti di antara Bian dan Ian. Dia menatap Bian dingin.
"Jangan pernah lagi menyentuhnya, karena dia milikku." kata Anne lalu menarik Ian pergi.
Casey dan Tania melongo takjub pada temannya yang pergi. Bian tersenyum geli. 'Aku berhasil!'
__ADS_1
****
...Tadariez ...