
West Virginia
Roger duduk di atas batang kayu. Dia menunggu ke datangan Kei sedari tadi tapi Kei tidak terlihat sama sekali. Bruce sudah mulai khawatir. Dia mendatangi Roger setelah memeriksa sekitarnya.
"Alpha, sudah hampir tengah hari. Bagaimana jika mereka tidak datang?" tanya Bruce.
"Tidak, aku yakin mereka akan datang." ucap Roger yang sebenarnya berlawanan dengan hatinya. Dia tidak yakin Kei akan datang. Jika dia di posisi Kei, tentu dia akan datang. Demi harga dirinya. Tapi Kei berbeda dari Roger dan dia tahu itu. Jadi dia tidak yakin Kei akan datang atau tidak. Anak remaja itu sulit di tebak. Roger menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Dia berusaha meyakinkan hatinya yang berlawanan dengannya.
"Anda baik-baik saja alpha? Sepertinya anda begitu resah." tanya Bruce yang melihat ke khawatiran Roger.
"Aku baik Bruce. Jangan khawatir." kata Roger tapi raut wajah dan hatinya berkata lain.
****
Ian berdiri di tepi jurang. Dia menunggu kedatangan Kei. Mereka janjian bertemu di sana. Mereka terpaksa berangkat terpisah, agar yang lain tidak mengetahui rencana mereka.
"Ian..." panggil Kei. Ian menoleh. "Apa kamu sudah siap?"
"Tentu, bagaimana denganmu?"
Kei berjalan mendekati Ian. Dia membawa tas ransel di punggungnya. "Aku juga. Tapi kemungkinan ini memang jebakan seperti katamu, jadi kita harus bersiap dengan yang terburuk."
"Hmm... Ya. Aku harap itu hanya firasatku saja." gumam Ian.
"Aku juga harap begitu."
"Lalu.. Dengan apa kita kesana? Kita sudah tidak punya waktu lagi. Kita tidak akan sampai tepat waktu meski dengan berubah menjadi serigala."
"Aku tahu. Karena itu aku meminta bantuan seseorang."
"Benarkah? Siapa?"
"Aku."
Ian dan Kei menoleh ke arah suara. Livia berjalan mendekati mereka. Dia mengenakan celana jeans dengan style cropped wide-leg berwarna biru tua dipadankan dengan sweater hijau muda.
"Apa kalian yakin dengan hal ini?" tanya Livia. Dia mengerutkan keningnya.
"Tentu saja kami yakin." jawab Kei. Livia menghela nafas.
"Baiklah. Apa kalian sudah siap?" tanya Livia. Kei dan Ian mengangguk serempak. Livia memegang tanga Ian dan Kei. "Kita pergi."
"Teleportatian."
Mereka menghilang dari jurang itu, melayang sejenak lalu muncul di sebuah hutan. Hutan yang berbeda dari sebelumnya.
"Apa ini West Virgina?" tanya Ian.
"Tentu saja, aku sudah terlatih untuk melakukan teleportasi." ucap Livia sedikit tersinggung.
"Ah hahahaha.... Maaf." kata Ian sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Dimana kalian akan menemuinya?" tanya Livia.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku mencium bau manusia serigala disini." kata Kei.
"Kalau begitu ikuti saja baunya. Sementara kalian pergi aku akan mencoba mengikuti perlahan. Apa aku bisa meminta darahmu sedikit?" tanya Livia.
"Darahku? Untuk apa?" tanya Kei bingung.
"Agar aku bisa melacakmu. Jadi aku tahu posisimu. Jika aku tahu posisimu, aku akan bisa meletakkan tali pita merah ini di beberapa pohon sedekat mungkin dengan posisi kalian berada. Kalian bisa menemukan dan mengikuti pita merah itu untuk menemuiku. Karena aku tidak bisa mendekati kalian. Mereka akan mencium bauku." jelas Livia. Kei dan Ian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Ini.." Kei menyerahkan tangannya. Livia mengambil pisau kecil dan melukai sedikit jari telunjuk Kei dan mengambil darahnya lalu diletakkan dalam botol kecil.
"Sudah, pergilah." kata Livia.
"Apa kamu yakin itu cukup?" Kei menunjuk botol berisi darahnya.
"Cukup. Pergilah, kalian akan terlambat."
"Baiklah, kami pergi. Terima kasih."
"Jangan berterima kasih sekarang, nanti saja saat kalian sudah selamat. Ingatlah untuk mengikuti pita merah yang aku ikat dipohon." Livia mengingatkan.
"Kami mengerti. Sampai jumpa."
Kei menitipkan tas ranselnya pada Livia lalu bersama Ian berubah menjadi serigala dan berlari masuk ke dalam hutan. Mereka terus masuk dengan mengikuti bau yang di cium Kei.
Tak lama Kei sampai di tengah hutan. Dari jauh dia melihat alpha Roger dan betanya Bruce. Roger yang mengetahui kedatangan Kei langsung tersenyum sinis dan berdiri. Akhirnya..
"Selamat datang yang mulia." kata Roger sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Tidak usah berbasa basi denganku. Katakan saja apa yang kau mau." kata Kei yang sudah berubah menjadi manusia dengan dingin.
"Aahh maafkan saya. Saya hanya bersikap sopan." kata Roger lalu tersenyum sinis. Kei duduk di atas batang kayu sementara Ian berdiri disisinya. Dia menatap Roger dan Bruce penuh waspada.
"Katakan, apa maumu?" Kei berusaha terlihat tidak gugup dan lemah.
"Aku ingin memberikan penawaran tentu." kata Roger akhirnya. Dia duduk tepat di depan Roger.
"Penawaran?"
"Iya. Aku tahu kamu pasti menginginkan Ordovick, pamanmu."
Kei tertawa kecil. "Dia bukan pamanku lagi." kata Kei.
"Ahh maafkan aku. Maksudku Ordovick, hanya Ordovick."
"Ada apa dengannya?"
"Dia ada bersamaku di bawah perlindungan packku."
"Aku tahu itu, lalu?"
"Aku akan memberikannya padamu." kata Roger. Kei mengerutkan keningnya. "Itu benar. Karena berada di bawah perlindungan packku berarti dia milikku yang artinya aku bisa melakukan apapun padanya, bahkan membunuhnya dan aku akan melakukannya untukmu. Atau mungkin kamu ingin membunuhnya sendiri, akan aku serahkan dia padamu."
"Kenapa kamu mau melakukan itu?"
"Well, aku tahu apa yang dia lakukan selama ini padamu, pada kakakmu dan keluargamu. Jadi sudah sepantasnya dia diperlakukan seperti itu." sahut Roger masih dengan nada santainya.
"Lalu kenapa kamu menerimanya dan melindunginya di packmu?"
"Karena aku berpikir dia akan berguna. Tapi ternyata dia hanya sampah yang tidak berguna di packku."
"Apa kamu yakin hal itu?" tanya Kei mencoba meyakinkan. Kei tampak curiga dengan Roger.
"Ya, tentu. Aku bisa menukarnya dengan sampah di packmu."
"Sampah di packku? Sepertinya kamu salah paham disini alpha. Aku tidak mempunyai sampah di packku."
"Bagaimana dengan alpha Zach? Atau bahkan betanya, Aaron?"
"Kenapa dengan mereka?"
__ADS_1
"Aku bisa menukar ordovick untuk salah satu dari mereka."
Kei tertawa.
"Kamu pikir itu sepadan? Itu sangat tidak sepadan alpha. Zach dan Aaron adalah anggota terbaik dan berharga. Sementara Ordovick?" Kei tertawa lagi. "Kamu benar alpha. Dia memang sampah. Aku tidak membutuhkannya. Kalian bisa melakukan apapun dengannya, aku tidak perduli. Aku rasa pertemuan ini sudah selesai. Ayo pergi Ian."
Kei mulai berdiri dan beranjak pergi.
****
Sementara itu sepeninggal Kei.
Livia mengambil kertas dari tasnya lalu di letakkannya di tanah.
"Apaerentina alluf"
Kertas kosong itu menjadi peta dari hutan itu. Livia meletakkan darah Kei di tengah peta lalu Livia membaca mantra.
"Căutare, Găsi, marcă."
Dia terus mengulangi mantra itu. Sampai akhirnya darah Kei mulai bergerak. Darah itu menunjukkan di mana Kei berada. Darah itu terus bergerak hingga akhirnya berhenti. Livia menggulung kertas itu lalu menyimpannya dan mengeluarkan tali pita merah yang telah di potong menjadi ukuran kecil.
Tiba-tiba terdengar suara geraman keras dari belakangnya. Livia terkejut. Dia sudah tahu suara apa itu. Livia berbalik dan menemukan tiga serigala besar di hadapannya. Satu berbulu coklat, satu abu-abu dan satu lagi abu-abu putih. Masing-masing serigala menggeram.
"Dipercantian!"
Livia mengarahkan tangan kanannya ke serigala berbulu coklat yang ada disebelah kanannya. Serigala itu terhempas tapi tak lama Livia juga ikut terhempas. Tubuhnya mengenai pohon. Livia meringis kesakitan.
Kedua serigala itu mulai menyerang Livia lagi.
"Scut Protectatian!!!"
Livia membuat pelindung tak terlihat. Menahan serangan tiga serigala itu. Tapi serigala-serigala itu begitu kuat.
"Explocida scut!!"
Pelindung tak terlihat yang digunakan Livia pecah dan membuat ketiga serigala itu terhempas.
"Candeconsti!"
Livia memingsankan ketiga serigala tadi. Dia menghela nafas lega. Dia berpikir dia tidak akan sanggup melawan tiga manusia serigala itu. Livia mengikatkan tali itu pada pohon dan memberikan darah Kei sedikit lalu membaca mantra dan membuat tali pita merah itu bersinar sejenak kemudian kembali seperti semula.
Livj kembali berjalan dengan waspada. Dia menyadari mereka tidak sendirian disini dan tidak hanya tiga serigala itu yang ada disini.
*****
"Tunggu. Aku belum selesai yang mulia." kata Roger yang masih duduk di tempatnya. Kei menghentikan langkahnya dan menatap pergi. "Aku hanya ingin mengetahui seberapa perdulinya kamu dengan Ordovick dan ternyata dugaanku benar. Kamu tidak perduli sama sekali. Jadi tentu saja itu bukan penawaranku padamu."
"Katakan saja apa maumu! Jangan berputar-putar." sahut Kei tidak sabaran.
"Aku mau Zach dan Aaron."
Kei menatap tidak percaya. "Untuk di tukar dengan Ordivick lagi?"
"Tentu tidak. Tidak dengan sampah itu. Tapi di tukar dengan perdamaian."
Kei mengerutkan keningnya. "Perdamaian?"
"Ya, yang mulia. Perdamaian, dariku." sahut Roger. "Kamu dan aku sama-sama tahu, apa akhir dari semua ini. Perang, perang dan perang. Tidak akan ada yang mau mengalah dan jika memang terjadi perang, kita tahu akan banyak yang terkena imbasnya. Jadi aku menawarkan perdamaianku. Aku bahkan akan mengakuimu sebagai rajaku. Hanya dengan menyerahkan Zach dan Aaron padaku."
"Kenapa kamu sangat terobsesi pada mereka?"
Ya, Kei bener-bener heran. Sebenarnya Roger hanya tinggal menyerah, meninggalkan Zach Aaron dan menjalankan packnya dengan damai. Tapi dia justru memilih cara yang sulit.
"Karena mereka telah menghancurkan harga diriku. Jadi sudah seharusnya aku juga ingin menghancurkan mereka." terlihat dari raut wajah Roger yang berubah marah.
"Kenapa? Karena dia alpha keturunan murni? Aku bahkan hampir saja membunuhnya jika yang terpilih tidak ikut campur waktu itu." kata Roger. Roger berdiri dari duduknya. "Jadi bagaimana yang mulia? Dua orang itu dengan perdamaian kita. Itu hal yang sebanding. Aku merasa tidak perlu ada pertumpahan darah orang yang tidak bersalah bukan?"
Roger menyeringai. Kei menatapnya kesal.
"Aku lebih memilih bertarung dari pada menyerahkan anggotaku padamu."
"Aaahh jadi kamu lebih memilih mengorbankan orang banyak daripada menyerahkan dua orang itu?"
"Jika itu yang memang harus kami lakukan, akan kami lakukan. Kami bertempur bersama untuk memperjuangkan hal yang sama."
"Ohh yang mulia, jangan terlalu melebih-lebihkan. Sebenarnya ini pertarungan antara kau dan aku. Karena aku tidak mau mengakuimu sebagai rajamu, benarkan?" tebak Roger.
"Kamu terlalu percaya diri. Aku tidak perduli kamu mau menganggapku raja atau tidak. Aku menyetujui berperang denganmu karena kamu telah menyakiti orang-orang terdekatku."
"Apa ini tentang mate anda?"
Kei terdiam. Dia menggeretakkan gerahamnya, menahan amarahnya. Kini jelas sudah, semua itu ulah Roger.
"Aku rasa tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Mari pergi Ian."
Kei berdiri dan melangkah pergi menjauh. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun.
"Apa sebenarnya yang dia inginkan? Apa dia ingin mengulur waktu atau dia merencanakan sesuatu?" tanya Ian setelah mereka cukup jauh dari lokasi pertemuan tadi.
"Aku rasa dia merencanakan sesuatu. Ada yang aneh." gumam Kei.
"Apa yang aneh?"
"Dia sepertinya melepaskan kita dengan mudah, tidak... Sangat mudah."
Ian tersadar. "Ahh itu benar.. Itu aneh."
Kei dan Ian masih berjalan menyusuri hutan. Mereka mencari pohon yang diikat tali merah oleh Livia.
"Uhm... Dimana pohon itu? Apa kita tersesat? Sepertinya--"
Kei memegang tangan Ian, menahannya agar berhenti berjalan.
"Ada ap--"
"Sstt...."
Kei terdiam mendengarkan sesuatu. Dia mempertajam pendengarannya. Ian juga ikut melakukannya.
"Apa kamu dengar?" tanya Kei.
"Ya, detak jantung." bisik Ian. "Satu, dua.. Banyak."
Kei dan Ian saling pandang.
"Sudah kukatakan Ian, ini terlalu mudah." bisik Kei.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ian.
"Kita lari saja Ian, mereka banyak. Meskipun kita melawan kita tetap akan kewalahan." Kei terdiam menatap sekeliling. Kei menutup matanya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam.
"Sedang apa kamu?"
__ADS_1
"Aku akan mencari bau Livia dengan mata Lycanku." kata Kei dengan masih menutup matanya.
"Apa kamu yakin bisa melakukannya tanpa berubah?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku harus mencoba, Ian. Ini cara satu-satunya. Hanya mata monster Lycan yang bisa melihat lebih tajam, jauh dan juga bisa membedakan bau."
Kei membuka matanya. Bola matanya berubah menjadi putih pekat. Dia mencoba melihat. Beberapa berwarna merah tua, itu adalah manusia serigala. Kei sedikit terkejut karena jumlah mereka yang banyak. Kei mencoba mencari lagi.
"Kei cepatlah, mereka semakin dekat!" kata Ian.
Kei masih terus mencari bau Livia. Dapat! Tipis, tapi dia yakin itu Livia. Bau penyihir berwarna biru cerah. Kei menutup matanya dan membukanya kembali. Bola matanya kembali menjadi hijau.
"Kei....!! Cepat!"
"Disana! Ayo!!"
Kei berubah menjadi serigala diikuti Ian. Mereka berlari dengan Kei memimpin di depan. Serigala dari pack Roger mendekat. Mereka ikut berlari mengejar Kei dan Ian. Kei dan Ian mempercepat larinya. Tak lama mereka berhenti. Mereka kehilangan bau Livia.
'Lewat mana Kei?'
'Aku tidak tahu, aku tidak bisa merasakannya lagi.'
'Mereka semakin dekat.'
Terdengar suara geraman keras dan semakin keras. Kei mencari kesekeliling.
'Itu! Tali pita merah!'
Kei berlari lagi. Serigala-serigala musuh sudah berlari di samping mereka. Mereka mempercepat larinya. Serigala yang berlari di sebelah kiri Kei mulai mendekat. Serigala itu melompat dan memijakkan kakinya ke pohon di dekatnya lalu melompat tinggi ke Kei. Kei menunduk untuk menghindar dan berhasil. Dia menghindari serigala itu. Kei kembali berlari. Dia berusaha menghindari pohon sekaligus serigala-serigala yang mencoba menyerangnya. Kei masih berlari mengikuti tali pita merah Livia.
Terdengar suara erangan dari belakangnya. Kei menghentikan larinya. Ian sudah di serang dua serigala. Dia melawan mereka berdua. Kedua serigala itu menyerang Ian bersamaan. Mereka mengapit tubuh Ian, mencoba menggigitnya.
'Ian!!'
Kei mencoba membantu. Tapi Ian melarangnya.
'Tidak Kei, pergilah.'
Ian masih bergulat. Kini dia berada di bawah serigala itu. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Tiba-tiba tubuh Kei terjatuh ditabrak satu serigala. Kei berhasil menendang serigala yang menubruknya lalu datang lagi serigala lain, terus begitu.
Melihat Kei kesusahan, Ian yang masih di bawah tekanan dua serigala menendang salah satu serigala itu dan memukul yang satunya dengan kepalanya. Ian berjalan mundur dengan tertatih. Kakinya ada bekas gigitan. Ian berbalik dan menyerang serigala yang menyerang Kei. Serigala itu terhempas. Ian berdiri menggeram di depan Kei. Kei bangkit dan membelakangi Ian.
'Bagaimana ini Kei?'
'Kita serang bersama. Aku serigala di depanku, kamu serigala di depanmu.'
'Baik.'
'Serang!'
Kei melompat tinggi dan menangkap salah satu serigala dengan kaki depannya lalu mengigitnya keras. Serigala itu mengerang kesakitan dan mundur perlahan. Kei menyerang serigala lain. Serigala terus berdatangan pada Ian dan Kei. Mereka kewalahan.
Livia tiba tidak jauh dari sana. Dia mengikuti peta yang terdapat darah Kei. Dia terkejut mendapati betapa banyaknya serigala yang menyerang Kei dan Ian.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"
Livia panik. Terlebih dia melihat Roger baru sampai disana. Livia merentangkan kedua tangannya.
"Misto Helamo"
Kabut mulai muncul dan semakin tebal. Semua serigala terkejut, bahkan Roger sekalipun. Roger menggeram.
"Penyihir. Cari mereka dan jangan sampai lolos!!" perintah Roger.
Para serigala menurut dan mulai mencari. Livia juga mencari Kei dan Ian.
"Kei, beri tanda keberadaanmu. Ayolah..." kata Livia dalam hati.
Livia gugup karena Kei belum juga ketemu sementara kabut yang dibuat Livia semakin tebal. Tiba-tiba Livia melihat sepasang bola mata berwarna merah disebelah kirinya dan bola mata kuning tidak jauh darinya.
Livia berlari ke arah bola mata merah itu sambil membaca mantra.
"Winhale Minimo!!"
Angin kecil berhembus di sekitarnya saat dia berlari dan benar saja itu Kei dan Ian. Livia mengenali serigala Kei dan Ian. Livia memegang Kei dan kemudian Ian juga lalu berteleportasi.
Mereka melayang sejenak lalu mendarat di rerumputan dengan matahari yang bersinar terang. Kei dan Ian berubah menjadi manusia kembali dan langsung merebahkan dirinya di atas rumput lalu menghela nafas lega.
"Itu tadi hampir saja. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertarung." kata Ian.
"Ya, aku juga."
"Kalian ini raja dan beta, kenapa lemah sekali? Aku lelah." ucap Livia yang ikut berbaring didekat mereka.
"Mereka itu banyak Livia."
"Tapi bukannya kalian itu lebih kuat dari mereka?" Livia duduk dan menatap Ian dan Kei.
"Tapi tetap saja..."
"Huft! ternyata kalian sama saja." ejek Livia.
"Hei, hei..."
"Apa? Seha..."
Livia terdiam dan tampak terkejut.
"Selamat siang, ku rasa. Yang mulia.. Beta.. Dan juga kamu Livia." sapa seseorang. Livia masih membisu. Kei dan Ian menoleh dan mendapati Damian sudah bersama mereka. Ian dan Kei langsung duduk seketika.
"Damian!! Kejutan yang menyenangkan! Apa yang anda lakukan disini?" sapa Kei.
"Seharusnya saya yang bertanya yang mulia. Sedang apa anda disini?" tanya Damian.
"Apa maksud anda?" Kei berdiri. "Kami sedang berada di..."
Kei terdiam. Dia melihat ke sekelilingnya. Tampak berbeda, tidak, sangat berbeda. Bangunan kuno dan pepohonan. Kei menatap Damian yang sedang menatapnya heran.
"Ini.... Dimana?" tanya Kei heran.
"Jelas sekali ini bukan di pack alpha Sebastian." kata Ian menambahkan. "Livia, kamu membawa kita kemana?"
"Uhmm.. Maafkan saya... Hanya tempat ini yang terpikirkan oleh saya saat itu." sahut Livia. Livia menundukkan kepalanya, tampak sangat bersalah.
Tak lama muncul beberapa penyihir dan mereka semua berpakain kuno. Gaun panjang, jas yang aneh. Kei mengerutkan keningnya.
"Lalu ini di mana?" tanya Kei.
"Yang mulia... Selamat datang di Disprea. Kota penyihir." sambut Damian. Kei dan Ian melongo mendengar itu.
"Tu-tunggu dulu, Disprea? Kota penyihir? Yang isinya semua penyihir?"
"Iya betul. Sekarang ceritakan padaku yang mulia, bagaimana anda bisa bersama Livia dan masuk kemari. Karena kota ini tidak bisa dimasuki oleh yang bukan penyihir. Biasanya mereka akan mati jika mencoba masuk. Lalu.. Kenapa kalian bisa sampai disini?"
__ADS_1
****
tadariez