My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Aku Akan Mengajaknya.


__ADS_3

Bukk!!!


Zach terhempas ke tanah, tapi dia langsung berdiri kembali. Dia mencoba menghalangi pukulan yang akan dia terimanya. Sekali, dua kali, Zach bisa menghindar tapi..


Bukk!! Bukk!!


Zach terkena pukulan lagi. Kali ini Zach tidak langsung bangkit, tapi justru berbaring di tanah. Dia mengatur nafasnya sejenak lalu duduk.


"Bisakah kita beristirahat sebentar?" pinta Zach.


"Tidak, tidak bisa Zach. Kau harus berlatih." kata Roland.


"Tapi kita sudah melakukannya selama dua jam. Aku sudah lelah. Aku mungkin mempunyai serigala dalam tubuhku tapi aku masih manusia!" protes Zach.


"Hei, lalu kamu pikir kami bukan manusia?" Brad juga protes.


"Lalu kenapa hanya aku yang melakukan ini? Austin dan Brad tidak?"


"Itu karena mereka telah melalui latihan ini sebelumnya. Sudahlah ayo kita lanjutkan." ajak Roland lagi.


"Biar aku saja kali ini." sahut Adrian.


"Tidak, tidak. Kalau dia yang melakukannya dia akan menjadi brutal. Bisa-bisa aku menjadi mayat."


"Jangan berlebihan Zach."


"Aku tidak berlebihan. Kau membenciku."


"Aku? Aku tidak membencimu. Jangan mengada-ngada. Bukannya kau di juluki ice prince atau... Apa sebutannya? Pokoknya itu. Tapi kau tidak tampak seperti itu. Kau sungguh cerewet."


"Aku tidak perduli. Aku ingin istirahat."


Zach berdiri dan membersihkan celananya. Dia berjalan menuju tasnya yang sudah berada bersama Rodney dibawah pohon. Tapi saat Zach menunduk untuk mengambil minuman sesuatu melewatinya. Sebatang kayu berukuran sedang melewatinya dan mengenai pohon bahkan hampir mengenai Rodney.


"Hei! Apa-apaan tadi?!" pekik Zach. "Kau hampir mengenaiku dan temanku!"


"Aku belum mengijinkanmu istirahat Zach." kata Adrian.


"Aku hanya ingin minum. Lagipula kau tidak perlu menggunakan kekerasan seperti itu. Kamu cukup mengatakannya saja." Zach terlihat marah.


"Jika aku mengatakannya saja, apa kau mau menurutinya?" kata Adrian. Dia tersenyum sinis. "Tidak akan Zach."


"Kenapa kau membenciku?"


"Sudah aku bilang aku tidak membencimu." kata Adrian dingin. "Ayo, lanjutkan."


Adrian bersiap agak jauh dari Zach berdiri. Zach mengepalkan kedua tangannya. Dia begitu kesal. Zach akhirnya mendatangi Adrian.


"Ayo kita mulai." kata Adrian saat Zach sudah ada di depannya. "Serang aku."


Zach melayangkan pukulan, tendangan tapi tak ada satupun yang mengenai Adrian. Adrian langsung memukulnya dan mengenai tepat di wajah Zach.


"Ayolah Zach, kita bertarung menggunakan serigala kita. Sudah seminggu ini kamu hanya berlatih seperti ini dan sama sekali tidak ada kemajuan." ucap Adrian. Zach sudah dilatih selama seminggu oleh teman-teman serigalanya. Ayahnya pamit untuk melakukan sesuatu sehingga tidak bisa melatihnya.


"Aku tidak mau. Kau tahu aku tidak bisa mengendalikannya." ucap Zach datar.


"Kamu tidak akan bisa mengendalikannya jika kamu terus tidak mau berubah dan menggunakan serigala itu." kata Adrian.


"Aku tidak perduli. Aku tidak akan berubah."


"Dasar keras kepala." Roland menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, aku akan memaksamu." kata Adrian.


"Hei, hei. Tidak perlu dipaksa begitu. Biarkan saja." sahut Roland.


"Dia tidak akan pernah berubah Roland, aku bisa jamin. Dia terlalu pengecut." ejek Adrian. Zach menggeretakkan gerahamnya.


"Aku tidak perduli." sahut Zach.


"Tapi aku perduli."


Adrian kembali memukul Zach yang tidak siap untuk menerima pukulan. Adrian masih terus saja menyerang. Roland mencoba menghentikan Adrian. Brad dan Austin sudah berdiri didekat mereka, bersiap untuk melerai.


"Adrian, enough!"


"Roland, apa kau tidak sadar? Dia bisa berubah jika dia marah." kata Adrian yang telah menghentikan pukulannya.


"Apa maksudmu?" Roland menatap bingung.


"Apa kamu tidak ingat? Aku yang membuatnya marah waktu itu, karena itu dia berubah menjadi serigala. Jadi aku kan membuatnya menjadi serigala lagi."


Adrian menyerang kembali. Kali ini tidak ada yang menghentikannya. Mereka semua tahu cepat atau lambat, Zach harus bisa menerima jika dia adalah manusia serigala dan dia juga harus bisa menguasai semuanya.


Zach bisa menahan serangan Adrian, bahkan membalasnya. Roland tidak tinggal diam. Dia juga menyerang Zach, begitu juga Austin dan Brad. Mereka berempat menyerang Zach. Zach kesulitan. Dia sudah terbaring ditanah tapi keempat manusia serigala itu terus menyerangnya. Rodney yang melihat ingin membantu tapi dia tidak akan bisa melawan empat manusia serigala yang kekuatannya jauh lebih kuat darinya.


"Aaakkkkkhhhhhhhh......!!!!!"


Seorang perempuan datang dengan membawa kayu panjang di tangannya. Perempuan itu menyerang Adrian, Roland, Brad dan Austin. Mereka yang terkejut dengan kedatangan perempuan itu langsung mundur. Perempuan itu masih menggoyangkan kayu panjang itu. Lalu dia berhenti dan meletakkan kayu itu di belakang tubuhnya.


"Kalian siapa?!" tanya perempuan itu.


"Kamu sendiri siapa? Kenapa tiba-tiba datang dan menyerang kami?" tanya Adrian.


"Tentu saja aku menyerang kalian, lihat saja kalian bahkan tidak cukup gantleman melawan satu orang yang sudah tidak berdaya." hardik perempuan itu.


"Kalau berani lawan aku! Jangan beraninya lawan orang yang tidak berdaya!!" perempuan itu menantang mereka. Dia mengeluarkan kayu panjangnya dan bersiap.


Keempat manusia serigala itu saling tatap bingung. Mereka tahu jika orang didepannya ini adalah manusia biasa, terlebih dia adalah.... Perempuan.


"Apa yang kalian tunggu?! Ayo lawan aku!!" tantang perempuan itu lagi.


"Karen?" panggil Zach. Karen menoleh.


"Kamu diam saja disana, biar aku yang menghadapi mereka." sahut Karen mantap. Karen maju selangkah membuat keempatnya mudur.


"Kami tidak ingin melawanmu." kata Roland.


"Kalian pengecut!"


"Apa kamu bilang?!"


"Adrian, cukup." lerai Roland.


"Karen." panggil Zach lagi. Zach sudah berdiri di belakang Karen sambil memegang pinggangnya. "Aku tidak apa-apa. Mereka tidak salah, mereka hanya--"


"Tidak salah darimana?! Kamu sudah tidak berdaya tadi tapi mereka masih memukulimu. Itu sangat menjijikkan." Karen masih menatap dengan marah.


"Kami tetap tidak akan melawanmu."


"Kenapa? Karena aku perempuan? Kalau begitu jangan anggap aku perempuan." Karen menyandarkan tongkat panjangnya di bahu depannya lalu mengambil ikat rambut dan mengikat rambut panjangnya. "Ayo lawan aku!"

__ADS_1


"Karen..." Zach kembali membujuk.


"Kau diam saja disana." kata Karen. Roland tersenyum dengan tingkah Karen, begitu juga dengan Brad.


"Maaf, tapi aku tidak bisa." kata Roland lagi. Tentu saja dia tidak bisa, Karen hanya manusia biasa. Karen mendengus kesal.


"Jika kalian tidak ingin melawanku, biarkan kami pergi, aku dan dia." Karen menunjuk dirinya dan Zach.


"Uhmm... Oke?" kata Roland yang bingung.


Karen lalu menarik tangan Zach berlari menjauhi mereka. Tangan kanan Zach di tarik oleh Karen sementara tangan kirinya memegang pinggangnya yang masih terasa sakit.


"Karen..." panggil Zach. "Karen kita sudah jauh dari mereka."


Karen menghentikan larinya lalu menoleh kebelakang.


"Kamu yakin? Sebaiknya kita tetap lari." Karen menarik tangan Zach, ingin berlari lagi tapi Zach menghentikannya.


"Mereka tidak akan mengejar." ucap Zach. Karen menghela nafas lalu mengangguk dengan tangan Zach yang masih di genggamnya.


"Mereka tidak salah, Karen." kata Zach lagi. "Kami hanya berlatih bela diri."


"Hei, tidak ada yang berlatih bela diri seperti itu!! Itu menyiksa namanya!" protes Karen.


"Itu tidak seperti yang kamu lihat, percaya padaku." kata Zach lembut. Lalu dia tersadar. Sejak kapan aku bisa berkata lembut seperti ini? Pada seorang... Gadis?


"Baiklah, baiklah jika kamu masih ingin membela mereka." kata Karen kesal. "Tahu-tahu aku tidak menyelamatkanmu." gumam Karen sepelan mungkin tapi tentu saja Zach mendengar.


"Sekarang kamu tahukan aku baik-baik saja?" tanya Zach. Karen mengangguk. "Jadi sekarang kamu bisa melepas tanganku."


Karen menatap mata Zach lalu pandangannya menuju ke tangannya yang masih menggenggam tangan Zach. Dia terbelalak kaget lalu melepaskan pegangannya. Zach menahan senyumnya.


"Dan aku juga tidak bisa keluar hutan ini." kata Zach lagi. Karen mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Aku hanya mengenakan celana pendek ini. Aku bahkan tidak mengenakan baju." kata Zach.


Mata Karen membulat, mulutnya terbuka lebar. Karen cepat-cepat membalikkan tubuhnya. Dia merutuki dirinya sendiri karena tidak menyadarinya. Tunggu, keempat orang tadi juga... Akkkhh sial!


Karen memukul kepalanya kesal. Zach tesenyum geli.


"Aku sudah tidak apa-apa, kamu pergilah Karen." pinta Zach. Karen membalikkan tubuhnya menghadap Zach.


"Dari mana kamu tahu namaku?"


"Siapa yang tidak mengenal Karen Wheeler, orang yang memukul kapten tim basket sekolah? Lagi pula aku juga anggota basket. Tentu saja aku tahu." jawab Zach. Karen menganggukkan kepalanya. Matanya menuju perut sixpack Zach. Dia diam-diam memuji tubuh Zach.


"Apa kamu akan diam disana sambil memandangi tubuhku atau kamu akan segera pulang karena sebentar lagi malam." sahut Zach. Karen mengalihkan pandangannya.


"Aku tidak memandangi tubuhmu. Huh! Terlalu percaya diri." kata Karen.


"Apa kamu yakin?" goda Zach dan berjalan semakin dekat ke Karen.


"Ka-kau mau apa?" tanya Karen yang terkejut Zach mendekatinya. Zach menghentikan langkahnya saat dia sudah sangat dekat dengan Karen. Karen menjadi gugup. Dia baru menyadari siapa Zach. Zach yang terkenal tampan.


"Wangimu... Aneh." kata Zach. Dia mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu aneh?" Karen menciumi bau tubuhnya.


"Baumu.." Zach tampak berfikir. Dia menatap Karen. Aneh... Kenapa baunya menyengat sekali? Bau strawberry dan Vanilla mintnya. Apa dia menggunakam sabun atau sampo berbau itu? Kenapa sangat menyengat?


"Terima kasih, Karen..!!" kata Zach setengah berteriak lalu dia tersenyum.


Kenapa aku jadi bersikap aneh? Aku berkata lembut padanya lalu aku mencium bau aneh itu, membuatku ingin terus mencium bau itu dan yang paling aneh adalah aku tidak bersikap dingin padanya! Ha! Ini pertama kalinya aku tidak bersikap dingin pada perempuan, selain ibuku dan sepupuku tentu. Ini aneh, sangat aneh..


"Zach...!!" panggil Rodney. Zach menoleh. "Apa kamu baik-baik saja?"


"Yeah, tentu."


"Karen Wheeler. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya disini." gumam Rodney. "Ini."


Rodney menyerahkan baju Zach. Zach memakai bajh kaus itu dan menggantung tas nya di punggung.


"Mereka bilang kamu boleh pulang." kata Rodney lagi. Zach mengangguk. Karen yang melelehkan dinginnya zach, telah menyita pikirannya.


****


Zach berjalan cepat menuju lokernya berada. Dia sudah mengenakan pakaian seragam basketnya karena hari ini akan ada pertandingan basket dan sekolahnya adalah tuan rumah. Zach mencari keberadaan Rodney.


"Aku tidak yakin apa yang kamu katakan itu benar." kata Zach yang sudah tiba di loker Rodney.


"Tapi itu kenyaataan Zach, aku membaca sendiri di buku." kata Rodney.


"Buku itu salah." kata Zach.


"Mungkin, tapi apa ini salah juga?" Rodney membuka tasnya dan mengeluarkan buku yang lumayan tebal. Dia membuka halaman yang sudah di tandainya sebagai manusia serigala. Rodney menunjuk sebuah gambar serigala disana.


"Ada apa dengan serigala itu?" tanya Zach bingung.


"Itu adalah kau."


"Aku? Tidak mungkin."


"Zach, aku melihatmu berubah. Serigala mu berwarna persis seperti ini dan matamu juga merah dan... dan... Tanda ini. Ini adalah tanda yang sama persis dengan yang kamu punya. Letaknya pun sama Zach. Di dahi serigalamu." jelas Rodney.


"Jadi maksudmu aku adalah..."


"Keturunan murni. Kau adalah keturunan dari nenek moyang manusia serigala yang pertama. Nenek moyangmu adalah manusia serigala pertama Zach, sama dengan raja lycanthrope itu. Dan tanda dari keturunan murni adalah dia alpha semenjak lahir. Tidak seperti alpha yang lain yang status alphanya diturunkan oleh ayahnya."


"Lalu aku harus apa?"


"Kamu adalah yang terkuat Zach. Kamu harus mengendalikan kekuatanmu, serigalamu. Menurut buku ini, kamu adalah alpha yang akan menjadi pendamping raja Lycanthrope itu. Kamu harus berlatih dengan serigalamu."


"Tidak, itu tidak mungkin. Kamu tahu apa yang terjadi terakhir kali Rodney. Aku tidak ingin melakukannya lagi." tolak Zach.


"Kamu harus Zach. Adrian benar, kamu harus menggunakan serigalamu."


"Tidak, Rod. Itu berbahaya dan Adrian itu psikopat. Dia membenciku."


"Dia tidak membencimu Zach."


"Dia membenciku Rod! Apa kamu tidak lihat perlakuannya padaku? Kamu ini sebenarnya temannya siapa?" Zach mendengus kesal.


"Aku temanmu tapi Adrian melakukan itu ada alasannya dan aku tahu kenapa." Zach menatap Rodney heran. "Karena kamu keturunan murni dan itu akan membuatmu dalam masalah. Kamu akan jadi incaran musuh-musuh yang tidak menginginkanmu."


"Kenapa mereka tidak menginginkanku? Apa salahku?"


"Salahmu hanya karena kamu keturunan murni Zach." Rodney meletakkan bukunya kedalam tas punggungnya lalu menutup dan mengunci lokernya.


"Jadi begini." lanjut Rodney. "Seorang raja Lycanthrope itu adalah keturunan murni. Disamping raja, akan ada alpha keturunan murni, kau dan dua beta keturunan murni juga. Mereka digabung menjadi satu, maka akan menjadi satu pasukan manusia serigala yang tidak terkalahkan. Asal kamu tahu, tidak ada yang ingin itu terjadi. Para pack yang lain, tidak ingin dipimpin oleh orang lain selain alpha mereka. Mereka terlalu tamak dan iri."

__ADS_1


"Jadi maksud kamu?"


"Maksud aku adalah... Adrian menginginkanmu siap, jika ada yang mengetahui keberadaanmu dan menyerangmu. Zach, kamu belum punya beta dan itu akan membuatmu kesulitan."


"Bagaimana aku akan memiliki beta?"


"Dari yang aku baca, kamu akan merasakan kehadiran betamu."


"Waah buku itu sangat bermanfaat. Dari mana kamu mendapatkannya?" puji Zach. Zach kadang bingung karena Rodney yang hanya manusia biasa lebih tahu tentang manusia serigala dari pada dirinya yang jelas-jelas manusia serigala.


"Aku menemukannya di loteng rumah nenekku di Alaska. Itu saat nenekku meninggal."


"Atau jangan-jangan... Kamu manusia serigala juga?"


"Aku? Yang benar saja. Aku sudah memeriksa seluruh keluargaku dan keluargaku juga keturunan murni, kau tahu? Keturunan murni manusia biasa." ucap Rodney membuat Zach terkekeh.


"Apa kamu ingin memutuskan keturunan murni manusia biasamu dan menjadi manusia serigala? Kamu bilang gigitan manusia serigala bisa membuatmu menjadi manusia serigala. Aku akan dengan senang hati mengigitmu." goda Zach.


"Aahh tidak, tidak, tidak. Meskipun manusia biasa itu lebih lemah daripada manusia serigala, aku masih ingin menjadi manusia biasa. Jadi, tidak terima kasih. Jauhkan gigi serigalamu dariku."


Zach tertawa geli. Dia hanya menggoda temannya. Tiba-tiba tawa Zach terhenti. Dia melihat Karen di ujung barisan loker Rodney. Zach menatap Karen dalam diam.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Daryl yang sudah berdiri di belakang Zach dan Rodney. Mereka berdua terkejut.


"Kamu mengagetkanku." kata Zach.


"Jelas saja kamu kaget. Matamu tidak berhenti menatapnya. Apa kamu menyukainya?" tanya Daryl lagi.


"Tentu saja tidak. Kamu sudah gila." protes Zach.


"Aku tidak gila. Jika seorang Zachary Payne menatap seorang gadis lebih dari tiga detik, itu hal yang luar biasa dan kamu tadi menatapnya...." Daryl melihat jam tangannya. ".... Selama satu menit. Itu sudah dilevel luar biasa."


"Setuju." Rodney mendukung.


"Kalian memang gila."


"Ajak dia."


"Ajak kemana?"


"Zach, tiga hari lagi pesta valentine, kau ingat?" Daryl mengingatkan. "Jadi.."


"Aarrrgghhh... Aku sudah bilang aku tidak ingin pergi ke pesta itu." kata Zach.


"Kau harus pergi Zach. Kau di calonkan jadi pangeran romantis tahun ini." kata Daryl.


"Apa?! Siapa yang mencalonkanku?!"


Daryl hanya mengangkat bahunya lalu menyuruh Zach untuk mengajak Karen.


"Ughh baiklah. Tapi jika dia menolak, aku tidak akan pergi dan tidak ada yang bisa memaksaku." tegas Zach. Daryl mengangkat kedua tangannya.


"Silahkan." kata Daryl. Zach memutar bola matanya lalu berjalan mendekati Karen. Baru setengah jalan, Zach kembali lagi.


"Uhmm aku harus berkata apa?" tanya Zach. Daryl menepuk jidatnya.


"Bilang saja kamu mengajaknya ke pesta itu."


"Aakhh baiklah, terserah saja."


Zach kembali berjalan menuju Karen. Dia kembali mencium aroma tubuh Karen yang menyengat itu lagi tapi anehnya dia begitu menyukai aroma itu.


"Ehem..." Zach berdehem. Karen dan Nat menoleh. "Hai."


Karen menjadi gugup, apalagi setelah kejadian yang memalukan itu. Karen memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan gugupnya.


"Karen... Uhm..." Zach menoleh kebelakang, ke arah Daryl dan Rodney. Daryl masih mendukungnya untuk berbicara lagi. "Aku.. Ehm.. Mau pergi ke pesta valentine? Denganku?"


Karen melongo. Kenapa dengan dia?


"Uhm.. Karen?" panggil Zach.


"Eh? Oouh.. Uhmm.. Aku tidak pergi." kata Karen akhirnya.


"Ohh oke, baiklah." kata Zach.


Zach beranjak pergi dan mendatangi temannya.


"Dia bilang dia tidak pergi so... Jangan paksa aku lagi." kata Zach. "Ayolah, pertandingan segera dimulai."


Zach melenggang pergi menuju gym untuk pertandingan basket.


"Kamu yakin tidak ingin pergi Karen?" tanya Nat.


"Sepertinya begitu." kata Karen.


"Apa kamu sudah gila? Zach yang mengajakmu, Zach!!"


"Lalu?"


"Kamu tahukan siapa Zach? Dia anak laki-laki paling tampan disekolah ini dan dia itu sangat dingin."


"Lalu?"


"Lalu... Lalu jika dia mengajakmu, bukankah itu berarti dia menyukaimu?"


"Apa?! Itu tidak mungkin."


"Itu mungkin Karen. Zach itu sangat dingin dengan semua gadis, Karen. Dia tidak pernah berbicara bahkan menyapa satu gadispun. Well terkecuali Gia, sepupunya."


"Mungkin karena dia gay?" tebak Karen.


"Mungkin, aku tidak tahu. Tapi entah kenapa aku yakin dia itu tidak gay. Dia tidak terlihat gay bagiku."


"Tidak semua lelaki gay terlihat gay Nat, bisa saja mereka menyembunyikan jati dirinya."


"Tapi aku yakin Karen."


"Terserahlah. Aku masih tidak mau pergi."


"Baiklah, terserah padamu. Ayo kita pergi nonton pertandingan basket."


"Aku tidak mau." tolak Karen.


"Oh ayolah Karen... Aku ingin menonton wajah-wajah tampan tim kita. Kamu tahu, banyak anak murid perempuan dari sekolah lain yang datang demi melihat pemain kita. Kita jangan mau kalah."


Nat menarik tangan Karen. Karen menggelengkan kepalanya dan mengikuti Nat dengan enggan. Dari jauh terlihat seseorang yang mengamati semua itu dalam diam lalu tersenyum sinis.


****


tadariez

__ADS_1


__ADS_2