
"Kamu... Anak dari alpha Jackson?" tanya Roger.
"Benar. Mungkin kamu pernah dengar jika alpha Jackson mempunyai anak seumuranmu. Itulah aku. Bahkan aku mengenal sepupumu, Axel."
"Jangan sebut nama pengecut itu disini."
"Ahh maafkan aku. Aku tahu hubungan kalian itu.. Sangat tidak baik."
"Tidak usah basa-basi. Serahkan saja gadis itu. Kata alpha Jackson, pack Moon Sykort tidak akan ikut campur dan akan bersikap netral. Jadi serahkan saja dia dan tetaplah bersikap netral."
"Oh? Apa kamu takut kami ikut campur Roger atau aku panggil alpha Roger? Jika kami ikut campur dan mendukung Lykort, kamu akan kalah."
"Hahahahaha!! tapi aku rasa Sykort tidak akan ingkar janji untuk bersikap netral."
"Ohh itu tergantung dari sikapmu." kata Edward. "Bahkan aku memiliki beberapa orang yang bisa aku suruh untuk menyampaikan pada ayahku tentang kelakuanmu Roger, sekarang juga."
Roger terdiam. Dia menggeretakkan grahamnya geram.
"Aku tidak perduli. Serahkan saja gadis itu!! Jika tidak, kamu akan berhadapan denganku. Dan mungkin kamu sudah tahu jika aku bukanlah lawan yang mudah."
"Aku tidak akan menyerahkannya."
"Dasar keras kepala."
"Alpha..!!" panggil salah satu pasukan Roger. Roger menoleh dan menggeram marah. "Maafkan saya, tapi raja itu kembali."
"Apa? Kenapa cepat sekali?!"
"Kata pasukan kita, para hybrid telah kalah semua. Raja itu menggunakan Lycan."
"Ahh ternyata dia cepat sekali menggunakannya." gumam Roger pelan.
"Alpha sebaiknya kita pergi dan menjalankan rencana kedua." kata Bruce. Roger mengangguk.
"Baiklah." Roger menatap Tania. "Aku akan kembali. Ingat itu, yang mulia."
Roger menyeringai lalu pergi bersama seluruh pasukannya. Tania menghela nafas lega. Kakinya lemas, membuatnya terduduk di lantai.
"Anda baik-baik aja yang mulia?" tanya Edward. Tania mengangguk. Dia masih terlihat terkejut. Edward mengulurkan tangannya untuk membantu Tania berdiri. Tania menyambut uluran tangan itu dan berdiri.
"Terima kasih Edward. Aku tahu kamu dan packmu memutuskan untuk bersikap netral tapi kamu malah melakukan hal ini."
"Tidak masalah yang mulia--"
"Tania, panggil aku Tania saja dan aku rasa usiamu jauh lebih tua dariku."
Edward tersenyum. Tak lama muncul Kei dan kawanan lain. Tania berhambur memeluk Kei erat. Kei terkejut.
"Uhmm.. Tania, aku kotor dan basah karena keringat, aku tidak ingin kamu--"
"Hiks.. Hiks"
Tania menangis dalam pelukan Kei membuat Kei semakin bingung.
"Tania? Kamu kenapa?" tanya Kei tapi Tania tidak menjawab. Kei menatap Edward. "Ada apa ini?"
"Tadi alpha Roger kemari." kata Edward.
"Tunggu, siapa?! Roger?!" pekik Kei. Edward mengangguk. "Untuk apa dia kemari?"
"Sepertinya, dia mempunyai rencana untuk membawa ratu pergi."
"Dia ingin menculik Tania?!"
"Ya, tapi dia mengira Tania hanya di jaga beberapa warrior saja. Dia tidak mengira ada aku disini."
"Lalu? Apa yang terjadi?" tanya alpha Sebastian yang baru saja datang.
"Edward membantuku." sahut Tania yang sudah tenang. "Dia mencegah Roger gila itu membawaku. Tapi Roger gila itu berkata, dia akan kembali."
"Apa benar itu?" tanya Kei pada Edward. Edward mengangguk.
"Benar."
Kei terdiam.
"Jake."
"Ya, yang mulia."
"Bersiaplah, besok kita akan pergi ke Lykort. Minta tolong para penyihir untuk memindahkan kita."
"Baik yang mulia." Jake membungkuk hormat lalu pergi bersama gamma lain.
"Kita pergi besok?" tanya Tania.
"Iya Tania. Kita akan pergi besok. Kita akan lebih aman di Lykort."
"Kei benar, Tania." alpha Sebastian menambahkan. "Lykort mempunyai pasukan lebih banyak dari disini. Cukup untuk melindungimu. Roger akan sulit mendekatimu."
"Tapi alpha..."
"Tania... Menurutlah." pinta Ryan.
"Kak!!"
"Untuk urusan Andy, akan aku minta beberapa omega dan warrior untuk menjaganya. Lagipula ada paman disini." kata Kei.
"Kei benar. Aku masih akan tetap disini. Aku akan menjaganya." kata alpha Sebastian. Tania menghela nafas panjang.
"Baiklah." katanya akhirnya.
"Kalau begitu, pulanglah bersama Ryan. Bersiap-siaplah dan pamit pada Andy." kata Kei. Tania mengangguk.
"Okay."
"Ryan, minta beberapa gamma menemanimu. Jangan pergi sendiri. Kita tidak bisa mengambil resiko saat ini."
"Baik alpha."
Kei mencium kening Tania. Tania menggandeng tangan Ryan lalu pergi dari rumah alpha Sebastian.
"Berati hybrid tadi hanya pengalihan. Rencana utamanya adalah Tania." ucap alpha Sebastian.
"Benar paman. Aku tidak menduganya." gumam Kei.
"Tidak ada yang bisa menduganya Kei."
"Aku kira Bian tadi sudah memberikan mantra pelindung untuk rumah ini." kata Zach.
"Memang sudah. Tapi mereka mempunyai penyihir disisi mereka." kata Edward.
"Kaum hitam?"
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas hanya satu penyihir. Aku tidak merasakan penyihir lain. Hanya satu."
"Jadi... Apa itu kaum hitam?"
"Kei rasa bukan paman. Dari pengalaman Kei bertarung dengan penyihir, kaum hitam tidak pernah sendiri. Mereka selalu berkelompok."
"Kamu benar. Mungkin dia hanya penyihir yang tidak mempunyai kelompok."
"Penyihir yang tidak memiliki kelompok?"
"Ya, mereka menolak untuk masuk kaum hitam maupun putih. Jadi mereka tidak terikat peraturan manapun."
__ADS_1
"Aahh... Begitu." Kei mengangguk. "Baiklah, semuanya bersihkan diri dan istirahat. Kita akan pergi besok pagi." pinta Kei. Kei mendatangi Edward.
"Terima kasih telah melindungi Tania." ucap Kei. Edward tersenyum dan mengangguk. Kei kembali berjalan menuju kamarnya.
****
Keesokan harinya, semua tampak sibuk. Mereka berkumpul di depan rumah alpha Sebastian. Para penyihir membantu memindahkan para manusia serigala dan beberapa barang mereka.
"Paman yakin tidak ikut?" tanya Kei.
"Yakin Kei, paman akan baik-baik saja. Roger tidak akan menyakiti paman. Tidak ada untungnya baginya."
"Baiklah jika paman yakin. Hubungi Kei jika terjadi sesuatu."
"Baik, tenanglah. Akan paman hubungi."
"Baiklah paman."
"Alpha Sebastian." panggil Edward. Kei dan alpha Sebastian menoleh. "Saya juga akan pamit."
"Kamu akan pergi?"
"Iya alpha. Saya akan melaporkan ini pada ayah saya." kata Edward.
"Ya, dan aku harap ayahmu akan berubah pikiran."
"Saya harap juga begitu."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada ayahmu."
"Baik alpha."
"Dan beritahukan juga pada ayahmu, bahwa anak tertuanya akhirnya menemukan mate-nya." goda alpha Sebastian.
"A-ah.. Soal itu." Edward berubah menjadi gugup.
"Itu bukan karena sihir lagi kan?" tanya Kei. "Seperti Zach?"
"Aku rasa bukan Kei. Kali ini memang sebenarnya. Edward mempunyai jiwa penyihir ibunya di dalam dirinya. Itu membuatnya sulit untuk di mantrai seperti Zach. Lagipula untuk merubah mate butuh kekuatan besar Kei. Aku rasa yang membuat Zach mempunyai dua mate sedang lemah saat ini."
"Jadi... Bian benar-benar mate dari Edward?"
"Benar Kei."
"Waaahh ini benar-benar menarik." Kei dan alpha Sebastian tertawa.
"Ehem..." Edward berdehem. "Saya masih disini alpha."
"Aahh iya, benar. Hahahha.... Maafkan. Kami terlalu bersemangat." sahut alpha Sebastian. "Aku bersemangat karena ayahmu telah menanti hal ini sejak lama, terlebih ibumu dan ternyata kamu mendapatkan mate yang kami kenal baik. Itu sungguh luar biasa."
Kei dan alpha Sebastian tertawa lagi sementara Edward menatap mereka heran.
"Kalau begitu saya permisi, alpha." kata Edward akhirnya.
"Aahh baiklah. Hati-hati Edward." kata alpha Sebastian.
"Apa kamu tidak ingin pamit pada Bian?" tanya Kei.
"Ti-tidak perlu. Saya permisi." kata Edward lalu pergi bersama beberapa orang. Edward hanya melihat Bian sekilas lalu melanjutkan perjalanannya.
****
Sudah beberapa hari semenjak kepindahannya ke Lykort. Tania mengagumi betapa indahnya Lykort. Lykort tidak hanya nama pack tapi nama sebuah kota kecil di sana. Tapi wilayah pack Lykort tidak hanya di kota itu tapi lebih luas lagi. Kota Lykort hanya sebagian kecil dari bagian pack Lykort.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar membuat Tania sedikit terkejut.
"Masuk." sahutnya. Masuk satu orang maid perempuan.
"Maaf yang mulia, tapi yang mulia raja sudah menunggu anda untuk sarapan bersama di meja makan."
"Y-yang m-m-mulia?" suara Gury bergetar.
"Ya?" jawab Tania. Tania melihat wajah Gury yang pucat dan tubuhnya bergetar. "Gury kamu baik-baik saja? Apa kamu sakit?"
Tania maju dan mengulurkan tangannya untuk memeriksa kening Gury tapi dengan cepat Gury mundur untuk menghindar.
"Sa-saya baik, yang mulia." jawab Gury masih dengan kegugupannya. "Sa-saya ha-hanya..."
"Bicaralah yang jelas Gury, ada apa?"
"I-ini yang mulia, ada yang mem-memberi ini. Maafkan saya..." sahut Gury dan langsung pergi saat sudah menyerahkan sebuah amplop pada Tania. Tania ingin memanggil Gury tapi Gury sudah menghilang dari pandangannya. Tania menghela nafas panjang.
Tania membuka amplop yang di berikan oleh Gury. Dia terkejut. Ada sebuah foto yang dia kenali di sana. Fotonya dengan ketiga kakaknya. Dia membuka foto satu lagi. Ada sebuah foto laki-laki yang sedang terikat di kursi dan tampak lemah. Tania membuka foto ke tiga. Masih foto laki-laki di ikat di kursi tapi kali ini dari jarak dekat. Tania terbelalak. Dia menutup mulutnya dengan tangannya. Tak terasa air matanya jatuh. Nafasnya sesak. Cepat-cepat dia membuka surat yang ada di dalam amplop itu juga.
"Temui aku di ujung Lykort woods jam sembilan tepat. Malam ini. Sendirian. Jika tidak, dia akan mati ditanganku."
Hanya itu. Hanya itu kata-kata yang ada di kertas itu. Tidak ada nama pengirimnya. Tania panik. Foto yang ada di tangannya adalah foto Andy. Tapi Andy seharusnya baik-baik saja. Baru tadi malam dia menelpon kakaknya itu. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia bingung.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengagetkannya. Tania segera membalikkan tubuhnya dan berusaha untuk tenang.
"Masuk." sahutnya.
"Tania, sayang? Ayo kita sarapan. Kenapa kamu lama sekali turun?" Kei berjalan mendekati Tania.
"A-aku baik-baik saja Kei, duluan saja." kata Tania tanpa membalikkan tubuhnya. Dia berdiri membelakangi Kei.
"Aku sudah disini, kita pergi ke meja makan bersama saja dan--"
"Tidak!! Maksudku aku... Aku.. Aku sedang sakit perut. Aku harus ke toilet dulu." Tania langsung pergi ke kamar mandi bahkan tanpa menoleh ke arah Kei.
"Apa aku perlu panggilkan dokter Tania?" tanya Kei saat Tania sudah masuk ke kamar mandi.
"Tidak, tidak perlu. Kamu makanlah duluan. Aku akan menyusul nanti. Aku mohon." jawab Tania dari kamar mandi.
"Baiklah, tapi apa kamu yakin kamu baik-baik saja?"
"Aku baik, Kei."
"Baiklah, aku turun dulu. Cepatlah menyusul."
Tania tidak menjawab. Dia sudah meneteskan air matanya. Apa yang harus kulakukan?
****
Seharian Tania tidak fokus. Selama di Lykort dia belajar dengan home schooling. Dia tidak bisa fokus dan selalu melakukan kesalahan. Kei sempat merasa aneh dengan kelakuan Tania tapi akhirnya menyerah karena Tania mengelak.
Tania berjalan berjalan bolak balik di dalam kamarnya. Dia gugup dan ragu. Suara ketukan pintu menghentikan langkahnya.
"Tania?" Kei memanggil. Tania terkejut dan langsung naik ke atas tempat tidur. Tania menutupi dirinya dengan selimut dan berbaring.
Kei masuk ke dalam kamar Tania. Dia terkejut mendapati Tania sudah terbaring di atas tempat tidur.
"Tania? Apa kamu baik-baik saja?" Kei mendatangi Tania. Kei melihat ke jam tangannya. Masih jam delapan malam. "Apa kamu mau tidur sekarang?"
Kei duduk di pinggir tempat tidur. Tania duduk.
"Aku hanya sedang sakit kepala Kei."
"Benarkah? Apa kamu sudah minum obat?"
"Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat."
__ADS_1
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Kei. Aku baik-baik saja."
"Baiklah, aku kan meninggalkanmu untuk beristirahat. Tidurlah." kata Kei. Tania merebahkan dirinya kembali. Kei memakaikan selimut pada Tania. Kei mengelus rambut Tania dengan lembut. "Aku ada di ruang pertemuan bersama yang lain jika kamu butuh aku. Istirahatlah."
Kei mencium kening Tania.
"I love you, Tania." bisik Kei.
Kei mematikan lampu kamar dan pergi meninggalkan kamar Tania. Tania langsung duduk kembali sepeninggal Kei. Dia menundukkan kepalanya. Kei pernah berpesan untuk memberitahukan apapun padanya dan tidak bertindak sendiri apapun yang terjadi. Tapi sekarang kakaknya di tahan. Dia ragu apa dia akan memberitahukan hal itu pada Kei. Dia tahu, Kei sudah sangat kerepotan dengan masalah Roger. Dia tidak ingin menambah masalah Kei.
****
"Mana Tania Kei?" tanya Zach saat Kei sampai di ruang pertemuan.
"Dia sedang sakit kepala dan ingin tidur." kata Kei.
"Apa dia baik-baik saja? Perlu aku temani?" tawar Karen.
"Tidak perlu Karen. Tania bilang dia hanya ingin tidur. Jadi biarkan saja dia tidur."
"Baiklah. Aku akan pergi bersama Anne dan meninggalkan kalian disini." kata Karen. "Anne ayo kita pergi."
Karen mencium bibir Zach singkat lalu pergi bersama Anne.
"Apa kamu yakin Tania baik-baik saja?" tanya Zach meyakinkan.
"Aku tidak tahu Zach. Seharian ini dia aneh."
"Apa mungkin ada masalah?"
"Aku tidak tahu. Dia terus menghindar jika aku tanya. Mungkin dia sedang tidak enak badan. Biarkan saja dia istirahat. Saat sudah merasa baikkan akan aku tanyakan lagi."
"Semoga saja tidak ada masalah."
"Ya, semoga."
*****
Tepat pukul sembilan malam. Tania sudah berpakaian lengkap dengan celana jeans hitam dan baju lengan panjang berwarna biru muda didalam jaket tebal berwarna biru tua. Tak lupa Tania memakai syal merahnya di leher.
Tania berjalan keluar istana. Rumah Kei di Lykort merupakan kastil tua peninggalan keluarganya terdahulu. Kastil itu masih sangat bersih dan sangat terawat. Tania bertemu beberapa maid dan penjaga di dalam istana. Sesekali bertemu omega. Dia berusaha bersikap sebiasa mungkin agar tidak ada yang curiga.
"Tania.." panggil seseorang membuat Tania tersentak kaget. Tania menghentikan langkahnya. "Tania?"
Tania berbalik dan mendapatkan Jason sudah berdiri di belakangnya.
"Hai Jason.." sapa Tania. Dia berusaha untuk tidak gugup.
"Sedang apa kamu disini?"
"Aku? Uhmm.. Jalan-jalan! Ya aku hanya berjalan-jalan."
"Jalan-jalan? Bukannya kamu sedang sakit?"
"Sakit?"
"Iya, Kei yang bilang."
"Aaahhh itu.. Ya, memang. Tapi aku sudah mendingan. Hanya bosan di kamar." Tania mencoba mencari alasan.
"Tapi udara mulai dingin Tania dan kamu bukan manusia serigala yang tahan dengan udara dingin."
"Iya aku tahu. Aku hanya sebentar aja."
"Baiklah. Apa perlu aku panggilkan Kei?"
"Tidak! Tidak perlu. Aku tidak ingin mengganggunya. Seperti yang ku katakan tadi, aku hanya sebentar. Setelah ini aku akan kembali ke kamar."
"Okay, aku akan kembali ke ruang pertemuan."
"Okay dan aahhh.. Jangan beritahukan Kei aku disini. Aku hanya sebentar, aku tidak ingin membuatnya khawatir. Aku tahu dia sedang banyak masalah, aku tidak ingin menambahnya."
"Baiklah. Aku pergi dulu. Jika ada apa-apa panggilah warrior atau omega terdekat."
"Aku tahu Jason. Kamu sama cerwetnya dengan Kei." Tania tertawa geli.
"Dia cerewet berarti dia sayang padamu Tania dan aku cerewet karena kamu adalah ratuku."
"Iya, aku tahu. Sudah sana pergi, aku yakin mereka sudah menunggumu."
"Baiklah aku pergi dulu, sampai nanti."
"Sampai nanti Jason."
Jason pergi meninggalkan Tania sendiri. Tania bernafas lega. Dia kembali berjalan. Dia berjalan semakin jauh. Semakin jauh dari kastil. Tania masuk ke hutan. Dia membawa senter dan mengeluarkannya dari saku jaketnya. Tania menyalakan senter dan berjalan menyusuri hutan. Tania sebenarnya sangat takut tapi dia memberanikan dirinya demi Andy. Terdengar suara angin berhembus dan suara burung hantu. Tania menelan ludah. Dia begitu gugup.
Tania masih terus berjalan masuk hutan, semakin dalam. Tiba-tiba tangannya di tarik. Tania ingin berteriak tapi mulutnya sudah ditutup tangan seseorang. Tubuhnya sudah bersandar di pohon. Dihadapannya ada seorang laki-laki yang sepertinya umurnya sebaya dengannya. Tapi wajahnya seperti familiar.
"Jika kamu berjanji tidak berteriak, aku akan melepaskan tanganku." bisik laki-laki itu. Tania mengangguk. Laki-laki itu melepaskan tangannya dari Tania.
"Siapa kamu?" tanya Tania.
"Tidak perlu tahu. Sekarang ikuti aku, aku akan menunjukkan jalannya." laki-laki itu mulai berjalan.
"Tunggu dulu, apa?" Tania berjalan mengikuti laki-laki itu
"Kamu menerima surat dan foto-foto itu kan?" tanya laki-laki itu tanpa menghentikan langkahnya.
"Benar. Apa surat itu darimu?"
"Bukan. Tugas aku hanya memastikan kamu mendapatkan surat itu dan memastikan kamu bertemu dengan si pengirim surat."
Tania berlari kecil lalu berhenti tepat di hadapan laki-laki itu. Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menatap Tania.
"Lalu siapa yang mengirimkan surat itu?"
"Kamu akan mengetahuinya nanti." laki-laki itu berjalan melewati Tania.
"Hei tunggu!!" Tania menyusul laki-laki itu yang berjalannya sangat cepat. "Pelan-pelan jalannya. Tapi aku sepertinya pernah melihatmu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tidak, tidak pernah."
"Tapi aku yakin aku pernah--"
"DIAMLAH!!" bentak laki-laki itu. Tania terkejut.
"Baiklah, baiklah. Galak sekali. Aku kan hanya bertanya."
Tania cemberut. Dia masih mengikuti laki-laki itu dalam diam, mencoba untuk mengingat siapa laki-laki yang berjalan di depannya. Tiba-tiba di terperanjat. Dia menghentikan langkahnya.
"Benar!! Aku ingat!! Kamu Cayden kan?? Sepupu Kei, anak dari Ordovick."
Cayden menghentikan langkahnya lalu berbalik. Dia mengerutkan keningnya.
"Dari mana kamu tahu aku?"
"Kei pernah memberitahukan siapa kamu saat kami berkeliling sekolah Royale Lykort. Aku melihatmu duduk di kantin, sendirian. Kei bilang kalau kamu adalah Cayden, sepupunya yang juga anak dari Ordovick. Ya, aku ingat wajahmu."
Cayden terdiam menatap Tania.
"Kamu Cayden kan? Dan berarti yang mengirim surat itu... Ordovick?"
"Tidak perlu di jawab lagi kan?" Cayden menyeringai.
__ADS_1
****
tadariez