
"Ayo bangun Zach..." bujuk Brad. Zach hanya menggeliat di atas tempat tidur. "Zach..."
Zach akhirnya duduk dan melihat jam weker di atas nakas di sampingnya lalu merebahkan dirinya lagi.
"Zach, kenapa tidur lagi?? Kamu harus bangun!" desak Brad.
"Demi tuhan Brad ini masih jam lima pagi! Biarkan aku tidur sebentar lagi. Sekolah juga libur."
Zach menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Brad menarik selimut itu dan melemparkannya ke sembarang tempat. Zach mengambil bantalnya dan diletakkan di atas kepalanya.
"Oh ayolah Zach, aku sudah lelah membangunkanmu!"
"Kalau begitu berhenti membangunkanku!" Zach menatap Brad kesal.
"Aku tidak bisa. Aku diperintahkan untuk membawamu."
"Kamu bisa bilang aku tidak mau. Ayahku pasti mengerti." kata Zach. Zach menutup wajahnya dengan bantal lagi.
"Yang memerintahku bukan ayahmu Zach, tapi raja." jelas Brad. Zach mengangkat bantalnya dan menatap Brad.
"Aku kira alphamu itu ayahku." gumam Zach.
"Ya, ayahmu. Itu benar. Tapi raja Lycanthrope juga harus aku turuti. Posisi dia lebih tinggi dari ayahmu."
"Aku kira di dalam manusia serigala alpha yang tertinggi." gumam Zach lagi. Brad memutar bola matanya.
"Bangunlah. Meskipun kamu tidak mau akan ada yang datang untuk menjemputmu. Aku jamin itu."
"Aku ingin tidur. Kau tahu jam berapa aku tidur? Aku mengantuk sekali."
Zach bersiap merebahkan kepalanya tapi Adrian masuk kekamar dan mengangkat tubuh Zach. Membuat Zach duduk kembali.
"Really?! Serously?!" pekik Zach.
"Tidak hanya kamu yang tidur larut tadi malam Zach, kami semua. Jadi cepatlah!" Adrian melempar baju kaus milik Zach. Zach mendengus kesal. Bahkan di hari liburnya dia harus bangun pagi. Gara-gara raja itu. Mau apa lagi sih dia?! Menyebalkan sekali!!
Zach dengan malas mengenakan bajunya. Zach sudah mulai terbiasa tidur tidak mengenakan baju. Entah kenapa dia selalu merasa kepanasan saat malam setelah menjadi manusia serigala. Bahkan dia tidak merasa kedinginan sedikit pun. Biasanya pagi-pagi dia sudah melingkar di bawah selimutnya.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Adrian.
"Ya, ya.." jawab Zach malas.
Zach melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai bawah.
"Waah ibu tidak menyangka kau sudah bangun Zach."
Zach melewati ibunya lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya. Setelah memuaskan dahaganya, dia melanjutkan jalannya.
"Sayangnya Zach tidak punya pilihan bu dan itu sangat menyebalkan. Zach pergi dulu."
Zach mencium pipi ibunya lalu beranjak pergi. Ibunya hanya menghela nafas lalu menggeleng.
Zach sampai di hutan. Sudah ada beberapa orang disana termasuk Kei. Kei berbicara dengan ayah Zach dan Ian dan juga beta ayah Zach.
"Zach sudah disini yang mulia." kata Adrian. Kei menoleh.
"Terima kasih Adrian. Selamat pagi Zach." kata Kei berusaha bersikap ramah.
"Pagi." jawab Zach enggan. "Untuk apa saya di panggil ke sini?"
"Kita akan berlatih." jawab Kei. Kei berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Zach.
"Berlatih? Kamu dan aku?" tanya Zach.
"Zach, kata-katamu." tegur ayahnya.
"Ahh.. Maaf." Zach tertunduk.
"Tidak apa-apa Zach." Kei menepuk pundak Zach. "Kau temanku sekarang. Lagipula kita seumuran. Aku ingin kamu menganggapku sebagai teman, begitu juga sebaliknya."
Zach hanya diam, tidak menyahut. Kei membuka baju kaus nya lalu berubah menjadi serigala berbulu putih bersih. Zach menatap serigala Kei dalam diam. Kei menatap Zach dan menggeram pelan, mengajaknya untuk berubah.
'Aku tahu kamu mendengarku Zach, berubahlah.'
Zach menghela nafas.
'Aku ingin berubah tapi masih belum bisa mengontrol tubuhku untuk berubah.'
'Perintahkan tubuhmu untuk berubah, sekarang.'
Zach menghela nafas lagi.
'Kalau kamu tidak mau, aku yang akan memerintahkan jiwa serigalamu untuk berubah.'
Zach menatap Kei dengan tatapan bingung. Bola mata Kei yang semula berwara hitam pekat, kini berubah menjadi merah. Kei menggeram kasar.
'Bangunlah! Aku, raja Lycanthrope, memerintahkanmu untuk bangkit! '
"Rrrooaaaaarrgggghhhhh...!!!"
Suara Kei sangat keras. Membuat semua orang disana menoleh dan terdiam ditempatnya. Zach yakin suara itu bisa terdengar oleh penduduk kota.
Tiba-tiba nafas Zach tertahan. Dia tidak bisa bernafas. Zach memegang dadanya yang sakit. Tiba-tiba suara patahan tulang terdengar dari seluruh tubuh Zach. Zach berteriak keras. Matanya berubah menjadi hitam pekat. Zach berubah menjadi serigala.
Kini mereka saling berhadapan. Saling menatap satu sama lain.
'Ba-bagaimana bisa? Aku kira hanya ayahku yang bisa karena dia alpha.'
'Dan aku adalah raja Lycanthrope Zach, alpha dari segala alpha. Tentu aku bisa. Aku akan mengajarimu semua yang aku bisa.'
'Bagaimana jika aku hilang kendali?'
'Zach tubuhmu adalah milikmu. Kamu yang mengendalikannya, bukan sebaliknya. Jika memang kamu kehilangan kendali aku yang akan menyadarkanmu. Sekarang, lawan aku.'
'Aku tidak ingin menyakiti siapapun, termasuk kamu.'
'Kamu tidak akan menyakitiku Zach, percayalah padaku. Serang aku, dengan serangan terbaikmu.'
Zach masih terdiam menatap Kei sampai akhirnya dia menundukkan tubuhnya sedikit, bersiap untuk melompat dan menyerang. Zach menggeram lalu melompat. Kei bisa menghindar. Zach mencoba untuk menggigit, mencakar bahkan menendang, tapi Kei bisa menghindari semua itu.
'Ayolah Zach, lakukan serangan terbaikmu!'
'Aku sudah melakukannya!'
'Tidak! Itu bukan serangan terbaikmu.'
'Hah! Kau lupa rupanya. Aku baru saja menjadi manusia serigala seutuhnya!'
'Aku tidak lupa Zach, tapi kamu adalah alpha keturunan murni. Kamu mempunyai kekuatan lebih besar dari pada alpha biasa. Jadi serang aku dengan serangan terbaikmu atau aku yang akan menyerang dan jika sampai itu terjadi, kamu akan terluka parah.'
'Bagaimana jika aku menyakitimu? Seperti yang aku lakukan pada anak itu?'
'Maksudmu, mata-mata itu?'
'Ya! Aku menyakitinya!'
'Kamu melakukan itu untuk membela dirimu jadi itu hal yang wajar dan seranganmu tidak akan melukaiku seperti kamu melukainya, Zach. Aku jauh lebih kuat darimu.'
'Jangan membuat aku menyesal melakukan ini'
'Tidak akan'
Zach menyerang lagi. Kali ini Kei membalasnya. Serangan Zach tidak banyak mengenai Kei, sementara Kei terus menyerang Zach juga yang membuat Zach kewalahan. Serangan Kei terus menerus mengenai Zach.
Zach terhempas jauh, mengenai pohon dan merubuhkan pohon itu. Zach langsung bangkit dan berlari menuju Kei dan menyerangnya. Lagi-lagi Zach terkena gigitan Kei dan cakaran Kei.
Zach sudah lemas sekarang. Dia bahkan tidak mampu untuk bangkit.
'Sudah, cukup. Aku mohon. Aku lelah dan kesakitan.'
__ADS_1
'Kamu tidak akan berubah menjadi serigala yang manjakan?'
'Aku hanya butuh... Argh... Istirahat.'
'Tidak, tidak ada istirahat Zach.'
Kei melompat ke arah Zach. Zach dengan cekatan menghindar.
'Sial!!' umpat Zach.
Kei terus menyerang Zach dan Zach sibuk menghindar.
'Jangan menghindar, Zach! Lawan aku!!'
'Ada apa denganmu?! Kenapa kamu ingin sekali menyerangku?!'
'Karena aku ingin kamu siap Zach. Akan ada yang akan mencelakaimu, segera. Dan aku mau saat itu tiba, kamu sudah bisa melindungi dirimu dan orang lain. Pikirkan temanmu, pikirkan orang yang kamu kasihi. Ibumu Zach. Bagaimana jika dia celaka karena kamu tidak bisa melindunginya!!'
'Tidak, aku pasti bisa melindungi mereka.'
'Kalau begitu, lawan aku!'
Zach menggeram marah. Dia menyerang Kei. Kali ini dia berhasil. Semua cakaran, pukulan bahkan gigitan mengenai Kei. Mereka saling menyerang.
"Alpha, bagaimana ini? Bagaimana jika alpha Zach terluka?" tanya Roland.
"Tidak akan Roland. Zach sangat kuat dan yang mulia tidak mungkin menyakiti Zach, mereka adalah Orychant. Mereka tidak akan saling menyakiti."
"Orychant?"
"Ya, pasukan murni. Raja lycanthrope, alpha keturunan murni dan dua beta keturunan murni. Mereka tidak terkalahkan. Sudah ada raja Lycanthrope dan alpha keturunan murni." ayah Zach menunjuk Kei dan Zach.
"Dan..." ayah Zach menunjuk Ian. "Satu beta keturunan murni."
"Berarti, tinggal satu." kata Adrian.
"Ya, beta dari Zach. Beta dari Zach adalah beta dari keturunan murni juga."
"Lalu kapan Zach mencari beta itu alpha?"
"Aku rasa setelah Zach bisa melindungi dirinya sendiri."
Mereka semua kembali menatap Zach dan Kei bertarung dengan wujud serigala mereka. Kini Zach sudah berada di bawah Kei dengan kaki Kei menahan tubuh serigala Zach.
"Yang mulia...!!"
Sebuah panggilan membuyarkan konsentrasi Kei. Zach bisa lepas dengan mudah dari cengkraman Kei. Kei berdiri tegak dan menatap marah pada Kian.
"Maafkan saya yang mulia tapi kami menangkap dua orang wanita. Mereka... "
Belum selesai Kian bercerita, terdengar teriakan Jason diiringi tubuh Jason yang terhempas jauh. Mereka semua menoleh. Tak lama Austin dan Moles ikut terlempar.
Kei menggeram keras. Kian berubah menjadi serigala dan bersiap menyerang.
"Jangan coba-coba menyerang kami!" kata Livia tegas.
"Kalian... Penyihir. Mau apa kalian kemari?!" tanya ayah Zach yang sudah berada di hadapan Livia dan Lily.
"Kami datang dengan damai." kata Livia.
"Lalu kenapa kalian menyerang kami? Kami tidak punya urusan dengan kaum hitam." kata ayah Zach. Semua anggota pack sudah mendekat.
"Apa kami terlihat seperti anggota badut dari kaum hitam? Kami datang dengan damai tapi anggota kelompok kalian yang menyerang kami lebih dulu. Menangkap kami seakan kami penjahat! Menyebalkan sekali." Lily mendengus kesal. Ayah Zach menatap Jason dan Austin bergantian. Mereka berdua tertunduk.
"Maaf alpha, tapi mereka terlihat mencurigakan." kata Jason.
"Apa katamu?!" kata Lily tampak sangat kesal.
"Lily, sudahlah. Kami datang dengan damai. Kami ingin bertemu dengan Kei, raja Lycanthrope. Kami membawa pesan dari yang terpilih."
"Pemimpin kaum putih?" tanya ayah Zach.
"Kamu..." ayah Zach memperhatikan gelang itu. "Elder muda, knirer. Benarkan? Gelangmu berwarna hijau."
"Sepertinya anda tahu banyak tentang Elder." tebak Livia.
"Tentu, kami punya teman seorang Elder tua." jawab ayah Zach.
"Sekarang, kalian telah mengetahui siapa kami. Apa kami bisa bertemu dengan raja kalian?" tanya Livia.
"Berikan buktinya jika kalian memang utusan dari yang terpilih." kata Ian yang sedari tadi diam memperhatikan.
Livia menghela nafas lalu membuka tasnya. Dia mengeluarkan sebuah surat. Jason mengambil surat itu dan menyerahkan pada Ian. Ian menatap Kei yang masih menjadi serigala. Kei mengangguk. Ian membuka surat itu.
Dearest Kei, adik manis.
Aku mengirim surat ini sebagai tanda buktiku bahwa mereka berdua adalah utusanku. Aku tahu pasti Ian akan meminta buktinya. Dia tidak hanya tampan tapi juga cerdas. Di surat ini ada sebuah stempel. Stempel yang terpilih dan tenang saja, stempel itu tidak akan bisa dipalsukan karena menggunakan darahku.
Jadi aku mohon, percaya pada mereka berdua, Livia dan Lily. Mereka memang Elder muda, tapi mereka sangat terlatih dan berbakat. Aku yakin mereka akan membantumu. Aku minta maaf karena tidak bisa membantumu kali ini adik manis. Karena jika aku membantumu, keadaan akan semakin kacau. Jadi percayalah pada mereka. Kamu adalah raja Lycanthrope terhebat yang pernah ku kenal dan akan selalu seperti itu.
Salam hangat,
Bian
Ian menutup surat itu. Sebelumnya, dia sudah melihat stempel itu. Stempel yang persis sama dengan stempel yang terpilih yang pernah dia lihat.
"Mereka adalah utusan yang terpilih." kata Ian akhirnya. Livi dan Lily bernafas lega. Mereka benar-benar sudah lelah jika harus bertarung lagi.
"Jadi... Apa kami bisa bertemu dengan raja?" tanya Livia. Kei berubah menjadi wujud manusia kembali.
"Saya Raja Lycanthrope, Kei Lyroso Laros." kata Kei sambil maju kedepan.
"Whoaa... Dia tampan sekali dan... Hot." gumam Lily. Livia yang mendengar gumaman Lily memutar bola matanya dan menatap Lily heran. Lily yang sadar ditatap oleh Livia hanya mengangkat bahu.
"Kami sudah sering mendengar itu." kata Jason santai. Lily yang tersadar ucapannya didengar menundukkan kepalnya. Livia berdehem.
"Uhm... Saya.. Diminta untuk memberikan sesuatu untuk... Uhmm.. Yang mulia dan alpha keturunan murni." kata Livia gugup.
"Untuk Zach juga?" tanya Kei.
"Zach? Siapa Zach?" Livia bingung.
"Alpha keturunan murni."
"Aaahh... Ya, seperti itu."
"Zach kemarilah." pinta Kei. Zach yang masih menjadi serigala, berubah perlahan menjadi manusia dan mendatangi Kei.
"Oh astaga kenapa ada satu lagi yang begitu tampan dan... Mereka berdua bertelanjang dada. Aaakhh aku bisa gila menatap mereka terus." gumam Lily dengan lebih pelan dari sebelumnya tapi tetap saja, meskipun Livia tidak mendengarnya, para manusia serigala itu mendengarnya dengan jelas.
"Kalau begitu jangan di tatap." celetuk Jason.
"Apa?"
"Aku mendengarmu, kau tahu?" Jason menunjuk telinganya. "Kami manusia serigala, apa kamu ingat? Kami bisa mendengarmu, dengan jelas."
"Bukan urusanmu!" sahut Lily.
"Whoaa... Kamu ini wanita aneh, tapi kenapa baumu..." Jason menghentikan kata-katanya. Dia menyadari sesuatu. Tidak, tidak mungkin. Itu tidak mungkin.
'Bersikap baiklah padanya Jason, kamu akan menyesal jika tidak bersikap baik'
Kei mindlink Jason. Jason menatap Kei. Kei tersenyum geli melihat Jason yang bengong.
"Jadi apa yang kamu punya untukku?" tanya Kei.
"Uhmm... Bisa kah kalian.. Uhm.. Baju." kata Livia.
"Ahh saya minta maaf."
__ADS_1
Kei mengambil baju kausnya yang sudah dibawakan oleh Moles dan memakainya. Zach juga melakukan hal yang sama.
"Lebih baik?" tanya Kei pada Livia. Livia mengangguk.
'Tapi kenapa mereka masih terlihat sangat tampan dan sexy setelah pakai baju? Ya ampun Livia, sadarlah!'
Livia memukul kepalanya dan merutuki dirinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kei. Livia berdehem dan menarik nafasnya.
"Saya Baik." Livia berusaha tersenyum. "Ini."
Livia menyerahkan sebuah kristal berbentuk bola berwarna ungu.
"Kamu ingin raja melihat masa depan dengan bola kristal itu?" tanya Roland.
"Fungsi dari bola itu bukan seperti bola kristal. Itu adalah kristal..."
"Werewolf." kata ayah Zach memotong kata-kata Livia.
"Sepertinya anda tahu tentang kristal ini?"
"Tentu tahu. Kristal itu telah membuat banyak masalah dan seharusnya kristal itu terkurung di kuil Moon goddess. Kenapa kristal itu berada disini?"
"Ada yang mencuri kristal ini. Kami baru saja mengambilnya dari sebuah pack manusia serigala, tidak tanpa kesulitan tentu."
"Jadi maksud kamu, pack manusia serigala itu yang mengambilnya?"
"Kami rasa bukan. Banyak anggota pack mereka yang tidak tahu menahu keberadaan kristal itu di pack mereka. Jadi dugaan kami, kristal itu dititipkan di pack itu."
"Pack apa yang kalian bicarakan ini?" tanya Kei.
"Di dunia ini ada tiga pack yang cukup besar wilayahnya." kata Livia.
"Tiga pack." gumam ayah Zach. "Moon Lykort, Moon Sykort dan..."
"Bykort. Pack kegelapan." lanjut Kei.
"Tapi disana sangat berbahaya. Bagaimana kalian bisa keluar?"
"Sudah saya katakan, tidak tanpa kesulitan." kata Livia.
"Lalu, kenapa kalian menyerahkan kristal ini padaku?"
"Yang terpilih berkata, kristal ini harus diletakkan kembali di kuil Moon Goddess dan yang bisa melakukannya tanpa mencederai dirinya adalah raja Lycanthrope."
"Aku? Bukannya Bian bisa masuk kesana? Kenapa harus aku?"
"Karena yang terpilih sedang dalam keadaan--"
"Lily." tegur Livia. Lily menunduk.
"Ada apa? Kenapa dengan Bian?"
"Tidak perlu khawatir. Kaum putih akan menyelesaikan permasalahan yang terpilih, apapun itu. Yang terpenting sekarang adalah kristal itu, harus anda yang memegangnya yang mulia."
"Tapi... Kristal apa itu?" tanya Zach.
"Kristal yang bisa membunuh manusia serigala keturunan murni."
Semua orang menoleh dan menatap ayah Zach.
"Apa? Apa maksud anda? Aku kira kristal ini berisikan wolfsbane langka yang bisa membunuh seluruh manusia serigala di dunia." kata Kei bingung.
"Tidak semua yang mulia, hanya keturunan murni. Anda, Zach, aku dan packku dan pack ayah anda. Kita adalah pack keturunan murni. Pack manusia serigala pertama di dunia. Dan kristal itu, akan membunuh kita."
"Bagaimana dengan pack yang lain?" tanya Ian.
"Mereka hanya merasa kesakitan tapi tidak akan terbunuh. Di dalam kristal itu ada wolfsbane langka yang hanya tersisa satu-satunya di dunia. Semua sudah musnahkan. Wolfsbane langka itu yang membunuh pack kami, dulu sekali. Membuat kami menjadi pack yang kecil dan terasingkan."
"Aku akan menyimpannya. Dan terima kasih telah mengambil dan menyerahkannya pada kami." ucap Kei pada Livia dan Lily.
"Kami hanya melakukan tugas kami, yang mulia. Dan untuk alpha keturunan murni, kami diperintahkan untuk memberikan ini."
Livia menyerahkan sebuah kalung. Kei mengambil kalung itu dan terkejut. Itu adalah kalung yang pernah di berikan Bian padanya dan di ambil oleh Mayes, pemimpin kaum hitam.
"I-ini adalah..." Kei masih menatap kalung itu. "Ini untuk Zach?"
Livia mengangguk. "Ya, itu untuk alpha keturunan murni. Yang terpilih berkata, itu akan membantunya."
"Sangat membantunya." Kei tersenyum. Kei menghadap ke Zach. "Ini, pakailah kalung ini. Bantu dia mengenakan kalung ini, Adrian."
Adrian mengangguk dan memasangkan kalung itu ke leher Zach. Zach memegang kalung itu.
"Kalung apa ini?" tanya Zach.
"Kalung pemberian yang terpilih. Kalung itu pernah membantuku dan sekarang kalung itu akan membantumu, mengendalikan kekuatan besarmu."
"Apa.. Itu akan berhasil?"
"Tentu, dan jangan pernah melepaskannya sebelum kamu siap." kata Kei. Zach mengangguk.
"Uhmm.. Apa bisa kami beristirahat di kota ini? Kami sudah terlalu lelah untuk bertarung dan berlari." kata Livia.
"Tentu bisa, benarkan alpha?"
"Tentu yang mulia." ayah Zach tersenyum. "Kalian telah melakukan semua ini untuk kami. Setidaknya hanya itu yang bisa kami lakukan untuk membalasnya. Beristirahatlah. Kami senang kalian disini."
"Terima kasih." ucap Livia.
"Aaakkkhh...!!!" Zach tiba-tiba berteriak. Dia menggelengkan kepalanya dan menutup telinganya.
"Ada apa Zach?" tanya Kei heran.
"Ada seseorang berteriak. Telingaku sakit sekali."
"Berteriak? Siapa?"
"Aku tidak tahu! Apa kalian tidak mendengarnya?! Suara itu keras sekali." sahut Zach.
"Kami tidak mendengar apapun Zach." kata ayah Zach.
"Itu tidak mungkin. Suara itu... Aaakkhh... Dengar? Orang itu berteriak lagi. Menyebalkan!" Zach menggosok telinganya.
"Zach, konsentrasi. Kamu bisa mengetahui dimana orang itu berada. Tutup matamu. Dengarkan suaranya." pinta Kei.
Zach menurut. Dia menutup matanya dan mendengarkan suara itu.
"Anak itu." kata Zach.
"Anak itu?" semua menatap Zach heran.
"Anak itu! Mata-mata itu. Aku harus segera kerumah Daryl. Daryl akan kesulitan. Aku... Maksudku... Saya akan kembali."
Zach berlari menuju rumah Daryl.
"Adrian, Brad dan Austin, susul Zach dan laporkan padaku apa yang terjadi." perintah ayah Zach. Adrian, Brad dan Austin mengangguk dan berlari mengejar Zach.
'Kei, apa kamu mendengar suara yang di maksud alpha Zach?' tanya Ian melalui mindlink khusus alpha dan beta.
'Tidak Ian, aku tidak mendengar apapun. Apa mungkin ini...'
'Mindlink antara alpha dan beta. Berarti mata-mata itu...'
'Beta Zach. Ya, benar Ian dan ini akan menjadi sangat rumit.'
Kei dan Ian saling menatap dalam diam. Zach mendapat beta dari pack musuh, itu sangat diluar dugaan mereka.
...****...
__ADS_1
tadariez