
"Siapa kalian?" tanya salah satu orang yang berada di depan mereka. Zach dan Roland saling pandang.
"Kami hanya... Berjalan-jalan." kata Roland.
"Kalian bukan dari pack Moon Bykort. Siapa kalian?"
Semua terdiam, tidak menjawab.
"Kenapa kalian diam?" tanyanya lagi.
"Apa mungkin mereka dari pack yang baru kita serang? Kau tahu, pack kecil yang berada di dekat sungai di Kanada." kata satu orang lainnya.
"Kamu yakin?"
"Well saya tidak yakin. Tapi beberapa sudah bersumpah untuk bergabung."
"Kalau begitu, lebih baik panggil salah satu dari mereka dan bawa kemari."
"Baik." kata orang itu dan langsung pergi.
"Kita akan buktikan, siapa kalian."
'Bagaimana ini alpha' tanya Brad.
'Kita tunggu saja Brad. Jika melawan mereka, maka kita akan semakin terpojok. Mereka akan memanggil kawanan lain.'
'Tapi kita tetap saja akan ketahuan alpha.'
'Aku tahu Roland. Entah kenapa aku merasa kita harus tetap disini.'
Semua terdiam kembali. Sesekali terdengar suara tawa dari kawanan pack Bykort. Sementara mereka menyuruh Zach untuk duduk di tanah dan menunggu. Tak lama datang dua orang.
"Itu mereka." semua orang berdiri.
"Siapa namamu?" tanya satu orang yang terlihat seperti pemimpin kawanan kecil itu.
"Saya Anthony, Gamma." kata orang yang baru saja datang.
"Kamu anggota baru dari pack kecil itu kan?" tanyanya.
"Iya, Gamma." kata Anthony.
"Kalau begitu, aku ingin kamu mengenali mereka." Gamma itu menunjuk Zach dan teman-temannya. "Apa mereka dari packmu?"
Anthony menatap mereka dan memperhatikannya. Dia tahu mereka sangat gugup.
"Tentu saja gamma. Mereka anggota pack lama kami. Mereka omega." kata Anthony membuat Zach terkejut.
"Apa kamu yakin? Aku rasa mereka bukan omega. Mereka terlihat terlalu kuat untuk menjadi omega. Dan lihat dia." gamma itu menunjuk ke Zach. "Auranya tidak terlihat omega, dia seperti beta atau... Alpha."
"Alpha? Hahahaha..." Anthony tertawa. "Mereka hanya omega, gamma. Omega rendahan."
Gamma hanya terdiam sejenak, tampak berpikir. Akhirnya dia menyetujui hal itu.
"Baiklah. Tapi... Apa mereka sudah menjadi kawanan ini?"
"Tentu, mereka di sumpah bersama saya. Sebenarnya saya mencari mereka kemana-mana." Anthony beralih ke Zach. "Apa kalian sudah selesai istirahatnya? Kenapa kalian lama sekali? Ayo, kembali bekerja!"
"Ba-baik." sahut Roland. "Ayo."
Zach mengikuti Roland dari belakang dan mulai berjalan menjauhi kawanan itu.
"Maafkan mereka gamma, saya akan menjaga mereka lebih baik lagi." kata Anthony.
"Ya sudah, pergilah! Jika aku melihat mereka lagi di sekitar sini, akan aku bunuh mereka. Kau dengar?!"
"Saya mengerti. Kami permisi." Anthony membungkuk sedikit lalu segera pergi.
Mereka pergi menjauh. Baik Anthony maupun kawanan Zach hanya berjalan dengan diam membisu. Tiba-tiba Anthony menarik tangan Zach masuk ke dalam sebuah pondok tua yang tidak terpakai lagi.
"Kalian siapa?" tanya Anthony.
"Kamu sendiri? Kenapa membantu kami?" Zach ikut bertanya.
"Aku yang bertanya lebih dulu."
"Baiklah. Kami kemari untuk membebaskan seseorang." kata Zach.
"Seseorang?" tanya Anthony. Zach mengangguk. "Siapa dan dari pack mana kalian?"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku." kata Zach. Orang itu terdiam.
"Aku tidak tahu." jawabnya akhirnya.
"Apa?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya.... Aku hanya ingin membantu kalian. Aku tahu kalian bukan dari pack sini ataupun packku. Dan aku juga tahu kalian mempunyai tujuan disini." kata Anthony.
"Ya, kami akan membebaskan teman kami." kata Roland.
"Dimana teman kamu itu?" tanya Anthony.
"Di goa itu." jawab Austin.
"Goa? Goa Rosk?! Kalian ingin kesana?" tanya Anthony. Semua mengangguk. "Kalian gila. Kalian tidak akan keluar dengan selamat. Goa itu dijaga ketat."
"Kami tahu. Tapi kami harus masuk."
Anthony terdiam, menatap tidak percaya.
"Kami berterima kasih telah membantu kami." kata Zach. "Kami permisi."
"Biarkan aku membantu kalian." kata Anthony.
"Apa? Tidak, tidak perlu." tolak Zach.
"Aku hanya ingin bertemu dengan alphaku." kata Anthony.
"Alpha?"
"Ya, kami berasal dari pack kecil di hutan Kanada. Kami di serang beberapa waktu lalu. Seluruh pasukan di minta untuk bergabung pada pack ini. Sementara alpha kami dibawa ke goa itu dan setahuku, disiksa."
"Lalu... Bagaimana jika menolak bergabung?" tanya Roland.
"Mereka akan di bunuh. Sudah beberapa orang yang di bunuh oleh mereka. Sisanya, kami terpaksa bergabung untuk sementara. Lalu kami akan mencari cara untuk keluar dari sini."
"Apa kamu tahu sulit sekali mendapatkan jalan keluar dari pack ini?"
"Awalnya tidak, sekarang kami tahu. Karena itu, aku harus bertemu alpha, untuk membicarakan hal ini. Kami tidak mau bergabung dengan pack kejam ini." kata Anthony.
Zach menatap Roland, Brad dan Austin.
"Baiklah, tapi jangan memperlambat atau menghalangi jalan kami. Apa kamu tahu penjaga digoa itu? "
"Saya tahu ada berapa dan kapan mereka berganti shift. Kami sudah memperhatikan mereka beberapa kali."
"Baiklah, ayo kita pergi."
Zach keluar dari pondok itu dan segera pergi ke goa yang di maksud oleh Austin. Mereka berjalan agak jauh.
Mereka sampai di dekat goa itu dan benar saja, tak tanggung-tanggung empat manusia serigala berjaga disana.
"Mereka tampak kuat. Kapan mereka ganti shift berjaga?" bisik Roland.
"Setiap jam enam sore."
"Tapi itu masih lama. Kita tidak bisa menunggu selama itu. Tidak untuk Bian dan Adrian."
"Bian dan Adrian? Siapa mereka?"
"Mereka teman kami dan mereka mengalihkan alpha Roger."
"Mengalihkan? Itu tidak mungkin."
"Itu mungkin jika yang mengalihkannya adalah yang terpilih."
"Yang terpilih disini?!"
"Ssstt... Pelankan suaramu." tegur Roland.
"Siapa diluar? Aku tahu ada orang tidak di undang disini. Keluar!!" kata salah satu penjaga goa. Mereka ketahuan.
"Aakhh sial!!" umpat Zach.
"Ma-maaf." ucap Anthony.
"Keluar kataku!!!" penjaga itu tampak marah. Tak lama keluar beberapa orang dari semak dan itu bukan Zach dan kawanannya, bukan juga Anthony. Ada orang lain di sana, tepatnya tiga orang. Dua wanita satu laki-laki.
"Siapa mereka?" bisik Zach.
"Aku tidak tahu. Sepertinya mereka sama sepertiku, anggota pack yang di rampas paksa."
"Maaf... Kami... Tersesat." kata wanita itu.
"Tersesat kalian bilang? Kamu bukan dari pack sini?" tanya penjaga itu.
"Ka-kami baru saja menjadi anggota pack sini, Bykort."
"Aaaahh... Kalian anggota baru itu... Dari pack mana? Kanada? Atlanta?"
"Atlanta." jawabnya.
"Begitu... Lalu untuk apa kalian kemari?"
__ADS_1
"Kami sudah katakan, kami tersesat."
"Dan kamu pikir kami akan percaya? Omong kosong! Kalian ingin bertemu dengan alpha kalian bukan?"
"Ti-tidak..."
"Kalian tahu apa hukumnya jika sudah disumpah untuk setia pada pack ini tapi kalian berkhianat dan masih setia pada pack lama kalian?"
"Tidak, sungguh... Kami hanya tersesat."
Zach berjalan cepat, berusaha tanpa suara sedikitpun mendekati para penjaga itu. Roland yang terkejut dengan kepergian Zach, mengikutinya.
"Kami tidak percaya. Tangkap mereka!!"
Dua orang penjaga lainnya berjalan mendekat untuk menangkap dua wanita dan satu laki-laki itu. Para wanita meronta, mencoba melepaskan diri.
"Kami mohon... Kami hanya... "
Bukk!!
Zach melayangkan pukulan ke kepala salah satu penjaga. Ketiga penjaga lain terkejut tapi belum sempat melakukan apapun, Roland juga memukul salah satu penjaga. Brad dan Austin yang sudah keluar dari persembunyiannya juga melayangkan tinju mereka.
Terjadi perkelahian tapi Zach dan kawanannya memenangkan pertarungan. Keempat penjaga itu sudah tergeletak pingsan ditanah.
"Kita harus mengikat mereka." kata Zach. Zach menarik salah satu penjaga dan menyandarkannya dipohon.
"Cari sesuatu yang bisa mengikat mereka." kata Zach.
Mereka menyandarkan penjaga lainnya dan mencari beberapa akar pohon sebagai pengganti tali untuk mengikat para penjaga.
"Apa masih ada penjaga lagi di dalam?" tanya Zach.
"Masih ada." kata Anthony.
"Kalau begitu, ayo kita pergi. Brad, kamu jaga disini."
"Aku? Kenapa harus aku? Aku ingin masuk."
"Brad..."
"Karena aku percaya padamu." Zach mengambil sebatang kayu berukuran sedang pada Brad. Brad mengambil kayu itu dan memandang Zach heran. "Pukul jika mereka sadar. Jangan sampai mereka mindlink kawanannya yang lain."
"Whoaa... Dengan senang hati." Kata Brad. Roland menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita pergi. Dan terima kasih." kata Zach pada wanita yang membantunya tadi.
Zach bersama Roland dan Austin dan juga Anthony masuk ke dalam goa. Brad ditemani dua wanita dan satu laki-laki yang membantu mereka tadi.
Zach masih berjalan perlahan. Goa itu tampak gelap, hanya di terangi oleh obor yang di letakkan di dinding.
Austin menunjukkan jalan menuju ruangan bawah tanah. Austin tiba-tiba berhenti dan menahan Zach yang ingin melangkah maju. Austin meletakkan jari telunjuk di mulutnya.
Austin tiba-tiba keluar dari persembunyiannya membuat Zach dan Roland terkejut. Austin membuat dirinya di ketahui oleh dua penjaga didepan.
"Siapa kamu?" tanya salah satu penjaga.
"Aku hanya lewat." kata Austin. Roland menepuk dahinya. Apa dia tidak punya alasan lain? Anak aneh.
"Apa katamu?" satu penjaga maju dan mendekati Austin. Austin segera memukul penjaga itu dan Roland berlari ke arah penjaga lainnya dan bertarung.
"Alpha! Cepat masuk!!" pinta Austin.
"Kami akan menahan mereka disini alpha." sahut Roland.
Zach berlari menuju sebuah pintu yang di jaga oleh dua penjaga yang sedang bertarung dengan Austin dan Roland. Anthony mengikuti Zach berlari.
"Alpha?" gumamnya. Dia mendengar Austin memanggil Zach dengan sebutan alpha.
Zach membuka pintu. Ada sebuah lorong menuju ke bawah. Zach berjalan di lorong itu di ikut Anthony. Lorong itu terbuat dari batu dan lumayan gelap. Tidak ada obor atau apapun. Zach mengambil ponselnya dari saku celana lalu menggunakan lampu dari ponselnya untuk menerangi jalan.
"Uhm... Maaf, tapi kenapa mereka memanggilmu dengan sebutan alpha?" tanya Anthony.
"Aaahh mereka memang suka seperti itu... Agak sedikit kurang waras." kata Zach.
"Ahh tapi aku rasa mereka baik-baik saja." gumam Anthony. Zach hanya tersenyum simpul.
"Uhmm ada dua lorong. Kemana kita pergi?" Zach berhenti di antara dua lorong.
"Aku... Tidak tahu. Ini pertama kalinya aku masuk sampai ke bawah sini." jawab Anthony.
'Austin, apa kamu mendengarku?'
'Saya dengar alpha.'
'Ada dua lorong, dimana?'
'Kedua lorong itu menuju kedua ruangan yang berbeda alpha dan dua-duanya adalah tempat penyiksaan tawanan.'
Zach mengacak rambutnya kesal. Dia harus memilih salah satu dari dua lorong. Dia tidak mungkin memilih dua-duanya. Mereka akan kehabisan waktu.
"Ada apa? Yang mana yang akan kamu pilih?"
"Aku tidak tahu. Dua-duanya menuju ke ruangan penyiksaan dan aku tidak tahu diruangan mana temanku... Tunggu, hubungan alpha dan beta! Itu dia!!"
'Hubungan alpha dan beta? Apa maksudnya?' gumam Anthony dalam hati.
"Alpha." panggil Austin.
"Bagaimana dengan penjaga itu?"
"Mereka pingsan alpha. Roland menjaga mereka agar tetap pingsan. Jadi... Apa yang anda pilih?"
"Aku akan menggunakan hubungan alpha dan beta. Entah kenapa aku merasa Aaron disini."
"Kalau begitu lakukanlah alpha."
"Tunggu, tunggu dulu." potong Anthony. "Apa maksudnya ini? Alpha? beta? Siapa alpha? Siapa beta? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan alpha?"
"Kita akan membahasnya nanti." ucap Zach.
'Aaron.. Kau mendengaku? Aaron?'
"Aaakkkhhhhh....!!!" terdengar suara teriakan dari atas mereka.
"Su-suara apa itu?"
"Di atas ada sebuah ruangan yang sudah lama tidak terpakai. Ruangan bekas penyimpanan senjata tapi setahu saya ruangan itu kosong sekarang."
"Yang jelas tidak kosong lagi. Tapi itu suara... Wanita."
"Berarti bukan beta Aaron."
"Hmm... Iya, bukan. Akan aku coba lagi."
'Aaron... Jawablah.'
Tapi masih tidak ada jawaban dari Aaron.
"Aakhh..." Zach memegangi dadanya yang sakit.
"Anda baik-baik saja alpha?" tanya Austin.
"Sebelah sini."
Zach berjalan menuju lorong yang ada disebelah kirinya. Zach merasakan kehadiran Aaron yang sangat kuat dari lorong itu. Zach berjalan dengan masih memegangi dadanya. Semakin jauh mereka masuk, semakin sakit dada Zach. Di ujung lorong ada sebuah pintu. Pintu itu terbuat dari besi. Anthony mengetuk pintu itu pelan.
"Sepertinya besi ini kuat." gumam Anthony.
"Kita harus cari cara untuk--"
Bukk!!
Zach memukuli pintu besi itu.
"A-alpha." panggil Austin. Tapi Zach masih memukuli pintu besi itu. Pintu besi itu mulai penyok. Melihat itu, Austin ikut memukuli pintu besi itu.
"Aku yakin dia ada di dalam sini."
Zach dan Austin memukul dan menendang pintu besi itu. Sampai akhirnya pintu itu benar-benar rusak. Tangan Zach sudah di penuhi dengan luka dan darah. Zach membuka pintu besi yang rusak dan masuk kedalam. Ruangan itu gelap dan dindingnya terbuat dari batu yang sudah berlumut. Terdengar suara gemericik air dan tetesan air. Ruangan itu tampak gelap. Hanya sedikit cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Aaron? Aaron aku tahu kamu disini.." panggil Zach. Tapi hening, tak ada suara seseorang pun. "Aaron!!"
Tak lama terdengar bunyi suara rantai. Zach menoleh ke arah suara.
"A... A..." terdengar suara orang memanggil. "Al-pha.."
Zach mengarahkan lampu dari ponselnya ke arah suara. Zach mendapati seseorang tergeletak di lantai yang dingin dan basah, tidak mengenakan baju dan terlihat menggenaskan.
"Aaron? Aaron!!"
Zach mendatangi Aaron dan membantunya untuk duduk.
"Aaron? Jawab aku!"
"Al-Pha.. Ke-ken-kenap-a.. Anda... Di-disi-ni.."
"Menjemputmu tentu. Ayo kita pergi. Dari sini."
"Tidak... Tidak... "
"Apa maksudmu tidak Aaron? Kita harus pergi."
Zach mencoba melepaskan rantai tapi tangannya justru terasa terbakar saat menyentuhnya.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Wolfsbane." jawab Austin.
"Wolfsbane?" ulang Zach.
"Iya alpha. Wolfsbane adalah racun untuk manusia serigala. Akan melemahkan dan bahkan mematikan."
Zach mengangguk mengerti. Dia mencoba untuk melepaskannya tapi tanganya terasa perih terbakar. Zach menarik nafasnya dalam-dalam lalu bola matanya berubah menjadi hitam pekat. Zach menarik rantai itu. Menahan rasa perih dan sakit terbakar dari racun Wolfsbane. Zach menarik sekuat tenaga. Bola matanya berubah menjadi merah.
Tast!!
Rantai itu putus.
"Kamu... Ternyata memang seorang alpha." Anthony tampak terkejut.
****
Beberapa saat sebelumnya...
Bian dan Adrian masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Rumah itu di jaga ketat oleh beberapa penjaga. Di dalam rumah terdapat beberapa ukiran dan pahatan kayu dan juga lukisan.
"Selamat datang Bian, senang akhirnya bisa bertemu lagi." sapa alpha Roger. Alpha Roger berdiri dari duduknya dan berjalan menyambut Bian.
"Hallo alpha Roger." kata Bian. Alpha Roger mengambil tangan Bian dan mencium punggung tangannya. Bian hanya tersenyum kecil.
"Selamat datang di istana kecilku, lagi." kata Roger. "Ayo, silahkan duduk."
Bian dan Adrian saling pandang sejenak lalu akhirnya duduk bersama.
"Ini adalah ruang tahta." kata alpha Roger memperkenalkan.
"Tahta?" bisik Adrian.
"Dia menganggap dirinya adalah raja." kata Bian.
"Ya, itu benar." alpha Roger membenarkan. "Aku raja disini."
Alpha Roger tersenyum sinis membuat Bian dan Adrian saling pandang.
"Bagaimana denganmu alpha Zach? Apa anda sudah bertemu dengan raja itu? Aku rasa umurmu sama dengan raja itu kan? Uhmm Bruce, siapa namanya?" tanya Roger pada Bruce yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kei, alpha. Kei Lyroso Laros."
"Ahh iya, itu namanya." ucap alpha Roger.
"Alpha." Bian mulai berbicara. Dia sudah tidak ingin mendengar kesombongan alpha Roger lagi. "Aku ingin bertanya padamu."
"Ohh tentu saja, my love." jawab alpha Roger membuat Bian menatap heran.
"Kristal itu. Kristal werewolf. Kristal itu ada disini... Sebelumnya. Kenapa?" tanya Bian. Alpha Roger menatap Bian heran lalu tersenyum.
"Jadi... Kedua penyihir itu... Suruhanmu?"
"Tentu saja." jawab Bian santai.
"Aahh... Aku tidak merasa punya masalah denganmu Bian. Tapi... Kenapa kamu mengusik ketenangan packku?" tanya alpha.
"Karena kamu memiliki sesuatu yang bukan milikmu."
"Kenapa itu menjadi urusan kalian para penyihir? Bukankah kristal itu milik kaum manusia serigala?"
"Tapi apa kamu lupa siapa aku? Aku yang terpilih, aku yang menjaga keseimbangan di antara semua makhluk supranatural, termasuk manusia serigala. Dan benda itu, kristal itu seharusnya berada di kuil Moon Goddess bukan disini."
"Aku hanya menambah koleksi benda antikku." jawab alpha Roger seakan tidak perduli.
"Menambah? Koleksi? Aku kira bukan seperti itu. Aku memperingatkanmu alpha Roger, jangan mengambil sesuatu yang bukan untukmu."
"Kamu mengancamku? Untung saja kamu wanita cantik. Jika tidak... Aku tidak akan memaafkan ancamanmu."
"Aku tidak mengancam, tapi melakukan hal yang seharusnya." kata Bian.
"Bagaimana jika melupakan hal itu? Kamu juga sudah memiliki benda itu. Kita berpesta malam ini." pinta alpha Roger.
"Tidak, terima kasih. Aku datang hanya untuk menanyakan hal tentang kristal itu." tolak Bian.
"Benarkah? Sayang sekali. Padahal aku ingin bersenang-senang denganmu." alpha Roger menatap Bian mesra membuatnya jijik.
"Maaf tapi... Kami masih ada urusan lain." kata Bian. Alpha Roger menatap Bian, membuat Bian gugup. Tatapan matanya sangat mengintimidasi. "Lalu untuk apa anda mengambilnya."
"Sudah aku katakan untuk koleksiku."
"Lalu bagaimana anda bisa masuk?" tanya Bian. Alpha Roger terdiam. "Kuil Moon Goddess tidak bisa di masuki oleh semua orang. Itu kuil yang di lindungi oleh kekuatan yang sangat kuat. Untuk manusia serigala seperti anda, meskipun anda alpha, anda tetap tidak akan bisa masuk. Perlu menguras kekuatan sihirku untuk masuk, jadi... Bagaimana anda bisa mengambil kristal itu?"
"Aku punya cara tersendiri untuk mengambil kristal itu."
"Yaitu?" tanya Bian. Alpha Roger memajukan tubuhnya mendekat dengan Bian.
"Aku rasa aku tidak perlu mengatakannya. Kristal itu sudah tidak berada disini lagi. Anak buahmu sudah mengambilnya jadi aku rasa itu tidak penting lagi." sahutnya lalu kembali ke posisinya semula.
Bian menatap alpha Roger. Dia merasa marah sekaligus jijik. Ini pertemuan kedua dengan alpha Roger tapi dia masih saja tidak tahan dengan angkuh dan kesombongannya.
"Jangan menatapku seperti itu." alpha Roger menatap Bian. "Jangan katakan kau terpesona dengan ketampananku."
Bian mengerutkan keningnya dan menatap heran.
"Tidak, tentu saja. Anda tidak perlu khawatir. Saya tidak akan terpesona." kata Bian.
Alpha Roger laki-laki yang cukup tampan dan manly dengan rambut hitam bergelombang sebahu dan tubuh kekar dan atletis. Tapi dia terlalu kejam, angkuh dan sombong. Dia tidak pernah puas dengan yang ada, dia selalu menginginkan lebih.
"Sayang sekali. Mungkin kita bisa menjadi pasangan yang sempurna. Kau dengan yang terpilihmu dan aku dengan kekuatanku dan pack yang terkuat. Kita akan menjadi pasangan yang sempurna. Bagaimana?"
"Tidak, terima kasih." Bian tersenyum tipis. "Saya masih tidak ingin mempunyai pasangan hidup."
"Atau mungkin..." alpha Roger menghadap ke Bian. "....kamu lebih ingin bersamanya, alpha Zach itu?" alpha Roger menunjuk Adrian yang menyamar menjadi Zach.
Bian melihat ke arah Adrian.
"Mungkin. Setidaknya dia tidak melakukan segala cara untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya." kata Bian. Alpha Roger tertawa.
"Fair enough. Setidaknya aku tahu, seleramu pada anak remaja."
"Aku kemari bukan untuk membicarakan seleraku alpha." kata Bian.
"Lalu kamu mau apa? Mengeluarkan api biru itu dan membinasakan packku?"
"Ohh aku bukanlah dirimu alpha, yang mengorbankan orang tidak bersalah hanya untuk kesenanganmu saja." sindir Bian. Alpha Roger tertawa keras.
"Itulah kekuatan my love. Semua akan takut jika kamu kuat."
"Alpha.....!!!" seorang gamma berjalan terburu-buru mendatangi alpha Roger.
"Lancang!!! Sedang apa kamu?!" pekik Bruce.
"Ma-maaf beta tapi... Ada penyusup."
"Apa?! Apa maksudmu ada penyusup di packku?"
"Itu benar alpha. Mereka sudah memasuki goa Rosk."
"Cari mereka! Apa kalian sudah tahu siapa mereka?"
"Salah satu gamma bernama Nathan memberitahukan, penyusup itu adalah alpha dari keturunan murni."
"Apa?!"
Semua orang melihat ke arah Bian dan Adrian. Bian dan Adrian saling pandang. Oh sial!!
"Itu tidak mungkin. Itu adalah alpha keturunan murni dan dia ada disini." Bruce menunjuk Adrian. "Jangan sembarangan. Mereka tamu dari alpha Roger."
"Saya bersungguh-sungguh beta. Gamma Nathan berkata, dia adalah alpha keturunan murni."
"Lalu... Yang mana yang asli?"
Bian dan Adrian nampak gugup. Kali ini penyamarannya terbongkar.
"Deschideți masca, Arată-mi real tine"
Seorang penyihir dari kaum hitam yang duduk tak jauh disana membaca mantra dan mengarahkan mantra itu pada Ardrian.
Wajah Adrian semakin lama semakin berubah menjadi wajah aslinya. Senua orang terkejut.
"Sialan!!" umpat alpha Roger. "Kamu membohongiku!! Ayo kita tangkap alpha keturunan murni itu!"
Alpha Roger turun dari kursinya dan langsung berjalan. Tapi Bian berteleportasi dan muncul tak jauh alpha Roger. Bian merentangkan kedua tangannya.
"Maaf alpha, tapi saya tidak akan membiarkanmu pergi." kata Bian.
"Kamu... Sudah membohongiku." geram alpha Roger.
"Aku tidak pernah membohongimu. Aku adalah Bian, yang terpilih dan aku kemari untuk menanyakan soal kristal itu. Tapi aku tidak pernah berkata, jika dia adalah alpha keturuanan murni bukan? Kalian yang mengatakannya."
"Brengsek!! Kamu sudah mencampuri urusan packku, yang terpilih. Itu bukan pilihan bijak. Terutama untuk kaummu."
"Jangan bawa-bawa kaumku alpha Roger. Aku disini atas nama yang terpilih bukan atas nama kaum putih. Bahkan tidak ada kaum putih disini." kata Bian. Alpha Roger tertawa keras.
"Usaha yang bagus. Tapi kamu tidak akan bisa lepas dari sini."
"Oh tentu saja, aku siap bertarung."
"Ka-kamu yakin soal itu?" bisik Adrian yang sudah berdiri di sebelah Bian.
"Tentu. Aku telah menggunakan seluruh kekuatanku untuk membantu raja manusia serigala dan sekarang aku akan bertarung kembali, untuk membantu alpha murni dari manusia serigala. Kalian para manusia serigala sungguh sangat menyusahkan."
__ADS_1
***
tadariez