
"Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi." kata Kei. Dia tidak bisa membayangkan ketika hal itu terjadi. Terlebih mate dari Zach.
"Aku tahu. Aku akan meminta Lily dan Livia berjaga disekitar Karen, sementara aku akan mencari cara untuk mengurungnya."
"Dimana kamu akan mengurungnya?"
"Di sebuah botol yang di buat khusus untuk mengurungnya."
"Lalu dimana botol itu? Apa kamu memilikinya?" tanya Kei. Bian menggeleng.
"Sayangnya tidak Kei. Aku akan mencarinya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kaum hitam lagi. Cukup manusia serigala saja. Vampir akan di tangani Nick. Malam ini."
"Bagaimana kamu bisa yakin aku tidak perlu mengkhawatirkan kaum hitam?"
"Karena sedari awal bukan kalian yang di incarnya."
"Oh ya? Lalu siapa?"
"Aku. Aku akan mengurus mereka." Bian melepaskan gelembungnya. "Akan aku pastikan kaum hitam tidak akan menyerang kalian lagi."
"Baiklah, terima kasih tentang itu. Tapi... Apa kamu akan ikut berperang bersama kami jika memang terjadi perang?"
"Tidak. Aku tidak akan ikut."
"Tapi kenapa?"
"Itu urusan kaum kalian, kaum manusia serigala. Jadi kalian harus menyelesaikan masalah kaum kalian sendiri. Aku akan memastikan kaum hitam tidak ikut campur dan Nick akan memastikan vampir tidak ikut campur. Hanya para manusia serigala."
"Tapi lebih baik jika kamu ikut. Kita akan lebih pasti menang." gumam Kei. Bian tersenyum lalu mengacak rambut hitam Kei.
"Kamu manis sekali adik manis. Kamu dan Zach sudah lebih dari cukup untuk memenangkan pertarungan itu. Kamu kuat Kei, kamu harus percaya itu. Aku yakin, bahkan sangat yakin kamu mampu memimpin pasukanmu."
"Tapi... Bagaimana jika kami kalah?"
"Oh adik manis... Aku tahu menang atau kalah itu sangat penting bagimu dan packmu. Tapi apapun hasilnya, aku yakin packmu akan tetap bangga padamu. Kamu pemimpin yang hebat. Aku tahu kamu akan berusaha sebaik-baiknya."
Kei terdiam. Dia masih bingung dan merasa sangat tidak tenang. Meskipun banyak yang berkata seperti Bian, dia tetap meragukan dirinya sendiri.
"Aku akan selalu berada disisimu Kei, menang atau kalah." kata Ian sambil menepuk pundak Kei. Beberapa hari ini Kei memang terbebani dengan pemikiran itu. Dia merasa akan mengecewakan packnya jika mereka kalah.
"Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi adik manis." kata Bian lalu bertelportasi.
"Kei kita harus berbicara pada alpha Sebastian tentang ini." kata Ian.
"Baiklah. Ayo kita pergi."
****
Nick mondar mandir disebuah bangunan tua. Dia sendirian dan sedang menunggu seseorang.
"Nick.." panggil seseorang. Nick menoleh ke arah suara.
"Akhirnya..." sahut Nick lega.
"Maaf aku terlambat. Aku harus menemui Kei tadi." kata Bian.
"Apa anak itu baik-baik saja?"
"Tampak tertekan. Tapi aku rasa itu wajar mengingat pertarungan yang akan dia hadapi."
"Hmm ya, itu pasti membebani pikirannya. Kasihan sekali, padahal dia masih tujuh belas tahun." gumam Nick. Bian menatap heran.
"Aku tidak tahu kamu bisa merasa kasihan pada seseorang Nick." kata Bian.
"Whoaa... Aku bahkan baru sadar aku mengucapkan hal itu." Nick dan Bian tertawa.
"Apa semua sudah siap?" tanya Bian.
"Tentu. Apa kamu sudah siap?"
"Tentu saja."
"Kenapa kamu tidak meminta bantuan Elder yang lain? Atau Kate dan Gina?" tanya Nick.
"Tidak perlu, aku saja sudah cukup. Jika memang keadaan menjadi lebih berbahaya, aku akan menggunakan api biruku."
"Whoaaa.... Kamu tidak pernah mau menggunakan itu sebelumnya, kenapa sekarang?"
"Karena aku sudah muak padanya Nick. Aku sudah memaafkannya kamu ingat? Aku tidak akan melakukannya lagi."
"Baiklah, baiklah. Perempuan saat marah memang menakutkan." gumam Nick. Bian tersenyum.
"Aku akan bersembunyi dan menutupi jejakku." kata Bian. Bian segera menghilang.
Nick menunggu kembali. Setelah beberapa lama, akhirnya yang ditunggu datang.
"Yang mulia..." sapa Zigor dengan membungkukkan tubuhnya hormat.
"Zigor." kata Nick berubah menjadi berwibawa. Jika Bian ada di sebelahnya mungkin Bian akan tertawa terbahak melihat Nick yang berubah menjadi serius dan berwibawa karena Nick yang konyol dan gila tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.
"Aku mendengar anda ingin bertemu dengan saya dan kenapa saya harus membawa pasukan?" tanya Zigor.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Dan sepertinya kamu tidak membawa seluruh pasukanmu."
Zigor tersenyum. Dia memang tidak membawa seluruh pasukannya, hanya setengah.
"Saya hanya ingin memastikan ada apa. Saya tidak ingin mengambil resiko."
"Yang berarti kamu tidak percaya padaku. Benarkan?"
"Mungkin saja atau mungkin saya hanya ingin berjaga-jaga yang mulia."
"Aku bahkan hanya sendirian disini. Dengarlah. Apa aku ada orang lain selain aku disini?"
"Saya tahu yang mulia." kata Zigor. Dia sedari tadi sudah mencoba mencari orang lain dan vampir lain selain Nick.
"Tentu saja kamu tahu. Aku juga tahu kamu sudah menyuruh beberapa pasukanmu untuk memeriksa disekitar sini."
"Sungguh luar biasa. Menjadi raja membuat kemampuan kita meningkat."
"Aahh jangan memujiku. Meskipun aku bukan raja aku tetap akan mengetahuinya. Aku tidak bodoh. Ayolah, aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk berbicara yang tidak penting. Sebaiknya kita masuk ke dalam."
Nick berjalan ke dalam gedung tua yang telah di tinggalkan itu. Zigor tersenyum sinis. Dia dan pasukannya mengikuti Nick. Nick dengan percaya diri masuk ke dalam gedung tapi baru melewati pintu masuk dia berhenti dan menoleh pada Zigor.
"Tidak perlu memerintahkan pasukanmu berjaga. Ini wilayah amanku. Jadi tidak akan ada yang tahu tentang pertemuan kita." kata Nick pada Zigor yang baru saja akan memerintahkan pasukannya untuk berjaga. Zigor menyetujuinya dan memerintahkan pasukannya untuk masuk, tapi tidak semua. Dia masih tidak mempercayai Nick. Dan Nick tahu itu.
"Ada apa ini sebenarnya yang mulia?" tanya Zigor saat sudah berada di dalam.
"Aku ingin membicarakan tentang para serigala itu." kata Nick.
"Serigala?"
__ADS_1
"Ya, kau tahu, yang dilindungi oleh yang terpilih?"
"Saya kira anda juga membelanya." kata Zigor.
"Oohh... Aku tidak membelanya Zigor. Aku hanya ingin tampak baik di hadapan wanita yang ku cintai. Tapi ternyata memang anak buahmu yang bersalah."
"Ya, begitulah." Zigor tersenyum pahit.
"Aku tidak membelanya sepenuhnya. Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya dan itu yang akan aku bicarakan denganmu. Aku mendengar pertarungan yang akan terjadi. Antara pack itu dan Roger, kau tahu.. Uhmm... Pack... Aku lupa nama pack itu."
"Pack Moon Bykort."
"Ahh ya itu. Lalu aku juga mendengar kamu ikut pertempuran itu."
"Dari mana anda tahu semua itu?"
"Aku juga punya telinga di mana-mana Zigor. Aku bahkan juga memiliki pasukan yang besarnya sama dengan keluarga Valhant. Aku selalu sendiri karena aku merasa tidak perlu membawa mereka hanya untuk hal sepele."
"Lalu kenapa anda meminta saya untuk membawa pasukan saya?"
"Aku ingin menawarkan tempat dan perlindungan padamu dan pasukanmu."
"Apa maksud anda?"
"Kamu menjadi bagian dari kerajaanku. Meskipun aku bukan dari keluarga Valhant tapi aku bisa memimpin pasukanku dengan sangat baik. Jadi aku menginginkanmu di dalam pasukanku. Mungkin kamu bisa jadi penasehatku atau orang kepercayaanku." jelas Nick. Zigor menatap Nick dengan penuh curiga.
"Kenapa saya?"
"Ooh Zigor. Kita sama-sama tahu kamu vampir yang kuat dan cerdas. Tentu aku akan sangat senang jika kamu bisa bergabung dengan kerajaanku dari pada kerajaan Valhent."
Zigor tersenyum bangga.
"Benarkah?" tanyanya.
"Tentu. Well yeah aku tahu kadang kamu sangat menyebalkan." kata Nick lagi. Kali ini membuat Zigor menyipitkan matanya. "Tapi kekuatan dan jiwa kepemimpinanmu sangat luar biasa. Patut aku contoh."
"Tapi saya rasa saya--"
"Ohh jangan menolakku kumohon. Bahkan akan aku beri akses pada anak buahmu ke istanaku dan ke wilayahku untuk mencari makan. Kamu tahu wilayahku adalah perkotaan besar yang berarti..."
"Banyak mangsa." sambung Zigor.
"Benar. Dan juga tentu, dengan bergabung denganku, kamu bisa menggunakan pasukanku yang banyak itu." tawar Nick membuat Zigor terbelalak tidak percaya.
"Anda tidak bercanda kan?" tanya Zigor.
"Tentu. Bahkan aku sudah membuat perjanjian ini." Nick mengeluarkan sebuah kertas berukuran panjang dan menyerahkannya pada Zigor. "Di kertas di tulis jika kamu bisa mencari makan di wilayahku dan menggunakan prajuritku asal kamu mau bergabung dan mengikuti perintahku. Itu mudah kan? Bacalah.."
Zigor mulai membaca dengan serius. Sementara itu Bian muncul di belakang gedung itu. Di balik tiang. Dia melihat ada dua vampir.
"Siapa disana?" sahut salah satu vampir. Tentu saja kini mereka yang di luar gedung bisa merasakan kehadiran Bian.
Bian keluar dari persembunyiannya. Kedua vampir itu terkejut dan saling menatap. Bian mengeluarkan tali bercahaya dari kedua tangannya dan melemparnya pada kaki kedua vampir itu. Bian menarik kedua vampir itu hingga terjatuh dan mendekat dengannya. Lalu mencekik kedua vampir itu tanpa menyentuh mereka. Kedua vampir itu meronta tapi Bian tidak perduli. Dia semakin menguatkan cekikkannya. Tak lama muncul dua vampir lagi. Bian mengangguk pada kedua vampir yang merupakan vampir kepercayaan Nick. Mereka masing-masing memasukan salah satu tangan mereka ke dalam dada vampir yang di cekik Bian lalu menarik keluar jantung mereka. Bian melepaskan cekikkannya. Bian mengeluarkan api birunya lalu membakar tubuh vampir itu.
"Kalian mengatasi yang di samping, aku didepan. Ahh jangan lupa yang di luar pagar." kata Bian.
"Baik yang terpilih." jawab mereka berdua lalu pergi dengan cepat.
Bian berteleportasi dan muncul di belakang salah satu vampir. Bian menekan pundak vampir itu. Vampir itu menekuk kedua lututnya. Vampir di depan mereka terkejut tapi belum sampai ke Bian, vampir itu terhempas jauh. Tangan Bian yang menekan bahu vampir itu mengeluarkan api biru dan membakarnya. Tiba-tiba tubuh Bian melayang mengenai dinding dan vampir yang melemparnya tadi menekan tubuh Bian ke dinding.
"Beri tahu tuan Zigor." kata vampir yang menekan Bian pada vampir yang tadi di hempas Bian. Vampir itu mengangguk dan menuju pintu masuk. Tapi anehnya pintu itu tidak bisa terbuka.
"Aku tidak bisa membuka pintu ini." kata vampir berambut hitam dan mengenakan jaket kulit berwarna hitam itu.
"Hei! Aku sudah menggunakannya bodoh!"
"Berani sekali kamu memanggilku bodoh?!"
"Kamu memang bodoh."
"Kau--"
"Hei, hei.. Apa kalian akan terus bertengkar? Lalu bagaimana denganku?" Bian menengahi. Kedua vampir itu melihat ke arah Bian. Bian memutar bola matanya. "Akhh baiklah... Sayang sekali, padahal kalian cukup tampan dan sexy."
Bian memegang tangan vampir yang menekan tubuhnya lalu mengeluarkan api birunya. Vampir itu terbakar seketika dan tidak bersisa. Sementara vampir berambut hitam itu menatap ngeri. Bian beralih pada vampir berambut hitam.
"Sialan!!"
Vampir itu menyerang Bian lalu dengan segera mengigit leher Bian. Bian tidak melawan maupun menghentikannya. Bian membiarkan vampir itu menghisap darahnya.
Belum lama vampir itu menghisap darahnya, vampir itu melepaskan gigitannya. Dia memegangi lehernya. Dia sulit bernafas.
"Apa kamu memang tidak tahu atau kamu sebenarnya bodoh? Kamu tidak bisa menghisap darah dari yang terpilih karena yang terpilih memiliki kalung yang membuat darahnya menjadi racun mematikan bagi vampir dan manusia serigala. Kamu meminum darahku dan maaf tapi kamu akan mati." kata Bian.
Vampir itu masih kesulitan bernafas. Racun yang di minumnya membekukan jantungnya lalu dia membeku seperti batu. Tubuhnya kaku, tidak bergerak. Bian kemudian membakar tubuh vampir itu dengan api birunya agar tidak meninggalkan bekas. Bian menghela nafas. Dia mengeluarkan sebuah botol ramuan dari Lily yang telah di sempurnakannya. Bian menaburkan ramuan itu di depan pintu.
"Răspândire"
Ramuan itu menyebar keseluruh gedung dan berhenti didepan gedung kembali tetapi tidak menyatu dengan ramuan pertama yang Bian sebar. Seperti ada celah di antara keduanya. Kedua vampir kepercayaan Nick sampai disana.
"Kalian sudah selesai?" tanya Bian. Mereka berdua mengangguk.
"Sudah."
"Bagus, aku akan masuk, kalian berjaga disini. Saat aku dan Nick pergi, letakkan sisa isi ramuan ini di cela yang masih ada, dengan cepat. Jangan sampai mereka keluar dari sini." kata Bian.
"Baik yang terpilih."
"Bian saja kumohon."
Bian masuk kedalam gedung dan mendatangi Nick tepat setelah Zigor menyerahkan kertas yang sudah ditanda tanganinya ke Nick.
"Wah, wah... Ada pertemuan disini." kata Bian. Semua orang terkejut, kecuali Nick yang berpura-pura terkejut.
"My love!! Astaga, sedang apa disini?! Hahahahaha.."
Bian berjalan mendekat.
"My love! Sedang apa kamu disini?" tanya Nick lagi. Bahkan ekspresi terkejut pura-puranya saja terlihat konyol. Bian hampir saja tertawa.
"Ternyata kamu memang melupakannya."
"Melupakan apa?"
"Bukankan hari ini kita ada kencan Nick? Dan aku sudah lama menunggumu. Kata para vampir kepercayaanmu, kamu berada disini
Waahh aku tidak menyangka kamu lebih memilih Zigor untuk berkencan dari pada aku."
"A-apa? Ahh kamu terlalu berlebihan my love."
"Berlebihan katamu?!" pekik Bian. Bian melipat kedua tangan didepan dadanya dan menatap marah Nick. Lalu tiba-tiba Bian mengambil kertas di tangan Nick.
__ADS_1
"Aa.. Aahh ma-my love.. I-itu..."
Bian membuka kertas itu dan membacanya.
"Kalian bekerja sama?" tanya Bian. "Ini benar-benar tidak kuduga."
"Well kamu tahu Zigor sangat kuat dan pintar Bian. Dia bisa sangat berguna bagi kerajaanku."
"Dia memang sangat kuat, kuakui itu tapi dia bodoh." guman Bian.
"Apa katamu?!" Zigor tersinggung.
"Bodoh, sangat bodoh." kata Bian.
"Kau--"
"Kamu mau perjanjian ini? Maaf aku rasa tidak bisa." kata Bian.
"Flamin Minchier"
Bian mengeluarkan api dari tangannya lalu membakar kertas itu. Zigor sangat terkejut.
"Brengsek!!" pekik Zigor. Bola mata Zigor berubah menjadi merah. Dia sangat marah sekarang.
Nick menarik tubuh Bian dan membawanya keluar gedung itu dengan cepat.
"Sekarang!!" teriak Bian. Salah satu vampir kepercayaan Nick menyebarkan sisa ramuan itu.
Zigor membuka pintu dan berusaha keluar tapi dia tidak bisa.
"Maafkan aku Zigor, tapi tidak akan aku biarkan kamu untuk ikut campur masalah serigala. Bukan untuk mereka saja, tapi untukmu. Jika keluarga Valhent tahu, kamu akan mati di tangan mereka."
Zigor memukul pelindung yang tak terlihat.
"Jangan buang-buang tenagamu. Kamu hanya bisa membukanya dengan darahku." kata Bian. Zigor menatap Bian marah.
"Deghizare, Invizibil, să dispară.
Ascundeți sine de tot"
Gedung itu menjadi tidak terlihat. Tidak akan ada yang bisa melihat gedung itu terutama manusia biasa.
"Jadi... Apa kita akan membiarkan mereka kelaparan?" tanya Gereth, salah satu vampir kepercayaan Nick.
"Aku sudah meletakkan beberapa kantung darah disana. Itu akan cukup jika mereka menghematnya." jawab Nick. "Bagaimana dengan pasukan Zigor di wilayahnya?"
"Sudah kami amankan sesuai perintah anda yang mulia."
"Bagus."
"Tugasku disini sudah selesai. Aku harus pergi." kata Bian.
"Kenapa buru-buru sekali?"
"Kita sudah menghentikan para vampir sekarang giliran penyihir."
"Apa kamu perlu bantuanku, my love?"
"Tidak perlu Nick, aku baik-baik saja. Awasi saja terus Zigor dan keluarga Valhant."
Bian langsung bertelportasi.
****
"Aaaaaaaakkkkhhhhhh....!!!!"
Karen berteriak untuk kesekian kalinya. Tubuhnya memberontak. Lily dan Livia sudah kewalahan menahannya.
"Apa kita tidak membiarkan para serigala itu menahan tubuhnya?" tanya Lily.
"Tidak bisa Lily. Tangan Karen akan patah karena kekuatan para serigala, lagipula kita tidak bisa mengambil resiko yang lain terluka."
"Tapi kita bisa terluka Livia."
"Aku tahu Lily.. Tapi--"
Karen kembali berteriak. Kali ini lebih keras dari yang sebelumnya.
"Apa kalian benar-benar tidak butuh bantuan?" kata Zach yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar. Dia tampak khawatir dan sangat panik saat mendengar Karen berteriak.
"Tidak! Keluarlah!" pinta Livia.
"Tapi--"
"Alpha..." Aaron dan Adrian menarik tangan Zach.
"Keluar!!" kata Livia setengah berteriak. Aaron dan Adrian menarik tangan Zach yang mau tidak mau ikut keluar.
Lily dan Livia masih menahan tubuh Karen. Tiba-tiba Karen berhenti berteriak maupun bergerak. Dia seperti tidak sadarkan diri. Livia dan Lily saling menatap sejenak.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu Lily."
"Mungkin dia tidak sadarkan diri."
"Mungkin. Kita lepaskan dia." kata Livia. Lily mengangguk lalu melepaskan tangannya dari Karen. Livia juga melepaskan tangannya. Mereka menghela nafas panjang.
Tak lama tubuh Karen melayang ke udara. Livia dan Lily terkejut. Mereka berusaha menarik tangan Karen, tapi tubuh mereka terhempas saat mencoba menyentuh Karen. Livia kembali bangkit dan berusaha menyentuh tangan Karen lagi. Tapi dia kembali terhempas.
"Ohh aku sangat berharap yang terpilih bisa cepat kembali." gumam Lily.
****
Bian sampai di hutan. Hutan itu hanya di terangi oleh cahaya obor dari sebuah kastil yang letaknya agak jauh di depannya.
"Bian..." panggil Kate yang sudah ada disana sejak tadi. Bian menoleh.
"Apa kamu yakin mereka menyimpan botolnya disana?" tanya Bian.
"Sangat yakin." jawab Kate mantap.
"Tapi itu.. Kastil Darkness Kate." kata Gina yang juga baru saja datang.
"Aku tahu. Sepertinya mereka sengaja meletakkan botol itu agar Bian datang. Jadi Bian, sebaiknya kamu jangan ikut."
"Tidak, aku akan ikut. Ini juga pertarunganku Kate. Apa para Elder dan Knirer sudah siap?"
"Tentu, mereka siap." jawab Gina. Bian melihat kesekitarnya. Sudah ada Elder dan Knirer yang bersiap.
"Bagus. Ayo kita mulai pertarungan ini." Bian menghela nafas kasar. "Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang."
__ADS_1
****
tadariez