My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Penculikan


__ADS_3

Flashback on


"Oh ayolah Rick, kau bisa lebih baik dari itu."


"Rick, hanya mengalah."


"Apa? Aku tidak mengalah, aku hanya sedang lelah."


"Hahaha kau? Lelah? Kau sudah gila."


"Apa kalian bisa berhenti bermain-main? Kalian sungguh kekanak-kanakan. Menyebalkan sekali."


"Oh ayolah Fred, kami hanya sedang bersenang-senang. Kamu tahu kami sudah melakukan pelatihan gila yang diperintahkan ayahmu. Sudah seharusnya kami bersenang-senang saat kami berisitirahat."


"Dengan bergulat dan berguling di tanah seperti itu? Kita serigala Josh! Kita mencakar dan mengigit juga menggeram, bukan berguling dan bergulat seperti buaya." protes Fred.


"Kami hanya sedang bermain-main. Tidak perlu seserius itu." kata Josh.


"Ya, kalian terus saja bermain sementara kita semakin lemah!"


"Fred, kau--"


"Sudah, sudah cukup. Fred kami hanya mencoba melepas penat. Biarkan saja. Aku tahu kamu sedang kesal. Biarkan saja mereka." Russel menengahi. Fred hanya mendengus kesal.


Ya, dia tampak kesal hari ini. Ayahnya tidak lagi melibatkan dirinya dalam menghancurkan sepupunya itu. Ayahnya kini hanya mengandalkan para penyihir itu membuat Fred merasa tersingkir. Fred menundukkan kepalanya dan menarik nafas dalam-dalam.


Fred mengangkat kepalanya dan melihat lurus kedepan. Dia mendapati adikknya Cayden, sedang berjalan bersama salah satu penyihir yang dia kenali sebagai Horvick. Fred menggeram kecil lalu dengan segera mendatangi mereka.


"Cayden, apa yang kau lakukan??" tanya Fred setelah berada di depan mereka.


"Aku? Aku tidak melakukan apapun." Cayden terkejut.


"Apa yang kau lakukan dengannya?" Fred menunjuk Horvick.


"Tuan Horvick? Tidak, tidak ada. Kami hanya berbicara dan kami juga--"


"Menjauhlah darinya Cayden." kata Fred. Fred menatap tajam Horvick. "Jauhi adikku."


"Oh tenanglah pangeran. Tidak baik anak muda sepertimu marah-marah." kata Horvick.


"Bukan urusanmu." Jawab Fred dingin.


"Memang, itu memang bukan urusanku. Aku mengerti kenapa kamu marah dan aku akan memberikan kesempatan padamu."


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu kamu marah karena ayahmu tidak melibatkanmu dalam pertarungannya. Tapi aku memberimu kesempatan untuk terlibat." kata Horvick. Fred mengerutkan keningnya.


"Ya, kak. Kami kemari mencarimu." kata Cayden.


"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Fred masih dengan kerutan didahinya.


"Membuat kita terlibat pertarungan ini." kata Cayden.


"Apa maksudmu? Bagaimana kita bisa terlibat?"


"Dengan ini." Horvick mengeluarkan sebuah pedang dari balik jubah panjangnya lalu menyerahkan pedang itu pada Fred.


"Ini... Pedang." gumam Fred.


"Iya, benar." kata Horvick membenarkan. Fred mengambil pedang dari sarungnya.


"Dari... Kayu??" Fred bingung.


"Ya, tapi bukan sembarang kayu pangeran. Pedang itu terbuat dari kayu ek putih dan dilapisi perak diujung pedangnya." jelas Horvick.


Fred memperhatikan pedang itu dengan seksama. Pedang itu berwarna putih terang dan terdapat perak di bagian tajam pedang itu dan juga diujungnya. Fred mengarahkan tangannya untuk menyentuh ujung pedang itu.


"Aku sarankan sebaiknya kamu mengurungkan niat itu pangeran." kata Horvick yang melihat tangan Fred. "Pedang itu bukan sembarang pedang. Itu pedang Viaţă yang artinya kehidupan."


"Tunggu dulu, bukannya pedang ini fungsinya untuk menusuk seseorang? Kenapa namanya pedang kehidupan?"


"Karena jika pedang ini di tusukkan ke makhluk supranatural, terutama manusia serigala dan vampir, maka mereka akan menjadi normal, sementara. Tidak akan ada kekuatan supranatural. Hanya manusia biasa. Jadi kita akan menggunakan pedang itu untuk menusuk sepupumu."


"Ya, jika kita bisa mendekatinya. Saat menjadi monster kita akan sangat sulit untuk mendekatinya." kata Fred.


"Aku tidak bilang akan menusuknya saat dia jadi monster." kata Horvick lalu dia tersenyum tipis. "Kita akan menusuknya saat dia berubah menjadi serigala."


"Lalu?"


"Lalu dia akan berubah menjadi manusia dan pemimpin kami, Mayes, akan melakukan sisanya."


"Apa itu?"


"Kalian tidak perlu tahu. Kalian hanya perlu menusukkan pedang itu saat sepupu kalian berubah menjadi serigala. Setelah itu aku yakin kalian akan mendapat pengakuan dari ayah kalian karena kalian sangat berani dalam membantu kami." kata Horvick.


Fred mengamati pedang itu kembali. Pikirannya masih terbagi antara ingin melakukan atau tidak dan juga ingin mengetahui apa rencana para penyihir itu sebenarnya.


Flashback end


"AAAARRRRRGGGHHHHH......!!!!!!"


Suara teriakan Kei begitu keras.


"K-Kei.." panggil Ian.


Kei menoleh pada Ian dan menatapnya tajam. Kei menggeram keras, memperlihatkan gigi-giginya yang telah tajam dan panjang. Tubuhnya mulai ditumbuhi bulu-bulu lebat.


"Ian, sebaiknya kamu bawa ibu dan adik Kei beserta anak dari alpha Sebastian pergi dari sini." kata Damian.


"Tapi, saya harus menjaga Kei." kata Ian.


"Biar aku yang membawa mereka." kata Nelson, salah satu gamma.

__ADS_1


"Aku akan membantumu." kata Barnabas. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah.


Kei berteriak lagi. Tubuh Kei menjadi semakin besar. Kepalanya mulai berubah menjadi kepala serigala


Bola matanya berubah menjadi putih. Kei melolong keras.


"Sebaiknya kalian lari pangeran, jika kalian tidak ingin terbunuh." kata Mayes. Fred dan Cayden menurut dan langsung berlari pergi.


Kei berubah menjadi monster. Dia sudah berdiri tegak. Kepalanya masih menunduk. Nafasnya cepat. Ian ikut berdiri dan memerhatikan Kei.


"K-Kei?" panggil Ian.


Terdengar suara geraman kecil. Kei menoleh ke Ian dan menggeram keras dan nyaring. Membuat Ian berjalan mundur. Kei mendatangi Ian. Matanya menatap Ian dengan pandangan membunuhnya. Tapi tiba-tiba tubuh Kei bergetar, tersengat aliran listrik. Tapi hanya sebentar dan itu tidak membuatnya kesakitan, hanya membuatnya bertambah marah. Kei berbalik dan menatap Damian. Kei berjalan menuju Damian.


"Kei..!! Kemari dan lawan aku." kata Ian. Kei berhenti dan menoleh tapi kemudian tetap berjalan menuju Damian, tidak menghiraukan Ian. Ian mengambil batu dan melempar tepat di kepala Kei. Kei menggeram kecil lalu berbalik menghadap Ian.


"Lawan aku." kata Ian kemudian dia berubah menjadi serigala dan melolong. Kei segera menggeram keras dan berlari ke arah Ian dan menyerangnya.


'Cepatlah Bian.' kata Damian dalam hati.


****


"Jangan ada sisa Kian, habisi semua para hybrid itu." kata George.


Kian yang dalam bentuk serigala menggigit satu serigala Hybrid dengan keras dan mengoyak tubuhnya. Sementara George sudah berubah menjadi manusia. George kembali menusukkan pedang yang di bawanya. Mereka hanya berdua tapi mereka menghadapi begitu banyak pasukan serigala, hybrid dan original. Kian dan George kelelahan.


"Semakin banyak saja." gumam George. Jika hanya pasukan hybrid mereka masih bisa menghadapi tapi ditambah pasukan pack Moon Lykort, sama saja dengan bunuh diri.


Kian dan George sudah di kelilingi oleh para serigala.


"Sial!"


George berubah kembali menjadi serigala.


'Kita tidak akan bisa melawan mereka beta, mereka terlalu banyak.' kata Kian.


'Aku tahu, tapi kita tidak bisa membiarkan mereka.'


George melolong keras, memanggil para pasukannya. Tidak ada sahutan. George melolong untuk kedua kalinya. Kali ini ada suara lolongan balasan.


'Itu mereka! Kita harus bertahan sampai mereka tiba, kau siap Kian?'


'Tentu beta.'


Kian dan George menggeram keras lalu menyerang.


****


Sementara di selatan kota, masih terlihat kilatan-kilatan dari penyihir dan geraman para serigala. Jason menerjang serigala di depannya. Mereka bertarung sengit hingga serigala Moon Lykort itu tersungkur. Jason menggeram dan bersiap menyerang lagi tapi tubuh Jason terhempas lalu dengan cepat Jason berputar di udara sehingga dia jatuh ke tanah tepat di keempat kakinya. Jason menggeram.


"Electrico!"


Penyihir itu melontarkan mantra ke Jason. Tapi Gina menghalanginya lalu membalas penyihir itu membuat penyihir itu pingsan.


"Gina....!!!" panggil James, seorang Knirer. "Apa kamu dengar itu? Apa kamu dengar suara teriakan itu?"


"Suara? Aku tidak mendengarnya James. Aku terus saja di serang. Candeconsti!!"


Gina memingsankan satu penyihir yang ingin menyerangnya.


"Lihatkan?" katanya pada James.


"Tapi aku mendengarnya. Apa kau mendengarnya?" tanya James pada Jason. Jason mengangguk.


Tiba-tiba terdengar geraman yang sangat keras, yang bisa didengar oleh satu kota. Mereka saling memandang.


"Kei." kata James dan Gina bersamaan.


****


"Alpha, apa anda baik-baik saja?" tanya Cavril dengan mindlinknya.


"Aku baik Cavril jangan mengkhawatirkan aku." kata ayah Kei yang tadi terhempas agak jauh.


'Sebenarnya berapa pasukan penyihir yang mereka punya? Mereka banyak ditambah hybrid dan pasukan Ordovick. Kita kewalahan.'


'Tapi alpha, saya tidak melihat Ordovick sedari tadi, dimana dia?'


'Aku tidak tahu Cavril, aku tidak tahu.'


'Oston.'


Serigala hitam Sebastian mendatangi mereka.


'Apa kamu baik-baik saja?'


'Tentu. Bagaimana denganmu kakak ipar?'


'Aku juga baik. Tampaknya disini sudah aman. Kita bisa meninggalkan tempat ini dan membiarkan gamma dan para pasukan menjaga. Aku mendengar suara lolongan George, aku akan memeriksanya.'


'Pergilah Sebastian. Aku akan memastikan disini aman terlebih dulu baru aku mendatangi Kei. Kita ketemu disana.'


'Baik. Aku pergi dulu.'


Sebastian memanggil beberapa pasukan untuk mengikutinya. Tapi belum jauh melangkah mereka mendengar suara geraman yang keras.


'Oh tidak, Kei!'


Ayah Kei segera berlari disusul oleh Cavril.


****


"Uhuk uhuk...."

__ADS_1


Suara batuk Bian terdengar jelas di antara suara erangan pelan dan rintihan kesakitan. Bian telah terbaring lemah di lantai. Dia mencoba bergerak perlahan.


"K-Kate..." panggil Bian.


"Disini... Disini..." sahut Kate.


Bian duduk sejenak kemudian berdiri perlahan. Dia mengatur nafasnya dan melihat kesekitarnya. Bian menangkis mantra yang ditujukan padanya lalu menggoyangkan tangannya lagi dan membuat penyihir tadi pingsan. Bian melihat Kate yang sudah bersandar didinding. Bian berjalan pelan ke Kate.


"Kate, kamu baik-baik saja?" tanya Bian.


"Aku baik, Tania Bian." kata Kate.


Bian menghentikan langkahnya lalu menoleh ke tempat Tania berada. Tania melihat ke Bian dan mencoba untuk mengatakan sesuatu. Tapi mulutnya sudah di tutup kain.


Bian berjalan pelan menuju Tania. Tak lama terbuka pintu kecil di samping Tania dan keluar Ordovick disana bersama Hutch, beta kepercayaannya. Bian menghentikan langkahnya.


"Wah, wah... Tidak salah jika kamu di jadikan yang terpilih oleh kaummu."


Ordovick bertepuk tangan. "Tapi kamu salah jika mencampuri urusan yang bukan urusan kaummu, yang terpilih."


"Apa kamu lupa siapa aku?" Bian tersenyum sinis. "Padahal kamu baru saja menyebutnya. Aku yang terpilih. Aku penyeimbang supranatural Ordovick, yang membuat aku berhak mencampuri seluruh urusan kaum manapun yang mengancam keseimbangan itu. Kau, yang membuatku mencampuri urusan kaummu Ordovick. Ditambah dengan keterlibatan kaun hitam dipihakmu. Aku disini, berdiri di hadapanmu karena kau yang membawaku padamu."


"Omong kosong! Cih! Aku tidak takut padamu." kata Ordovick bangga.


"Kita lihat saja nanti."


"Hutch." Ordovick memanggil Hutch. Hutch segera maju dan berdiri di hadapan Ordovick.


"Lepaskan Tania, maka tidak akan ada lagi pertumpahan darah." kata Bian mencoba negosiasi. Ordovick terkekeh.


"Sudah aku bilang aku tidak takut padamu. Hutch, kerjakan apa yang harus kamu kerjakan." perintah Ordovick. Hutch mengangguk dan kemudian berubah menjadi serigala besar berwarna abu-abu bercampur hitam. Serigala Hutch menggeram keras. Bian melangkah mundur. Dia tidak boleh gegabah.


"Dipercantian!" Kate memantrai Hutch. Tapi Hutch tidak bergerak. Dia menatap Kate. Hutch menggeram dan berlari ke arah Kate. Kate mencoba melontarkan mantra, tapi tidak satupun yang berpengaruh. Hutch menggoyangkan kepalanya dan mengenai Kate. Kate terhempas jauh dan mengenai dinding. Kate meringis kesakitan. Hutch kemudian berlari lagi menuju Kate untuk serangan kedua. Bian melihat itu langsung menghilang dari tempatnya lalu muncul di depan Kate. Bian mengangat kedua tangannya dan mendorongnya kedepan. Hutch melayang lalu menabrak dinding, membuat dinding itu hancur. Hutch segera bangkit dan melolong keras. Hutch berlari menuju Bian.


"Închină-te mie"


"Eu sunt liderul tuturor liderilor"


"Închină-te mie!!!!! "


Bian berteriak. Tiba-tiba tubuh Hutch terasa sakit. Dia mencoba melangkah tapi kakinya tidak bisa digerakkan. Seperti menempel pada lantai. Suara tulang-tulangnya terdengar, memaksanya untuk bersujud pada Bian.


Ordovick yang panik membuka ikatan Tania. Tania melihat kesempatan itu lalu mencoba mengigit tangan Ordovick.


"Aakhhhhh..!!! Gadis brengsek!!" umpat Ordovick sambil menangkap Tania yang mencoba melarikan diri.


"Lepaskan aku laki-laki tua brengsek!! Lepaskan aku dari tangan menjijikkanmu!"


Tania mencoba berontak tapi Ordovick adalah manusia serigala yang jauh lebih kuat darinya. Ordovick berlari keluar ruangan itu membawa Tania.


"Sial! Dia lolos." umpat Bian.


"Kejar dia, biar aku yang mengurus serigala ini." kata Kate yang sudah berdiri dibelakang Bian. Bian mengangguk dan segera melepaskan mantranya lalu pergi mengejar Ordovick.


"Lepaskan...!!!" Tania berteriak, memukul, memaki tapi tidak ada satupun yang membuat Ordovick melepaskannya. "Lepaskan aku lelaki tua gilaaaa!!!"


"DIAM!!! " bentak Ordovick membuat Tania terdiam. Tania melihat bola mata Ordovick berubah menjadi hitam pekat. Tania menelan ludah. Dia ketakutan sekarang.


"Serahkan gadis itu Ordovick dan kamu bebas pergi." kata Bian yang sudah berdiri di belakang mereka.


"Aku tidak perduli siapa kamu, kamu tidak bisa menghalangi aku." kata Ordovick.


"Kamu sudah mengambil tahta yang seharusnya milik kakakmu lalu kamu bunuh salah satu anaknya dan kamu juga berusaha untuk membunuh yang satunya lagi. Jika kamu sampai membunuh atau menyakiti sedikit saja gadis itu, aku akan memasukkanmu ke daftar yang akan kubunuh malam ini." kata Bian tegas. Ordovick tertawa keras.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu. Jika kamu mendekat sedikit saja, aku akan mencabik lehernya." kata Ordovick sambil meletakkan jari-jarinya yang sudah di tumbuhi oleh cakar yang panjang ke leher Tania.


"Kamu akan menyesal Ordovick." sahut Bian. Ordovick menyeringai.


"Berdiri kau gadis kecil, ayo kita berjalan." Ordovick menarik lengan Tania.


"Estaunakh rofyeurse nekesset teouve."


Bian membaca mantra kuno berulang-ulang. Ordovick berteriak keras dan memegang kepalanya. Tania terlepas dari kekangannya langsung berlari ke belakang Bian. Bian masih membaca mantra kuno itu.


"Tidaaakkk!!! Hentikan, hentikaaannn!!!" jerit Ordovick.


Ordovick berteriak semakin keras. Tubuhnya sudah mulai lemas. Bian mengentikan mantranya. Darah segar keluar dari hidungnya. Dia cepat-cepat mengelapnya lalu berbalik menatap Tania.


"Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang luka?" tanya Bian sambil mengamati Tania.


"Aku... Baik-baik saja." kata Tania lalu tersenyum. "Terima kasih sudah menyelamatkan aku."


"Tidak Tania, aku yang berterima kasih. Terima kasih sudah bertahan hidup." Bian memeluk Tania erat sejenak lalu melepaskannya. "Yang berikutnya akan lebih berat tapi aku mau kamu percaya padaku. Apa kamu bisa melakukannya?"


Tania mengagguk. "Aku percaya padamu Bian."


"Terima kasih. Sekarang kita pergi menemui Kei. Dia sudah menunggu." kata Bian. Tania mengangguk.


"Apa sudah selesai, apa dia mati?" tanya Kate yang baru saja sampai disana.


"Dia tidak mati."


Bian mendatngi Ordovick yang masih terbaring lemah di rumput.


"Bunuh aku..." rintihnya.


"Oh aku ingin sekali, tapi sayangnya bukan aku yang memutuskan." kata Bian menatap Ordovick jijik. "Kate, kita bawa dia ke Kei dan kita akan lihat apa yang akan terjadi padanya."


Kate memegang lengan Ordovick yang masih merintih. Bian berteleportasi duluan bersama Tania, diikuti oleh Kate yang membawa Ordovick.


****


Tadariez

__ADS_1


__ADS_2