
Brakk!!!
Bukk!!
Semua penjaga dan manusia serigala terlempar kesegala ruangan. Tidak ada yang luput dari orang itu. Dia berjalan ke tengah rumah dengan tatapan dingin. Tiga manusia serigala menerjang bersamaan.
'Blessimort Iglesius!'
Ketiga manusia serigala itu langsung terbujuk kaku, tidak bergerak lagi.
"Ada apa ini?" beta Bruce datang dan berubah menjadi serigala. Beta Bruce lompat tinggi tapi dengan segera terhempas ke dinding. Bruce bangkit.
'Electrico'
Tubuh Bruce bergetar hebat. Dia tergeletak lemas.
"Hentikan!" alpha Roger datang dan berlari ke hadapan Mayes. "Berani sekali kamu datang kemari dan mengacaukan rumahku?!"
"Dan berani sekali kamu menggunakan anak buahku untuk melakukan perkerjaan berbahaya yang akhirnya gagal? Aku mengirim mereka kemari sesuai dengan perjanjian kita. Untuk mempersiapkan diri, bukan untuk melakukan hal berbahaya itu." kata Mayes.
"Aku kira kamu seperti diriku yang tidak perduli pada apapun selain kekuasaan."
"Jangan menyamakan diriku denganmu alpha, kita berbeda. Ya mungkin kita sama pada kehancuran yang terpilih dan raja itu tapi kurasa tidak ada persamaan yang bisa bicarakan lagi disini." kata Mayes. "Kau menjanjikanku yang terpilih."
"Dan itu akan segera terlaksana." kata alpha Rogers. Mayes tertawa lalu duduk di kursi kebanggan alpha Roger. Alpha Roger menggeram pelan. Dia tidak suka ada yang duduk di kursinya.
"Mungkin benar, mungkin juga tidak. Tapi aku kecewa padamu Roger, apa boleh aku memanggilmu seperti itu? Roger?"
"Tentu, tentu saja." kata alpha Roger dingin. "Tetapi masuk kerumah saya dan membuat keributan bukan cara yang bijak Mayes."
Mayes tersenyum lalu membaca mantra kutukan. Nafas alpha Roger tertahan, dia tidak bisa bernafas. Kemudian tubuhnya bergetar. Mayes berdiri dari duduknya dan berjalan menuju alpha Roger.
"Alpha!!" Bruce berusaha untuk membantu tapi Mayes langsung memantrainya dan dia terhempas mengenai dinding dan terjatuh dilantai.
"Aku memberimu pasukanku, setuju melakukan perjanjian denganmu tapi bukan berarti itu membuatmu tidak hormat padaku. Aku bukan yang terpilih yang mengampunimu dan membiarkanmu hidup. Kamu membawa pasukanmu dan masuk kedalam istanaku, mencoba untuk apa? Membunuh Darkness?"
"A-aku...." suara alpha Roger tertahan. Dia tidak bisa bernafas. Mayes melepaskan mantranya. Alpha Roger mulai bernafas dengan cepat.
"Jangan bermain-main denganku, Roger. Aku bahkan kemari sendirian dan aku bisa menjatuhkan pasukanmu dengan mudah. Bagaimana jika aku membawa pasukanku? Kalian akan musnah dalam waktu singkat." ancam Mayes.
"Kamu tidak akan bisa! Aku mengalahkan yang terpilih, tentu aku bisa melawanmu." kata alpha Roger. Mayes tertawa keras.
"Jangan bodoh, Roger. Kamu tahu kenapa kamu bisa dengan mudah mengalahkan yang terpilih? Karena yang terpilih terlalu sibuk menyelamatkan orang lain. Jika dia tidak perduli pada orang lain sepertiku, kamu sudah tidak akan ada lagi. Jangan terlalu meremehkannya Roger, jika tidak, kamu akan celaka."
Roger menatap Mayes. Ya, dia baru menyadari itu sekarang.
"Aku tidak akan bermurah hati lagi, Roger. Jika kamu berani menyentuh Darkness lagi, aku tidak akan tinggal diam. Ingat itu."
Mayes berteleportasi pergi dari pack alpha Roger.
"Aaaaarrrrggghhhh!!! Panggil Manuel sekarang...!!!"
Alpha Roger berdiri dan memegangi lehernya, sementara Bruce pergi memanggil Manuel. Tak lama Bruce kembali bersama Manuel. Manuel membungkuk. Alpha Roger menatap marah lalu berubah menjadi serigala dan menyerang Manuel. Manuel yang terkejut tidak menghindar. Dia terkena pukulan kepala alpha Roger dan terhempas keras di lantai dengan masih berwujud manusia. Manuel meringis kesakitan. Alpha Roger berlari ke arah Manuel. Manuel berubah menjadi serigala dan menghindar dari sedangan alpha Roger. Alpha Roger terus menyerang Manuel. Dia menggigitnya, mencakarnya dan menghempasnya. Manuel terluka parah. Dia sudah tidak bisa bangkit.
'Aku hanya memberimu satu tugas, satu!! Tapi kamu menggagalkannya. Kamu membuat harga diriku diinjak oleh penyihir rendahan!'
Alpha Roger kembali menyerang Manuel, sampai akhirnya Manuel tidak bergerak lagi dan berubah menjadi manusia. Alpha Roger juga berubah menjadi manusia.
"Periksa dia." katanya. Bruce maju dan memeriksa keadaan beta Manuel.
"Dia masih hidup alpha." kata Bruce. Roger menahan sakit. Dia tahu resiko menyakiti betanya sendiri.
"Masukkan dia kepenjara."
"Baik alpha."
Bruce memanggil beberapa omega mengangkat Manuel dan meletakkannya di penjara.
"Bertahanlah Manuel. Kamu tahu alpha tidak akan membunuhmu."
Bisik Bruce lalu pergi meninggalkan Manuel sendiri. Dia bergerak sedikit dan mengerang pelan. 'Aku harus pergi dari sini. Nathan.' gumamnya dalam hati.
****
"Kei..." Ian berlari kecil dan mendatangi Kei yang sedang berjalan menuju kelasnya. "Dari mana saja kamu? Kami menunggumu di kantin. Bahkan mindlinkku saja tidak kamu jawab."
"Aku dari perpustakaan. Aku sedang tidak ingin ke kantin." kata Kei tanpa menghentikan langkahnya.
"Kenapa begitu? Apa kamu tidak lapar?" tanya Ian. Kei mengangguk. "Apa ini karena Tania masih belum masuk sekolah?"
"Hmm bisa di katakan begitu. Aku hanya sedang tidak ingin." sahut Kei dengan suara datar.
"Kamu seperti Kei yang dulu lagi, dingin dan datar." Ian tertawa. Kei hanya diam. "Hei, apa kamu benar-benar kembali menjadi dingin lagi?"
Kei mengangkat kedua bahunya. "Mungkin. Aku tidak tahu." jawab Kei.
"Ahh sepertinya memang karena Tania. Hanya Tania yang bisa membuat gunung everest cair." Ian tertawa lagi.
"Berhentilah tertawa, kamu berisik sekali." omel Kei. Ian semakin tertawa geli. Kei memutar bola matanya dan menggelengkan kepalanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia menatap seorang gadis berambut pirang berdiri di depannya, menghalangi jalannya sambil tersenyum manis.
"Hai, Kei." sapa gadis itu.
Kei mengerutkan keningnya. "Apa aku mengenalmu?" tanya Kei.
"Sekarang belum, tapi kita bisa berkenalan. Aku Jane." gadis bernama Jane itu tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya. Kei menatap sekilas lalu berjalan melewatinya.
"Eh tunggu dulu." Jane berdiri di depan Kei lagi untuk menghentikan langkah Kei. Kei menatapnya heran.
"Jika kamu mau memberiku hadiah, sebaiknya kamu simpan saja, aku tidak akan menerimanya. Jika kamu ingin berkenalan sebaiknya jangan. Aku tidak mau tahu siapa kamu." ucap Kei dingin dan ingin berjalan lagi.
"Eh tidak, maksudku iya." kata Jane. Jane kembali mengejar Kei dan berhenti di depannya lagi. Kei mendengus kesal.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Kei kesal dan tidak sabaran.
"Memberimu hadiah." jawabnya. Lalu tiba-tiba dia mencium Kei singkat di bibirnya. Kei terkejut begitu pula Ian yang masih berdiri di samping Kei. "Sampai jumpa Kei."
Jane pergi meninggalkan Kei dan Ian yang masih bengong dengan indahnya.
"Dia menciummu Kei! Oh astaga!! Dia benar-benar menciummu!" pekik Ian.
"Ssttt pelankan suaramu!" bisik Kei. Ian menutup mulut dengan tangannya. Kei mengusap bibirnya dengan kasar.
"Terlambat, kami melihat semuanya." sahut Jason yang berdiri di belakang Kei dan Ian. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding. Jason dan Moles tersenyum. Kei mengacak rambutnya.
"Ohh tenang saja, aku bisa menjaga rahasia." kata Jason. Dia tersenyum geli. Moles meletakkan jari telunjuknya di mulutnya.
"Aku tidak melakukan apapun." kata Kei tegas.
"Oh tentu tidak, iya kan Moles?" tanya Jason pada Moles. Moles hanya menggangguk. Kei memutar bola matanya jengah lalu segera pergi.
"Jadi... Bagaimana rasanya Kei? Ciuman itu?" tanya Jason menggoda Kei.
"Pergilah." sahut Kei malas.
"Oh ayolah... Aku ingin tahu bagaimana rasanya di cium si cantik Jane." kata Jason. Kei menghentikan langkahnya.
"Tunggu, kamu mengenalnya?"
"Tentu, dia baru pindah beberapa waktu lalu. Sekarang kamu penasaran dengannya?" goda Jason. Dia menaik turunkan alisnya.3
"Kamu sudah gila." Kei berjalan lagi.
"Dia baru pindah dan menjadi gadis tercantik. Bahkan Lani saja kalah."
"Aku tidak perduli. Pergilah."
"Tapi Kei, kau tahu, Jane itu--"
"Aaaarrrrggghh!!! Berhentilah berbicara! Berisik!!" bentak Kei lalu mempercepat langkahnya. Jason terdiam sejenak lalu masih mengikuti Kei. Kali ini Ian turun tangan. Dia menatap Jason dengan tatapan marah.
"Cukup, Jason. Hentikan itu!" kata Ian.
"Baik beta, maaf." Jason menundukkan kepalanya. Ian berlari menyusul Kei.
"Mereka sudah aku atasi." kata Ian saat sudah berjalan sejajar dengan Kei. Kei dan Ian berbelok masuk kelas.
__ADS_1
"Tapi Kei, aku penasaran. Bagaimana rasanya?"
Kei mengentikan langkahnya dan menghela nafas kasar.
"Kamu..." dia menatap Ian marah dengan bola matanya yang berwarna merah. Ian terkejut.
"Ahh hahahaha... Maaf, maaf. Tidak perlu seperti itu." sahut Ian menepuk pundak Kei. "Tidak masalah jika para gadis tidak melihat."
'Kenapa perempuan itu harus menciumku?!'
Kei mengusap wajahnya kasar lalu duduk di kursinya
"Kei...!!" panggil Anne dari pintu kelas. Kei dan Ian menoleh.
"Hai sayang..." sapa Ian. Anne berjalan menuju ke kursi Kei tanpa memperdulikan sapaan Ian.
"Ada apa Anne? Apa Tania baik-baik saja?" tanya Kei.
"Oh Tania baik." sahut Anne dengan senyuman manis di wajahnya. Tapi tidak lama. Anne tiba-tiba memukul keras meja Kei. Kei terkejut. "Sekarang katakan padaku, apa kamu benar-benar mencium Jane?!"
Oh tidak, aku dalam masalah lagi.
****
Mike, Adrian, Roland, Kian dan Jake menatap bingung. Bahkan mereka tidak bergerak dari duduk mereka, hanya menatap bengong.
"Hei, ada apa dengannya?" tanya Kian.
"Aku tidak tahu." Mike menjawab.
"Apa dia kerasukan sesuatu seperti yang mulia ratu?"
"Sepertinya begitu." jawab Mike lagi.
Ryan menghela nafas. Sedari tadi dia tidak berhenti berlatih. Sudah beberapa jam. Dia berlatih fisik, dia berlatih pertahanan, semuanya. Bahkan dia berlatih perubahan bentuknya. Ryan sudah tampak kelelahan tapi dia tidak juga berhenti sampai akhirnya Jake maju dan menghentikan Ryan.
"Cukup beta, kamu bisa kelelahan." kata Jake.
"Aku baik-baik saja." kata Ryan.
"Tidak beta, anda sudah terlalu lama berlatih. Anda juga butuh istirahat." Jake membujuk lagi.
"Aku sudah katakan aku baik-baik saja." kata Ryan lagi dan memulai latihan tapi Jake kembali menahannya.
"Setidaknya istirahat sebentar, hanya sebentar." bujuk Jake. Ryan menghela nafas.
"Baiklah, hanya sebentar."
"Tentu beta."
Ryan duduk di dekat para gamma yang masih menatapnya. Roland menyodorkan minuman. Ryan mengambil minuman itu.
"Thanks."
Ryan meminum minuman itu dengan lahap. Dia mengusap mulutnya dengan tangan lalu duduk dalam diam.
"Apa ada masalah beta?" tanya Jake. Ryan menoleh.
"Masalah? Tidak, tidak ada." Ryan menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa anda berlatih begitu keras?"
"Aku... Aku hanya ingin bisa cepat menguasainya. Itu saja. Hmm... Berapa lama bagi kalian menguasai semua perubahan ini?"
"Kami mempunyai jiwa manusia serigala sedari kami lahir beta."
"Jadi... Kalian lahir sebagai manusia serigala?"
"Iya dan ahhh tenang saja. Kami lahir sebagai manusia bukan serigala. Tapi jiwa manusia serigala kami ada." jelas Jake.
"Lalu.. Kapan kalian berubah menjadi serigala?"
"Itu berbeda-beda setiap orang. Saya berubah menjadi serigala dari umur lima tahun."
"Kalau saya tiga tahun beta." sahut Roland.
"Semua orang berbeda, beta."
"Ya, tapi tidak ada yang memulainya dari umur dua puluh tiga tahun."
"Tidak masalah berapa umur kita memulainya beta, tapi seberapa baik kita menguasainya dan mengusai jiwa serigala kita tidak dengan latihan seperti tadi. Anda harus bisa lebih memahami jiwa manusia serigala anda."
"Jake benar, beta. Berlatih bersama akan membuat kita lebih memahami jiwa serigala dan menguasainya lebih cepat."
Ryan mengangguk mengerti.
"Jadi... Apa kalian mau berlatih bersamaku?"
"Tentu saja beta, dengan senang hati."
"Baiklah, aku siap berlatih lagi. Ayo berlatih." ajak Ryan. Semua gamma berdiri. "Tapi... Kenapa kalian terus memanggilku beta? Aku tahu dan mengerti arti beta, bahwa aku berada di bawah alpha, tangan kanan alpha. Tapi tidak perlu formal seperti itu."
"Jika di hadapan manusia biasa kita boleh memanggil panggilan manusia biasa tapi saat dilingkungan pack, kita wajib memanggil sesuai tingkatan. Itu bisa dikatakan hormat kami, beta." jelas Jake.
"Jika kita memanggil beta dan alpha didepan manusia biasa, kita bisa dikatakan gila atau terlalu banyak menonton film."
"Hahahah benar, itu benar. Film manusia serigala. Mereka mengatakan hal yang aneh tentang kita." Mike tertawa kikuk.
"Itu hanya film, Mike. Biarkan mereka berkarya." kata Adrian.
"Ahh baiklah, baiklah."
"Whoa.. Bukannya kalian harusnya berlatih uhmm... Fisik? Tapi sepertinya kalian sedang uhmm... Bergosip? Apa ini akan menjadi gossip wolfs?" sahut Bian yang baru saja datang.
"Bian!" pekik Mike.
"Whoa... Tenanglah tuan serigala. Ya, aku masih Bian."
"Kami kira kamu marah besar pada kami." kata Jake.
"Pada kalian? Tentu saja tidak. Pada serigala yang menggigit adikku? Ya itu benar."
"Ada yang menggigit adikmu?" tanya Ryan.
"Hmm benar. Ada serigala gila yang menggigit orang. Kamu... Kakak Tania kan? Uhmm.. Ryan?"
"Iya, dan kamu penyihir yang waktu itu kerumah kami untuk menyembuhkan Tania."
"Benar..Senang bertemu denganmu Ryan Reynolds." Bian mengulurkan tangannya. Ryan menyambut tangan Bian.
"Ryan saja, please. Dan aku juga senang bertemu denganmu, nona."
"Nona?" Bian tertawa. "Bian saja. Aku rasa usia kita tidak berbeda jauh." kata Bian. Ryan tersenyum dan mengangguk.
"Lalu... Apa yang anda lakukan disini luna? Alpha Zach sedang bersekolah." kata Adrian.
"Luna?" tanya Ryan.
"Iya beta. Bian adalah mate alpha Zach, luna kami."
"Hei, hei hei! Seenaknya saja mengatakan aku luna kalian. Sudah aku katakan berulang kali aku bukan luna kalian." Bian protes keras.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi. Luna kalian adalah Karen Wheeler, bukan aku. Dan ingat, kalian di takdirkan hanya memiliki satu mate, tidak lebih. Jadi berhentilah mengatakan itu. Dan aku kemari untuk bertemu dengan Jake."
"Saya?"
"Ya, kamu. Ayo kita bicara sebentar."
Bian berjalan menjauh diikuti oleh Jake.
"Ada apa luna mencari saya?"
"Oh Jake." Bian tersenyum. "Jika kamu masih memanggilku dengan sebutan luna, aku bersumpah aku akan mengubahmu menjadi manusia kodok."
__ADS_1
"Owhh.. Uhmm baiklah. Aku tidak ingin menjadi manusia kodok. Sepertinya itu... Sangat menjijikkan."
Bian tertawa geli. "Kalau begitu, jangan memanggilku luna lagi, kamu mengerti?"
"Mengerti lun-- ahh Bian." kata Jake hampir salah menyebut. Bian tersenyum geli.
"Bagus. Aku kemari ingin meminta bantuanmu."
"Bantuan?"
"Aku ingin kamu melatih adikku dan... Temannya itu."
"Saya? Kenapa saya?" Jake terkejut.
"Karena aku percaya padamu Jake. Aku tahu kamu akan melatih mereka dengan baik. Apa kamu mau?" tanya Bian.
"Ba-baiklah. Tapi kenapa tidak dengan yang mulia atau alpha Zach?"
"Mereka? Aku tidak percaya mereka dan aku tidak mau mempercayakan adikku dan temannya pada raja dan alpha yang cerewet dan pemarah itu. Bisa-bisa mereka tidak latihan justru hanya kena omel setiap hari. Jadi, maukah kamu membantuku?"
"Tentu, saya akan membantu anda. Dengan senang hati."
"Baiklah, aku akan membawa mereka besok. Aku juga sudah meminta alpha Sebastian untuk menampung mereka disini sementara. Terima kasih Jake."
"Tentu. Anda telah banyak membantu kami, hanya ini yang bisa aku lakukan."
"Jangan sungkan. Aku hanya membantu kalian sebisaku. Baiklah aku harus bertemu dengan Lily dan Livia. Ahh! Benar. Jangan biarkan serigala gila itu menemui adikku dan temannya."
"Serigala gila?" Jake bingung siapa yang di maksud.
"Kau tahu siapa. Sampai jumpa."
Jake mengangguk "Sampai jumpa yang terpilih."
"Hei para serigala tampan!! Aku pergi dulu." kata Bian melambaikan tangannya lalu berteleportasi.
"Whoaa.. Dia memanggil kita tampan." kata Roland takjub.
"Aku memang tampan." kata Kian. "Tapi aku meragukan dia." Kian menunjuk Mike dengan dagunya.
"Hei, hei.. Kenapa aku? Aku juga tampan." protes Mike.
"Aku tidak yakin itu. Lihat saja wajahnya yang aneh itu."
"Aneh? Kemari kau!!"
Kian berlari menjauhi Mike. Mike mengejarnya.
"Biarlah anak-anak itu. Ayo kita latihan beta. Berlatihlah denganku." kata Adrian.
Ryan bangkit dari duduknya dan bersiap.
"Baik, kita menggunakan wujud manusia biasa terlebih dahulu, setelah itu wujud serigala." kata Jake. "Kalian siap?"
Mereka berdua menganggukkan kepalanya.
"Mulai!!"
Adrian melayangkan tinjunya. Ryan bisa menghindar dengan mudah. Adrian memukul dan menendang, tidak ada satu pun yang mengenai Ryan.
"Maaf Adrian, jika wujud manusia biasa, aku lebih unggul. Kau tahu, taekwondo membantuku." Ryan menyeringai senang. Adrian tersenyum.
Adrian kembali melayangkan tinjunya, kali ini Ryan menangkis tangannya dan menendang belakang kaki Adrian. Adrian terjatuh ke tanah. Adrian kembali bangkit dan mencoba menendang Ryan menangkap kaki Adrian lalu memukul wajahnya lalu menendang kaki Adrian yang satunya, membuat Adrian terjatuh, lagi.
"Ugh.. Itu pasti sakit." komentar Mike.
Adrian kembali berdiri. Ryan langsung menaiki tubuh Adrian dan memutarnya lalu membuatnya terjatuh kemudian menahan sebelah tangan Adrian dengan style judo.
"Aku kira dia ikut taekwondo." kata Mike.
"Aku kira juga seperti itu." kata Kian.
Adrian menahan sakit tapi dia berusaha melepaskan diri. Dia mengangkat kakinya dan membalik badannya. Dengan segenap usaha Adrian melepaskan dirinya.
"Anda memang kuat Beta. Tapi kita lihat saat menjadi serigala." Adrian berubah menjadi serigala.
"Berubahlah beta!" sahut Jake.
Ryan menurut dan berubah menjadi serigala. Ryan mengamati Adrian lalu berlari menuju ke arahnya. Ryan melompat dan menyerang Adrian. Adrian dengan cepat menyerang balik. Mereka mencoba saling menggigit. Adrian tidak membiarkan Ryan menggigitnya dan juga tidak terlalu keras padanya. Dia tahu Ryan masih mencoba mengendalikan serigalanya. Ryan menjauhkan dirinya dari Adrian dan bersiap menyerang lagi, tapi dia terhenti. Dia mulai mengendus.
"Ada apa beta? Kenapa anda berhenti?"
Ryan kembali mengendus lalu tiba-tiba dia berlari menjauh. Semua gamma saling pandang lalu Adrian menyusul Ryan. Jake, Kian dan Mike berubah juga dan langsung menyusul. Ryan berlari sambil mengendus. Dia mengikuti bau yang di ciumnya.
'Beta, ada apa? Kenapa anda berlari?'
'Aku mencium bau darah.'
'Darah?'
Jake mencoba mengendus. Dia mencoba mempertajam penciumannya.
'Benar, bau darah.'
Mereka berlari semakin cepat mengikuti penciuman mereka. Lalu tak lama mereka berhenti. Ryan berjalan pelan. Bau darah itu semakin dekat. Ryan melihat sepasang kaki. Ada seseorang di balik pohon itu. Ryan melangkah mendekat. Ada seseorang yang terluka sedang bersandar di pohon. Orang itu membuka matanya dan menatap Ryan.
"Beta!!" Adrian yang sudah berubah menjadi manusia berlari mendekati orang itu.
"Beta Aaron, ada apa? Kenapa anda terluka?"
"Dia beta juga?" tanya Ryan.
"Dia beta dari alpha Zach." jawab Jake.
Adrian memeriksa tubuh Aaron yang terluka. Adrian terkejut.
"Jake, lihat ini." kata Adrian. Jake mendekat. Jake memperhatikan luka Aaron.
"Kamu tahu apa ini?"
"Tentu, pemburu."
"Tapi bukankah pack ini sudah berdamai dengan pemburu?"
"Itu benar. Kami sudah beramai sejak lama. Kami tidak mempunyai masalah dengan para pemburu manusia serigala."
"Tunggu dulu, tunggu dulu. Ada pemburu manusia serigala?" tanya Ryan panik.
"Ada beta. Tapi kita harus membantu beta Aaron dulu."
"Tap-tapi bagaimana caranya?" tanya Ryan.
"Beta Aaron tidak bisa menyembuhkan dirinya karena pelurunya masih berada ditubuhnya. Kita harus mengeluarkannya."
"Apa? Dengan apa?"
"Biar aku bantu." kata Livia yang baru datang. Livia mendekat dan duduk dihadapan Aaron. "Ini akan terasa sakit." kata Livia pada Aaron.
Livia mengarahkan tangannya di depan luka Aaron.
"Levitatier"
Peluru itu keluar perlahan dari tubuh Aaron. Aaron berteriak kesakitan. Peluru itu melayang di depan Livia dan Livia menangkapnya.
"Wolfsbane. Ini tipe wolfsbane yang biasa dipakai para pemburu serigala." kata Livia.
"Berarti benar mereka disini."
"Kita harus melapor pada yang mulia."
"Jika pemburu ikut campur, kita akan semakin sulit."
Mereka semua terdiam. Masalah baru lagi?
****
__ADS_1
Tadariez