My Werewolf Prince

My Werewolf Prince
Kotak pandora


__ADS_3

Tania berlari di hutan setelah pamit pulang. Dia tidak langsung pulang melainkan berlari menuju batu besar. Tania berlari tanpa henti. Pikirannya kacau. Perlahan lari Tania menjadi lambat, lambat dan akhirnya berhenti. Dia mengatur nafasnya. Tania berdiri bersandar di pohon didekatnya.


'Apa itu benar karena aku? Sebenarnya ada apa denganku?'


Tania bersiap berlari lagi. Tangannya menyentuh pohon yang disandarinya. Setengah dari pohon itu langsung menghitam. Bian terkejut. Dia menjauh dari pohon itu dan menatap tangannya. Tangannya mengeluarkan asap ungu lagi. Tania mengeluarkan permata ungu yang di ambil dari Banshee itu dan membuangnya ke sembarang tempat. Dia tidak ingin menyimpannya lebih lama.


Terdengar suara geraman dari belakangnya. Tania berbalik dan mendapati dua serigala besar.


"Oh hai..." sapa Tania pada kedua serigala itu. Kedua serigala itu menundukkan badannya, hormat pada Tania. Mereka prajurit yang sedang berpatroli dan mereka mengenali Tania sebagai mate Kei dan ratu mereka.


"Aku hanya berjalan-jalan, jangan hiraukan aku. Lakukan saja apa yang harus kalian lakukan hehe.. Uhm.. Tugas? Perintah? Seperti itukan?" Tania gugup dan serigala mengetahui hal itu. Kedua serigala itu masih di sana dan menatap Tania bingung. Tania menyadari jika serigala itu mengetahui kegugupannya. Dia menelan ludah lalu menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin berjalan-jalan ketempat favoritku, batu besar. Kalian pergilah. Jika ada sesuatu, aku akan berteriak." kata Tania, kali ini dengan nada suara yang tegas, berwibawa dan tentu tenang.


Kedua serigala itu membungkuk hormat lalu beranjak pergi. Tania bernafas lega. Dia menatap pohon yang menghitam itu lagi. Pohon itu hanya menghitam pada bagian bawah sampai tengah. Sisanya normal. Tania memasukkan tangannya ke saku jaketnya yang berwarna biru malam dan dia terkejut, ada sesuatu di jaketnya. Dia mengeluarkan isi saku jaketnya dan mendapati permata ungu itu disana. 'Ba-bagaimana... Bagaimana... '


"Yang mulia..." panggil seseorang. Tania dengan cepat memasukkan permata ungunya ke dalam saku jaketnya lalu menoleh. Ada Grace, seorang shewolf yang bertugas menjaga Tania.


"Grace! Hai... " sapa Tania sembari berusaha untuk senyum.


"Kenapa anda tidak mengatakan padaku jika ingin pulang? Dan untuk apa anda disini? Saya menyusul anda pulang tapi anda tidak ada dirumah." kata Grace.


"Aahh.. Aku hanya... Berjalan-jalan. Aku sedang bosan dan ingin berjalan-jalan ke batu besar, itu saja." kata Tania memberikan alasannya.


"Seharusnya anda mengatakannya pada saya, jadi saya bisa menemani. Anda tahu, saya diperintahkan untuk tetap bersama anda."


"Iya, aku tahu. Aku minta maaf. Tapi tolong jangan bersikap formal padaku, setidaknya jangan saat kita hanya berdua. Itu membuatku tidak nyaman."


"Baiklah yang-- maksud saya.... Uhmm... Ta... Nia?"


"Betul Tania."


"Tapi yang mulia, rasanya itu tidak sopan."


"Anggaplah aku temanmu. Lagipula usia kita tidak terpaut jauh." Tania menatap sambil tersenyum. "Jangan menganggapku ratu seperti mereka Grace, kita sedang tidak di dalam dongeng. Anggap saja aku temanmu."


"Baiklah, akan aku lakukan."


"Ayo kita pulang. Aku.. Uhmm tidak jadi pergi ke batu besar. Kita pulang saja." kata Tania. Grace mengangguk mengerti. Tania masih meletakkan kedua tangannya di saku jaketnya.


"Sepertinya pohon ini hampir mati." gumam Grace saat melewati pohon yang menghitam. Tania hanya terdiam dan berjalan lebih dulu sementara Grace mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba Tania berhenti dan menutup matanya.


"Tania? Kenapa berhenti?" tanya Grace yang berjalan di belakangnya. Tania membuka matanya dan tersenyum tipis.


Tania berbalik dan mencekik Grace. Dia mendorong tubuh Grace ke pohon besar dan menekannya kuat. Tania menganggkat tubuh Grace, sehingga kaki Grace tidak menginjak tanah lagi. Grace meronta dan berusaha memanggil Tania. Tapi cekikkan Tania begitu kuat dan dia sudah hampir tidak bisa bernafas. Grace melihat bola mata Tania yang berubah menjadi ungu tua. Dia terkejut, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Tenaga Tania luar biasa kuat, seperti bukan Tania. Grace mulai lemas. Dia melepaskan peganggan tangannya pada Tania dan tidak sadarkan diri. Tania melepaskan tangannya dari Grace. Tubuh Grace jatuh ke tanah. Tania menatap Grace sejenak lalu tersenyum dan meninggalkan Grace pergi.


"Cepatlah, kita keliling dihutan ini." kata Livia.


"Tapi Livia, kenapa kita mencari Tania? Ada apa sebenarnya?" tanya Lily.


"Aku tidak punya waktu menjelaskan Lily. Sebaiknya kita cepat."


Livia melangkah dengan sangat cepat. Lily berusaha nenyusulnya dengan susah payah. Tapi Lily kemudian berhenti. Matanya menangkap sesuatu.


"Livia....!!!" panggil Lily. Livia menghentikan langkahnya dan berbalik. Lily mendatangi yang dia lihat. Tubuh seseorang. Lily mendekati tubuh itu.


"Itu... Grace, yang menjaga Tania, iyakan?" kata Livia yang sudah sampai di tempat tubuh Grace berada.


"Ya, sepertinya. Kenapa dengannya?" Lily mencoba menyentuhnya.


"Jangan Lily, jangan disentuh dulu. Kita tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu." cegah Livia. "Lihatlah, tubuhnya menghitam. Dia sudah mati Lily."


"Tapi siapa yang melakukan semua ini?"


"Aku tidak tahu, aku..." Livia terdiam. Dia melihat sisa-sisa asap ungu dari leher Grace. "Sepertinya sudah di mulai."


"Apanya?"


"Lily sebenarnya...."


Terdengar suara geraman. Livia dan Lily menoleh. Dua prajurit yang menyapa Tania tadi berada di sana. Kedua serigala itu menggeram marah.


"Tunggu, ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Kalian tahu aku dan dia penyihir yang mendukung raja kalian. Kami utusan yang terpilih untuk menjaga kota ini. Dan ini..." Livia menunjuk tubuh Grace. "Ini bukan perbuatan kami. Dia sudah seperti ini saat kami sampai."


"Livia benar, kami tidak mungkin menyakiti anggota kalian. Jadi sebaiknya panggil gamma atau beta kalian, cepatlah!! Kita harus mencari tahu kenapa dia seperti ini."


Salah satu dari kedua serigala itu pergi dan sisanya tinggal untuk mengawasi Livia dan Lily. Livia dan Lily hanya berdiri dalam diam disamping tubuh Grace. Tak lama datang empat ekor serigala. Semuanya langsung berubah menjadi manusia, begitu pula serigala yang mengawasi Livia dan Lily.


"Ada apa ini?" beta George menghampiri Livia dan Lily.


"Kami tidak tahu. Kami hanya uhmm.... Berpatroli." Livia berbohong. Lily menatap Livia tidak percaya. "Lalu kami menemukannya sudah seperti ini."


"Livia benar, bukan kami yang melakukan ini." Lily mencoba untuk meyakinkan.


"Aku tidak menuduh kalian. Aku tahu kalian tidak akan membunuh anggota kami." kata beta George.


"Tapi sepertinya prajurit kalian tidak berpendapat yang sama." gumam Lily.


"Maafkan tentang mereka. Mereka hanya tidak tahu. Mereka selalu bertugas untuk berpatroli dan jarang mengurusi hal lain." kata beta George.


Beta George mendekati tubuh Grace dan memeriksanya. Dia lalu menghela nafas.


"Ada apa beta?" sahut gamma Roy.


"Dia sudah mati."


"Apa? Tapi bagaimana bisa?"


"Sepertinya karena sihir. Aku benarkan?" tanyanya pada Livia.


"Saya juga mencurigainya seperti itu. Ada asap ungu yang masih ada di lehernya tadi." kata Livia. "Dan tubuhnya juga menghitam."


"Kalau begitu ini salah mereka, beta."


"Bukan Roy, aku yakin bukan mereka." kata beta George.


"Itu benar! Bukan kami."


"Tapi bukannya setelah Banshee itu masuk, pack ini sudah diberi mantra pelindung agar tidak ada makhluk supranatural yang masuk? Jika ini sihir, itu pasti diantara mereka beta! Siapa lagi? Hanya mereka berdua dan para knirer itu."


"Saya akan menyakan para Kinrer itu tapi sepertinya bukan mereka beta. Itu.. Sihir yang berbeda." kata Livia.


"Maksud kamu... Kaum hitam?"


"Saya tidak yakin, tapi ini bukan sihir yang biasa kami gunakan beta, ini seperti... Kutukan."


"Kutukan?"


"Iya."


"Baiklah, kita akan menyelidikinya lebih lanjut. Kita bawa tubuh Grace pergi. Keluarganya pasti ingin melihatnya dan menguburkannya dengan layak." kata beta George. Dua prajurit dan dua gamma segera pergi melaksanakan perintah beta George. "Dan kalian berdua, jangan khawatir. Pasti ada sesuatu yang bisa di jelaskan disini dan kami tidak menuduh kalian."


"Terim kasih beta. Kami juga akan menanyakan pada Knirer dan menyelidikinya."


"Baiklah, kami pergi dulu."


"Sekarang, jelaskan padaku Livia." kata Lily saat para manusia serigala sudah pergi jauh. Livia membuat gelembung dia sekitarnya, membuat tidak ada yang bisa mendengar pembicaran mereka.


"Lily... Dengarkan aku baik-baik. Kotak pandora yang tersimpan di kantor Elder, telah terbuka dan satu dari isinya menghilang. Dan aku mencurigai ada sesorang yang mengambil itu lalu membawanya kemari melalu Banshee itu."


"Lalu?"


"Kamu ingat Banshee itu memengang tanga Tania dan mengatakan sesuatu?" tanya Livia. Lily menganggukkan kepalanya. "Semenjak saat itu Tania berubah dan aku merasakan hal aneh dalam diri Tania."


"Penyihir Augury."


"Benar, karena aku keturunan dari penyihir Augury, jadi aku bisa merasakannya."


"Lalu.. Apa yang di ambil dari kotak itu?"


"Kutukan."


"Kutukan?"


"Iya, tapi aku masih tidak yakin apa Tania, terkena kutukan itu atau tidak. Karena itu aku mengawasinya beberapa hari ini."


"Jadi bukan karena kamu cemburu? Atau menyukai Kei?"


"Apa kamu sudah gila? Tentu saja tidak. Aku tahu raja itu sangat tampan dan hot tapi aku tidak menyukainya."

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Aku akan melaporkan ini pada Kate dan kamu tolong awasi Tania. Jangan sampai melakukan kesalahan seperti aku. Dan satu lagi. Sebisa mungkin jangan mendekatinya. Kita tidak tahu apa yang ada di diri Tania. Jika itu kutukan yang ada di dalam kotak itu, kamu akan mati."


"Karena itu kamu tidak mengijinkan aku menyentuh mayat Grace?"


"Iya."


"Huft... Rumit sekali. Baiklah."


"Aku akan pergi sekarang. Ingat Lily, berhati-hatilah."


"I will."


****


"Lily..." panggil Livia. Lily menoleh. Mereka berada belakang rumah Tania.


"Livia..."


"Ada apa? Kamu kenapa?"


"Kenapa kamu pergi lama sekali? Aku kira hanya beberapa jam bukan beberapa hari!"


"Maafkan aku, tapi aku hanya meninggalkanmu selama tiga hari."


"Livia.. Sepertinya aku melakukan kesalahan."


"Apa maksudmu? Apa ini sesuatu tentang Tania?" tanya Livia. Lily mengangguk. Livia memegang kedua pundak Lily. "Katakan padaku Lily."


"Aku tidak tahu, aku tidak mengerti. Aku selalu berjaga seperti ini saat malam lalu paginya aku serahkan pada knirer. Tapi anehnya setiap hari ada mayat yang berjatuhan. Manusia serigala dan manusia biasa. Semua kondisi mereka sama, menghitam. Aku tidak pernah tertidur atau apapun, aku bersumpah. Tapi entah kenapa, selalu ada yang mati."


"Apa mereka mati saat Tania berada dirumah?"


"Iya."


"Berarti dia bukan Tania lagi."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku adalah... Kita dalam masalah besar Lily karena kecurigaanku benar."


****


Alpha Sebastian, alpha Dustin, Kei, Zach dan beta mereka dan juga gamma terpercaya mereka berkumpul di ruang rapat. Mereka membicarakan kematian yang terjadi salam tiga hari ini.


"Jadi bagaimana? Apa yang akan kita lakukan?" tanya beta George.


"Bagaimana dengan penyelidikannya beta?" tanya Kei.


"Buntu. Kami tidak tahu siapa yang melakukannya." jawab beta George.


"Kami juga sudah menanyakan para Kinrer dan jawaban mereka sama, mereka tidak tahu menahu soal ini." kata Ian.


"Tentu saja beta, mereka tidak akan mengakui perbuatan mereka."


"Roy..." tegur beta George.


"Maafkan saya beta tapi perkara ini sudah jelas. Pack ini terlindungi dan masalah ini di akibatkan karena sihir. Pelakunya tentu para penyihir itu."


"Itu belum tentu." kata alpha Sebastian.


"Alpha Sebastian benar. Mereka membantu kita lalu untuk apa mereka membunuh anggota kita? Itu tidak masuk akal." kata Kei.


Terdengar suara ketukan pintu. Seorang omega masuk dan membungkuk pada mereka.


"Ada apa?" tanya beta George.


"Kami menerima laporan. Beberapa prajurit menemukan mayat beta. Manusia serigala."


"Mayat lagi?"


"Iya."


"Akan kami periksa beta." Jake dan bebarapa gamma keluar ruangan.


"Jika ini tentang sihir, bukankah kita harus meminta bantuan para penyihir? Elder? Yang terpilih? Bian?" kata Zach. Kei menoleh dan tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa begitu?"


"Kita selesaikan dulu dengan cara kita. Jika kita masih tidak menemukan jawabannya, baru kita meminta bantuan mereka."


"Alpha Dustin benar Zach." kata Kei.


"Aahh baiklah." kata Zach akhirnya. Kei tersenyum geli.


"Apa kita sudah selesai? Sudah waktunya kami pergi sekolah." kata Kei melihat jam tangannya.


"Aahh benar. Kami hampir lupa jika raja kita dan alpha keturunan murni ini masih sekolah."


"Yeah, begitulah. Ayo kita pergi Zach." ajak Kei lalu beranjak pergi.


"Kamu masih sekolah juga Ian? Bukannya Anne sudah tahu siapa kamu dan sudah menerimamu?" tanya alpha Sebastian.


"Iya itu benar alpha. Tapi jika saya bersekolah, saya bisa bersama-sama dengan Anne terus." kata Ian tersenyum senang.


"Kamu aneh sekali." kata beta George.


"Biarkan saja George, mereka masih muda dan jatuh cinta. Kita harus memaklumi keanehan mereka." kata beta Simon.


"Kamu benar Simon. Anak-anak yang jatuh cinta suka melakukan hal yang aneh."


"Whoa... Lihatlah siapa yang berbicara. Kalian juga seperti itu dulu." kata alpha Sebastian.


"Itu benar alpha."


Semua orang diruangan tertawa geli.


****


"Dimana tubuh mereka?" tanya Jake saat sudah sampai di tempat yang di maksud.


"Disana gamma." tunjuk salah satu prajurit. Jake berjalan mendekat ke tumpukan mayat. 


"Setidaknya ada lima mayat disana Jake." kata Mike.


"Aku tahu Mike, siapa yang melakukan semua ini?"


"Apa mungkin yang di katakan Roy benar?"


"Livia, Lily dan para knirer? Tidak mungkin... Jika mereka ingin menyakiti kita kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Mereka bisa saja menggunakan kristal itu dan seluruh pack akan mati. Kenapa harus satu-satu?"


"Kian benar. Ada yang salah disini dan aku yakin bukan mereka yang melakukannya." kata Jake. Jake beralih ke para prajurit yang menemukan mereka. "Kamu sudah mencari baunya?"


"Sudah gamma, tidak ada bau selain bau yang mulai ratu."


"Yang mulia ratu?" tanya Jake bingung.


"Aaahh bukankah ini jalan menuju batu besar itu. Biasa Tania ke sana.".


"Itu benar."


"Bawa mayat mereka kembali ke keluarga mereka dan pastikan mereka dikubur dengan baik."


"Baik, gamma."


"Ayo, kita lapor pada beta."


****


"Anne..."


Ian memeluk Anne saat sudah sampai dikelas.


"Waah kalian romantis sekali." puji Casey.


"Apa kamu iri Casey?" goda Anne.


"Totally."

__ADS_1


Anne and Ian tertawa.


"Anne, apa kamu melihat Tania?" tanya Kei yang baru masuk kekelas.


"Uhmm tidak, aku tidak melihatnya semenjak istirahat tadi."


"Kemana dia? Aku sudah berkeliling mencarinya dan dia tidak ada."


"Tania juga aneh beberapa hari ini." kata Casey.


"Aneh? Aneh kenapa?" tanya Kei.


"Dia begitu... Pendiam." kata Casey.


"Casey benar. Aku juga baru menyadarinya. Dia bahkan tidak berbicara sepatah katapun hari ini." tambah Anne.


"Aku akan mencarinya lagi." Kei berjalan keluar kelas.


"Kei." panggil Ian. Kei menghentikan langkahnya. Ian mendatangi Kei. "Tentang mayat yang di temukan para prajurit yang berpatroli, kondisi mereka sama persis. Menghitam, karena sihir."


"Benarkah?"


"Iya, alpha Sebastian baru saja memberitahukanku."


"Ada apa ini?"


"Aku tidak tahu Kei. Tapi kita harus waspada. Kita tingkatnya penjagaan. Sudah banyak korban yang berjatuhan, baik manusia serigala maupun manusia biasa."


"Lakukan apa yang harus dilakukan Ian."


"Baiklah. Apa kamu sudah mencium aroma dari Tania?"


"Sudah dan kurasa memang tidak ada disini."


"Sudah cari di luar sekolah?"


"Baru akan aku lakukan."


"Baik. Hati-hatilah. Beritahukan aku jika ada masalah."


"Oke."


Kei berlari menuju hutan belakang sekolah. Entah kenapa hatinya menunjuk ke sana. Kei memasuki hutan dan benar saja, dia mulai mencium aroma Tania. Kei mengikuti aroma Tania. Tapi tiba-tiba terdengar lolongan serigala. Kei menghentikan larinya. Lolongan itu saling menyahut. Kei tahu arti lolongan itu dan langsung berlari lagi menyusuri hutan. Kei berlari semakin cepat.


'Kei, kau dengar lolongan itu?'


'Aku mendengarnya.'


'Ada yang masuk ke pack Kei.'


'Vampir dan mereka banyak.'


'Pergilah kesana terlebih dahulu. Ajak Zach dan yang lain. Aku akan mencari Tania lalu menyusulmu.'


'Baik.'


Kei memutuskan mindlinknya dan terus berlari. Kei masih mengikuti aroma Tania.


Tak lama langkah Kei terhenti. Dia melihat Tania tak jauh darinya.


"Tania?" panggil Kei. Tania menutup matanya sejenak lalu membukanya lagi. Tania berbalik.


"Hai Kei."


"Oh sayang... Aku mencarimu kemana-mana." Kei mendatangi Tania dan memeluknya. "Apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu disini?"


"Aku hanya berjalan-jalan."


"Kenapa tidak memberitahukanku. Aku bisa menemanimu." kata Kei lalu melepaskan pelukkannya.


"Aku hanya tidak ingin menyusahkanmu."


"Kamu tidak pernah menyusahkanku Tania."


'Alpha.'


'Ya, Jake?'


'Kami menemukan mayat lagi.'


'Apa? Sial! Ada apa sebenarnya yang terjadi disini? Mayat? Vampir? Urus mayat itu segera Jake lalu datang keperbatasan. Bantu yang lain.'


'Baik alpha.'


"Kei, kenapa kamu diam?"


"Kamu tidak mendengarnya?"


"Mendengar apa?"


"Aku sedang mindlink Jake tadi. Bukankah kamu bisa mendengar mindlink antara manusia serigala? Seharusnya kamu bisa mendengarnya tadi."


"Benarkah? Maksudku... Mungkin karena aku tidak enak badan hari ini."


"Kamu sakit?" Kei memeriksa dahi Tania. "Badanmu tidak panas."


"Hmm aku baik sekarang."


"Baiklah kalau begitu. Kita harus pergi dan aku akan mengantarmu ke rumah alpha Sebastian dan tetaplah disana. Ada masalah yang harus aku urus."


Kei merubah dirinya menjadi serigala.


'Naiklah Tania.'


Kei merendahkan tubuhnya.


"Kamu mau apa?" tanya Tania. Kei menatap Tania bingung.


'Apa benar dia tidak mendengarku? Tania? Tania!!! Dia tidak mendengarku. Ini aneh. Ada yang aneh dengannya.'


Kei menggeram pelan. Dia menepis pemikiran buruknya.


"Aahh kamu ingin aku menaikimu? Baiklah."


Tania naik ke tubuh Kei dan berpegangan pada bulu Kei. Kei mulai berlari cepat. Tania terus berpegangan dengan Kei sampai akhirnya dia memegang leher belakang Kei dan melepas sihirnya. Kei mengerang kesakitan.


'Tania... Tania apa yang kamu lakukan?'


Tania tidak mendengar. Dia terus memegang leher Kei. Kei menghentikan larinya dan terjatuh dengan Tania yang masih terus di atasnya. Kei mulai lemas dan tidak berdaya.


Tiba-tiba tubuh Tania terhempas mengenai pohon.


"Kei?! Kei!!" panggil seseorang. Kei membuka matanya. Perlahan tubuhnya mulai normal. Kei berubah menjadi manusia.


"Bian..."


"Kamu baik-baik saja?"


"Ya, tapi Tania..." Kei ingin berlari ke arah Tania tapi Bian mencegahnya.


"Jangan Kei!"


"Tapi itu Tania!"


"Bukan Kei, dia bukan Tania lagi."


"Apa maksudmu?"


"Tubuhnya sudah di kuasai Kei. Dia bukan Tania lagi."


"Ma-maksudmu Tania sudah mati?"


"Tidak, dia belum mati. Dia masih ada, tapi makhluk itu yang mengusai Tania."


Tania bangkit perlahan. Dia menatap Bian dan Kei. Kei terkejut melihat bola mata Tania yang berwarna ungu tua. Tania menatap Kei dan Bian dengan tatapan Marah. Ada cahaya ungu keluar dari tubuh Tania.


"Sebenarnya makhluk apa dia?" gumam Kei.


****

__ADS_1


tadariez


__ADS_2